4. Hanya Tuntutan

Boni kembali menghantam pohon, lebih keras dari sebelumnya, seolah ingin menumpahkan seluruh amarah dan ketidakberdayaannya pada makhluk tak bersalah itu. Andai pohon itu bisa bicara, mungkin ia akan protes atas perlakuan yang tak adil. Napas Boni memburu, matanya merah menyala oleh kemarahan. Suara pukulannya menggema di udara malam, menciptakan dentingan getir yang seakan meresonansi dengan hatinya yang hancur.

"Boni! Cukup! Hentikan! Lo gila?!" seru Bayu refleks, meski ia tahu suaranya tak akan didengar. Hatinya remuk melihat sahabatnya hancur seperti ini—semua karena dirinya.

Tapi Boni tetap tenggelam dalam amarahnya. Ia mengumpat lagi, mengusap wajahnya dengan kasar, matanya merah, penuh emosi yang tak tertahankan.

Bayu melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Boni. "Gue masih di sini, Bon… Lo nggak sendirian. Tenang, jangan gini…" Ia mencoba meraih bahu sahabatnya, tapi tangannya hanya menembus udara kosong.

Hatinya mencelos. Rasa frustrasi makin menyesakkan dada. Melihat Boni seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang ia alami. Tapi, tak ada yang bisa ia lakukan—selain menyaksikan dalam keheningan.

Boni menatap tinjunya yang kini berdarah karena memukul pohon. Ia menghela napas kasar, lalu mendongak ke langit, mencoba meredakan emosinya.

Bayu ikut menatap ke atas, tapi yang ia lihat bukan langit, melainkan bayangan tak kasatmata yang kini membelenggu dirinya. "Apa gue benar-benar udah nggak bisa ngapa-ngapain?"

Matanya kembali ke arah Boni, yang masih berdiri dengan bahu terguncang. Hatinya semakin sakit melihat sahabatnya terluka karena dirinya.

"Lo harus kuat, Bon…" gumam Bayu lirih. "Jangan hancur gara-gara gue."

Tapi Bayu tahu, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Boni melangkah kembali ke rumah sakit, masih dengan napas berat dan jemari yang nyeri akibat tinjunya tadi. Begitu tiba, matanya langsung menangkap sosok Laras yang masih duduk di depan ruang ICU. Wajahnya pucat karena terlalu lama menangis dan kurang istirahat, jelas menunjukkan betapa ia belum beranjak sejak tadi. Ia menatap kosong ke lantai, seolah pikirannya sudah lelah untuk memproses apa pun.

Bayu hanya bisa menatap Laras dengan perasaan campur aduk—frustrasi, sedih, dan tak berdaya. Ia ingin menyentuh bahunya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi apa gunanya? Laras bahkan tak bisa merasakan kehadirannya.

Ia menghela napas yang tak lagi nyata, hanya bisa menyaksikan dari dimensi yang berbeda. Jika saja ia masih hidup, ia pasti sudah memeluk Laras, menenangkannya. Tapi sekarang? Ia tak lebih dari bayangan yang hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Boni menghela napas, lalu berjalan mendekat. Ia ingin marah, ingin melampiaskan frustrasinya pada seseorang—tapi melihat kondisi Laras, amarahnya seakan tak ada gunanya.

"Laras," panggil Boni pelan, namun Laras hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap kosong ke lantai.

"Laras, lo pulang aja," ucap Boni, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Lo butuh istirahat."

Laras menggeleng. "Aku nggak bisa ninggalin Bayu."

"Bukannya ninggalin, tapi kalau lo sendiri sakit, gimana? Bayu pasti juga nggak mau lihat lo kayak gini."

Bayu menatap Boni dengan perasaan haru sekaligus getir. Sahabatnya itu selalu keras kepala, tapi kali ini ia berbicara dengan kelembutan yang jarang terdengar darinya. Bayu tahu, di balik kata-kata tegas itu, ada kekhawatiran yang dalam—untuk Laras, juga untuk dirinya.

Ia ingin berterima kasih pada Boni, ingin mengatakan bahwa ia benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertinya. Tapi seperti sebelumnya, suara Bayu tak akan pernah sampai. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap Laras yang masih diam, bertahan dalam kesedihannya.

"Dengerin dia, Laras…" gumamnya, meski ia tahu tak akan ada yang mendengar.

Laras masih ragu, tapi tubuhnya sendiri sudah kelelahan. Mata Boni menangkap getar di bibir Laras, pertanda ia hampir tumbang.

"Udah, gue aja yang jagain Bayu. Lo pulang, istirahat sebentar," ujar Boni lebih tegas. "Besok pagi lo balik lagi."

Akhirnya, setelah beberapa detik hening, Laras mengangguk ragu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah masih berusaha mencari alasan untuk tetap tinggal. Matanya kembali melirik ke arah ICU, menatap pintu itu dengan berat hati, seakan berharap keajaiban terjadi jika ia bertahan lebih lama. Namun, napasnya gemetar saat akhirnya ia memaksa kakinya melangkah, pergi dengan langkah gontai—terlihat jelas betapa ia sebenarnya enggan meninggalkan tempat itu.

