“Aku tidak mau dia ikut ke rumahku.”
Andri menunjuk ke arah Handoko. Tangannya mengepal, matanya tajam. Giginya bergemertak menahan marah. Kalau saja lelaki tua itu bukan ayah dari Sinta—adik tirinya—mungkin sejak tadi sudah dihajarnya.
Mirna dan Sinta menoleh ke arah Handoko. Mereka tidak berkata apa pun, tetapi jelas sekali pikiran mereka sama: Handoko memang tidak boleh ikut. Suasana menjadi hening. Handoko sadar, dua orang itu menolaknya.
“Baiklah. Pergilah kalian,” ucap Handoko akhirnya. Suaranya pelan, lemah. Dia tidak sanggup memberi penjelasan. Rasa bersalah pada Mirna dan Sinta terlalu besar. Ada hal yang sebenarnya ingin dia ungkapkan, tapi tenggorokannya terkunci.
Sinta maju selangkah. “Iya, Pak. Jangan ikut. Perasaan Mama Maharani pasti hancur kalau Bapak ada di sana. Apalagi kalau Bapak bertemu dengan suami Mama Maharani. Keributan tidak akan bisa dihindari.”
Kalimatnya terdengar seperti nasihat bijak. Padahal isi hatinya jelas berbeda. Dia hanya tidak ingin terbebani oleh ayah yang pendiriannya rapuh. Hari ini bilang A, besok bilang B. Dan Sinta tahu, sewaktu-waktu Handoko bisa saja membongkar kebenaran yang dia sembunyikan.
Sinta kemudian memeluk Handoko. Air matanya mengalir, seolah tidak rela berpisah. Namun di sela pelukan, dia berbisik dingin, “Jangan ikut campur urusan kami.”
Handoko terdiam. Kata-kata itu seperti palu menghantam kepalanya. Air matanya jatuh. Pahit. Dua orang yang selama ini menjadi alasan dia bertahan, kini meninggalkannya. Mendadak wajah Hana muncul di benaknya. Anak yang selama ini dia abaikan. Anak yang kebahagiaannya tidak pernah dia pikirkan. Anak yang lebih sering dia manfaatkan.
Sementara itu, Sinta, Mirna, Andri, Maharani, Riko, dan beberapa pengawal masuk ke mobil. Sinta duduk bersama Maharani. Sepanjang jalan, Maharani menggenggam tangan Sinta erat-erat, seakan tidak ingin dilepaskan lagi.
Sinta menatap ke luar jendela. Hatinya bergemuruh. “Perempuan penyakitan ini ibunya Hana. Hm, Hana memang beruntung. Tapi sekali la…
Duda-ku
orangtuaku ingin bertemu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 84 Episodes
Comments
Ranny
seharusnya Andri dan mama Maharani harusnya melakukan tes DNA itu yang lebih klop dan akurat
2025-11-17
1
Pasar Dugul
harus nya maharani,, ngerasa itu anaknya apa bukan, jgn krn sakit jadi ikut hilang rasa atau kontak batinnya.... jadi kesel sama si Mirna,, lebih gedeg lagi sama ci Handoko,, laki laki kok enggak ada nyalinya gitu
2025-11-12
0