Suara derit printer berkecepatan tinggi dan denting mesin pembuat kopi di sudut lantai empat gedung PT Aetheris Land & Development menjadi musik latar yang saban hari didengar Mala Jinaya.
Di tengah riuh kesibukan kantor kontraktor properti itu, gadis 23 tahun tersebut menunduk dalam-dalam di depan mejanya, menatap tumpukan berkas laporan yang menjulang seperti benteng.
Sebagai staf admin termuda, tugas Naya sebenarnya sederhana tapi menumpuk. Menginput daftar harga bahan bangunan, merapikan nota tagihan supplier, dan mengetik laporan proyek di komputer. Pekerjaan yang butuh ketelitian tinggi dan memakan waktu berjam-jam.
"Naya! Ini laporan tagihan bahan bangunan buat proyek apartemen BSD kok belum beres sih?!"
Suara nyaring Lady memecah keheningan ruangan. Wanita berusia awal tiga puluhan itu berdiri di depan meja Naya dengan folder tebal di tangannya.
Marina, 28 tahun, senior Naya yang lain, berdiri di samping Lady sambil menyilangkan tangan dan menyeringai tipis.
Naya sedikit tersentak. Ia buru-buru berdiri, jemarinya meremas ujung kemeja kerja yang mulai melar. "M–maaf, Kak Lady. Itu... berkasnya baru dikasih Kak Marina tadi jam empat sore, sementara datanya banyak banget yang harus diketik ulang—"
"Lho, kok malah nyalahin Marina?" potong Lady dengan nada meninggi, menarik perhatian beberapa karyawan lain, termasuk Bian dan Raka yang hanya menonton dari bilik kerja mereka.
"Kamu kan admin di sini, Nay! Harusnya ketikan begini selesai dengan cepat. Jangan bikin alasan!"
Marina menimpali dengan wajah tanpa dosa, "Iya, Naya. Padahal dari kemarin kan aku udah nitip nota-nota itu. Kamu aja yang kelamaan, sambil main handphone kali kamu, makanya lama."
Padahal, Naya tahu betul Marina baru menyerahkan tumpukan nota yang berantakan itu satu jam yang lalu karena ketahuan lupa menginputnya ke sistem. Namun, bibir Naya terkatup rapat. Rasa tidak enakan yang kronis dan ketakutannya akan konflik membuat kata-kata pembelaannya menguap begitu saja.
Naya menundukkan kepala lebih dalam, mengabaikan rasa panas yang mulai menjalar di pinggir matanya. "Iya, Kak. Maaf... nanti aku ketik sampai selesai malam ini biar besok pagi siap."
"Nah, gitu dong dari tadi! Jangan kebiasaan alesan," cetus Lady melengos pergi, diikuti Marina yang tersenyum puas karena beban kerjanya berhasil dilempar.
Naya menghela napas panjang, mendudukkan kembali tubuhnya yang lelah di kursi putar. Ia mengusap dadanya pelan, membuang napas kasar melalui mulut. "Gapapa, Nay. Cuma lembur sebentar," bisiknya pada diri sendiri. Kalimat mantra yang selalu ia ucapkan sejak bekerja di sini, dua bulan lalu tepatnya.
Sementara itu, beberapa meter di seberang ruangan, pintu kaca tebal bertuliskan Divisi Perencanaan & Struktur (Engineering) terbuka.
Rafael Ibra, berusia 27 tahun, keluar dari ruangannya dengan menggulung lengan kemeja putih hingga ke siku.
Sepasang matanya menatap lurus ke lembaran denah arsitektur di tangannya. Sebagai Lead Engineer, pikiran Ibra sepenuhnya tertuju pada rapat eksekutif dan audit struktur gedung yang harus diselesaikannya sore ini.
Pria itu berjalan begitu saja melewati lorong divisi administrasi. Langkah kakinya cepat dan tegas, sama sekali tidak menoleh atau memedulikan hiruk-pikuk keributan kecil di ruangan seberang yang pintu kacanya terbuka.
Bagi Ibra, area luar divisinya hanyalah angin lalu yang tak perlu ia campuri. Juga, untuk apa pedulikan kerjaan orang lain, semua orang punya tanggung jawab masing-masing pada pekerjaannya.
***
Jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan, namun kerjaan Naya di depan komputer belum juga selesai. Ia sendirian disana, yang lainnya sudah pulang.
