Bab 5. Rencana Licik Livia

Di sebuah rumah sederhana yang sedang dipenuhi canda dan tawa kebahagiaan, siapa lagi kalau bukan keluarga Livia yang tengah merayakan pertunangannya dengan Putra. Mereka tampak bahagia, terutama orang tua Livia yang sangat bangga dengan pertunangan putri mereka dengan Putra, seorang pria tampan dan sukses.

Namun, di balik senyum cerah yang menghiasi wajah Livia, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dia rasakan yaitu sebuah kepuasan karena sudah berhasil mempermalukan Rayya dan membuatnya pergi dari rumahnya. Livia berbalik menatap Putra dengan tatapan penuh kemenangan.

"Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku, Putra," ujar Livia dengan suara pelan namun penuh arti.

Putra menatap Livia dengan senyuman hangat, "Apapun untuk mu, sayang. "

Livia tersenyum sinis. "Aku sangat berterima kasih karena kau bersedia bertunangan denganku dan meninggalkan Rayya. Aku ingin mempermalukannya di depan banyak orang, dan kau membantuku melakukan itu dengan sempurna."

Putra hanya diam dan mendengarkan semua ocehan Livia. Entah kenapa dia mau menuruti keinginan buruk kekasihnya itu. Padahal, selama saat dia bersama Rayya, gadis itu selalu bersikap baik, penuh kesabaran, dan tidak pernah melakukan hal-hal yang buruk. Jika saja Putra tidak mengenal Livia lebih awal, mungkin dia akan memilih Rayya sebagai pendamping hidupnya.

Dengan ragu, Putra bertanya, "Kenapa kau begitu membenci Rayya? Apa yang sudah dia lakukan padamu?"

Livia menatapnya dengan mata berkilat penuh emosi. "Karena dia selalu merebut apa yang aku miliki dan apa yang aku suka! Setiap kali aku menyukai seorang pria, pasti pria itu akan lebih dulu mencintai Rayya. Aku muak dengan semua itu! Aku tidak ingin melihatnya bahagia. Dan sekarang, hanya kau yang bisa menerimaku, dan tidak tergoda dengan wanita itu. "

Putra mengangguk mengerti, kini dia mulai menyadari bahwa Livia memiliki masalah pribadi dengan Rayya, dan mungkin juga karena mereka bukan saudara kandung jadi Livia selalu bersikap seenaknya kepada Rayya.

"Sudah jangan membicarakan dia lagi. Dia bukan bagian dari keluarga kita, kepergiannya membuatku merasa jadi lebih baik. " sahut Arin ibu Livia, sejak dulu wanita itu tidak suka kepada Rayya dan membawanya kerumah karena kasihan.

"Ya, untuk apa kita membicarakannya lagi, sudah cukup. " ujar Irwan yang ikut mendengarkan obrolan anak dan istrinya.

Besok Livia berencana mengajak Putra untuk membeli kue di Rey’s Bakery, toko kue terkenal dengan banyak pilihan kue yang lezat untuk di bawa ke rumah calon mertuanya. Namun, dia memiliki alasan lain. Sebenarnya Livia mengajak Putra ke sana bukan hanya untuk membeli kue, melainkan untuk melakukan sesuatu.

********

Sementara itu, di tempat lain, Rayya sedang menikmati kebahagiaannya yang sederhana bersama suaminya, Saka.

Malam itu, mereka memutuskan untuk memesan makanan secara online karena rumah mereka belum dilengkapi dengan peralatan dapur yang lengkap. Sambil menunggu makanan datang, Rayya berpikir untuk mulai bekerja setengah hari saja besok agar ia bisa belanja dan membeli kebutuhan rumah dan lainnya.

"Aku akan belanja beberapa barang untuk memenuhi rumah ini besok, apa boleh? atau aku harus menunggumu untuk belanja kebutuhan rumah," kata Rayya kepada Saka.

Saka tersenyum. "Tentu, lakukan apa pun yang kau mau. Ini rumahmu juga sekarang, dan tidak perlu menungguku lakukan yang menurutmu baik. Aku yakin kamu pasti akan melakukan yang terbaik untuk rumah ini." ujarnya.

Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya masuk ke kamar mereka. Namun, saat sudah berada di ranjang yang sama, keheningan mendadak menyelimuti mereka berdua. Ada kecanggungan di antara mereka berdua. Saka dan Rayya adalah pasangan suami istri yang menikah karena keadaan yang mendesak. Karena itu mereka merasa ada batas yang memisahkan.

Rayya berbaring di tepi ranjang, sementara Saka melakukan hal yang sama di sisi lainnya. Mereka saling memunggungi dan menyisakan ruang kosong di antara mereka, seolah menjadi penghalang yang tidak terlihat.

