hari ketiga meninggalnya ayah, mumtaz ditemani Ibnu sahabatnya bertandang ke kantor polisi untuk bertemu pelaku penabrak ayahnya. disinilah mereka didepan kantor polisi
" muy, yakin Lo mau ketemu dia? Lo kalo ketemu dia jangan pake marah ya. jangan bikin ribet." cerocos Ibnu yang terkenal pendiam sekarang menjadi cerewet.
" iya diem Lo ah dari tadi ngomong mulu kayak emak emak daster Lo." ucap jengah mumtaz.
" dikasih nasihat malah ngeyel. kalo emang iya. ayo masuk. kenapa kita dari tadi berdiri disini udah tiga puluh menit ini. kayak mau ketemu camer aja Lo.". sewot Ibnu
" iya ini juga mau masuk. tapi gw mau tarik nafas dulu. mau penenangan gw."
" alah pake penenangan segala bilang kalo Lo jiper duluan. ayo ah masuk panas ini." saut ibiu sambil menarik tangan maumtaz. d ngan pasrah mumtaz mengikuti langkah ibnu.
" assalamu,Alaikum pak. ini saya Ibnu dan teman saya mumtaz mau ketemu Hito pelaku penbrakan yang terjadi tiga hari yang lalu dengan korban Alm. bapak Zein." ucap Ibnu to the poin ketika sampe dipos lapor kantor polisi
sang polisi langsung siap badan mendengar perkataan itu. maklum peristiwa kecelakaan lalulintas yang melibatkan seorang Hito Arven hartadraja sudah menjadi pemberitaan utama mengingat ia adalah anak dari salah satu orang terkaya diindonesia.
" kamu siapanya yang bersangkutan.?" tanya pak polisi.
" ini saya mengantar teman saya mumtaz. anak dari korban meninggal kecelakaan tersebut."
pak polisi mengalihkan penglihatan kearah mumtaz
" kepentingan apa?"
" konfirmasi pak."
" yang bersangkutan harus disertai kuasa hukumnya dek kalo mau bertamu kepada dia."
" pak. bukan maksud tidak menghormati keinginan beliau, tapi bisa tidak bapak tanyakan dulu kepadanya bahwa keluarga korban ingin bertemu? ini penting pak demi kemaslahatan bersama" ujar Ibnu berdrama.
" tunggu disini." tegas pak polisi sambil melangkah kedalam
" baik pak.mita ga bakal kemana mana."
*****
dua orang bersitatap berhadapan diruang temu tamu yang satu pria dengan memakai baju tahanan berwajahkan menunduk nansendu. dan satu lelaki muda memakai seragam sekolah SMA dengan berwajahkan tegang
" kemarin lusa keluarga anda mendatangkan seorang pengacara sebagai wakil keluarga menawarkan kompensasi tanggung jawab sebesar lima ratus juta kepada keluarga kami. apa itu atas perintah anda?" mum AZ membuka hening
" siapa namanya?" Hito menegakan kepala mendengar hal itu
" bapak ruben."
" itu bukan atas perintah saya. dan saya tidak tahu sama sekali tentang hal itu?"
" benarkah, ini anda bukan sedang sok meras tidak tahukan!? apa anda hendak menghina ayah saya?" tanya sarkas mumtaz
" tidaak. sungguh demi Tuhan saya tidak tahu sama sekali. saya akan berbicara dengan pak Ruben atau keluarga saya." yakin Hito.
" saya minta maaf atas tragedi ini. saya memastikan akan menyelesaikan perkara ini dengan bijaksana." ucap Hito
" apa maksud anda tentang itu? hal apa yang dimaksud bijaksana? saya dan saudara saya sudah menjadi yatim. ibu saya sudah menjadi janda. jadi dengan apa anda akanmenyelsaikan perkara dengan cara bijaksana?" ucap tenang nan tegas mumtaz
.......
mendengar perkataan mumtaz Hito menundukkan kepala dan mulai terdengar isakan tangis dari dirinya
" maaf...maaf ...maaf..." sesal Hito ditengah isakannya
" sudahlah. lusa sehari setelah tujuh hari tahlilan ayah saya, kedua belah pihak akan bertemu lagi. saya harap anda memberitahukan kepada p ngacara dan keluarga anda untuk tidak melakukan hal hal yang kami pandang menghinakan kami. dimohon kerjasamanya."
tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang penjaga
" waktu lima belas menit telah habis." penjaga membawa Hito kembali ketahanan sedangkan mumtaz menatap nanar sosok Hito didepannya. entah apa yang dipikirnya. saat hendak sampai pintu aku berucap " om jangan coba melakukan hal bodoh untuk mengakhiri hidup anda. anda harus bertanggung jawab atas keluargaku. kau harus melihat keadaan kami dan menyembuhkan kesakitan kami. kuharap kau bukan benar benar pengecut. saya dan keluarga menunggu anda." entah mengapa aku mengatakan demikian, tapi ada kekhawatiran dalam diriku tentang om Hito akan melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan. ada keputusasaan tatapannnya yang kosong
mendengar perkataan mumtaz hito tertegun. dia mengangkat kepala dan menghadap mumtaz. " tentu saya akan bertanggung jawab atas semua tindakan saya. terimakasih atas kesempatannya. dan sekali lagi saya mohon maaf atas semuanya." selepas mengatakan itu om Hito pun masuk dan lenyap dari pandangan mumtaz dan meninggalkan mumtaz dengan seribu keheningan.
*****
sekarang mumtaz dan Ibnu di warung pingur sebrang kantor polisi. seusai maumtaz bertemu hito. sudah tiga puluh menit mumtaz diam. dan Ibnu tak bertanya.
dreettt ......dreett.....
" siapa muy.?" tanya Ibnu
" Bella.." Hela mumtaz
" masih Lo sama cewek itu?"
" masih. kenapa? kayaknya Lo ga suka banget ma Bella." tanya mumtaz tajam
" semua anak ga suka hubungan Lo ma bella. toxic tau ga. gw harap Lo ga sampe punya penyesalan pada akhirnya tentang Lo dan Bella."
".........,..." entahlah mumtaz tak tahu harus jawab apa
" kalo Lo harus jemput dia. pergi dah."
" Lo gimana. gw anterin Lo dulu lah."
" gampang mah itu. gw panggil Danil atau Jimmy bisa. Sono Lo pergi. males gw entar lihat Lo dimarahin dia."
" oke. gw pergi ya. nu, makasih ya udah temenin gw."
" hmmm. kayak ma siapa aja."
mumtaz pergi karena mendapat telpon dari Bella kekasihnya. Ibnu memandangi kepergian Bella dengan bergumam " gw barharap Lo berpikiran waras muy. Lo putusin tu cewek akhlakless." sambil Ibnu menghela nafas dengan berat
*****
" kamu darimana aja si tax. dari tadi hubungi susah. aku lama loh telpon kamu." cecar Bella jengkelketika mumtaz sampai dicafe tempat Bella minta jemput tadi.
"sorry tadi ada urusan."jawab tenang mumtaz
" urusannya lebih penting daripada aku pacar kamu?" jengah Bella
".... sorry.ya udah ayok pulang. katanya mau pulang." mumtaz menjawab to the point. sekarang dia malas berdebat dengan bella yang mumtaz anggap seakan tiada akhir
" bentar lagi. lagi nanggung ni"
" Bell, ini udah sore. ayo pulang. aku buru buru ni."
"kenpa sih perasaan belakngan ini kamu sibuk mulu. setiap aku minta jemput kamu pasti ngomongnya buru-buru mulu. kamu sibuk apa?"
" yakin kamu mau tahu?"
" gak sih. aku ga peduli kamu sibuk apa. tapi aku ga suka kamu buru-buru gitu. kamu pikir cuma kamu yang sibuk. aku juga."Bella marah
" ya udah kalo kamu sibuk dan aku sibuk. sekarang kita pulang." mumtaz masih tenang
" ih sebel aku tuh sama kamu. ayo pulang." titah Bella dan beranjak pergi dari cafe menuju tempat parkir cafe
" tas kapan sih kamu jemput aku pake mobil? panas tau. malu lagi."
mendengar itu mumtaz menghela nafas " aku ga punya mobil Bell."
