Bab 2 Bayang Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang

Mobil melaju tenang membelah jalan raya yang mulai sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menjadi saksi perjalanan mereka menuju kediaman Gu Shiyu yang terletak di kawasan perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Di dalam kabin yang senyap, udara terasa berat, seolah ada sesuatu yang mengambang di antara mereka — sesuatu yang tak terucap, namun terasa begitu nyata hingga membuat napas pun terasa tertahan.

Lin Muchen duduk tegak di kursi sebelah pengemudi. Matanya menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar melihat jalanan di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa yang ia coba kubur sedalam-dalamnya. Setiap kali ia teringat wajah Gu Shiyu, setiap kali suara lembutnya terdengar di telinga, dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun itu retak sedikit demi sedikit. Ia kira ia sudah melupakan semuanya. Ia kira ia sudah menjadi orang yang berbeda — dingin, tak tergoyahkan, tak terkalahkan. Namun ternyata, satu pertemuan saja sudah cukup untuk mengingatkannya: perasaan itu tidak pernah hilang. Ia hanya tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

“Kau terlihat seperti orang yang memikirkan sesuatu yang berat,” suara Gu Shiyu tiba-tiba terdengar dari kursi belakang, memecah keheningan.

Lin Muchen menoleh sedikit, menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Wajah wanita itu tampak tenang, namun matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan. Ia sedang menatap punggungnya, seolah berusaha mencari sesuatu yang hilang, sesuatu yang tersimpan di balik sikap kaku dan profesionalisme yang ia tunjukkan.

“Tidak ada apa-apa, Nona Gu,” jawabnya datar, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. “Hanya berkonsentrasi pada tugas.”

Gu Shiyu tersenyum tipis, senyum yang terasa sedikit sedih. “Kau selalu menjaga jarak sedemikian rupa, seolah takut jika kita berbicara lebih dari sekadar urusan pekerjaan, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Lin Muchen terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata itu begitu tepat hingga terasa menyakitkan. Ia memang takut — takut jika ia terlalu dekat, jika ia terlalu banyak bicara, ia akan tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menceritakan segalanya. Bahwa ia mengenalnya. Bahwa ia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Bahwa selama bertahun-tahun, wajahnya tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.

Mobil perlahan memasuki gerbang rumah mewah yang berdiri di atas bukit itu. Pagar besi terbuka otomatis, menyisakan jalan luas yang diapit oleh pepohonan rapi dan taman yang tertata indah. Rumah itu besar, megah, namun bagi Lin Muchen, tempat ini terasa dingin — jauh berbeda dari halaman rumah sederhana tempat mereka bermain dulu, di mana udara selalu terasa hangat dan tawa terdengar setiap hari.

Mesin mobil dimatikan. Pengemudi turun lebih dulu untuk membukakan pintu, namun Gu Shiyu bergerak sendiri. Ia melangkah keluar, menghirup udara malam yang sejuk, lalu menatap ke arah Lin Muchen yang sudah berdiri tegak di samping mobil.

“Ikutlah masuk,” ucapnya singkat sambil melangkah menuju pintu utama. “Ada beberapa hal yang perlu kukatakan sebelum kau mulai bertugas secara penuh besok.”

Lin Muchen mengangguk dan mengikuti dari belakang. Langkah kakinya senyap, namun setiap langkah terasa berat seolah tertanam di tanah. Ia melintasi lorong yang luas, dikelilingi perabotan mewah dan lukisan-lukisan mahal yang tergantung di dinding. Semuanya tampak sempurna, namun tak ada satu pun yang terasa seperti rumah.

Di ruang tengah yang luas, Gu Shiyu berhenti. Ia berbalik menghadapnya, menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah itu.

“Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya,” ucapnya pelan, namun tegas. “Dan aku tidak akan memaksamu untuk bercerita jika kau tidak mau. Tapi aku ingin jujur darimu — sesuatu di dalam diriku merasa seolah kita sudah saling kenal. Bukan sekadar kenal sebentar, melainkan sangat lama.”

