Boni menghela napas panjang saat melihat angka pada kertas tagihan rumah sakit yang baru saja diberikan padanya. Nominal yang tertulis membuat kepalanya semakin pusing. Uang penjualan cincin sudah habis, bahkan uang tabungan Laras juga sudah terpakai, dan Bayu masih belum sadar.
Ia meremas kertas itu, lalu menatap Bayu yang terbaring diam. "Gue nggak bisa terus begini. Gue harus cari cara lain."
Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, Boni memutuskan untuk mengurus BPJS Kesehatan untuk Bayu. Setidaknya, jika berhasil, biaya rumah sakit tidak akan terlalu memberatkannya. Dengan harapan itu, ia bergegas menuju kantor BPJS, membawa semua dokumen yang diperlukan.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi penyesalan. Kenapa baru sekarang gue kepikiran ini? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin? Ia mengutuk dirinya sendiri atas kelalaiannya, berharap masih ada jalan keluar sebelum semuanya semakin memburuk.
Namun, harapannya hancur dalam sekejap.
"Maaf, Pak. KTP pasien ini tidak terdaftar di sistem kependudukan," kata petugas di loket, menatap layar komputernya dengan ekspresi bingung.
Boni mengernyit. "Maksudnya gimana, Bu? Itu KTP asli, 'kan? Masa nggak terdaftar?"
Petugas itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menjelaskan, "KTP ini... tidak terdaftar dalam database kependudukan nasional. Dengan kata lain, ini bukan KTP resmi."
Boni merasakan darahnya berdesir. "Ibu bercanda, 'kan?"
Petugas menggeleng pelan. "Maaf, Pak. Kalau datanya tidak ada di sistem, kami tidak bisa memproses pendaftaran BPJS-nya."
Boni terdiam. Kepalanya terasa penuh dengan pertanyaan.
KTP palsu? Bayu?
Kenapa?
Siapa sebenarnya Bayu?
Boni meremas KTP itu di tangannya. Rasanya ingin berteriak, ingin memaki keadaan yang terus mempermainkannya. Bukan cuma masalah uang, sekarang ada misteri baru tentang sahabatnya sendiri.
Ia berjalan keluar dari kantor BPJS dengan langkah gontai. Setibanya di rumah sakit, ia kembali duduk di samping ranjang Bayu, menatap wajah sahabatnya yang masih tertidur dalam koma.
"Gue udah ngelakuin semua yang gue bisa, Bay," gumamnya pelan, suaranya nyaris patah. "Tapi kenapa malah makin ribet? Gue udah ke BPJS, udah coba urus semuanya... tapi mereka bilang KTP lo palsu. Siapa lo sebenarnya, hah? Apa yang lo sembunyiin?"
Boni mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi. Ia menatap KTP di tangannya sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang.
"Lo harus sadar, Bay. Gue butuh lo buat ngejelasin semua ini."
Di dalam kegelapan kesadarannya, Bayu mendengar suara itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak koma, kelopak matanya bergerak sedikit.
Boni duduk di tepi ranjang Bayu, kepalanya tertunduk, jemarinya saling bertaut di antara lutut. Matanya menatap kosong lantai kamar rawat itu, pikirannya berkecamuk.
Ia sudah mencoba segalanya. Menjual cincin berlian, bekerja lebih keras, bahkan berharap BPJS bisa membantu. Tapi semua itu sia-sia. Sekarang, hanya ada satu hal yang tersisa—tanah dan rumah warisan orang tuanya.
Tapi... apa ia benar-benar harus menjualnya?
Boni menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan kosong. Napasnya berat, pikirannya penuh dengan pertimbangan yang membuat dadanya sesak.
Ia mengusap wajahnya, lalu menggumam lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Kalau aja waktu itu Bayu nggak nolongin gue dari perampok, nggak nyumbangin darahnya pas stok rumah sakit lagi habis... mungkin motor gue udah hilang, dan gue juga nggak bakal ada di sini sekarang."
Suara itu nyaris patah di ujungnya. Kenangan tiga tahun lalu berputar di kepalanya seperti film lama yang tak bisa dihentikan.
Boni membuang napas kasar, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Bayu. Pikirannya penuh, dadanya sesak, seakan beban yang ia pikul semakin berat.
Di dalam kesadarannya yang terperangkap, Bayu mendengar semua itu. Suara Boni masih terngiang di kepalanya, mengulang kembali kenangan yang hampir ia lupakan.
"Kenapa dia tiba-tiba ngomongin itu?"
Bayu ingin bertanya, ingin mencari jawaban, tapi tubuhnya tetap diam. Ia hanya bisa mendengar, tanpa bisa membalas, tanpa bisa mengulurkan tangan untuk menghentikan Boni yang pergi dengan langkah gontai.
Boni tahu, Bayu bukanlah saudara kandungnya. Mereka tidak terikat oleh darah, tidak dibesarkan dalam keluarga yang sama. Tapi dalam hidup, ada ikatan yang terbentuk bukan karena hubungan keluarga, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam—sebuah utang budi yang tak akan pernah bisa dibayar lunas.