Pada akhirnya, Saka berbalik menghadap Rayya dan membuka suara. "Rayya, kita tidak bisa seperti ini. Jika kita ingin menjadi suami istri yang sesungguhnya, kita tidak boleh membuat jarak di antara kita, kemarilah."

Rayya ikut berbalik menatap Saka dengan ragu. Ia tahu pernikahan mereka masih baru, dan mereka membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Tapi dia juga sadar bahwa dia tidak bisa terus bersembunyi dalam perasaan canggungnya sendiri.

"Aku hanya butuh waktu," kata Rayya pelan.

Saka mengangguk mengerti. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kita mulai menjalani pernikahan ini dengan lebih baik. Kemarilah," Saka menepuk lengannya dan meminta Rayya untuk tidur diatas tangannya dan menjadikannya bantal.

Rayya tersenyum kecil. Mungkin Saka benar, mereka harus mulai membuka hati dan menerima satu sama lain. Ini adalah awal kedekatan mereka nantinya. Diawali malam ini dengan tidur bersama dan saling berdekatan.

Keesokan harinya, di Rey’s Bakery, Rayya dan beberapa karyawannya sedang sibuk melayani pelanggan ketika Livia dan Putra masuk ke dalam toko. Livia langsung menghampiri Rayya dengan senyum pura-pura.

"Kak Rayya, apa kabar?" kata Livia dengan nada manis yang palsu.

Rayya sedikit terkejut melihat Livia, tapi dia tetap tersenyum sopan. "Livia, Putra. Apa yang bisa aku bantu?"

Livia berpura-pura melihat-lihat kue, dan memilih beberapa kue yang terkenal enak disana.

"Kami ingin memesan kue untuk aku bawa ke rumah Putra, " kata Livia dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun

Rayya mengangguk. "Baik, ada yang spesifik yang kalian inginkan?"

Livia pura-pura berpikir sebelum akhirnya berkata, "Apa ada kue yang masih baru dan baru diangkat dari loyang? " tanya Livia antusias.

Rayya mengangguk dan meminta karyawannya untuk mengambilkan kue yang masih baru dari dapur. "Kalian bisa duduk dulu sambil menunggu, aku akan melayani pembeli lainnya. "

Livia mengangguk dan mengajak putra duduk di sofa yang sudah disediakan untuk pelanggan yang ingin menikmati kue di tempat. Dengan senyum liciknya Livia berpura-pura menjatuhkan tasnya lalu mengambil sesuatu dari dalam tas dan meletakkannya di bawah sofa.

Tak lama karyawan Rayya memanggil Livia dan menunjukkan kue yang dia minta. Tentu saja dengan senang hati Livia meminta mereka untuk segera membungkusnya.

"Kak Rayya, terima kasih kuenya. Aku pulang dulu, Ayo mas. " Livia segera menggandeng lengan Putra keluar dari toko itu namun diteriaki oleh karyawan.

"Mbak, bayar dulu."

"Kak Rayya yang bayar, potong saja gajinya. " katanya dengan senyum mengejek dan melenggang pergi menjauh dari sana.

Rayya menghela nafasnya dan geleng-geleng kepala melihat itu lalu meminta karyawannya yang terlihat kesal untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.

"Biarkan saja, " ujar Rayya

"Dasar wanita nggak tau malu, udah merebut tunangan kakak sekarang beli kue nggak mau bayar. Ini sudah keterlaluan, Kak. " protes karyawannya yang bernama Sisi yang tidak Terima dengan sikap Livia.

"Sudahlah, mungkin dia bukan jodohku, dan keikhlasanku nanti akan membawa keberkahan dalam hidupku. Sudah ayo kita kerja lagi. " Dengan sabar Rayya menenangkan karyawannya dan mulai kembali dengan aktifitas mereka.

Namun belum juga mereka melakukan sesuatu, dari kursi pelanggan terdengar teriakan.

"Ih, kecoa banyak banget. Ih, ih, geli. Kenapa toko ini banyak kecoa nya sih. Apa kalian tidak menjaga kebersihan toko ini."