Jantung Lin Muchen berdegup kencang. Ia menelan ludah, berusaha menjaga agar wajahnya tetap tenang. “Itu mungkin hanya perasaan Anda saja, Nona.”

Gu Shiyu menggeleng pelan. “Bukan begitu. Ada cara pandangmu… cara kau menatapku… semuanya begitu akrab. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu, namun tak berani menyapa.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “Kau tidak perlu menjawab sekarang. Tapi jika memang ada sesuatu yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkan.”

Lin Muchen membuka mulutnya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Bagaimana mungkin ia mengatakannya? Bagaimana mungkin ia menceritakan masa lalu yang mungkin sudah lama ia lupakan? Dan lebih dari itu — bagaimana jika mengetahui kebenaran itu justru menyakiti keduanya?

“Terima kasih, Nona,” ucapnya akhirnya, suara terdengar berat. “Tapi sungguh, Anda salah paham. Saya hanya pengawal yang menjalankan tugas.”

Gu Shiyu menatapnya lama, seolah berharap ia akan menarik kembali kata-katanya. Namun ketika ia melihat ketegasan di wajahnya, ia akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau begitu, istirahatlah. Kamar tamu sudah disiapkan di lantai dua. Besok pagi pukul tujuh, kita berangkat ke kantor bersama.”

“Siap, Nona.”

Lin Muchen menunduk sedikit, lalu berjalan menuju lantai dua. Sesampainya di kamar yang disiapkan untuknya, ia menutup pintu rapat-rapat, menyandarkan punggungnya ke balik kayu yang kokoh itu, dan baru saat itulah ia membiarkan dirinya menarik napas panjang — napas yang terasa berat, penuh dengan kegelisahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Ia melangkah menuju jendela, membuka sedikit gorden, dan menatap ke luar. Kota di bawah sana tampak berkilauan, tak terhitung jumlah lampu yang menyala, masing-masing menyimpan kisahnya sendiri. Di antara ribuan cahaya itu, ia teringat pada sebuah halaman kecil di pinggiran kota, tempat di mana dua anak kecil berjanji akan selalu bersama.

“Muchen, nanti kalau kita sudah besar, kau mau tetap bermain denganku, kan?” suara kecil Gu Shiyu bergema di ingatannya, jernih dan tulus.

“Tentu saja! Aku akan selalu melindungimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi,” jawab dirinya yang masih kecil dengan penuh keyakinan.

Senyum tipis terukir di bibir Lin Muchen, namun seketika itu juga hilang digantikan rasa perih yang menusuk dada. Janji itu diucapkan bertahun-tahun lalu, namun ia tidak sanggup menepatinya. Ia membiarkannya pergi. Ia membiarkan mereka berpisah. Dan sekarang, meski ia berdiri tepat di sampingnya, ia merasa mereka terpisah jauh — terpisah oleh waktu, oleh keadaan, oleh rahasia kelam yang mulai merayap ke permukaan.

Pikirannya beralih ke keluarganya. Ayahnya, sosok yang dulu ia kagumi, yang tiba-tiba berubah drastis tak lama setelah keluarga Gu pergi. Kegelapan yang menyelimuti rumahnya sendiri, pertengkaran yang tak pernah berhenti, rahasia yang dibisikkan di tengah malam — semuanya kembali berputar di kepalanya seperti pusaran yang tak terkendali. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya, sesuatu yang berkaitan langsung dengan kepergian keluarga Gu. Ia merasakannya, meski belum dapat membuktikannya. Dan perasaan itu semakin kuat setiap kali ia melihat Gu Shiyu.

Ada hubungan di antara masa lalu mereka yang belum terungkap. Dan ia takut mengetahui apa itu.