Boni duduk di kursi tunggu, tepat di samping Bayu yang selama ini hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbicara.

"Makasih, Bon," gumam Bayu, meski ia tahu sahabatnya tak akan mendengar.

Ia menatap sahabatnya yang kini duduk diam, menundukkan kepala, tampak lelah tapi masih berusaha kuat. Mereka berdua hanya terdiam, sama-sama mengawasi pintu ICU dengan hati yang penuh kecamuk.

***

Di sisi lain...

Begitu Laras membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut dengan suara ketus ibunya.

"Kamu dari mana aja, Laras? Pulang jam segini! Udah lupa kalau masih punya keluarga?" suara ibunya melengking tajam.

Laras terkejut, tubuhnya lelah dan pikirannya masih kusut, tapi ia tetap berusaha menjawab dengan tenang. "Aku dari rumah sakit, Bu. Teman aku kecelakaan."

Ayahnya, yang sedang duduk di kursi tua di ruang tamu, menatapnya dengan tatapan tajam. "Teman? Kamu lebih peduli sama teman daripada keluarga sendiri? Udah tahu penghasilan pas-pasan, masih aja sibuk urusan orang lain!"

Adiknya, yang lebih muda beberapa tahun darinya, bersandar di sofa dengan ekspresi malas. "Halah, paling juga pura-pura sibuk. Jangan-jangan lo malah pacaran, ya? Emang kita ini nggak penting buat lo?"

Laras mengatupkan bibirnya rapat, hatinya semakin sesak. Setiap kali pulang, selalu seperti ini. Tidak ada kepedulian, hanya tuntutan dan cemoohan.

"Aku capek, Bu, Yah. Aku mau istirahat." Laras akhirnya memilih mundur, berjalan menuju kamarnya.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, ibunya kembali bicara, kali ini dengan nada lebih tajam. "Jangan lupa, besok ada tagihan yang harus dibayar. Jangan cari alasan, ya! Kami ini udah cukup susah karena kamu!"

Laras menggigit bibirnya. "Iya, Bu," hanya itu jawabannya sebelum akhirnya ia menghilang ke dalam kamar, menahan air matanya agar tidak jatuh.

***

Rumah Sakit – Depan ICU

Boni berdiri di luar ruangan ICU, matanya tak lepas dari sosok dokter yang baru saja masuk ke dalam. Dari balik kaca, ia hanya bisa melihat punggung dokter yang kini berdiri di samping ranjang Bayu, memeriksa alat-alat medis yang terhubung ke tubuh sahabatnya.

Sementara itu, Bayu—yang hanya bisa menyaksikan semuanya dalam bentuk roh—berdiri di sisi ranjangnya sendiri. Ia mengamati dengan perasaan campur aduk, melihat tubuhnya yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan napas yang bergantung pada mesin.

Tak lama kemudian, dokter keluar. Begitu pintu terbuka, Boni langsung melangkah cepat, menghampiri dokter dengan wajah penuh harap.

"Dok, gimana kondisinya?" tanyanya tanpa basa-basi.

Dokter menatapnya sejenak sebelum menjawab dengan nada datar. "Dia masih koma."

Boni menggeram pelan, menundukkan kepalanya, berusaha menelan kenyataan pahit itu. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Kalau gitu, izinkan saya masuk," pinta Boni, suaranya terdengar tegas, hampir seperti perintah. "Saya cuma mau lihat dia sebentar."

Dokter menghela napas, menatap Boni dengan raut tegas. "Maaf, tapi hanya keluarga inti yang diperbolehkan masuk."

Boni berdiri kaku di depan dokter, rahangnya mengeras. Matanya yang merah bukan hanya karena lelah, tetapi juga karena emosi yang membakar dadanya.

"Saya cuma mau lihat Bayu sebentar," suaranya dalam, nyaris bergetar menahan amarah. "Sebentar aja, Dok."

Dokter tetap menggeleng. "Saya mengerti perasaan Anda, tapi pasien dalam kondisi kritis. Kami harus membatasi pengunjung demi kestabilannya."

Boni menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya. "Dok, tolong…" nada suaranya melemah, sarat harapan. "Saya cuma mau ada di samping dia, biar dia tahu dia nggak sendirian."

Namun, dokter tetap bergeming. "Maaf, saya hanya menjalankan prosedur. Anda bukan keluarga inti, jadi saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk."

...🍁💦🍁...

To be continued

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Smg bayu segera sadar dr komanya kasian laras dan boni sangat sedih bingit bayu koma...

2025-03-14

3

abimasta

abimasta

kalau tidak punya keluarga inti gimana dok,kasih ijinlah dok

2025-03-13

3

Far~ hidayu❤️😘🇵🇸

Far~ hidayu❤️😘🇵🇸

jadi Boni yg menikah sama laras🤔

2025-03-13

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!