Naya menguap, berkali-kali mengucek matanya dibalik kacamata minusnya. Sehingga, ketika jarum jam mengarah ke angka sebelas, barulah semuanya selesai. Naya menggeliat sejenak di depan mejanya, merapikan meja lalu bangkit.
Dan ketika keluar ruangan, ia pikir hanya dia sendirian di kantor besar itu. Untunglah, di seberang ruangan terlihat ada satu meja yang lampunya menyala, yang artinya, ada yang sedang lembur juga, dan dia tidak sendirian.
Keadaan sangat sepi, bahkan di lift pun begitu. Naya memejamkan matanya saja usai menekan tombol, ia tak ingin melihat sekeliling sebab takut akan melihat hantu. Jujur saja, meski sudah dewasa, Naya masih takut dengan hal-hal berbau mistis. Akibat dulunya sering menonton film horor.
Saat suara lift berdenting, barulah Naya berani membuka mata. Bertepatan saat pintu lift terbuka, Naya yang agak ceroboh menabrak seseorang yang akan masuk.
Brukk
Beberapa lembar kertas Naya terjatuh dari tangannya.
"Aduh, maaf, saya nggak sengaja."
Tanpa melihat wajah orang di depannya Naya menunduk meminta maaf lalu memunguti lembar kertasnya yang bertebaran.
"Iya, gapapa," sahut laki-laki bertubuh tegap itu. Masuk ke dalam lift, pintunya hampir tertutup dan sosok itu bisa melihat perempuan itu dari pijakannya sedang mengumpulkan kertas-kertas itu.
Namun, kala menunduk, tepat disamping kakinya, ada satu lembar yang tersisa, ia rasa milik perempuan tadi, jadinya ia kembali menekan tombol lift.
Sosok itu adalah Ibra, ka menahan tombol pintu lift dengan satu jemarinya, lalu membungkuk perlahan untuk memungut lembar kertas yang tertinggal di dekat sepatu pantofelnya. Ia mengamati kertas itu sejenak di bawah temaram lampu lift. Sebuah nota tagihan supplier yang rapi dengan guratan tanda tangan yang khas, milik divisi administrasi.
Pria itu melangkah keluar dari lift menuju lobby utama yang sudah menyepi. Dentang langkah kakinya bergema pelan di atas marmer kilap lantai dasar gedung PT Aetheris Land & Development.
Ibra mengedarkan pandangan ke sekeliling area lobby. Meja resepsionis sudah kosong melompong, dan sofa-sofa tamu tampak seperti bayangan bisu di balik pendar redup lampu malam. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain seorang petugas keamanan yang tertidur ayam di dekat pintu kaca utama.
"Perempuan yang tadi...?" gumam Ibra pelan.
Ia berjalan mendekati pintu kaca dan melihat ke arah pelataran parkir luar.
Di sana, yang tersisa hanyalah deretan tiang lampu dan sapuan angin malam. Suara deru halus mesin sepeda motor yang kian menjauh menjadi satu-satunya tanda bahwa sosok ber-kacamata yang menabraknya tadi baru saja membelah kegelapan jalan raya.
Ibra menghela napas pendek. Ia melirik kembali lembaran kertas di tangannya. Salinan nota yang tampak penting, mungkin salah satu dari tumpukan berkas yang membuat perempuan itu harus bertahan di kantor hingga larut malam.
"Terburu-buru sekali," bisik Ibra pada diri sendiri.
Tanpa ekspresi berlebih, pria itu melipat kertas tersebut secara presisi menjadi dua bagian, lalu memasukannya ke dalam saku kemeja putihnya yang tergulung.
Pikirannya kembali dingin, menepis urusan orang lain yang bukan bagian dari tugas tekniknya. Namun setidaknya, ia tahu kertas ini harus kembali ke meja divisi administrasi besok pagi.
Ibra pun berbalik, menyapa singkat petugas keamanan yang terbangun kaget, lalu melangkah kembali ke area lift, menuju ruangannya di lantai empat.
Dan di dalam keheningan lantai empat yang tinggal menyisakan pendar lampu dari mejanya, pria itu kembali duduk, menyelaraskan lembaran nota milik perempuan itu di samping berkas tekniknya, membiarkan malamnya berlanjut sedikit lebih panjang demi menuntaskan satu hal lagi.
