Happy reading...
Setelah hujan reda, cuaca akan terasa sangat sejuk. Angin yang bertiup sepoi-sepoi seakan memaksa dedaunan menjatuhkan sisa air hujan. Perlahan, sang mentari mulai berani menampakkan diri lagi, mengajak mahluk di bumi untuk menikmati hari.
"Selamat siang, selamat siang! Kesiangan, o-o kesiangan!"
Suara burung beo itu menyambut kedatangan Riky di teras belakang. Salim tersenyum puas mengetahui burung kesayangannya semakin pintar bicara.
Paijo namanya. Sudah satu tahun ini burung itu menemani keseharian Salim dan tentunya menjadi teman yang meyenangkan bagi pria paruh baya tersebut.
"Jo, udah sarapan belum?" tanya Riky santai sambil mendudukkan diri.
"Ngopi-ngopi..."
"Siapa yang ngopi? Kamu atau Papa?"
"Kamu. Jelek datang, jelek datang..."
Riky menoleh ke arah pintu dan tersenyum pada Alena yang datang dengan roti isi pesanannya.
"Paijo jelek, Paijo jelek..." Alena balas mengejek.
"Minta dong, Paijo minta..."
"Mau? Wlee..." Alena memeletkan lidahnya, sudah hal biasa jika ia dan burung itu selalu saling mengejek.
"Jelek pelit, pelit..."
"Jo, istriku ini cantik lho. Sembarangan aja kamu kalau ngomong."
"Ada yang datang, ada yang datang..." Sahutnya. Burung itu seolah merasa gelisah, ia hinggap dari satu bagian ke bagian lainnya dengan sangat cepat.
"Ini Ajeng, Jo. Sepupu Riky yang baru datang kemarin." Papa Salim memperkenalkan Ajeng pada Paijo, namun burung itu tidak menyahut.
"Om ini ada-ada saja. Masa Ajeng dikenalkan sama burung. Kalau mau ngenalin itu sama cowok ganteng yang kaya. Baru Ajeng mau," sahut Ajeng datar.
"Masih kecil, jangan dulu mikirin cowok. Kuliah dulu yang benar," ujar Riky.
"Memangnya nggak boleh. Alena juga masih kuliah, tapi sudah menikah." Deliknya.
"Jangan panggil nama dong, Jeng. Dia kan istri kakakmu. Umurnya juga lebih tua," timpal Mama yang datang dengan semangkuk salad buah. Mama Widiya menyodorkan mangkuk itu pada Alena, namun dengan cepat Ajeng menariknya.
"Untuk Ajeng ya, Tan. Hmm, enak." Ujarnya.
"Tidak sopan begitu, Jeng. Bagi dua ya." Mama Widiya merasa tak enak hati pada Alena.
"Nggak apa-apa, Ma. Alena sudah minum susu kok."
"Sayang, a..." Riky menyuapkan roti yang sudah digigitnya. Alena menggigit dan tersenyum pada suaminya yang memberinya tatapan menggoda.
"Kak Riky, antar ke kampus ya. Please," pinta Ajeng yang memasang wajah yang sok imut.
"Nggak boleh. Kalau mau minta antar Kak Riky, minta izin sama Lena." Ujarnya datar.
"Heh, bossy." Ajeng mendelik pada Alena.
"Memangnya kamu ada kuliah hari ini? Bukannya mulai ospek minggu depan," tanya Riky.
"Ajeng cuma mau lihat-lihat, Kak. Mau tahu aja gimana lingkungan kampusnya."
"Kalau begitu bareng aja. Kakak juga mau mengantarkan Alena ke kampus," ujar Riky.
"Oke deh, jam berapa?" sahut Ajeng malas.
"Jam berapa, Sayang?" tanya Riky pada Alena.
"Satu jam lagi," sahut Alena datar.
Papa Salim yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum tipis. Ia dan juga Widiya sangat paham bagaimana sifat Alena
Setelah menghabiskan roti isi, Alena pamit bersiap akan ke kampus. Tidak hanya pada kedua orang tua Riky, ia bahkan berpamitan pada Paijo.
"Bye, Paijo jelek!" Ucapnya sambil berlalu, namun di ambang pintu langkahnya terhenti. Alena menoleh dengan tatapan heran pada burung yang meloncat kesana kemari seakan tidak mau diam.
"Tumben nggak nyaut," gumam Alena heran dan melanjutkan langkahnya.
***
Berada di area kampus membuat Riky merindukan masa-masa kuliahnya. Sekilas bayangan wanita yang pernah singgah di hatinya berkelebat begitu saja. Cepat-cepat ia menepis bayangan tersebut. Pria itu tak mau jika nantinya hal kecil seperti itu akan mengusik perasaannya.
Saat ini Riky sedang menunggu Alena yang sedang ada kelas. Ia menemani Ajeng berkeliling melihat-lihat area kampus itu.
"Kak, kok bisa sih Kak Riky suka sama Alena?" tanya Ajeng pelan. Tanpa sungkan ia bergelayut manja di lengan Riky.
