"Perasaan gue gak salah apa-apa, Ridho. Niat gue kan emang mau nolongin tuh cewek? Gue liat pas gue nganterin pesanan pelanggan, dia keliatan kesakitan. Ya refleks gue nolongin lah," kata Ardi dengan nada kesal.
Ridho yang mendengar cerita Ardi hanya menghela napas. "Ya mau gimana lagi ar, Ini udah keputusan manajer. Kita cuma karyawan biasa, gak bisa berbuat apa-apa. Jadi lo sabar aja ya!" katanya mencoba memberi semangat.
"Iya Do. Gue cuma pusing kalau harus keluar dari sini. Gue mau kerja di mana?"
"Gue doain deh, mudah-mudahan lo cepet dapet kerjaan baru," ucap Ridho. Ia kemudian menambahkan, "Gue ke belakang dulu ya, takut Pak Manajer lihat. Bisa-bisa gue ikut dipecat juga. Loe tau sendiri kan, nyari kerja di luar susah."
"Oke Do, santai aja. Gue juga mau cabut dari sini. Ya udah, sampai ketemu lagi. Semangat ya kerja di sini," kata Ardi sebelum pergi.
Sesampainya di parkiran, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Mas Ardi..?"
Ardi refleks menoleh ke belakang. Saat melihat siapa yang memanggil, ia hanya tersenyum kecut. "Oh, Nayla. Ada apa ya?" tanyanya datar.
Nayla menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku mau minta maaf, Mas. Gara-gara aku, Mas jadi kehilangan pekerjaan. Aku benar-benar minta maaf."
Ardi menggeleng sambil tersenyum tipis. "Gak apa-apa, Nay. Ini bukan salah kamu. Mungkin emang udah jalan hidup gue. Lagian, gue masih bisa cari kerjaan lain."
Nayla menggigit bibir, lalu berkata, "Gini aja, Mas. Mas kerja di perusahaan Papa aku aja. Nanti aku coba tanyain, siapa tahu ada lowongan buat Mas."
Ardi langsung menolak. "Gak usah, Nay. Gue gak mau merepotkan lo. Lagian gue juga belum lulus kuliah."
Nayla berusaha membujuk. "Gak apa-apa kok, nanti aku coba bicara sama Papa. Aku ngerasa bersalah, Mas. Tolong, biarin aku bantu Mas kali ini."
Ardi tetap menolak dengan halus. "Gak usah, Nay. Gue ikhlas nolongin lo tadi."
Nayla cemberut. "Kok masih manggil aku 'Mbak' sih, Mas? Panggil nama aku aja. Kesan-nya kayak aku lebih tua dari Mas, padahal aku kan adik angkatan Mas."
Ardi tertawa kecil. "Oh iya juga ya. Tapi rasanya kurang sopan kalau gue panggil langsung."
Nayla menghela napas. "Ya udah, terserah Mas aja. Ini nomor aku. Kalau butuh kerjaan, langsung hubungi aku, ya?" katanya sambil memberikan nomor teleponnya.
Ardi menerimanya, tapi hanya tersenyum. "Iya, kalau gue butuh, nanti gue hubungi."
Setelah itu, Ardi berpamitan dan pergi.
Setelah kepergian Ardi, Dina—sahabat Nayla—melihat temannya masih menatap kepergian pemuda itu.
"Lo kenapa sih, Nay? Orangnya udah pergi jauh, masih lo liatin aja," goda Dina.
Nayla tersentak. "Gak apa-apa, Din. Gue cuma ngerasa bersalah aja. Gara-gara gue, dia kehilangan kerjaannya."
Dina terdiam sejenak, lalu berkata, "Ya udah deh, gak usah dipikirin terus. Lagian, ini bukan kemauan lo juga, kan?"
Nayla menggigit bibirnya. "Tapi, Din... kemarin-kemarin gue keterlaluan gak sih sama dia?"
Dina menatap Nayla tajam. "Kalau mau jujur, iya. Lo emang agak keterlaluan sama dia sebelumnya."
Nayla menunduk. "Gue gak nyangka aja jadinya bakal kayak gini. Kalau tau gini, gue gak bakal marah-marah pas dia gak sengaja nabrak gue dulu."
Dina menepuk bahu Nayla. "Udahlah, Nay. Jangan nyalahin diri lo terus. Yang salah tuh si Iqbal, brengsek itu. Tau-tau dateng, langsung main tonjok ke Mas Ardi. Kalau dia gak tonjok Mas Ardi, mungkin Mas Ardi gak bakal sampai dipecat."
Nayla mengepalkan tangannya. "Iya sih, Din. Gue juga gak habis pikir sama Iqbal. Mau nya dia tuh apa sih? Masih aja ganggu gue."
"Udahlah, Nay. Gak usah dipikirin. Mending kita pulang aja," ajak Dina.
Nayla mengangguk. "Ya udah, ayo."
Di kontrakan, Ardi langsung masuk ke dalam rumah.
Reza, sahabatnya, melihatnya pulang lebih awal dan langsung bertanya, "Tumben lo udah pulang, bro?"
Ardi menjawab cuek. "Ngapain lagi kalau gak pulang? Gue dipecat."
"Apaan? Lo dipecat? Kok bisa?" Reza terkejut.
"Iya, gue dipecat."
"Emang lo ngelakuin kesalahan apa?"
"Gue gak ngerasa ngelakuin kesalahan apa-apa."
"Lah terus, kalau gak salah, kenapa dipecat?"
Ardi menghela napas, lalu menjelaskan, "Gue nolongin tuh cewek, Nayla. Gue gak sengaja ribut sama mantannya. Pas gue coba lerai, si cowok gak terima, malah nonjok gue. Terus, gara-gara bikin keributan di resto, gue yang dipecat."
Reza geleng-geleng kepala. "Loe juga sih, nolongin orang gak lihat-lihat dulu situasi-nya."
"Ya nama-nya juga niat nolongin, bro. Masak harus lihat kondisi dulu?" balas Ardi.
Setelah mendengar cerita Ardi, Reza bangkit dari duduknya. "Ya udahlah, timbang pusing. Gue mandi dulu, gerah."
Ardi mendelik. "Woy, teman laknat! Gue curhat malah lo tinggal mandi!"
Reza tertawa. "Terus gue harus gimana?"
Ardi menghela napas pasrah. "Ya udah, sana mandi. Habis itu makan, gue udah beli nasi."
"Oke, siap," kata Reza sambil masuk ke kamar mandi.
Sementara itu, di rumah mewahnya, Nayla duduk di meja makan bersama ayahnya, Pak Andi.
"Pa, aku boleh minta tolong gak?"
"Tumben, minta tolong apa?"
"Aku ada temen yang baru dipecat. Bisa gak dia kerja di perusahaan Papa?"
"Kenapa dia dipecat?"
"Dia gak salah apa-apa, Pa. Dia dipecat gara-gara nolongin aku."
Pak Andi mengernyit. "Nolongin apa? Emang kamu kenapa?"
Nayla menjelaskan semua kejadian yang terjadi di restoran tadi.
Pak Andi langsung marah. "Iqbal udah keterlaluan! Biar Papa telepon Herdi, bapaknya Iqbal. Papa bakal kasih peringatan ke dia biar anaknya gak ganggu kamu lagi. Sekalian Papa batalkan kontrak kerja sama dengan mereka!"
Nayla menatap ayahnya dengan lega..
"makasih pa."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments