tersentuh nya hati gadis sultan dengan kebaikan cowok pas-pasan

"Temen apaan lo. Doain gue yang kayak begitu," ucap Nayla tidak terima.

"Udah-udah, ayo masuk! Keburu keduluan dosen galak nanti!" sahut Dina.

Meninggalkan Ardi yang terbengong-bengong melihat sikap aneh Dina dan Nayla.

"dasar perempuan aneh, pergi tanpa pamitan kayak jalangkung.!" gerutu Ardi yang langsung pergi.

Tak terasa, jam kelas sudah selesai.

Setelah Nayla dan Dina keluar dari kelas kampusnya,

"Jalan yuk, Din. Cari udara segar, suntuk nih di kampus terus, apalagi mikirin soal pelajaran dari dosen botak tadi," kata Nayla.

"Jalan ke mana kita Nay?" tanya Dina.

"Jalan ke mana kek, yang penting gak di empang," sahut Nayla.

Dina yang mendengar jawaban asal Nayla langsung mencubitnya.

"Aduh!" teriak Nayla.

"Apaan sih lo Din? cubit gue? Bikin kaget aja," kata Nayla.

"Habisnya lo sejak putus sama playboy cap katak itu, bawaannya ngegas mulu!" sahut Dina.

"Bagaimana gue gak ngegas, habisnya tiap ketemu itu cowok, sukanya nabrak gue. Kan wajar gue marah," ucap Nayla jengkel.

"Kan kumat penyakit lo! Udah ah, ayo jalan," kata Dina.

Nayla yang mendapati ajakan sahabatnya langsung mengangguk. "Ayo, gas!" kata Nayla.

Setelah Nayla dan Dina naik mobil, mereka berhenti saat lampu merah.

Nayla yang melihat lampu merah lama hijau nya mulai gak sabar dan menggerutu, "Ih, lama amat sih lampu merah ini?"

"Kan... mulai si tukang ngomel," gumam Dina lirih.

Nayla yang mendengar gumaman Dina langsung menoleh. "Ngomong apa lo, Din? Gue denger kali! Lo ngomong apa?"

"Gak ada, gue gak ngomong apa-apa."

"Alah, ngeles aja lo, Din! Lagi an tadi gue denger lo ngatain gue tukang ngomel!" crocos Nayla.

"Tauk ah, panas. Bagus gue lihat tuh pohon, daripada dengerin lo gak jelas," kata Dina mengelak.

 

Setelah perdebatan panjang antara dua sahabat selesai, lampu merah menyala hijau.

Saat Nayla mulai menjalankan mobilnya, baru beberapa meter tiba-tiba Dina berteriak,

"Nay, stop! Stop! Gue bilang stop!"

Nayla yang mendengar Dina berteriak langsung menginjak rem mobilnya.

"Apaan sih lo,Din? Gue belum budeg kali, jadi gak usah pake teriak-teriak segala."

"Eh, Nay! Lo lihat deh cowok yang lagi nolongin bapak-bapak narik gerobak yang nyangkut itu. Kayaknya yang nolongin bapak itu Mas Ganteng deh!" kata Dina.

Nayla yang mendengar ucapan Dina hanya mendengus,.

"Kan mata lo itu Din? Gak bisa lihat orang cakep dikit." gerutu Nayla yang tak habis fikir, Dina menyuruh nya berhenti hanya untuk melihat lelaki cakep sedang menolong bapak-bapak pemulung.

"Bukan masalah cakep nya Nay. Masalahnya tuh cowok yang nolongin bapak itu kayak Mas Tampan yang nabrak lo tadi pagi," ungkap Dina.

"Terus hubungannya sama gue apa? Udah ah, mending kita lanjut jalan lagi aja daripada ngurusin orang lain," kata Nayla cuek.

Dina yang dicuekin Nayla jadi kesal.

"Nay tunggu bentar Nay! Lihat dulu aja itu Mas Ganteng," kata Dina sambil menunjuk Ardi.

"Apaan sih Din? Gue gak peduli itu dia atau bukan," ucap Nayla jengkel.

"Iya makan nya lihat dulu Nay, nanti baru lo komen."

"Mana sih?" kata Nayla akhirnya mengikuti arah telunjuk Dina.

"Itu loh Nay... yang lagi mendorong gerobak sampah itu loh!"

