NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

## Bab 1: Anatomi Keramik Merah yang Berdarah

Kamar itu tidak lebih besar dari sel isolasi, namun pengapnya terasa seperti menampung seluruh beban ekonomi Sumatera Utara. Di sudut ruangan, sebuah meja kayu dengan permukaan yang sudah mengelupas—meninggalkan guratan-guratan kasar mirip luka parut yang tak sembuh—menjadi saksi bisu betapa kerasnya sirkuit logika Rafi bekerja malam ini. Sebuah lampu belajar 15 watt berpijar redup, memuntahkan cahaya kekuningan yang sakit-sakitan, menciptakan bayangan monster panjang pada dinding yang catnya mulai menggelembung dan membusuk karena lembap.

Rafi menarik napas dalam-dalam. Oksigen yang masuk ke parunya terasa berat, bercampur aroma apek kasur tua dan sisa minyak rem dari bengkel sebelah. Di tangannya, ia menggenggam sebuah benda yang selama enam bulan terakhir telah menjadi berhala kecil di hidupnya: sebuah celengan plastik berbentuk ayam berwarna merah.

Cat di bagian paruhnya sudah rontok, menyisakan warna plastik putih yang tampak seperti luka sariawan yang kronis.

"Malam ini, angka-angka ini harus bicara jujur," gumamnya. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh raungan knalpot brong anak-anak motor yang membelah keheningan Tanjung Balai. Suara knalpot itu terdengar seperti ejekan bagi orang-orang yang hidupnya masih diatur oleh recehan.

Dengan gerakan yang presisi namun penuh vibrasi kecemasan, Rafi mengambil pisau lipat kecil. Logam dingin itu berkilat tertimpa cahaya lampu.

Ia menusuk bagian anus si ayam merah. *Srek.*

Suara plastik yang tersayat terdengar nyaring, sebuah "pembedahan" paksa yang terasa linu di telinga. Perlahan, isi perut si ayam merah itu tumpah ke atas kasur tipis yang sprainya sudah memudar, menyisakan motif bunga yang tak lagi dikenali warnanya.

*Klining. Klining. Klining.*

Bunyi logam beradu itu adalah simfoni kemiskinan yang paling jujur. Rafi mulai memilah. Tangannya yang kasar dengan kuku-kuku yang menghitam di pinggirnya—jejak permanen dari oli dan debu jalanan—bergerak telaten. Ia mengelompokkan uang-uang itu dengan rigoritas seorang akuntan forensik yang sedang memeriksa laporan bangkrut.

Di sisi kanan, ia membangun menara koin lima ratusan perak yang berkilau kusam. Di sisi kiri, tumpukan seribuan logam yang terasa berat dan dingin. Dan di tengah, ada pemandangan yang lebih mengenaskan: beberapa lembar uang kertas dua ribuan dan lima ribuan yang sudah sangat kumal, lecek, berminyak, dan beberapa di antaranya bahkan harus "dioperasi" dengan isolasi bening agar tidak terbelah dua.

"Seribu, dua ribu, tiga ribu..." Rafi menghitung dengan suara berbisik, nyaris seperti rapalan doa di tengah ritual pesugihan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang setiap kali tumpukan itu meninggi. Ada sensasi panas yang menjalar di ujung jarinya saat menyentuh permukaan uang kertas yang kasar.

Secara analitis, ini bukan sekadar alat tukar. Ini adalah darah yang ia peras dari rasa laparnya sendiri setiap jam istirahat di SMA 3. Ini adalah manifestasi dari keputusannya untuk berjalan kaki sejauh dua kilometer di bawah terik matahari Tanjung Balai yang membakar ubun-ubun, alih-alih naik angkot yang ongkosnya bisa ia konversi menjadi sekeping koin seribu rupiah. Ini adalah wujud dari "nasi garam" yang ia telan dengan terburu-buru di pojok perpustakaan yang gelap, hanya agar teman-temannya tidak melihat betapa mengenaskannya bekal yang ia bawa.

Setiap koin adalah sebuah pengorbanan. Setiap lembar lecek adalah sebuah harga diri yang ditekan dalam-dalam.

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti satu dekade, Rafi menatap hasil perhitungannya.

Matanya yang sedikit merah karena kurang tidur menatap tumpukan itu tanpa kedip.

"Seratus delapan puluh lima ribu," bisiknya. Kalimat itu menggantung di udara, terasa sangat tipis.