Terpopuler

Comments

~@Daryyl05

~@Daryyl05

maaf yah kak thor,saran aku up nya pagi aja,spa tw up di jam segitu rame yg bacanya hehe 😅

2025-04-05

1

Rahma Inayah

Rahma Inayah

semoga Livia segera dpt karma atas perbuatannya

2025-04-06

1

~@Daryyl05

~@Daryyl05

semangat yah thor💪,aku suka ama cerita mu🥰

2025-04-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Penghianatan
2 Bab 2. Pria Asing
3 Bab 3. Terkuak
4 Bab 4. Rumah Baru
5 Bab 5. Rencana Licik Livia
6 Bab 6. Keputusan Rayya
7 Bab 7 Kantor Polisi
8 Bab 8 Belanja
9 Bab 9 Mama Mertua
10 Bab 10 Tentang Sebuah Perasaan
11 Bab 11 Rencana Arin
12 Bab 12 Tamu Tak Di Undang
13 Bab 13 Keputusan Rayya
14 Bab 14 Perdebatan
15 Bab 15 Pergi Ke Kantor Polisi
16 Bab 16 Syarat Kebebasan
17 Bab 17 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
18 Bab 18 Menemui Putra
19 Bab 19 Rencana Balasan
20 Bab 20 Ajakan Makan Siang
21 Bab 21 Dia Istri ku
22 Bab 22 Wanita Pilihan Saka
23 Bab 23 Rumah Tempat Pulang
24 Bab 24 Awal Yang Indah
25 Bab 25 Dua Wajah Berbeda
26 Bab 26 Di Usir
27 Bab 27 Bertemu Papa Mertua
28 Bab 28 Pindah
29 Bab 29 Pikiran Penuh Racun
30 Bab 30 Senjata Makan Tuan
31 Bab 31 Keputusan Putra
32 Bab 32 Konferensi Pers
33 Bab 33 Niken
34 Bab 34
35 Bab 35 Berita Yang Di Sembunyikan
36 Bab 36 Hasil Tes
37 Bab 37 Resepsi
38 Bab 38 Dua Keluarga
39 Bab 39 Kehangatan Keluarga
40 Bab 40 Ibu, Aku Pulang
41 Bab 41 Tamu Tak Diundang 2
42 Bab 42 Kembali Ke Rumah
43 Bab 43 Hamil
44 Bab 44 Periksa Kehamilan
45 Bab 45
46 Bab 46 Rujak
47 Bab 47 Kecelakaan
48 Bab 48 Maaf Yang Masih Menggantung
49 Bab 49 Maaf Yang Menemukan Jalan.
50 Bab 50 Tujuh Bulanan
51 Bab 51 Biru Untuk Twins
52 Bab 52 Tanda Kehadiran
53 Dua Cahaya Dua Harapan (End)
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1. Penghianatan
2
Bab 2. Pria Asing
3
Bab 3. Terkuak
4
Bab 4. Rumah Baru
5
Bab 5. Rencana Licik Livia
6
Bab 6. Keputusan Rayya
7
Bab 7 Kantor Polisi
8
Bab 8 Belanja
9
Bab 9 Mama Mertua
10
Bab 10 Tentang Sebuah Perasaan
11
Bab 11 Rencana Arin
12
Bab 12 Tamu Tak Di Undang
13
Bab 13 Keputusan Rayya
14
Bab 14 Perdebatan
15
Bab 15 Pergi Ke Kantor Polisi
16
Bab 16 Syarat Kebebasan
17
Bab 17 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
18
Bab 18 Menemui Putra
19
Bab 19 Rencana Balasan
20
Bab 20 Ajakan Makan Siang
21
Bab 21 Dia Istri ku
22
Bab 22 Wanita Pilihan Saka
23
Bab 23 Rumah Tempat Pulang
24
Bab 24 Awal Yang Indah
25
Bab 25 Dua Wajah Berbeda
26
Bab 26 Di Usir
27
Bab 27 Bertemu Papa Mertua
28
Bab 28 Pindah
29
Bab 29 Pikiran Penuh Racun
30
Bab 30 Senjata Makan Tuan
31
Bab 31 Keputusan Putra
32
Bab 32 Konferensi Pers
33
Bab 33 Niken
34
Bab 34
35
Bab 35 Berita Yang Di Sembunyikan
36
Bab 36 Hasil Tes
37
Bab 37 Resepsi
38
Bab 38 Dua Keluarga
39
Bab 39 Kehangatan Keluarga
40
Bab 40 Ibu, Aku Pulang
41
Bab 41 Tamu Tak Diundang 2
42
Bab 42 Kembali Ke Rumah
43
Bab 43 Hamil
44
Bab 44 Periksa Kehamilan
45
Bab 45
46
Bab 46 Rujak
47
Bab 47 Kecelakaan
48
Bab 48 Maaf Yang Masih Menggantung
49
Bab 49 Maaf Yang Menemukan Jalan.
50
Bab 50 Tujuh Bulanan
51
Bab 51 Biru Untuk Twins
52
Bab 52 Tanda Kehadiran
53
Dua Cahaya Dua Harapan (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!