" ya gimana kek caranya supaya kamu jemput aku tuh pake mobil."
tanpa menjawab Bella, mumtaz memakaikan helm Bella helm dan naik motor
" ayo cepat naik. kita pulang."
dengan kaki dihentakan Bella naikotor. dan mereka pergi dari cafe
*******
saat ini waktu pertemuan antara keluarga mumtaz dan hito. mereka sepakat bertemu dirumah Hito mengingat mama AIDA masih dalam keadaan berkabung dan belum sehat
sekarang kedua belah pihak keluarga berkumpul diruang tamu. keluarga mumtaz dihadiri keluarga inti beserta paman sepupu dan beberapa bibi dan paman dari pihak ayah dan mama, sedangkan dari kelurga Hito dihadiri oleh keluarga inti Hito yaitu kakek dan nenek Hito Fatio' hartadraja dan Sri hartadraja, orang tua Hito Aznan hartadraja dan Dewi hartadraja kakak laki-laki Hito, Damar Arjun hartadraja dan kakak perempuan Hito Julia Arnet Hartadraja beserta team kuasa hukum keluarga. dan Heru wakil Hito pribadi
" dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim. mari kita mulai pembicaraan ini. diharapkan pertemuan berlangsung baik dan damai tiada marah dan merasa dirugikan." ucap kakak sepupu mama Aida om Samsul
" Aida, apa ada yang ingin kamu sampaikan dek?" tanya om Syamsul ke mama Aida
dengan tenang mama Aida berkata " lusa kemari sudah menghadap kami atas nama perwakilan kelurga Hartadraja dan mengajukan penawaran dijumlah dana yang kami indikasikan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas meninggalnya kepala keluarga kami yaitu Zein Abidin sebesar lima ratus juta rupiah. dan saya selaku isteri dan ibu dari anak anak. menolak penawaran tersebut."
" sudah saya duga anda akan menolaknya." nenek Hito yang menjawab ucapan mama Aida dengan dengusan dan cibiran
" sudah saya duga anda dan keluga pasti akan memanfaatkan keadaan ini tuk memeras kami. sekarang sebutkan berapa jumlah yang anda minta?" cecar nenek Sri
" ma"
" nenek."
" Sri"
panggilan protes kelurga Hartadraja mendengar ucapan sang nyonya tertinggi
menanggapi dengan tenang mama Aida " menurut anda berapa yang bisa setara dengan peran suami dan ayah dari anak anak kami?"
" harga lima ratus juta itu cukup." anda tidak akan mendapat ganti rugi yang sebesar itu dari keluarga yang lain jika mereka yang jadi penanggung jawab anda dan keluarga." masih nenek hartadraja yang berbicara.
mendengar perkataan itu keluarga mumtaz menhan kesal dan marah karena merasa direndahkan sedangkan keluarga Hartadraja malu
" seperti dugaan saya mendengar perkataan anda dapat saya simpulkan keluarga anda tidak ada iktikad baik terhadap kelurga saya. anda dan keluarga hanya ingin keuntungan pribadi diatas penderitaan keluarga kami." mama Aida mulai bicara dengan tegas meski masih tetap menampilkan ketenangan
"heh" bentak nenek Hito marah
" mama" tegur ayah Hito atas perilaku nenek Sri. " maaf kami tidak bermaksud demikian. baiklah mulai saat ini dengan segala kerendahan hati mari kita bersama menyelesaikan permasalahan ini dengan kepala dingin. maaf Bu. saya selaku ayah dari Hito yang telah melakukan kesalahan yang mungkin tidak dapat dimaafkan akan bertanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan dari peristiwa ini. apa ada yang ingin ibu dan keluarga sampaikan kepada kami!?"
dengan menghela nafas menghilangkan emosi yang sempat tersulut mama Aida berujar " Mungin bagi kalian almarhum hanya salah satu orang yang tidak ada artinya. tapi bagi kami beliau adalah bagian terpenting. kami memang keluarga sederhana, tapi sebagai orang tua saya dan beliau punya mimpi yang banyak dengan jangka waktu panjang. kami punya mimpi membangun rumah yang layak untuk keluarga kami, kami ingin anak anak kami menempuh pendidikan sampai yang tertinggi, kami ingin memastikan anak-anak kami hidup sejahtera dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya. sekarang beliau telah tiada dengan membawa segala mimpi itu. saya kehilangan pendamping hidup, anak-anak saya kehilangan ayahnya. sekarang beritahukan padaku bagaimana saya mewujudkan segala mimpi itu bapak Hartadraja?" ucap lantang mama Aida.
mendengar kata kata mama Aida seluruh orang yang berada di ruangan terdiam dengan sendu
" maaf. mungkin segala apa yang ngin kami berikan tidak akan mampu mangimbangi peran almarhum, tapi sungguh kami hendak mengurangi beban keluarga ibu." tutur ayah Hito
" terimakasih sebelumnya. mari kita to the point. perihal beban bathin akibat meninggalnya kepala keluarga kami, kalian dipastikan tidak akan bisa menggantinya. maka sebagai orang tua, disini saya akan menekan kan pertanggungan jawab perihal materi saja. saya ingin sekali mewujudkan mimpi-mimpi kami untuk masa depan keluarga kami.yang saat ini menjadi prioritas pikiran saya adalah biaya hidup keluarga dan pendidikan anak-anak kami.."
