Bumi , Indonesia , 16 November 2047
Di sebuah rumah mewah hiduplah 1 keluarga berisikan 4 orang. Keluarga itu sangatlah harmonis tapi itu hanya di depan masyarakat tidak dengan kenyataannya.
Di keluarga itu ada seorang gadis berusia 14 tahun yang sering di bully dan di benci oleh keluarganya bahkan teman saudarinya sering menjelek-jelekan dirinya. Nama gadis itu adalah Dewi Maharani.
Setiap hari tidak ada ketenangan baginya, setiap hari dia selalu berfikir untuk bunuh diri akan tetapi dia masih mengingat kalau neneknya pernah mengatakan "Bunuh diri bukanlah jalan keluar dari suatu masalah karena bunuh diri akan membawamu kedalam jurang yang sangat mengerikan yang disebut sebagai NERAKA.".
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya saat dia akan bunuh diri. Dewi saat ini sedang meringkuk di kamarnya karena hari ini adalah Ulang Tahun kakak perempuannya yang ke 17, saudarinya bernama Amelia Putri. Biasanya dia akan di suruh untuk bersembunyi di kamarnya karena kalau Dewi ikut ke pesta Ulang Tahun saudarinya itu akan menurunkan kualitas pesta tersebut.
...
'Kenapa...Kenapa...Kenapa...Kenapa...Kenapa hal ini terjadi padaku, apa salahku..hiks..sampai-sampai aku tidak dianggap...hiks...sebagai anak mereka.'
Saat aku sedang menangis di tepi kamar, suara dari pintu terbuka dengan paksa sangat mengagetkanku dan membuatku berhenti menangis.
"Hei sampah cepat keluar dan bersihkan Aula tempat pesta Ulang Tahun dan jangan harap bisa makan kalau kau belum bersihkan Aula itu!" Ucap Amelia.
"Baik Kak." Balas ku dengan nada ketakutan.
Aku takut dengan Kak Amelia karena saat aku berumur 12 Tahun dia dan teman-temannya pernah memukuliku sampai sekujur tubuhku berdarah. Saat aku pulang ke rumah, orang tua ku bukannya mengkhawatirkan ku melainkan mereka memarahiku karena aku sedang berkelahi dengan anggota geng.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Kakak, aku tidak akan pernah mengakui mu sebagai adikku." Bentak kak Amelia.
Setelah itu Kak Amelia pergi dari kamarku sambil menendang meja belajarku, padahal meja belajarku adalah satu-satunya barang yang masih bagus di kamarku. Semua barang-barang ku sudah rusak dan tak layak pakai hanya pintu kamar saja yang terlihat bagus agar tamu yang mampir di rumah ini bisa melihat kalau keluarga ini sangatlah harmonis.
Setelah itu aku pergi ke Aula dan mulai membersihkan Aula ini. Aku diberi waktu 2 jam untuk membersihkan Aula ini kalau aku melebihi waktu yang diberikan untuk membersihkan Aula ini, aku tidak akan diberi makanan sampai besok pagi.
Setelah selesai membersihkan Aula, aku langsung pergi ke dapur untuk makan malam. Selama perjalanan ke dapur banyak pelayan dan penjaga yang menatapku dengan pandangan jijik bahkan ada yang mengatai ku buruk rupa.
Memang benar aku buruk rupa tapi ini bukan wajah asliku, wajah asliku bisa dibilang sangat cantik karena insiden kebakaran yang terjadi di kamarku 1 tahun yang lalu. Aku menerima luka bakar di pipi sebelah kiri dan anggota badan sebelah kiri.
Setelah sampai di dapur aku melihat keluargaku makan dan mengobrol dengan gembira, tapi kebahagiaan mereka berhenti karena ayahku melihatku datang ke dapur.
"Kenapa kau ada disini!" Bentak Ayahku.
"A..Aku hanya..ingin..makan." Balasku dengan tubuh sedikit gemetar
"Cepat pergi dari sini, kau hanya menggangu kebahagiaan kami!" Bentak Ibuku.
"Benar kata ibu, hanya melihat wajahmu itu membuat kami kehilangan selera makan!" Bentak Kak Amelia.
"Ta..tapi..A..ku lapar kak.." Balasku.
"Aku tidak mau tau dan jangan pernah kau panggil aku dengan sebutan kakak!" Bentak Kak Amelia.
"Ke..Kenapa kalian selalu menyakiti ku dan apa salahku pada kalian sampai kalian melakukan hal ini kepadaku?" Tanyaku kepada mereka.
"KAU HANYALAH ANAK YANG DI TEMUKAN OLEH IBUKU DI DEPAN GERBANG RUMAH INI DAN AKU MERAWAT MU KARENA IBUKU MENYURUHKU UNTUK MERAWAT MU. KARENA IBUKU SUDAH TIADA KENAPA AKU HARUS MERAWAT MU, ITU HANYA BUANG-BUANG UANGKU SAJA." Bentak Ayahku.
"SEKARANG KAU PERGI DARI SINI DAN JANGAN PERNAH INJAK KAN KAKIMU KE RUMAH INI." Bentak orang yang pernah ku panggil sebagi Ayah.
Aku langsung pergi dari rumah ini dengan keadaan perut kosong. Sebelum aku pergi dari rumah ini, aku pergi ke kamarku dulu untuk membawa barang berharga ku dan juga membawa kartu ATM yang di berikan oleh nenek 5 tahun yang lalu.
Aku hanya tau password dari Kartu ATM ini akan tetapi aku tidak tau berapa uang yang di dalamnya karena setiap aku pergi dari rumah akan ada penjaga yang mengawasi ku agar bisa melihat kegiatanku di luar rumah.
Saat aku perjalanan pergi dari rumah ini sama seperti tadi banyak pelayan dan penjaga yang menatapku dengan tatapan jijik dan bahkan ada yang tersenyum gembira karena kepergian ku.
Saat ini aku sudah di depan gerbang depan, saat aku ingin keluar dari gerbang ada penjaga yang menghentikan ku.
"Nona Dewi anda mau kemana malam-malam begini. Lebih baik anda masuk ke dalam rumah dan cepat tidur karena saat ini sudah sangat gelap." Ucap Penjaga gerbang itu dengan nada khawatir.
Penjaga gerbang ini bernama Roni Setiawan. Aku selalu memanggilnya paman Roni, di seluruh ke rumah ini hanya paman Roni yang mengkhawatirkan ku dan selalu mengobati ku saat aku terluka.
"Aku sudah di usir dari rumah ini, jadi paman Roni jangan mengkhawatirkan ku lagi karena aku akan pergi dari rumah ini untuk selamanya." Ucap ku sambil menahan tangis.
"Bagaimana kalau anda menginap di rumah saya terlebih dahulu." Ucap paman Roni.
"Maaf paman Roni aku harus menolaknya karena aku tidak ingin merepotkan paman Roni." Balasku sambil meminta maaf.
"Tapi nona lalu anda tinggal dimana? Ini sudah malam dan sudah gelap, hanya ada kendaraan lewat saja bahkan warung makan pinggir jalan sudah tutup semua." Ucap paman Roni dengan nada khawatir.
"Sekali lagi aku menolak tawaran paman karena saya tidak mau merepotkan paman." Balasku.
Melihat aku yang bersikeras menolak tawarannya, paman Roni hanya bisa mengalah.
"Kalau begitu Nona harus hati-hati di jalan karena hari ini sudah malam dan kalau ada waktu silahkan mampir ke rumah paman." Ucap paman Roni yang masih mengkhawatirkan ku.
"Kalau begitu paman saya pamit terlebih dahulu dan ini sedikit rejeki untuk paman." Ucapku.
Aku memberikan Kartu ATM pemberian nenek. Entah mengapa aku memilki firasat sangat buruk yang akan terjadi kepadaku.
"Tapi nona aku tidak bisa menerima Kartu ATM ini." Ucap paman Roni.
"Tidak..Paman Roni harus menerima Kartu ATM ini kalau tidak aku akan marah dan aku tidak akan mampir ke rumah paman untuk selamanya." Balasku dengan nada sedikit kesal.
"Baiklah saya akan menerima pemberian Nona dan menggunakan untuk hal yang bermanfaat." Ucap Paman Roni.
"Password Kartu ATM itu adalah 888888. Baiklah paman aku pamit pergi dulu. Selamat Tinggal." Ucapku berjalan pergi sambil melambaikan tangan ke Paman Roni.
"Selamat Jalan Nona." Balas Paman Roni.
Setelah itu aku pergi dengan berjalan kaki. Setelah 30 menit berjalan aku belum menemukan tempat untuk tidur. aku mendengar suara bergemuruh dari langit yang menandakan akan turun hujan dan bukan hanya itu, angin bertiup kencang yang juga menandakan akan turun hujan badai.
Air hujan sudah mulai turun dari langit. Aku menepi di pinggir jalan dan mencari tempat untuk berteduh. Aku menemukan gubuk yang ditinggalkan untuk ku jadikan tempat untuk berteduh. Meskipun gubuk ini sedikit berlubang di bagian atapnya tapi ini masih bagus dari pada tidak ada tempat untuk berteduh.
jdar...
jdar..
Petir turun menghantam pohon di depan gubuk yang ku tinggali. Aku merasa sangat takut, kalau petir itu mengenai ku bisa dipastikan aku akan mati.
Lalu kilat yang sangat terang menyinari langit, aku memilki firasat kalau petir yang akan turun sangat kuat dan besar. Lalu aku melihat ke atas langit dan benar saja di atas langit ada petir yang akan turun mengenai ku.