"Harusnya kamu tanyakan itu sama Alena." Sahutnya.
"Maksudnya?"
"Ya tanyakan sama dia, kok mau nikah sama Kakak."
"Pasti mau laah, Kak Riky kan ganteng. Kaya lagi," sahut Ajeng.
"Itu sih kata kamu. Nggak tahu aja, diantara sahabat kakak, Kak Riky ini yang paling kere. Makanya bersyukur banget waktu Alena mau diajak nikah," ujar Riky merendah.
"Masa sih?"
"Hmm," angguk Riky.
"Itu kantin ya, Kak. Ke sana yuk!" Ajaknya.
"Kamu aja ya. Kakak tunggu di sini," ujar Riky. Ia terduduk di kursi taman tak jauh dari kantin.
"Oke."
Riky menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Ajeng. Sikap gadis itu tak jauh berbeda dengan sikap Alena saat seusianya.
Sementara itu di kantin, Ajeng berniat membeli jus dan minuman soda untuk Riky. Wanita itu melewati beberapa mahasiswa yang sedang berkelakar.
Saat sedang menunggu pesanan di kios salah satu penjual, Ajeng nampak tak suka ada seorang mahasiswi mendahuluinya.
"Mang, kembaliannya cepetan." Pintanya.
"Nindy, loe nggak ada kelas?" tanya seorang dari kumpulan mahasiswa tadi.
"Ada dong," sahut Nindy.
"Loe bolos ya. Ajak-ajak Alena dong kalo mau bolos! Pak Waketu kangen katanya," ledek pria itu sambil menunjuk salah seorang temannya.
"Pak Waketu, Agam? Sejak kapan Agam suka sama Alena?" Gumamnya heran.
"Neng, ini kembaliannya."
Nindy menoleh dan tersenyum sambil meminta maaf.
"Dah ya, gue masuk dulu." Pamitnya.
"Nin, sini dong sebentar," ujar Agam menarik pelan lengan Nindy.
"Mau apa sih? Gue ada kelas, keburu udahan."
"Sebentar. Minta nomernya Alena dong," ujarnya.
"Masa nggak tahu? Dia kan juga jajaran di sekertariat BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)." Ujarnya.
"Ada sih, nih lihat. Tapi kenapa ya gue chat jarang banget dibalesnya. Sekalinya ngebalas udah basi. Ada nomer lain nggak?"
"Nggak ada. Gue juga tahunya nomer yang itu. Udah ah, gue mau masuk. Bye!"
Agam menatap punggung Nindy dengan tatapan kecewa.
"Sabar, Bro. Coba cari cara lain. Bukannya si Fany juga anak Akuntansi? Coba aja loe tanya dia, mereka pasti punya grup kelas," saran Kamil.
"Alena mana sih? Yang anak Akuntansi itu ya? Bukannya dia udah married?" tanya seorang teman lainnya.
"Nggak tahu tuh, si Agam. Udah gue kasih tahu juga, tetep aja ngeyel."
"Loe mau bilang apa sama dia, Gam? Ku tunggu jandamu, gitu? Gila loe ya, emangnya nggak ada perawan ting-ting?" Kelakarnya.
Agam hanya menyeringai mendengar teman-temannya mengolok dan menertawakan dirinya. Mereka tidak menyadari, sedari tadi ada yang mendengarkan percakapan itu.
"Eh si Eneng, malah melamun. Ini jus nya, dan ini minumannya," tegur penjual itu.
"Oh iya. Terima kasih, Pak."
Ajeng berlalu meninggalkan kantin tersebut. Gelak tawa para mahasiswa itu masih terdengar bahkan sampai ke luar.
"Kakak kira kamu nyasar," canda Riky.
"Masa nyasar sih, Kak? Kan itu kelihatan," sahut Ajeng sambil memberikan minuman Riky.
"Kok lama?"
"Ngantri," dusta Ajeng.
"Oh," sahut Riky singkat sambil meneguk minumannya.
"Kak, Alena ngambil jurusan apa sih?"
"Kamu nggak dengar ya tadi Mama bilang apa. Jangan cuma panggil nama. Panggil Kak Lena," sahut Riky.
"Iya, maksud Ajeng begitu. Kak Alena jurusan apa?"
"Akuntansi. Kenapa, minat juga?"
"Akuntansi, oh..." Sahutnya pelan lalu ia pun menyeringai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
IrnaMahdaR
Apa si Riky yg denger si Agam ngomong ke temennya minta nomer Alena?
2021-03-11
2
Ama Lorina Raju
walaupun ada pebinor atau pelakor tapi jgn pelik2 yg tor cukup buat pemanis cerita ajahhh 😅😅
2021-03-10
1
piyak 🐣🐣
waduh bakal ada pebinor ini dan si Ajeng dia gak suka sama Lena,,,waspada kamu Riky ada yng ngincer bini lu ,,
2021-03-09
1