" apa sudah nenek duga pasti ujung ujungnya duit. sebutkan berapa yang kalian minta dan kita selesaikan ini segera." sela judes nenek Sri
" berapa kalian tawarkan" ucap dingin Kakak Zahra putri pertama almarhum
" satu milyar itu sudah cukup." congkak nenek Sri
dengan tersenyum smirk Kakak Zahra memandang nenek Sri dengan menekankan " pernyataan anda ini yang kami anggap penghinaan. menurut anda apa dengan satu milyar bisa mewujudkan mimpi orang tua kami?"
" lantas apa yang kamu inginkan hei anak tengil kemarin sore. saya ingin tahu seberapa besar nyali kamu untuk memperalat kami." masih dengan sombongnya nenek Sri berujar
"jangan menantang saya wahai nenek yang sudah tua yang mencoba memanipulasi penuaan dengan oplas. saya pastikan anda menerima segala konsekuensi kecongkakan anda." kak Zahra menyaut dengan lantang
" karena kalian adalah salah satu konglomerat di Indonesia, maka saya ingat n kalian memberikan sepuluh persen dari saham perusahaan penyiaran, tolong jangan disela dulu hai nenek.." tegur kak Zahra ketika melihat nenek hendak membuka mulut tuk menyela
"...saya ulangi sepuluh persen dari perusahan penyiaran, dua puluh lima juta biaya perbulan untuk sekeluarga. dan penambahan dana yang mumpuni tuk kebutuhan mendadak sekeluarga. saya kira itu tidak seberapa dibanding kekayaan kalian."
"heh orang miskin belagu," nenek Sri murka. " lancang sekali kalian ingin saham. itu terlalu tinggi tuk ganti ayah kalian." masih dengan menolaknya si nenek tersebut. sedangkan yang lain masih hanya mendengar."
" kami menginginkan saham karena kami tak yakin anda akan terus memberi biaya hidup kami.sekaeangnkalian menyatakan bersedia menanggung. tapi siapa jamin dimasa depan kalian akan berpura pura amnesia." skeptis kak Zahra
" kalian tidak percaya kami?, kami orang-orang terhormat akan memegang janji kami." masih dengan jengkel si nenek Sri
" tidak. kami tidak percaya kalian. itu keinginan kami.ni negosiasi nenek tua. take it or leave it." tekan kak Zahra mantap
ketika nenek hendak menjawab. ayah Hito langsung mengangkat tangan yang menandakan agar nenek Sri diam
" jika kami memenuhi keinginan kalian, apa kalian bersedia menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan. tidak akan membawa kasus ini ke jalur hukum?" tanya ayah Hito menegaskan
" sedari awal kami tidak pernah berpikir akan membawa hukum kasus ini. sebagai orang tua say paham kesedihan yang dirasakan oleh kalian. dan itu tidak ada gunanya buat kami." mama Aida berucap tenang
" heh kalian.."
" baiklah."
ayah dan nenek Hito berujar berbarengan dengan tanggapan berbeda.
" kalau boleh tahu kenapa kalian menginginkan saham?" sekarang kakek turut berujar
" karena kami skeptis kalian akan tetap bertanggung jawab dalam waktu panjang. sedangkan kebutuhan kami pasti pasti akan berlangsung lama. maaf kami berpikir apa yang kalian lakukan hanyalah pencitraan semata kepada publik."