Malam semakin larut, namun tidur tak kunjung datang. Lin Muchen duduk di tepi tempat tidur, menatap bayangannya di cermin yang berdiri di sudut ruangan. Wajahnya tampak lelah, mata tajamnya menyiratkan beban yang tak terlihat. Ia yang dikenal sebagai orang yang tak terkalahkan, kini merasa begitu lemah — dikalahkan bukan oleh musuh, melainkan oleh masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia berdiri dan melangkah keluar kamar, berjalan senyap di lorong yang sepi. Ia berhenti di depan pintu kamar Gu Shiyu. Di balik pintu itu, wanita yang menjadi awal dan akhir seluruh perasaannya beristirahat. Ia ingin mengetuk pintu itu, ingin menceritakan segalanya, ingin meminta maaf atas semua yang terjadi, namun kakinya terasa berat. Ia belum siap. Ia belum tahu kebenaran sepenuhnya. Dan jika ia berbicara sekarang, ia takut justru akan membahayakan wanita itu.

Dengan berat hati, ia melangkah pergi, kembali ke tempatnya — menjadi bayangan yang menjaga dari kejauhan, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan segalanya. Namun takdir sepertinya tidak ingin menunggu.

Saat ia berbalik, ia melihat selembar foto tua yang tergeletak di meja kecil di ujung lorong, seolah sengaja diletakkan di sana. Hatinya berdegup kencang. Ia mendekat, mengambilnya perlahan. Di foto itu, terlihat dua keluarga berdiri bersama, tersenyum bahagia. Di samping ayahnya, berdiri sosok yang wajahnya ia kenal — ayah Gu Shiyu. Dan di antara mereka, dua anak kecil berdiri berpegangan tangan, tersenyum lebar ke arah kamera.

Lin Muchen menatap foto itu lama sekali, jemarinya mengusap wajah anak kecil yang ada di sampingnya. Air mata yang selama ini ia tahan nyaris jatuh, namun ia menahannya. Di sudut foto itu, tertulis tulisan tangan yang samar: “Sahabat selamanya — 15 Agustus, sepuluh tahun lalu.”

Namun di balik kebahagiaan yang terlihat di foto itu, ada sesuatu yang lain — sebuah jejak kecil yang selama ini tidak ia perhatikan. Di sudut bawah, ada goresan tinta yang samar, seolah sengaja dihapus, namun masih terbaca sebagian: “utang… dendam… akan dilunasi…”

Darah Lin Muchen terasa mendidih. Tangannya gemetar. Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu itu? Mengapa tulisan itu ada di sana? Dan siapa yang menuliskannya?

Ia menyimpan foto itu dengan hati-hati di saku baju, seolah itu adalah bukti berharga yang harus dijaga dengan nyawanya. Malam itu, ia menyadari satu hal: pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Semua ini sudah direncanakan, entah oleh siapa, sejak lama sekali. Dan ia tidak hanya datang untuk melindungi Gu Shiyu. Ia datang untuk menyelesaikan sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang mungkin merenggut segalanya darinya.

Di luar sana, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon. Dan di dalam kamar yang remang itu, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan, kini berdiri di persimpangan jalan — satu arah menuju kebenaran yang menyakitkan, arah lain menuju keamanan yang semu. Ia tahu ia tidak bisa kembali. Ia harus melangkah maju, apa pun yang terjadi.

Bahkan jika langkah itu harus membawanya jatuh ke dalam jurang yang tak ada dasarnya.