Ia terdiam. Kepalanya tertunduk, membiarkan poni rambutnya menutupi mata. Tangannya yang sedikit gemetar merogoh saku celana sekolah yang tersampir lunglai di kursi kayu, mengambil sebuah dompet kulit imitasi yang permukaannya sudah retak-retak mirip tanah pecah di musim kemarau. Ia mengeluarkan isinya: satu lembar lima puluh ribu yang masih cukup kaku—cadangan terakhirnya—dan dua lembar sepuluh ribu.

Total di atas kasur kini berjumlah dua ratus lima puluh lima ribu rupiah.

Rafi mengambil secarik kertas buram dan sebuah pulpen yang tintanya hampir habis, harus digoreskan berkali-kali ke telapak tangan agar cairannya keluar. Secara teknis dan skeptis, ia mulai membuat simulasi biaya. Ini adalah "proyek strategis" terbesarnya tahun ini: Mengajak Nisa, gadis dari SMK Bisnis yang kecantikannya sering ia kurasi lewat layar HP, untuk jalan-jalan ke Kisaran.

* **Bus Tanjung Balai - Kisaran (PP untuk 2 orang):** 40.000

* **Makan & Minum (Estimasi Food Court Irian / Ayam Penyet):** 90.000

* **Tiket Bioskop 5D Irian (2 orang):** 80.000

* **Total Pengeluaran Pokok:** 210.000

Melihat angka itu, Rafi memijat pelipisnya yang berdenyut. Secara matematis, uangnya cukup.

Namun, otaknya yang sudah terlatih oleh kerasnya hidup langsung melakukan audit skeptis.

Perhitungan di atas kertas adalah utopia, sedangkan realitas di lapangan adalah distopia.

"Cuma sisa empat puluh lima ribu untuk margin keamanan?" gumamnya tak percaya.

Logikanya langsung berputar secepat roda bus ekonomi. Empat puluh lima ribu itu adalah angka yang sangat rawan. Sangat berbahaya.

Bagaimana kalau sopir bus tiba-tiba menaikkan tarif sepihak dengan alasan harga BBM atau sekadar setoran yang sedang sepi? Bagaimana kalau Nisa, dengan selera anak SMK Bisnis-nya yang modern, tiba-tiba ingin membeli minuman botolan bermerek atau camilan di mall yang harganya bisa membengkak tiga kali lipat dari harga kedai biasa? Bagaimana kalau hujan deras mengguyur terminal Kisaran dan mereka dipaksa naik becak motor yang tarifnya mencekik leher?

Di tengah kondisi masyarakat yang sangat transaksional saat ini, membawa uang pas-pasan adalah resep paling jitu untuk menghancurkan harga diri. Rafi tidak ingin terlihat gagap, atau lebih buruk lagi, mematung dengan wajah pucat di depan kasir saat membayar pesanan ayam penyet. Ia tidak ingin harga dirinya runtuh hanya karena kurang seribu perak untuk biaya parkir.

Ia menatap kembali ke tumpukan uang lecek itu. Secara struktural, rencana ini butuh fondasi finansial yang lebih kokoh. Targetnya harus dinaikkan menjadi minimal 300 ribu rupiah agar ia memiliki "bantalan ekonomi" yang cukup untuk menghadapi variabel *error*.

"Kurang empat puluh lima ribu lagi," Rafi menghitung dengan skeptisisme yang tajam.

Ia memandangi dompetnya lagi. Dompet itu benar-benar kempis, keriput seperti kulit orang tua. Bahkan kartu pelajar di dalamnya terlihat lebih tebal daripada seluruh tabungannya. Kondisi ekonomi keluarganya yang sedang goyah karena sang ayah baru saja dirumahkan dari gudang ikan membuat Rafi sadar: ia berdiri sendirian. Tidak ada dana talangan dari rumah. Tidak ada subsidi cinta dari orang tua.

Tanjung Balai malam itu terasa sangat gerah, seolah-olah kota ini sedang demam. Kipas angin kecil di atas meja hanya berputar malas, mengeluarkan suara *cit-cit* yang menyebalkan dan menyemburkan udara hangat yang justru membuat pori-pori semakin terbuka. Rafi meraih ponselnya—sebuah Android lama dengan layar yang retak di sudut kanan atas, membentuk pola sarang laba-laba yang mengganggu pemandangan.

Ia membuka galeri, menatap satu-satunya foto Nisa yang ia simpan dari status WhatsApp gadis itu. Di sana, Nisa tampak bersinar, tersenyum lebar dengan latar belakang sekolahnya yang terlihat lebih mentereng. Senyum itu cantik, namun bagi Rafi, senyum itu juga tampak mahal. Sangat mahal.