" tapi apa itu tidak terlalu berlebihan? kalian bener-benar aji mumpung." mama Hito berucap jengah
" hal ini tidak berlebihan. bandingkan dengan apa yang anak kalian Hito lakukan kepada kami? baca itu." mumtaz melempar senundel dokumen kepada masing-masing perorang dari mereka
dengan heran mereka menerima dokumen yang disodorkan oleh para sahabat mumtaz
dengan tenang dan meyakinkan mumtaz " disana terdapat kondisi om Hito ketika kecelakaan. disana dinyatakan bahwa Hito Arven hartadraja sedang dalam keadaan mabuk berat dikarenakan putus cinta karena ditinggal kekasihnya yang bernama Silvia Hermawan. bagaimana jika data itu terungkap ke publik?"mumtaz berkata dengan sorot mata tajam yang tak ingin dibantah oleh siapapun
keluarga Hito terhenyak dengan mimik wajah terkaget dan bertanya mendapati hal ini.
" jangan tanya dari man dan bagaimana saya mendapatkan informasi ini. tapi saya pastikan semua data itu valid. jadi pilihan kalian hanya menerima keinginan mama saya. saya tidak peduli apa tanggapan kalian tentang kami. tapi jika kalian mempermudah kami, kami akan mempermudah kalian. sebagai seorang putra tugas saya adalah memastikan mama dan saudara saya tenang menjalani hidup ini."
hening, diam tak ada yang bersuara sampai;
" baiklah jika memang begitu adanya." kakek akhirnya menyetujui
" keputusan tepat. dan ini adalah draft MOU kita." masih mumtaz yang memegang kendali kesepakatan sambil menyerahkan beberapa kertas
*******
Hito memperhatikan rekaman pertemuan dua keluarga tersebut. saat ini Hito dan Heru selaku wakil Hito beserta kuasa hukum pribadi hito. dengan menghela nafas " Heru, berikan apa yang mereka inginkan. jika kelurgaku membantah jangan dengarkan mereka. semua tanggung jawab itu gunakan aset pribadiku. saya punya saham di perusahaan penyiaran tersebut sebesar tiga puluh lima. beri mereka lima belas persen sahamku, dan beri mereka tunjangan keluarga sebesar tiga puluh juta perbulan. dari rekening pribadiku."
" Hito aku paham kamu merasa bersalah dan bertanggung jawab terhadap kondisi sekarang, tapi itu berlebihan." Heru menjelaskan
" Ru, mereka kehilangan belah jiwa mereka, sedangkan aku hanya kehilangan sedikit dari asetku. sungguh hal ini tak seberapa bagiku. aku tak ingin ada bantahan lagi. ini titahku" tegas Hito tajam
" baiklah akan kami laksanakan."
" dan anda Davin, berikan akta pertanggungan jawab itu sebaik mungkin aku tak ingin ada kecacatan hukum yang mana kelurgaku dapat merubah kesepaktan." ujar Hito kepada Davin sahabat sekaligus kuasa hukum yang ditunjuk pribadi oleh Hito
" tentu To."
******
tempat kediaman keluarga almarhum Zein
saat ini sedang berhadapan Heru dan Davin selaku wakil dan kuasa hukum Hito dengan kelurga inti almarhum
" maaf bukan maksud menghina atau menyepelekan, tapi kami menolak pemberian dari tuan Hito yang berlebih dari ajuan kami. tolong jangan membebani kami. kamu terima iktikad baik tuan Hito, tapi beri kami sesuai ajuan kami." mama Aida menjelaskan setelah melihat draft MOU yang disodorkan pihak Hito
"... tapi..."
" tidak ada bantahan tuan. mohon lakukan seperti yang diinginkan mama kami." ujar mumtaz
******
Hito speechless melihat rekaman pertemuan kedua itu.dengan menyandarkan tubuh dipunggung kursi dan menengadahkan kepala menutup wajah dengan kedua telapak tangan. dia menegakkan tubuh dan duduk tegap
" Heru sampaikan permohonan maaf ku pada mereka dan berikan seluruh keinginan mereka tanpa bantahan dan pengurangan. dan pastikan semua itu dari aset pribadiku. jika kelurgaku ingin menjadi bagian dari pertanggungan jawab ini. tolak! tekankan kepada mereka ini keputusanku yang tidak bisa diganggu gugat!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
Afrahun Nazli
semakin nyeleneh aja bahasanya tadi katanya Om hito,ini malah hitony masih muda ada kakeknya hadeh,tolong diperbaiki bahasanya kalau begini jadi ribet bacanya
2024-02-03
0
Qaisaa Nazarudin
Pasti temen2 nya pada tau semua siapa Bella,Cuman Mumtaz yg menutup rapat matanya..ckck..
2023-06-01
0