Episodes
1 BAB 1 Bayang di Balik Pintu Kaca
2 Bab 2 Bayang Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang
3 Bab 3 Jejak Darah di Balik Kebenaran
4 Bab 4 Pengakuan yang Tertahan
5 Bab 5 Di Balik Tabir Kepercayaan yang Patah
6 Bab 6 Kebenaran yang Menusuk Hati
7 Bab 7 Kembalinya Sang Pelindung
8 Bab 8 Jejak Keadilan yang Mulai Terbuka
9 Bab 9 Di Balik Pintu Ruang Sidang
10 Bab 10 Jalan Menuju Fajar Baru
11 Bab 11 Akar yang Tumbuh Kembali
12 Bab 12 Badai di Ufuk Baru
13 Bab 13 Bayangan yang Tersisa
14 Bab 14 Gelombang Terakhir
15 Bab 15 Fajar yang Tak Bisa Dihalangi
16 Bab 16 Rumah yang Penuh Cahaya
17 Bab 17 Pohon Kenangan yang Tumbuh
18 Bab 18 Tangan yang Menopang
19 Bab 19 Cahaya di Ujung Jalan
20 Bab 20 Warisan yang Tumbuh
21 Bab 21 Ikatan yang Tak Terpisahkan
22 Bab 22 Hari-hari yang Manis
23 Bab 23 Cahaya Kecil yang Datang
24 Bab 24 Anak yang Tumbuh di Antara Pohon
25 Bab 25 Jalan yang Miliknya Sendiri
26 Bab 26 — Pulang untuk Menabur Lebih Luas
27 Bab 27 — Badai yang Menguji Kekuatan
28 Bab 28 Jembatan yang Menghubungkan Hati
29 Bab 29 Pintu yang Tertutup
30 Bab 30 Cahaya di Perbatasan
31 Bab 31 Rumah yang Selalu Menanti
32 Bab 32 Bayang di Balik Cahaya
33 Bab 33 Pintu yang Tetap Terbuka
34 Bab 34 Akar yang Tetap Menjaga
35 Bab 35 Kabar dari Seberang Bukit
36 Bab 36 Warisan yang Berpindah Tangan
37 Bab 37 Nama yang Hidup di Hati
38 Bab 38 Api yang Tak Pernah Padam
39 Bab 39 Cahaya yang Tak Pernah Padam
40 Bab 40 Jejak yang Tetap Hangat
41 Bab 41 Langkah dari Seberang
42 Bab 42 Bayangan dari Masa Lalu
43 Bab 43 Asap di Balik Kabut
44 Bab 44 Pintu yang Terbuka
45 Bab 45 Mata di Balik Pepohonan
46 Bab 46 Jejak yang Mengarah ke Dalam
47 Bab 47 Tiga Hari
48 Bab 48 Pintu dari Bawah
49 Bab 49 Jalan Pulang
50 Bab 50 Jalan yang Makin Lebar
51 Bab 51 Pilihan di Tengah Hujan
52 Bab 52 Bayangan dari Utara
53 Bab 53 Di Pintu Gerbang
54 Bab 54 Di Balik Tembok Batu
55 Bab 55 Asap di Puncak Bukit
56 Bab 56 Jejak di Balik Cerita
57 Bab 57 Jejak di Hutan Kabut
58 Bab 58 Jalan yang Bersinar
59 Bab 59 Tangan yang Terbuka
60 Bab 60 Rumah di Setiap Langkah
61 Bab 61 Jejak yang Tak Terlihat
62 Bab 62 Jalur yang Terlupakan
63 Bab 63 Klaim Masa Lalu
64 Bab 64 — Di Balik Tawaran
65 Bab 65 Di Pusat Kekuasaan
66 Bab 66 Bayangan yang Menyusul
67 Bab 67 Jejak di Balik Kabut
68 Bab 68 Pesan di Tengah Malam
69 Bab 68 Pesan di Tengah Malam
70 Bab 70 Keraguan yang Menyusup
71 Bab 71 Bayangan di Antara Kita
72 Bab 72 Membebaskan Sandi
73 Bab 73 Cahaya di Kegelapan
74 Bab 74 Saat Panen Tiba
75 Bab 75 Rumah untuk Semua
76 Bab 76 Kabar dari Lembah Terasing
77 Bab 77 Bayangan di Balik Kabut
78 Bab 78 Cahaya di Balik Nama
79 Bab 79 Api yang Tak Bisa Dipadamkan
