Sebelum Laras sempat membuat keputusan, tubuhnya lemas. Seolah seluruh tenaganya terkuras oleh semua emosi yang menghantamnya bertubi-tubi. Ia menyandarkan diri ke dinding, tangannya mengepal di dada, berusaha mengatur napas yang terasa berat.
"Bayu… aku harus bagaimana?" gumamnya lirih, matanya mulai memanas.
Tanpa ia sadari, roh Bayu berdiri di dekatnya, menatapnya dengan perasaan tak kalah hancur. "Laras, jangan menangis… Aku di sini…"
Namun Laras tak bisa mendengar.
Bayu hanya bisa menatap gadis itu yang kini berdiri sendiri, menggigil karena takut kehilangan—kehilangan dirinya, kehilangan harapan, dan mungkin, kehilangan Boni juga.
Bayu berdiri di antara Laras dan pintu keluar rumah sakit, rasa bimbang menguasainya. Ia menoleh ke arah Laras yang masih menyandarkan diri ke dinding, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar menahan emosi yang bercampur aduk.
"Laras…" bisik Bayu lirih. Ia ingin tetap di sini, ingin menenangkan gadis itu, ingin menyentuh bahunya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, Laras tak akan bisa merasakannya.
Sementara itu, Boni sudah menghilang di balik pintu rumah sakit, membawa amarah yang siap meledak. Bayu bisa merasakannya—badai yang berputar di dada sahabatnya itu. Boni tak akan diam. Ia akan mencari jawaban dengan caranya sendiri, dan Bayu tahu betapa nekatnya pria itu jika sudah marah.
Bayu menggertakkan giginya. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tinggal di sini dan menemani Laras yang masih terguncang? Atau pergi menyusul Boni sebelum sahabatnya itu melakukan sesuatu yang bodoh?
Bayu mengalihkan pandangannya ke Laras sekali lagi. Ia merasa sakit melihat Laras dalam keadaan seperti ini. Namun, jika ia tak menghentikan Boni, bisa saja sesuatu yang lebih buruk terjadi.
"Maaf, Laras… Aku harus pergi."
Dengan tekad yang bulat, Bayu berbalik dan berlari menyusul Boni. Langkahnya ringan, seolah tak menyentuh tanah. Napasnya tidak tersengal, tapi jantungnya berdegup kencang.
Ia melintasi pintu rumah sakit, menyapu pandangannya ke arah jalanan. Di sana, ia melihat Boni tengah berlari menuju halte, mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.
"Boni! Tunggu!" Bayu berteriak, tapi sahabatnya tetap melangkah tanpa henti.
Bayu menatapnya dengan cemas. Ia tahu, ini bukan hanya soal mencari kebenaran—ini tentang rasa sakit, ketidakberdayaan, dan amarah yang bisa menelan seseorang jika tak dihentikan.
Tanpa ragu, ia mempercepat langkahnya, berusaha mengejar sahabatnya, meski ia sadar… Boni tak akan pernah menyadari keberadaannya.
***
Kantor Polisi.
Boni melangkah masuk ke kantor polisi dengan napas berat. Setiap langkahnya terasa membakar dada, amarah yang ia tahan sejak mendengar kondisi Bayu semakin mendidih. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia tak peduli pada sorotan orang-orang di sekitarnya, yang ia pikirkan hanya satu hal—siapa yang telah menabrak saudaranya.
"Pak, saya mau tahu perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Bayu!" suaranya tegas, hampir seperti bentakan.
Seorang polisi yang duduk di balik meja menatapnya sejenak sebelum menghela napas. “Korbannya masih koma, ya?”
Boni mengangguk dengan napas memburu. “Siapa orang brengsek yang nyetir mobil itu?”
Petugas itu menghela napas dan memberi isyarat agar Boni mengikutinya. Mereka tiba di ruang interogasi. Di sana, seorang pria berjas mahal duduk dengan wajah datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah, bahkan terlihat sedikit bosan.
Bayu ikut masuk. Ia berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya.
Boni menatap tajam pria itu. "Lo yang nabrak Bayu?!" Ia langsung mendekat, suaranya menggelegar.
Pria itu melirik Boni sekilas lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sikapnya santai. Tenang. Seolah ini bukan masalah besar.
“Gue nggak sengaja,” katanya ringan. “Gue juga nggak mau kejadian ini terjadi.”
Bayu merasakan sesuatu mendidih dalam dirinya.
"Oh, jadi lo cuma anggap ini kecelakaan biasa?" tanya Bayu, namun tak satupun ada yang mendengar.
Boni mengepalkan tangan. “NGGAK SENGAJA?! LO PIKIR ITU BISA BIKIN BAYU SADAR DARI KOMA?! LO TAHU DIA SEKARANG SEPERTI APA, HAH?!”
Pria itu mengangkat bahu dengan ekspresi datar, seolah semua ini bukan masalah besar baginya. Matanya menatap kosong ke depan, seakan tak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan yang penuh emosi itu.
“Gue udah bilang, gue juga nggak mau ini terjadi,” ucapnya, suaranya terdengar hambar, nyaris tanpa penyesalan. “Lagian, musibah ya, musibah. Takdir.”
Kata-katanya ringan, tapi rasanya seperti pukulan telak di dada lawan bicaranya. Seolah nyawa seseorang, kesedihan, dan kemarahan yang meluap-luap hanya perkara kebetulan yang tak bisa dihindari.
BAYU MEMBEKU.
