Bayu berdiri di tempat yang tak berbatas. Tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya kehampaan yang mengelilinginya. Langkahnya tak menghasilkan suara, seakan ia melayang tanpa arah. Ia mencoba melangkah, tetapi tidak ada tujuan. Tidak ada batas untuk dijangkau, tidak ada jalan untuk dilalui.
Hanya suara.
Suara itu datang dari segala arah—terlalu jauh untuk dijangkau, terlalu dekat untuk diabaikan.
"Bayu... tolong bangun..."
Itu suara Laras. Suaranya pecah, penuh isakan. Bayu menoleh cepat, matanya mencari, tetapi Laras tidak ada di mana pun. Yang ada hanya kehampaan.
"Tolong jangan tinggalkan gue, brengsek!"
Suara Boni terdengar lebih marah daripada sedih, tetapi Bayu mengenalnya terlalu baik. Itu bukan amarah, itu ketakutan. Boni takut kehilangan dirinya.
Bayu menggeram, menggenggam kepalan tangannya. "Gue di sini!" Ia berteriak, berharap seseorang mendengar. "Laras! Boni! Gue di sini!"
Tapi suaranya tak menghasilkan gema. Tidak ada yang mendengar.
Suara mesin berbunyi pelan di latar belakang, mungkin suara alat medis di rumah sakit. Suara langkah kaki terburu-buru. Seseorang mendesah cemas.
"Kondisinya masih kritis..."
Bayu memejamkan mata, frustrasi. Ia masih ada—masih hidup—tapi terperangkap dalam sesuatu yang tak bisa ia mengerti.
Ia tidak bisa pergi. Tidak bisa kembali. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanya bisa mendengar.
***
Rumah Sakit – Ruang Rawat Bayu
Boni menghembuskan napas lega saat monitor di samping tempat tidur Bayu menunjukkan angka yang lebih stabil. Beberapa jam lalu, pria itu sempat mengalami kondisi kritis. Dokter dan perawat sibuk berjibaku di dalam ruangan ini, membuatnya dan Laras tak berkutik selain menunggu dengan doa yang tak henti-henti.
Kini, Bayu terlihat lebih tenang. Meski masih terbaring tak sadarkan diri, wajahnya tak lagi sepucat tadi.
Boni melirik ke samping, ke arah Laras yang duduk di kursi dengan kepala tertunduk. Ia tahu gadis itu nyaris tidak tidur semalaman, sama seperti dirinya. Tapi berbeda dengan Boni yang sudah terbiasa menghadapi kelelahan fisik, Laras bukan seseorang yang bisa bertahan dalam kondisi ini terlalu lama.
“Laras,” panggil Boni pelan.
Gadis itu tidak langsung merespons. Napasnya terdengar teratur, tapi bahunya bergerak pelan, seakan masih sadar.
Boni menghela napas sebelum menggoyangkan bahu Laras dengan lembut. “Laras, bangun dulu.”
Perlahan, kelopak mata itu bergerak. Laras mengangkat wajah, tampak sedikit linglung sebelum kesadarannya kembali. “Ada apa?” tanyanya lirih.
“Ini udah larut, Laras. Besok lo harus kerja. Pulanglah, istirahat dulu.”
Laras menggeleng cepat. “Aku nggak bisa ninggalin Bayu.”
Boni menekan keinginannya untuk mendesah. “Gue tahu lo khawatir. Tapi kalau lo sampai sakit, gimana? Bayu butuh lo tetap sehat.”
Laras menatap Bayu yang masih terbaring, lalu kembali menatap Boni. Ada keengganan di matanya, tapi juga kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
“Gue bakal tetap di sini. Kalau ada apa-apa, gue janji bakal langsung ngabarin lo,” lanjut Boni dengan suara lebih lembut.
Laras menggigit bibirnya, masih ragu. Tapi akhirnya, ia mengangguk pelan. “Baiklah. Aku pulang dulu.”
Boni tersenyum kecil. “Nah, gitu. Jangan lupa makan juga, ya.”
Laras berdiri dengan gerakan sedikit lemas. Sebelum pergi, ia menatap Bayu sekali lagi, lalu membisikkan sesuatu yang tak bisa Boni dengar. Setelah itu, ia melangkah keluar dengan berat hati.
Begitu Laras menghilang di balik pintu, Boni kembali duduk dan menatap Bayu. “Lo tuh, ya… bikin orang-orang sampai lupa diri sendiri.” Ia menggelengkan kepala. “Udah saatnya lo bangun, Yu. Semua orang nungguin lo.”
Di sisi lain, dalam kegelapan pikirannya, Bayu mendengar semuanya. Ada kehangatan yang menyelinap ke dalam dadanya.
Laras menunggunya. Boni menunggunya.
Ia harus bangun. Segera.
Namun, satu hal yang membuatnya bingung—ia tak lagi bisa pergi ke mana-mana. Tak bisa melihat apa pun. Dunianya kini hanyalah kegelapan yang pekat. Satu-satunya yang tersisa hanyalah suara. Suara orang-orang di sekitarnya, yang entah menguatkan atau justru semakin membuatnya frustrasi.
***
Laras melangkah lunglai memasuki rumahnya. Begitu pintu terbuka, suara ibunya langsung menyambutnya—bukan dengan kehangatan, tetapi dengan amarah yang tertahan sejak tadi.