Pagi baru saja bergulir di lantai empat gedung PT Aetheris Land & Development. Dengung pendingin ruangan dan aroma kopi hangat belum sepenuhnya mampu mengusir sisa kantuk para karyawan. Namun bagi Naya, pagi itu langsung berubah menjadi mimpi buruk yang dingin.
Naya berdiri mematung di samping mejanya. Jemarinya yang gemetar berkali-kali membongkar tumpukan folder, mengacak-acak map plastik, hingga meraba kolong meja. Wajahnya pucat pasi, kacamata minusnya merosot sampai ke ujung hidung.
Satu lembar nota tagihan supplier utama untuk proyek BSD, nota pembayaran bernilai puluhan juta rupiah itu tidak ada, alias hilang.
"Nay! Mana berkas laporan tagihan BSD yang semalam?" Suara nyaring Lady memotong kesibukan pagi. Wanita itu berjalan mendekat dengan melipat kedua tangan di dada, diapit Marina yang memegang cangkir kopi dengan senyum tipisnya.
Naya menelan ludah dengan susah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan. "K–Kak Lady... Maaf, aku... aku lagi cari nota fisiknya yang asli. Semalam padahal udah lengkap, tapi pas aku hitung ulang pagi ini, ada satu nota tagihan utama yang enggak ada..."
"Lho! Kok bisa hilang?!" pekik Lady, matanya membelalak. "Kamu tahu enggak, nota itu mau distempel dan disetujui keuangan jam sepuluh nanti! Kalau sampai hilang, supplier enggak mau cairkan bahan bangunan minggu ini, Nay!"
Marina menyahut licik, "Tuh kan, Kak Lady... Dari kemarin aku udah firasat. Naya ini kalau kerja ketikannya emang cepat, tapi ceroboh banget. Kalau nota penting begini hilang, yang kena omel manajemen kan kita juga."
"Maaf, Kak... Saya janji cari lagi, semalam saya selesai ketik jam sebelas malam—"
"Jangan bawa-bawa jam kerja!" potong Lady keras, memancing perhatian karyawan divisi lain di sekitarnya. "Mau kamu pulang jam satu malam pun, kalau kerjanya teledor dan bikin rugi perusahaan, ya tetap salah! Nggak becus banget sih jadi admin! Dipikir digaji cuma buat ngumpulin sampah kertas begini apa?!"
Makian Lady semakin menjadi-jadi. "Kamu tuh ya, masih muda, baru masuk, tapi kerjanya asal-asalan! Kalau nggak niat kerja, mending berhenti sekalian daripada bikin kacau proyek orang!"
Naya menunduk dalam-dalam. Air matanya menumpuk di pelupuk mata, merembas melintasi pipi dan menghanyutkan rasa percaya dirinya. Rasa panik, lelah, dan rasa malu yang luar biasa bercampur menjadi satu di dadanya saat seluruh pasang mata di divisi itu tertuju padanya.
"Woy, santai kali, Kak. Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak di pasar," sebuah suara santai menyela dari arah pintu ruangan administrasi.
Dion, salah satu tim Engineering, melangkah mendekati kerumunan itu sambil tersenyum tipis. Pria itu menyandarkan bahunya di bilik kerja Naya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari saku kemejanya.
"Ini bukan nota yang dicari?" tanya Dion sambil memutar-mutar kertas itu di jarinya.
Lady menaikkan alisnya, sementara Naya mendongak kaget dengan mata sembap.
"Dapat dari mana kamu, Yon?" tanya Lady curiga.
"Nih," Dion meletakkan kertas itu tepat di atas meja Naya. "Dititipin orang divisi gue tadi pas di depan. Katanya semalam jatuh di depan lift pas kamu buru-buru pulang. Dia yang nemuin, tapi karena langsung ada meeting pagi ini, jadi nitip ke gue."
Seketika Lady dan Marina membisu. Marina berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara Lady hanya bisa memutar bola matanya sebelum mendengus keras.
"Lain kali teliti! Beruntung ditemuin orang Engineering, kalau dibuang CS gimana?!" cetus Lady lalu melengos pergi begitu saja meninggalkan meja Naya, diikuti Marina yang mengekor cepat.