80 Bab 80 Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81 Bab 81 Jalan yang Terlupakan
82 Bab 82 Jejak di Hutan Terlarang
83 Bab 83 Jalan Keluar yang Tak Dilihat
84 Bab 84 Di Tengah Arus yang Berubah
85 Bab 85 Gerbang yang Terkunci
86 Bab 86 Peta yang Tak Bisa Dibeli
87 Bab 87 Jalan yang Menipu
88 Bab 88 Kembali ke Jalan yang Benar
89 Bab 89 Api di Persimpangan Jalan
90 Bab 90 Pintu yang Terbuka Perlahan
91 Bab 91 — Benih yang Tumbuh
92 Bab 92 Jalan Keluar yang Disembunyikan
93 Bab 93 Api yang Tak Bisa Dipadamkan
94 Bab 94 Jalan yang Terbuka
95 Bab 95 Jalur yang Dilupakan
96 Bab 96 Lembah yang Tak Ingin Ditemukan
97 Bab 97 Kedamaian yang Diperbarui
98 Bab 98 Bayangan di Pegunungan Perak
99 Bab 99 Luka yang Belum Sembuh
100 Bab 100 Cerita di Depan Api
101 Bab 101 Di Atas Awan
102 Bab 102 Dunia yang Mengira Dirinya Satu-satunya
103 Bab 103 Tamu yang Tak Diundang
104 Bab 104 Cerita dari Bawah Awan
105 Bab 105 Jejak yang Semakin Dekat
106 Bab 106 Kenangan yang Terungkap
107 Bab 107 Pesan yang Tertunda
108 Bab 108 Lembah yang Pernah Menyatukan Semua
109 Bab 109 Bayangan Masa Lalu yang Kembali
110 Bab 110 Ujian Persatuan
111 Bab 111 Kebenaran yang Menyembuhkan
112 Bab 112 Semua Jalur Bertemu di Sini
113 Bab 113 — Pengawal yang Tak Terkalahkan
114 Bab 114 Pulang ke Rumah
115 Bab 115 Warisan yang Tak Pernah Berakhir
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB 1 Bayang di Balik Pintu Kaca
2
Bab 2 Bayang Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang
3
Bab 3 Jejak Darah di Balik Kebenaran
4
Bab 4 Pengakuan yang Tertahan
5
Bab 5 Di Balik Tabir Kepercayaan yang Patah
6
Bab 6 Kebenaran yang Menusuk Hati
7
Bab 7 Kembalinya Sang Pelindung
8
Bab 8 Jejak Keadilan yang Mulai Terbuka
9
Bab 9 Di Balik Pintu Ruang Sidang
10
Bab 10 Jalan Menuju Fajar Baru
11
Bab 11 Akar yang Tumbuh Kembali
12
Bab 12 Badai di Ufuk Baru
13
Bab 13 Bayangan yang Tersisa
14
Bab 14 Gelombang Terakhir
15
Bab 15 Fajar yang Tak Bisa Dihalangi
16
Bab 16 Rumah yang Penuh Cahaya
17
Bab 17 Pohon Kenangan yang Tumbuh
18
Bab 18 Tangan yang Menopang
19
Bab 19 Cahaya di Ujung Jalan
20
Bab 20 Warisan yang Tumbuh
21
Bab 21 Ikatan yang Tak Terpisahkan
22
Bab 22 Hari-hari yang Manis
23
Bab 23 Cahaya Kecil yang Datang
24
Bab 24 Anak yang Tumbuh di Antara Pohon
25
Bab 25 Jalan yang Miliknya Sendiri
26
Bab 26 — Pulang untuk Menabur Lebih Luas
27
Bab 27 — Badai yang Menguji Kekuatan
28
Bab 28 Jembatan yang Menghubungkan Hati
29
Bab 29 Pintu yang Tertutup
30
Bab 30 Cahaya di Perbatasan
31
Bab 31 Rumah yang Selalu Menanti
32
Bab 32 Bayang di Balik Cahaya
33
Bab 33 Pintu yang Tetap Terbuka
34
Bab 34 Akar yang Tetap Menjaga
35
Bab 35 Kabar dari Seberang Bukit
36
Bab 36 Warisan yang Berpindah Tangan
37
Bab 37 Nama yang Hidup di Hati