"Kamu ini kemana saja, Laras? Pulang larut malam seperti ini! Apa kamu pikir kamu masih anak remaja yang bisa kelayapan sesuka hati?"
Laras menghela napas, menutup pintu dengan pelan, mencoba menahan lelah yang menguasai tubuhnya.
"Aku dari rumah sakit, Bu," jawabnya, suaranya lemah.
Tapi ibunya tak peduli. "Rumah sakit apa? Jangan-jangan cuma alasan! Pacaran kok nggak ingat waktu? Itu laki-laki dari kafe itu, 'kan? Kamu pikir dengan tampangnya yang bagus, dia bakal serius sama kamu?"
"Bu, aku capek..."
Sherin, adiknya, menyilangkan tangan di dada dan menatapnya dengan ekspresi sinis. "Pacaran sama artis kafe modal tampang doang, ya, Kak? Jangan-jangan dia juga jual tampang ke banyak cewek di sana?"
Laras menoleh, menatap Sherin tajam. Ada sesuatu dalam nada suara adiknya yang membuatnya sadar—ini bukan sekadar sindiran biasa. Ini kecemburuan.
"Kalau kamu iri, bilang saja," ucap Laras datar, membuat Sherin mendengus dan membuang muka.
Suara pintu kamar terbuka, dan ayah mereka muncul dengan wajah mengantuk. "Keributan apa ini malam-malam?" gumamnya, mengusap wajah. "Kalau mau bertengkar, besok pagi saja. Sekarang sudah terlalu malam."
Laras mengangguk lemah. "Aku mau istirahat, Yah."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan ke kamarnya, mengabaikan tatapan ibunya yang masih kesal. Begitu pintu tertutup, Laras membiarkan tubuhnya jatuh di kasur, menatap langit-langit dengan mata yang terasa panas.
***
Di rumah sakit, Bayu masih terbaring tanpa sadar. Sementara di rumahnya sendiri, ia justru dihujani amarah dan cemburu.
Laras menutup matanya, menarik napas dalam.
"Besok aku akan kembali ke rumah sakit," gumamnya pelan.
Judul: Janji yang Terdengar Samar
Pagi menyapa dengan cahaya lembut yang menyusup melalui tirai jendela rumah sakit. Di dalam kamar rawat, suasana masih sepi. Hanya suara monitor jantung yang berdetak pelan, sesekali disertai dengungan samar dari luar ruangan.
Boni duduk di kursi di samping ranjang Bayu, menyandarkan tubuhnya dengan mata yang sedikit sayu. Beberapa hari ini, ia lebih banyak berada di rumah sakit daripada di mana pun. Namun, ia tahu, sekuat apa pun ia ingin terus di sini, hidup tetap harus berjalan.
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Bro, gue harus balik kerja hari ini. Udah beberapa hari gue bolos, tabungan gue juga makin tipis. Lo tahu sendiri kan, gue bukan orang kaya kayak si brengsek Edwin."
Boni tertawa kecil, meski terdengar sedikit lelah. Ia menepuk pelan tangan Bayu, seolah berharap ada sedikit reaksi.
"Tapi tenang aja," lanjutnya, suaranya sedikit lebih ringan. "Gue bakal balik nanti. Lo nggak bakal gue tinggalin gitu aja. Dan begitu lo bangun, lo harus gantiin uang gue, ya. Minimal traktir makan enak lah."
Ia tertawa lagi, kali ini lebih tulus, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Sementara itu, di dalam kesadarannya yang terperangkap di ruang hampa, Bayu bisa mendengar semuanya. Suara Boni jelas, seperti bergema dalam pikirannya. Ia ingin menjawab, ingin sekadar menggerakkan jari untuk memberi tanda bahwa ia mendengar, tapi tubuhnya tetap membisu.
Boni berdiri, merenggangkan badannya. "Gue cabut dulu, Bro. Jangan ngerepotin suster-suster, ya."
Dengan langkah sedikit enggan, ia meninggalkan kamar itu.
Bayu, yang hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat apalagi menjawab, merasa gelombang frustrasi kembali menyerangnya. Ia ingin bangun. Ingin menepati janji untuk mengganti semua yang Boni keluarkan. Tapi kapan?
Dan apakah ia benar-benar bisa kembali?
***
Rumah Sakit – Ruang Rawat Bayu
Bayu masih terbaring koma, tubuhnya tak bergerak, tapi pikirannya terperangkap dalam kehampaan. Samar-samar, suara langkah kaki masuk ke dalam ruangannya.
Edwin berdiri di samping ranjang, menatap tubuh Bayu dengan ekspresi bosan. Ia menghela napas kasar dan menggumam, "Kenapa lo nggak mati aja, sih? Gue nggak perlu buang-buang duit buat lo kalau gini caranya."
Bayu yang koma mendengar semuanya. Amarah dan frustrasi membuncah dalam dirinya, tapi ia tetap terkurung dalam kegelapan, tak bisa melakukan apa-apa.
Edwin mendecak dan melanjutkan sarkasnya, "Lo pikir gue peduli? Kalau bukan karena formalitas, dokumen dan video sialan itu, gue nggak bakal repot-repot datang ke sini. Gue bayar karena harus, bukan karena gue mau."
Sebelum ia sempat melanjutkan, suara langkah mendekat.
...🍁💦🍁...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
segeralah sadar, bayu. ada 3 insan menanti kesembuhanmu , laras, boni & si brengseek edwin
2025-03-16
1