Di sudut ruangan, Ia menatap wajah pria itu dengan kebencian yang ia sendiri tak tahu bisa sebesar ini.
Takdir?
JLEB! Kata-kata itu seperti bensin yang menyulut api dalam diri Boni.
"TAKDIR, LO BILANG?!" Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang. "Kalau lo nyetir normal, nggak asal, ini nggak bakal terjadi!"
Melihat pria itu tak menunjukkan sedikit pun penyesalan, kemarahan di ruangan itu semakin memuncak. Semua orang yang hadir merasakan bara emosi yang membakar dada mereka.
Seorang polisi yang sejak tadi diam akhirnya bergerak. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan sebuah tablet, lalu mengetuk layarnya beberapa kali sebelum menoleh tajam ke arah pria itu.
“Lihat ini,” katanya dingin, sebelum memutar rekaman dari dashboard mobil pria tersebut.
Di layar, pria itu mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraba-raba sesuatu yang jatuh ke lantai mobil. Pandangannya turun, kehilangan fokus. Dalam hitungan detik—suara benturan keras menggema, menghantam keheningan malam.
Bayu melihat itu. Ia melihat bagaimana tubuhnya terpelanting seperti boneka tak bernyawa.
Boni memandang layar dengan mata melebar. “LO NGGAK NGELIHAT JALAN CUMA KARENA LO NGAMBIL SESUATU?!” suaranya bergetar marah.
Pria itu mendengus santai, seolah tak terjadi apa-apa. “Itu cuma beberapa detik doang.” Ia bahkan sempat mengingat bagaimana kakinya tanpa sadar menekan pedal gas lebih dalam—dan tetap tak merasa bersalah.
BAYU INGIN BERTERIAK.
CUMA BEBERAPA DETIK?!
Bayu merasakan amarahnya bergemuruh. Ia ingin menghantam meja. Ingin menampar pria itu. Tapi… ia tak bisa berbuat apa-apa.
Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang.
“LO ITU NYETIR MOBIL, BUKAN MAIN GAME, BRENGSEK! GARA-GARA LO, BAYU SEKARANG BERJUANG BUAT HIDUPNYA!” suara Boni pecah, penuh luka.
Pria itu mendengus, masih bersikap acuh. “Udah lah, gue siap bayar ganti rugi. Berapa pun biaya rumah sakitnya, gue tanggung. Selesai.”
SELESAI?!
Di sudut ruangan, Bayu tersenyum miris. "Hidup gue berharga segitu doang buat lo?"
Boni terkesiap. Ganti rugi? Selesai?
Matanya memerah, dadanya sesak oleh amarah dan ketidakadilan.
“BAYU ITU BUKAN MOTOR LO YANG KESEREMPET, GOBLOK! DIA ORANG, PUNYA NYAWA, PUNYA HIDUP, PUNYA ORANG-ORANG YANG SAYANG SAMA DIA! LO PIKIR UANG LO BISA BIKIN DIA BANGUN DARI KOMA?!”
Pria itu menghela napas panjang, lalu melirik polisi. “Gue udah siap tanggung jawab sesuai hukum.”
Boni tertawa pendek, tapi matanya masih menyala. “Lo emang nggak bakal ngerasain sakitnya. Orang kaya kayak lo, tinggal bayar dan semuanya beres, 'kan? Dasar brengsek! Bajingan!”
Tak ingin amarahnya makin memuncak karena melihat wajah pria itu, Boni berbalik dan keluar dengan napas berat. Tapi dalam hatinya, ia bersumpah—Bayu akan sadar, dan orang brengsek itu nggak akan bisa lepas dari ini begitu saja.
Bayu menatapnya, merasa sesak meskipun ia tak lagi punya tubuh.
"Bon… jangan biarin dia lolos."
Suara itu tak terdengar. Hanya hening yang menjawab.
Boni melangkah keluar dari kantor polisi dengan rahang mengatup rapat, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, menahan emosi yang hampir meledak. Bayu menyusul di belakangnya, menatap punggung sahabatnya yang tegang.
Tiba-tiba, Boni berhenti. Napasnya memburu, bahunya bergetar menahan gejolak yang tak tertahankan.
"Brengsek! Sialan! Bajingan!" Boni mengumpat keras sebelum meninju pohon di tepi jalan sekuat tenaga. Ia tak peduli pada tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Suara pukulannya menggema, tapi rasa sakit yang menjalar di jemarinya seakan tak berarti dibanding amarah yang membara di dadanya.
Bayu tersentak, menatap sahabatnya yang tampak begitu terluka.
"Boni! Jangan sakitin diri lo sendiri, goblok!" seru Bayu refleks, meskipun ia tahu suaranya hanya tenggelam dalam udara malam.
...🔸"Saat arogansi menguasai diri, tak ada yang lebih berarti dari diri sendiri. Tak sadar, suatu hari, arogansi akan menghancurkan diri."🔸...
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Dwi Winarni Wina
Enak sipenabrak nyawa bayu kayak tidak berharga,,bayu lg berjuang hidup dan mati....
Boni sangat marah dan emosi ingin kasih hadiah bogem mentah kpd sipenabrak bayu....
org2 mencintai bayu merasa sedih dan terluka melihat kondisi bayu sangat mengenaskan sampai koma...
lanjut thor.....
2025-03-13
3
ummah
dhanaa ini nama kak nana?
2025-03-13
2
abimasta
orang berduit bebas melakujan apa saja
2025-03-13
2