Tiga Tahun Lalu
Malam itu, angin bertiup cukup kencang. Jalanan di sudut kota mulai lengang, hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang melintas. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, Boni mengendarai motor barunya—motor impian yang akhirnya bisa ia beli setelah hampir tiga tahun menabung.
Ia baru saja pulang dari warung kopi, senyum masih mengembang di wajahnya. Namun, kegembiraannya tak bertahan lama.
Di tikungan jalan yang sepi, Boni memperlambat laju motornya saat melihat sesuatu di tepi jalan. Namun sebelum ia sempat menyadari bahaya, dua pria berjaket hitam tiba-tiba melompat keluar dari bayangan. Salah satunya mendorong tubuhnya dengan kasar, membuat motor oleng dan hampir terjatuh, sementara yang lain sudah mencabut pisau lipat yang berkilat di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
"Turun, lo! Serahin motor lo!" bentak pria yang memegang pisau, matanya liar menatap Boni.
Jantung Boni berdegup kencang. Nalurinya ingin melawan—ia bukan orang yang mudah menyerah begitu saja. Tapi menghadapi dua orang, salah satunya bersenjata tajam, bukanlah keputusan bodoh yang ingin ia ambil.
"Tolong!" Boni berteriak sekencang mungkin, berharap ada orang yang lewat.
Teriakannya hanya memancing amarah si perampok. Dalam hitungan detik, sebuah tinju mendarat keras di perutnya. Boni terhuyung, mencoba tetap berdiri, tapi serangan berikutnya datang terlalu cepat.
"Berisik!" Pria dengan pisau itu menendang punggungnya, membuatnya tersungkur ke aspal kasar. Ia meringis, mencoba mengatur napas yang tersengal.
Boni mengepalkan tangan, ingin bangkit dan melawan. Tapi pisau yang berkilat di bawah lampu jalan itu mengingatkannya—jika ia salah langkah, nyawanya bisa melayang.
Boni merangkak mundur, tangan gemetar mencoba mencari sesuatu untuk membela diri. Tapi sebelum sempat berbuat apa-apa, pria itu meraih lengannya dan menikamnya!
Rasa panas menyebar di perutnya. Darah mulai merembes ke jaketnya. Boni menggigit bibir, menahan jeritan yang nyaris meluncur dari tenggorokannya. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya melemas.
Apakah ini akhirnya?
Tiba-tiba—BRUK!
Salah satu perampok terhuyung ke belakang, wajahnya dihantam sesuatu. Sebuah pukulan telak.
Boni mencoba tetap sadar, matanya mencari tahu siapa yang datang.
Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, seorang pria berdiri tegap. Rahangnya mengeras, matanya menyala penuh amarah. Tanpa ragu, pria itu melangkah maju dan menghantam wajah perampok lainnya!
Bayu.
Boni tak mengenalnya waktu itu, tapi pria itu datang seperti badai. Tinju dan tendangannya telak. Perampok pertama roboh dengan darah mengalir dari hidungnya. Yang kedua mencoba menyerang dengan pisau, tapi Bayu sigap menangkap pergelangan tangannya dan menghantamnya ke lututnya, membuat pisau itu jatuh berderak ke aspal.
Boni, setengah sadar, melihat beberapa orang yang lewat mulai menghampiri. Seseorang meneriakkan sesuatu tentang polisi.
Saat dua perampok itu tumbang, Bayu berlutut di samping Boni yang sudah terbaring lemah.
"Lo masih sadar?" suaranya dalam, sedikit terengah.
Boni mencoba bicara, tapi tenggorokannya kering.
"Lo kehilangan banyak darah," kata Bayu, ekspresinya mulai serius.
Boni merasa tubuhnya semakin dingin. Pandangannya buram. Ia mendengar suara sirene polisi di kejauhan, tapi suara itu terasa begitu jauh.
Yang terakhir ia ingat sebelum kehilangan kesadaran adalah Bayu mengangkat tubuhnya.
Bukan hanya menyelamatkannya malam itu, Bayu juga membawanya ke rumah sakit, memastikan ia mendapatkan pertolongan. Bahkan saat stok darah di rumah sakit habis, Bayu-lah yang berdiri dan menawarkan dirinya untuk menyumbangkan darah. Tanpa itu, mungkin Boni tidak akan berdiri di sini sekarang.
Jadi, bagaimana mungkin ia bisa membiarkan Bayu tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit tanpa melakukan apa pun?
...🔸🔸🔸...
...Uang memang berharga, tapi tak semua hal bisa dibayar dan dibeli olehnya. Hutang budi lebih dari materi dan harga diri adalah harga mati. ...
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
abimasta
sepertinya bayu anak orang kaya yang menyamar jadi orang biasa
2025-03-18
2
kaylla salsabella
seperti nya Bayu bukan orang biasa ya
2025-03-18
2
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kenapa bisa KTP bayu palsu? siapa bayu sebenarnya?
2025-03-18
1