"Oo itu? Kasihan bapak-bapak itu ya, Din? Dan itu cowok yang nabrak gue? Baik juga ya mau berhenti buat nolongin bapak-bapak yang bawa gerobak sampah itu," kata Nayla tanpa sadar memuji Reza.

Dina yang mendengar kata Nayla langsung menyahut.

"Iya, gue bilang apa? Mungkin tadi itu emang gak sengaja aja dia nabrak lo. Tuh lihat, Mas Tampan itu udah nolongin bapak itu, tambah ngasih makanan lagi. Baik kan tuh Mas Tampan?"

"Iya, gak nyangka gue, cowok kayak begitu mau juga nolongin orang yang lagi susah Din. Tuh lihat, bapaknya juga dibeliin makanan. Gak nyangka cowok ganteng kayak begitu mau nolongin bapak pemulung," ucap Nayla tanpa sadar telah memuji Reza lagi.

"Awas naksir lo nanti sama Mas Tampan itu," goda Dina.

Nayla yang tersadar dari ucapannya langsung melotot.

"Gak mungkin lah ya, gue naksir dia? Amit-amit!"

"Perasaan tadi ada yang muji-muji tuh cowok baik deh. Kenapa sekarang melotot ya?" kata Dina sambil tertawa.

Nayla tidak bisa menjawab perkataan Dina, hanya bisa pasrah.

"Iya-iya, bawel amat lo. Ya udah, ayo jalan lagi," kata Nayla pasrah.

Lalu Nayla kembali berkata, "Kita ke kafe apa ke mal Din?"

Dina yang ditanya Nayla hanya diam tanpa menjawab.

Nayla yang melihat Dina diam langsung berteriak memanggil namanya, "Dinaaaaa...?"

"Apa an sih Nay? Teriak-teriak, gue gak budeg kali, jadi lo gak usah teriak-teriak juga."

"Habisnya lo ditanya juga gak dijawab. Gimana ini? Ke kafe apa ke mal?" tanya Nayla.

Tapi Dina masih diam tidak menjawab.

Nayla yang pertanyaannya tidak dijawab langsung teriak lagi.

"Dinn? Dinaaa!"

Dina yang mendengar Nayla mulai teriak akhirnya menjawab.

"Eh, itu ke kafe aja deh Nay. Sekalian makan, laper gue." Tapi pandangan Dina masih ke arah Ardi.

"Begitu kek, ditanya tuh cepat jawab. Dasar lemot!" kata Nayla yang langsung mencap gas mobil nya.

"Habisnya tuh cowok udah ganteng, baik lagi. Gue kalau lihat yang kayak begitu tuh... adem rasanya," sahut Dina.

"Halah, lebay lo." kata Nayla datar

 

Sementara itu, di tempat ardi sebelum nya. yang membantu bapak pemulung.

"Kenapa Pak? Gerobaknya?" tanya Ardi.

"Ini, Mas, ban roda saya masuk lubang, gak kuat naik saya tarik," sahut bapak pemulung.

"Oh, ya udah Pak, saya bantuin dorong ya," tawar Ardi.

"Gak usah Mas, nanti Mas nya kotor. Soalnya gerobak barang bekas." tolak bapak pemulung.

"Gak apa kok Pak. Lagian nanti bisa dicuci kok kalau kotor." sahut Ardi.

Setelah beberapa kali dorongan, akhirnya gerobak bisa keluar dari lubang.

ardi pun tak hanya membantu dorong, tetapi juga membelikan bapak pemulung itu makanan. Bapak pemulung itu awalnya menolak, tetapi akhirnya menerima setelah ardi membujuknya.

Saat bapak pemulung itu makan, ia berdoa dalam hati untuk ardi, berharap pemuda baik itu diberi kesehatan dan kelimpahan rezeki.

Setelah selesai makan, Ardi juga memberikan makanan tambahan untuk istri bapak pemulung itu di rumah, serta sedikit uang sebagai tambahan rezeki.

"Terima kasih banyak ya Mas," ucap bapak pemulung dengan haru.

"Iya Pak, sama-sama. Saya pamit dulu, ya," kata Ardi.

"Iya, Mas, hati-hati ya!"

Setelah itu, Ardi pun pergi dengan motornya, sementara dari kejauhan, Nayla masih memandangi Ardi dari kaca sepion. tanpa sadar bahwa hatinya mulai goyah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!