38
Bab 38 Api yang Tak Pernah Padam
39
Bab 39 Cahaya yang Tak Pernah Padam
40
Bab 40 Jejak yang Tetap Hangat
41
Bab 41 Langkah dari Seberang
42
Bab 42 Bayangan dari Masa Lalu
43
Bab 43 Asap di Balik Kabut
44
Bab 44 Pintu yang Terbuka
45
Bab 45 Mata di Balik Pepohonan
46
Bab 46 Jejak yang Mengarah ke Dalam
47
Bab 47 Tiga Hari
48
Bab 48 Pintu dari Bawah
49
Bab 49 Jalan Pulang
50
Bab 50 Jalan yang Makin Lebar
51
Bab 51 Pilihan di Tengah Hujan
52
Bab 52 Bayangan dari Utara
53
Bab 53 Di Pintu Gerbang
54
Bab 54 Di Balik Tembok Batu
55
Bab 55 Asap di Puncak Bukit
56
Bab 56 Jejak di Balik Cerita
57
Bab 57 Jejak di Hutan Kabut
58
Bab 58 Jalan yang Bersinar
59
Bab 59 Tangan yang Terbuka
60
Bab 60 Rumah di Setiap Langkah
61
Bab 61 Jejak yang Tak Terlihat
62
Bab 62 Jalur yang Terlupakan
63
Bab 63 Klaim Masa Lalu
64
Bab 64 — Di Balik Tawaran
65
Bab 65 Di Pusat Kekuasaan
66
Bab 66 Bayangan yang Menyusul
67
Bab 67 Jejak di Balik Kabut
68
Bab 68 Pesan di Tengah Malam
69
Bab 68 Pesan di Tengah Malam
70
Bab 70 Keraguan yang Menyusup
71
Bab 71 Bayangan di Antara Kita
72
Bab 72 Membebaskan Sandi
73
Bab 73 Cahaya di Kegelapan
74
Bab 74 Saat Panen Tiba
75
Bab 75 Rumah untuk Semua
76
Bab 76 Kabar dari Lembah Terasing
77
Bab 77 Bayangan di Balik Kabut
78
Bab 78 Cahaya di Balik Nama
79
Bab 79 Api yang Tak Bisa Dipadamkan
80
Bab 80 Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81
Bab 81 Jalan yang Terlupakan
82
Bab 82 Jejak di Hutan Terlarang
83
Bab 83 Jalan Keluar yang Tak Dilihat
84
Bab 84 Di Tengah Arus yang Berubah
85
Bab 85 Gerbang yang Terkunci
86
Bab 86 Peta yang Tak Bisa Dibeli
87
Bab 87 Jalan yang Menipu
88
Bab 88 Kembali ke Jalan yang Benar
89
Bab 89 Api di Persimpangan Jalan
90
Bab 90 Pintu yang Terbuka Perlahan
91
Bab 91 — Benih yang Tumbuh
92
Bab 92 Jalan Keluar yang Disembunyikan
93
Bab 93 Api yang Tak Bisa Dipadamkan
94
Bab 94 Jalan yang Terbuka
95
Bab 95 Jalur yang Dilupakan
96
Bab 96 Lembah yang Tak Ingin Ditemukan
97
Bab 97 Kedamaian yang Diperbarui
98
Bab 98 Bayangan di Pegunungan Perak
99
Bab 99 Luka yang Belum Sembuh
100
Bab 100 Cerita di Depan Api
101
Bab 101 Di Atas Awan
102
Bab 102 Dunia yang Mengira Dirinya Satu-satunya
103
Bab 103 Tamu yang Tak Diundang
104
Bab 104 Cerita dari Bawah Awan
105
Bab 105 Jejak yang Semakin Dekat
106
Bab 106 Kenangan yang Terungkap
107
Bab 107 Pesan yang Tertunda
108
Bab 108 Lembah yang Pernah Menyatukan Semua
109
Bab 109 Bayangan Masa Lalu yang Kembali
110
Bab 110 Ujian Persatuan
111
Bab 111 Kebenaran yang Menyembuhkan
112
Bab 112 Semua Jalur Bertemu di Sini
113
Bab 113 — Pengawal yang Tak Terkalahkan
114
Bab 114 Pulang ke Rumah
115
Bab 115 Warisan yang Tak Pernah Berakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!