Naya memandangi lembaran nota itu dengan dada yang masih bergemuruh. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kertas yang rapi tersebut, mengusap pelan sisa pudar lipatannya.
"Kak, tolong sampaikan terima kasih saya ke dia, ya..." kata Naya pelan sambil memeluk kertas nota itu, menyunggingkan senyumnya yang lega.
"Aman," sahut Dion santai, lalu memperhatikannya sejenak. "Kamu anak baru, ya?"
Naya menganggukkan kepala lambat. "Iya, Kak."
"Berapa lama kalau boleh tahu?"
"Baru dua bulan, Kak..."
Dion manggut-manggut penuh simpati. "Kamu kalau merasa nggak nyaman sama perlakuan orang-orang kayak gitu, bilang aja ke atasan atau HRD, Nay. Jangan dipendam sendiri."
Naya meringis pelan, meremas jemarinya sendiri. "Eh... aku nggak apa-apa kok, Kak. Semua tempat kerja pasti ada tekanannya kok, hehe. Emang aku nya aja yang teledor."
Dion menggeleng samar melihat Naya yang terlalu sabar. "Oke deh, kalo gitu good luck, ya."
"Sekali lagi terima kasih ya, Kak. Tapi... kalau boleh tahu, siapa nama orang yang nemuin nota ini?" tanya Naya penasaran, membayangkan sosok pria ber-kemeja putih dengan lengan tergulung yang semalam ia tabrak.
Dion menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tersenyum kikuk. "Eumm... gimana ya. Anaknya agak ajaib sih, dia mewanti-wanti banget biar gue nggak usah sebut nama dia ke kamu atau ke siapapun. Katanya 'cuma balikin barang yang tercecer, nggak usah berlebihan'."
Naya terpaku sejenak mendengarnya. Jawaban yang terkesan dingin namun misterius itu justru semakin membuat gambaran sosok sang Lead Engineer membayang jelas di kepalanya.
***
Tekanan dari Lady dan Marina tidak lantas usai hanya karena nota itu telah kembali. Sepanjang siang, tumpukan berkas sengaja dilimpahkan ke meja Naya dengan embel-embel sindiran yang menusuk.
"Naya, ini print ulang semua dokumen penawaran BSD. Jangan sampai ada lembar yang tercecer lagi ya, cape juga kalau harus nanggung teledornya kamu terus," celetuk Marina sambil mengempaskan map tebal ke hadapan Naya. Lady di sebelahnya hanya terkekeh sinis sambil merapikan riasan bibirnya di cermin kecil.
Naya hanya bisa mengangguk pelan, menelan bulat-bulat setiap cemoohan sembari terus membolak-balik kertas dengan jemari yang masih tremor, jujur saja ia masih panik sebab nota sebelumnya.
Di balik sekat kubikel tak jauh dari sana, Gea memperhatikan semuanya. Rekan kerja yang dikenal paling irit bicara itu memilih diam saat konflik meledak tadi pagi. Namun, begitu Lady dan Marina beranjak keluar ruangan untuk makan siang, Gea menggeser kursi beroda nya mendekati meja Naya.
Gea mengamati mata Naya yang masih sembab sebelum mengetuk pelan permukaan meja. "Kamu tahu kan, mereka makin ngelunjak karena kamu selalu minta maaf bahkan untuk hal yang bukan murni kesalahanmu?"
Naya menghentikan ketikannya, menatap Gea terkejut. "Eh... tapi Kak, semalam aku memang teledor—"
"Menjatuhkan nota itu bisa dibilang iya teledor, juga bisa dibilang musibah. Tapi, cara mereka mempermalukan kamu di depan umum itu intimidasi," potong Gea dingin namun tegas.
"Jangan cuma diam dan senyum pasrah kalau diperlakukan gitu, Nay. Di kantor ini, sekali kamu kelihatan lemah dan nurut diperlakukan kayak keset, orang-orang modelan Lady dan Marina bakal terus injak-injak kamu. Stand your ground, kasih batas."
Gea lalu memutar kursi rodanya dan kembali ke mejanya tanpa menunggu balasan, meninggalkan Naya yang terpaku meresapi setiap kata yang meresap dalam ke dadanya. Ini adalah kali pertama Gea bicara sepanjang itu padanya.