Aku bingung kenapa petir itu terlihat lambat bukan hanya petir itu yang lambat bahkan aku dan sekitar ku juga terlihat lambat. Apakah ini yang dinamakan penglihatan sebelum kematian.
jdar...jdar...jdar...
Seketika petir itu menghantam ku dan tubuhku mati rasa dan ada bau terbakar di sekitar tubuhku..
"ugh...Kalau ada kehidupan selanjutnya aku ingin memilki keluarga yang selalu menyayangi ku tanpa pamrih." Ucapku sebelum kematian.
...----------------...
...----------------...
'Ugh... Dimana ini apakah ini..apakah ini tempat di mana setelah kematian?' Batinku.
"Ini bukan tempat seperti itu Gadis Kecil." ???
"Siapa..Tolong tunjuk kan wujud anda." Ucapku.
Lalu muncul cahaya emas di depanku, cahaya emas itu menampakkan orang tua dengan aura warna emas di sekujur tubuhnya.
"Siapa anda?" Tanyaku.
"Aku adalah Supreme God. Aku disini untuk menghidupkan mu kembali ke dunia pedang dan sihir. Aku juga memberimu 3 permintaan yang akan ku kabulkan. Jawablah dengan cepat karena waktunya hampir habis." Balas Supreme God.
"Baiklah saya akan memberikan jawabannya.
Saya ingin memilki ingatan kehidupan saya yang dulu.
Saya ingin di hidupkan kembali di keluarga yang harmonis dan menyayangi saya sepenuh hati.
Saya ingin memilki skill penilaian yang sangat kuat sampai tidak ada yang bisa menghalanginya.
Itu permintaan saya." Ucap ku.
"Baiklah aku akan mengabulkannya. Kalau begitu aku akan menghidupkan mu kembali dan semoga bersenang senang dengan keluarga barumu." Ucap Supreme God sambil melambaikan tangan nya.
"Terima Kasih." Balasku.
Seketika tubuhku menjadi memudar dan menghilang dari tempat ini. Saat aku membuka mataku aku melihat seorang wanita cantik berambut emas sedang menggendong ku dan aku melihat kesamping di sana ada wanita yang sangat cantik berambut hitam sedang terbaring di kasur.
'Apakah wanita berambut hitam itu adalah ibuku, tapi mengapa ibuku sangat muda.' Batinku.
Aku langsung gembira dan ingin mengeluarkan suara tapi malah menghasilkan tangisan
"Anda berhasil Akane-sama. Saya akan membersihkan Nona kecil terlebih dahulu." Ucap gadis berambut emas tadi.
Jadi nama ibuku adalah Akane, entah mengapa nama ini mengacu ke Negara Jepang. Yah mungkin hanya prasangka ku saja karena aku hanya melihat budaya dan nama-nama orang Jepang dari Video Anime saja.
"Iya.haah...haahh.." Balas wanita berambut hitam yang mungkin adalah ibuku dengan nafas sedikit tersengal-sengal.
Lalu aku di bawa oleh wanita berambut emas pergi dari ruangan ini. Setelah itu dia langsung memandikan ku selama 5 menit. Lalu dia membawaku kembali ke ruangan dimana ibuku berada, setelah sampai di ruangan itu dia langsung menyerahkan ku ke ibuku.
"Akane-sama mau anda berikan nama apa Anak anda dengan Shido-sama." Ucap gadis berambut emas.
Apakah Shido itu nama ayahku? Tapi dimana dia sekarang kenapa dari tadi aku belum melihatnya?
"Aku dan Shido sudah memikirkan nama untuk anak kita sebelumnya, karena anak kita saat ini berjenis kelamin perempuan maka kita beri nama Miu. Nama anak ini adalah Takamiya Miu." Balas ibuku dengan antusias.
"kya..kya..kyaa" Ucapku dengan senang karena nama yang diberikan sangat bagus.
"Sepertinya dia sangat senang diberi nama Miu." Ucap gadis berambut emas.
"Sepertinya begitu." Balas Akane.
"kyaa...kyaaa" Ucapku dengan senang.
Karena hanya melihat dan mendengarkan percakapan ibuku dan gadis berambut berwarna emas itu aku tahu kalau keduanya adalah orang yang baik. Semoga aku bisa bertemu ayahku secepat mungkin.
...----------------...
...----------------...
Sekian Dari Chapter Ini. Saya Ucapkan Terima Kasih Banyak Karena Sudah Sempat Untuk Membaca Novel Karya Saya🙏🙏🙏 Dan Terima Kasih Juga Untuk Sudah Vote🙏🙏
...😆Happy Reading😆...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
YANG GAY ANAK ASU👿
waktunya hampir habis disini mungkin si heroin yang akan melahirkan dan si supreme tau klo si cewek bakal minta apa😚
2022-09-02
0
Kang Comen
Kopet lah Bahas BAKU mulai lagi
2022-06-01
0
Alzakia_Ria
Moga keluarga angkat nya dewi dapet azab kesell aing teh🗿💢
2021-06-27
2