Sisi analitis di otaknya segera meluncurkan serangan balik. Nisa anak SMK Bisnis. Dia adalah target pasar dari tren-tren terbaru. Dia terbiasa melihat cowok-cowok dengan motor sport berknalpot gahar yang sering nongkrong di depan sekolahnya. Sementara Rafi? Ia hanyalah anak SMA 3 yang untuk mengajak jalan-jalan ke kota tetangga saja harus membedah isi perut ayam plastik di tengah malam yang sunyi.

Rafi menarik laci mejanya yang berderit, mengambil sebuah buku tabungan darurat yang ia buat sendiri dari buku tulis bekas. Di sana ia mencatat setiap rupiah yang masuk dengan detail yang nyaris gila:

* **15 Februari:** Jual botol bekas ke tukang loak - 5.000

* **16 Februari:** Sisa uang jajan (tidak makan siang) - 10.000

* **17 Februari:** Upah mengetik tugas teman - 2.000

Catatan itu adalah artefak perjuangan kelas bawah. Di saat remaja lain di *feed* Instagram pamer *staycation* atau membeli sepatu bermerek hasil merengek pada orang tua, Rafi harus berjibaku demi koin lima ratusan perak yang berbau karat. Budaya pamer di media sosial saat ini memang kejam; ia menciptakan standar kebahagiaan yang tidak masuk akal bagi orang-orang seperti Rafi, membuatnya merasa kecil secara sosial sebelum perang dimulai.

"Tiga ratus ribu," ulang Rafi, suaranya kini lebih dingin, lebih skeptis. "Besok aku harus cari tambahan. Entah bagaimana caranya."

Ia mulai memasukkan kembali uang-uang itu ke

dalam celengan. Karena bagian bawahnya sudah berlubang besar, ia menutupnya dengan selotip hitam yang sangat tebal, membalutnya berkali-kali hingga si ayam merah tampak seperti korban kecelakaan yang diperban. Ia memeluk celengan itu sebentar. Dinginnya plastik ayam itu terasa kontras dengan telapak tangannya yang panas oleh keringat kecemasan.

Rafi tahu, perjalanan ke Kisaran minggu depan bukan sekadar urusan transportasi sejauh 50 kilometer. Itu adalah medan tempur harga diri. Ia ingin membuktikan—setidaknya pada dirinya sendiri—bahwa meski rumahnya bocor saat hujan dan sepatunya sudah mulai menganga di bagian sol, ia tetap mampu memberikan satu hari yang "layak" untuk orang yang ia sukai.

Ia mematikan lampu belajar. Kegelapan segera menyergap kamar kecil itu, menyisakan bau plastik terbakar dari kabel lampu yang sudah tua.

Rafi berbaring di kasur yang per-nya mulai menusuk punggung. Ia menatap langit-langit kamar yang samar-samar menampilkan bayangan cicak yang sedang mengintai mangsa.

Di telinganya, suara detik jam dinding seolah berubah menjadi suara deru mesin bus ekonomi yang akan membawanya ke Kisaran. Sebuah mesin besar yang haus akan uang dan keberanian.

"Satu minggu lagi," bisiknya pada kegelapan.

Pikirannya masih sibuk melakukan kalkulasi demi kalkulasi. Di dunia Rafi, tidak ada ruang untuk kesalahan estimasi. Satu kesalahan kecil dalam perhitungan biaya bisa berarti ia harus menelan malu di depan Nisa. Dan secara logis, bagi Rafi, rasa malu adalah kematian yang lebih buruk daripada kemiskinan itu sendiri.

Namun, tepat saat matanya hampir terpejam, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Nisa yang baru saja dikirim pukul 23.45. Pesan yang seketika membuat seluruh simulasi biaya di kepala Rafi hancur berantakan.

*"Fi, kalau ke Kisaran nanti, kita ajak temanku dua orang lagi ya? Mereka pengen ikut juga..."*

Darah Rafi terasa berhenti mengalir. Dua orang lagi? Itu artinya, tiga ratus ribu pun tidak akan pernah cukup.

1
MRYSS
wkwk kock bngt demi cwe sanggup pelit Ama diri sendiri, Thor BKIN novel jgn terlalu kaku lah msaa BKIN novel kyk lagi ulangan fisika
Founna: heh hehehhehe..... emank perjuangan rakyat jelata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!