Sementara di sudut lain, Bian dan Raka hanya melirik sekilas lalu kembali menatap layar monitor masing-masing. Bagi mereka, dunia kerja akan selalu aman dan baik-baik saja selagi tidak ikut campur dalam urusan orang lain.
Seperti kejadian yang sudah-sudah, sulit mengisi posisi Naya, sebab beberapa orang seringkali resign sebab tidak tahan dengan sikap manusia modelan Lady dan Marina yang semena-mena.
Raka berpikir, bahwa kemungkinan Naya hanya akan menghabiskan sisa kontraknya bulan depan. Karena orang-orang sebelum Naya begitu.
Sementara Bian, jujur saja dia sering membela Naya. Namun, karena Naya nya juga yang tidak membela diri, rasanya percuma.
****
Area pantry kantor di jam makan siang terasa sedikit lebih tenang. Aroma mie instan cup dan nasi kotak bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru diseduh.
Dion menyandar di kursi kayu bar sambil mengunyah bekal nasinya yang baru ia panaskan di microwave, sementara di seberangnya, Ibra duduk santai. Pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang bagian lengannya sudah tergulung rapi hingga siku itu tengah mengaduk kopi panasnya pelan. Wajahnya tenang, terkesan cuek, namun matanya yang tajam menatap cangkir di tangannya.
"Udah lo kasih kertasnya?" tanya Ibra datar, membuka percakapan tanpa mengalihkan pandangannya dari pusaran kopi.
Dion terkekeh pelan sambil menelan makanannya. "Udah. Dan sesuai dugaan gue, pas gue sampai di sana, si anak baru lagi dihabisin sama si Lady bird."
Ibra menghentikan sendoknya sejenak. Dahi pria itu berkerut tipis, tapi gesturnya tetap santai. "Dimarahin?"
"Bukan dimarahin lagi, Ib. Diteriakin di depan temen-temennya," sahut Dion. "Disindir-sindir teledor lah, dibilang enggak becus, sampai disuruh berhenti kerja sekalian kalau enggak niat. Padahal mah tuh anak kerjanya sampai malam, kan?"
Ibra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyesap kopinya perlahan. "Oh."
"Biasa lah, senior-senior itu kan emang suka nyari bahan buat marah-marah," Dion menggeleng-gelengkan kepala. "Pas gue balikin notanya dan bilang itu dititipin anak Engineering, langsung kicep tuh dua orang. Lo harusnya lihat muka si Lady bird itu tadi, langsung melengos pergi gitu aja."
Lady Gracia, siapa yang tidak mengenal sosok itu, wanita dengan rambut sebahu dan songong itu, lain lagi perilakunya yang bisa dibilang tidak menyenangkan, bossy, dan super toxic coworker.
Ibra diam mendengarkan. Ia teringat kejadian semalam—saat seorang gadis berkacamata minus memeluk map tebal, berjalan terburu-buru hingga tak sengaja menabrak dadanya di depan lift, lalu pergi begitu saja tanpa sadar ada selembar kertas yang menghilang.
"Terus, anaknya gimana?" tanya Ibra pendek, nadanya terdengar ketus namun ada rasa ingin tahu yang tersirat tipis.
"Si Naya?" Dion tersenyum samar. "Ya menangis lah, matanya sembap gitu. Tapi anehnya, pas gue suruh ngadu ke atasan atau HRD, dia malah ngebela diri sendiri. Katanya 'enggak apa-apa, emang aku yang teledor'. Polos banget, jir."
Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Lembek. Di divisi kayak gitu, polos malah bikin gampang dimakan."
"Nah itu dia!" Dion menunjuk Ibra dengan sendoknya. "Beda banget sama lo. Oiya, dia sempat nanya lho, siapa yang nemuin notanya. Dia pengin bilang terima kasih langsung."
Ibra langsung menatap Dion tajam. "Lo enggak sebut nama gue, kan?"
"Kagak, tenang aja. Gue bilang sesuai pesan lu, 'Cuma balikin barang tercecer, enggak usah berlebihan'" Dion menirukan nada bicara Ibra dengan gaya dramatis, membuat Ibra menatapnya malas.
"Bagus," cetus Ibra dingin lalu kembali menyesap kopinya.
Ya, Ibra paling tidak suka berurusan dengan orang lain yang bukan termasuk urusannya. Dia juga lebih suka tidak diganggu, jarang berkenalan dengan orang lain. Dan keseringan tahu kejadian aneh-aneh dari Dion, teman karibnya sejak mereka kuliah.
"Tapi kasihan juga sih si Naya-Naya itu," gumam Dion lagi. "Anak baru, rajin, tapi dapet lingkungan kerjanya modelan begitu. Tadi aja gue lihat berkas penawaran BSD dilimpahin semua ke dia. Kayak biasa, si Ladybird itu pasti kayak gitu, dia santai orang lain yang tertekan."
Ibra tidak membalas lagi. Pria berusia 27 tahun itu menatap lurus ke luar jendela pantry yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta. Meski wajahnya tampak tak peduli, dalam hatinya Ibra empati, Naya, si anak baru yang terlalu sabar untuk dunia kerja yang sekeras ini.
Seharusnya, ketika sudah terpilih masuk ke dunia yang seperti ini, menjadi tidak peduli dan bodoamat itu penting. Bagi siapa pun yang ingin bertahan hidup di belantara korporat tanpa harus kehilangan akal sehat, bersikap cuek bukan lagi pilihan, tapi itu adalah strategi pertahanan diri.
Sore hari usai Naya menyerahkan berkas pada Lady pagi itu, suasana di lantai empat mendadak hening ketika pintu ruang manajer terbuka. Pak Danang, Manajer Operasional yang terkenal tajam dan hemat pujian, melangkah membawa satu bendel dokumen laporan penawaran proyek BSD.
Pria paruh baya itu berjalan lurus menuju area Administrasi. Marina yang melihat hal itu segera merapikan bajunya, siap memasang senyum manis seperti biasa. Lady pun begitu.
"Siapa yang menyusun dan merapikan seluruh rincian angka tagihan supplier BSD ini?" tanya Pak Danang dengan suara beratnya yang bergema di seluruh ruangan.
Marina berdehem pelan, hendak maju untuk mengambil posisi. "Saya yang koordinir penyusunannya, Pak—"
"Bukan kamu, Marina," potong Pak Danang cepat tanpa menoleh. Matanya mengunci Naya yang duduk membungkuk di mejanya. "Ini hasil ketikan dan verifikasi dari kamu kan, Jinaya? Kamu yang lembur semalam, kan?"
Naya tersentak pelan, buru-buru berdiri dari kursinya. Matanya melirik Marina dan Lady bergantian sebelum menjawab ragu, "I-iya, Pak Danang."
Pak Danang menatapnya tajam, lalu Lady menarik Marina agar mundur dan berbisik, "Jangan ngomong dulu, pak Danang kayaknya lagi marah."
Pak Danang yang tadinya menatap tajam Naya mendadak menyunggingkan senyum lebar—pemandangan langka yang jarang sekali terjadi di lantai empat.
"Kerja bagus yang luar biasa, Jinaya. Rincian angkanya presisi sampai ke rupiah terkecil, tidak ada satu pun nota yang melenceng. Sangat rapi!"
Pak Danang merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat lumayan tebal dan meletakkannya tepat di atas meja Naya.
"Ini bonus pribadi dari saya dan direksi buat kamu atas ketelitian dan kerja keras kamu sampai lembur semalam. Kamu anak baru, tapi kinerjanya jauh lebih memuaskan daripada yang sudah bertahun-tahun di sini," kata Pak Danang tegas, menyindir halus ke arah Lady dan Marina.
"Pertahankan!"
Naya yang sempat berpikir akan dimarahi pun menghela nafas lega. "T-terima kasih banyak, Pak Danang..." cicit Naya bingung sekaligus canggung, namun ada binar bangga di matanya.
"Oke, kalau begitu saya keluar. Sekali lagi, saya bangga sama kamu, Jinaya. Kasih tepuk tangan dulu buat rekan kita." Pak Danang bertepuk tangan diiringi yang lain yang ada di ruangan itu.
Ditempatnya Gea tersenyum kecil, bangga dengan si anak baru. Sementara Lady dan Marina memutar bola mata malas, bertepuk tangan tak ikhlas.
"Selamat, Naya," kata Bian dan Raka dengan senyum.
"Terimakasih, Kak."
Setelah Pak Danang kembali ke ruangannya, atmosfer di ruangan itu berubah membeku. Amplop cokelat di atas meja Naya seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis rasa dengki di dada senior-seniornya.
"Cari muka banget, iyuh," celetuk Marina cukup keras saat melintas di depan kubikel Lady. "Muka polos tapi otaknya licik. Sengaja banget bikin kita kelihatan enggak becus di depan Pak Danang."
"Biasa, anak baru haus validasi," sahut Lady sinis sambil melipat kedua tangannya. "Pakai sok-sokan terima bonus segala. Dipikir dia siapa? Baru masuk dua bulan aja gaya kerjanya udah kayak mau menguasai kantor."
Cemoohan dan bisikan racun itu terlontar tanpa ampun. Suara mereka dengan jelas terdengar sampai ke kubikel seberang.
Gea yang sedang mengetik di kursinya hanya menghentikan jemarinya sejenak, mendengus pelan tanpa berminat ikut campur. Sementara Raka dan Bian yang duduk berdampingan hanya saling melirik sekilas.
Bian memutar bolpoin di jarinya, menggeleng pelan mendengar sindiran tajam Lady dan Marina, namun memilih diam—dunia kerja menurutnya sekali lagi, akan aman selagi tidak ikut berurusan dengan drama orang lain.
"Dilarang iri." Ini suara Raka, tiba-tiba saja. Laki-laki sudah beristri itu tanpa menoleh mengucapkannya.
Marina menaikkan satu alisnya. "Apa? Iri?"
Raka menoleh. "Apa? Orang gue lagi baca caption."
Marina memutar bola matanya. "Gak jelas!"
Naya ditempatnya hanya bisa menunduk dalam-dalam, meremas ujung kemejanya. Rasa senang atas bonus itu pahit seketika, berganti dengan rasa bersalah yang tidak seharusnya ia rasakan.
Meski begitu, diam-diam Bian memberikan pesan pada Naya, menyemangatinya dan menyuruhnya agar tidak mementingkan segala ucapan Lady dan Marina.
|Bian
Jangan terlalu dipikirin, orang dengki memang begitu. Kamu semangat ya Naya
***
Beberapa hari kemudian, kabar besar berembus. Berkat susunan laporan penawaran BSD yang super rapi dan presisi hasil ketikan Naya, pihak klien tanpa ragu menyetujui seluruh proposal tanpa revisi sedikit pun. Proyek bernilai fantastis itu resmi jatuh ke tangan PT Aetheris Land & Development.
Pak Danang tak henti-hentinya berterima kasih dan memuji kinerja divisi Administrasi, terutama Naya di setiap rapat evaluasi. Kemenangan besar ini langsung disambut gembira oleh jajaran direksi.
Sampai-sampai Naya diberi jatah libur, sebagai bonus lagi.
Dan keesokan harinya, sebuah pengumuman resmi dikirimkan via email kantor tepat di jam makan siang.
Untuk merayakan keberhasilan proyek BSD, perusahaan mengundang seluruh karyawan untuk hadir dalam acara perayaan dan syukuran yang diadakan nanti malam di sebuah hotel bintang lima kawasan Jakarta Pusat. Acara ini bersifat bebas dan santai, bagi karyawan yang bisa dan berkenan hadir dipersilakan untuk bergabung.
Naya menghela napas panjang menatap pendar layar komputernya. Notifikasi email resmi dari manajemen dan rentetan pesan yang terus membanjiri grup WhatsApp divisi Administrasi menunjukkan pengumuman yang sama, tentang perayaan kemenangan proyek BSD di hotel bintang lima malam ini.
Bagi sebagian besar karyawan, ini adalah kabar gembira. Namun bagi Naya, undangan itu terasa melelahkan.
Jemarinya perlahan menyentuh kelopak matanya yang terasa berat. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa bohong, tubuhnya sudah mencapai batas.
Beberapa malam berturut-turut ia mengorbankan waktu tidur demi merapikan tumpukan nota dan mengetik angka-angka presisi yang berujung pujian dari Pak Danang. Bonus yang ia terima memang menyenangkan, tapi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya jauh lebih nyata.
Aku mau pulang aja nanti malam, lagian enggak wajib juga, batin Naya.
Naya sama sekali tidak berminat hadir. Lagi pula, acara itu bersifat opsional—siapa saja yang bisa dan berkenan hadir dipersilakan bergabung.
Dan berada di satu ruangan yang sama dengan Lady dan Marina dalam suasana informal hanya akan membuat kepalanya makin pusing. Sindiran tajam soal "anak baru cari muka" dan bonus dari Pak Danang masih terngiang jelas di telinganya.
Sore itu, Naya mulai membereskan barang-barangnya dengan gerakan perlahan. Saat jam kerja mendekati akhir, ia mematikan layar komputer, berencana menyelinap keluar lebih awal sebelum rombongan divisinya bersiap-siap menuju lokasi.
Namun, dunia kerja jarang membiarkan Naya lolos begitu saja dari genggaman rasa "tidak enakan".
Saat Naya baru saja menyampirkan tas selempangnya di bahu, sebuah tepukan keras di meja kerjanya mengagetkan gadis itu.
"Mau ke mana kamu, Nay? Kok udah rapi-rapi?" suara Lady menginterupsi tajam, memotong usahanya untuk kabur secara diam-diam.
Lady berdiri memblokir jalan keluar kubikel Naya dengan melipat tangan di dada. Di sampingnya, Marina berdiri menyilangkan kaki sembari menyesap minuman kemasan dengan senyum culas yang sudah sangat Naya hafal.
Naya menelan ludah, refleks memperbaiki posisi kacamatanya yang merosot. "E-eh... Kak Lady. Aku mau langsung pulang... Badan aku kerasa capek banget, mau istirahat di rumah..."
Marina terkekeh sinis, menyenggol lengan Lady. "Duh, Kak Lady... lihat tuh si 'bintang utama' kita. Baru dipuji Pak Danang sekali aja kemarin lagaknya udah kayak bos besar. Masuk acara syukuran kantor sendiri aja enggak sudi."
"Bukan gitu, Kak Marina..." Naya menyela panik, tangannya meremas tali tasnya erat-erat. "Aku beneran capek banget, beberapa hari kemarin aku kurang tidur—"
"Siapa yang enggak capek di kantor ini, Naya?" potong Lady dengan suara menekan, melangkah satu tapak mendekati Naya hingga jarak mereka terkikis. "Kita semua juga capek! Tapi ini acara syukuran proyek BSD. Kamu itu admin yang megang berkasnya, masa orang yang paling banyak dapet bonus malah enggak kelihatan batang hidungnya? Mau ditaruh di mana muka divisi Administrasi di depan Pak Danang dan direksi nanti?!"
"Tapi di email katanya bebas, Kak... yang bisa hadir aja..." cicit Naya pelan, berusaha membela diri meski suaranya makin kecil.
"Itu bahasa halus manajemen, Naya! Dasar enggak peka!" celetuk Marina gemas. "Kalau kamu enggak datang, Pak Danang bakal mikir kita yang senior-senior ini yang ngelarang kamu ikut! Kamu sengaja ya mau bikin citra kita makin buruk di depan atasan?!"
"Enggak, Kak! Beneran bukan begitu—"
"Enggak ada tapi-tapian!" potong Lady tegas, memutus kalimat Naya tanpa ampun. Ia menunjuk wajah Naya dengan telunjuknya. "Malam ini kamu wajib ikut naik bus rombongan! Nanti sampai sana kamu tinggal duduk, berbaur sebentar, habis itu terserah. Tapi kalau sampai kamu nekad bolos malam ini..."
Lady menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyum dingin yang membuat bulu kuduk Naya berdiri.
"Itu, kerjaanku sama Marina kamu yang tuntasin," tunjuknya pada tumpukan berkas di mejanya dan Marina.
Naya terpaku. Bencana baru menunggunya jika ia menolak. Rasa tidak enakan, ketakutan akan intimidasi yang makin brutal, serta ketidakmampuannya untuk berkata "tidak" kembali membelenggu lehernya erat-erat.
Dengan bahu terkulai dan dada yang bergemuruh berat, Naya akhirnya menundukkan kepala dalam-dalam. "I-iya, Kak... Naya ikut."
Lady dan Marina saling melempar pandangan puas. "Nah, gitu dong dari tadi. Jangan bikin emosi," cetus Lady melengos pergi bersama Marina yang tertawa pelan di belakangnya.
Naya mendudukkan kembali tubuhnya di kursi dengan lemas. Rencananya untuk beristirahat di rumah hancur lebur.
Tanpa ia sadari, keputusan pasrahnya malam itu, membuatnya terjebak dalam hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!