Hanya ada satu kalimat yang begitu pantas diberikan untuk Inggrid 'pelakor' Sofia tidak bisa melakukan apapun karena kondisinya yang terbatas itu. Terkadang Erna harus selalu memantau Sofia ketika Angga sudah pergi bekerja, sering sekali Angga pulang malam karena dia harus bekerja lembur untuk mencari tambahan biaya pengobatan Sofia.
Pagi itu Sofia berada di kebun belakang bersama dengan si mbok, mereka berdua nampak berbincang-bincang dan bercanda gurau apalagi ketika Erna sudah berada di sana. Beberapa pelayan dan pekerja pria yang ada di rumah Adi sudah banyak yang keluar karena tidak tahan dengan sikap Inggrid. Mungkin Inggrid memang sengaja melakukan hal itu karena dia ingin melancarkan semua rencananya.
"Oh ya, kamu di sini dulu, mbok mau mengambilkan Sofia makanan." ucap mbok yang meminta Erna untuk menjaga Sofia.
"Tenang saja mbok, aku akan menjaga Mbak Sofia, janjiku adalah pedang seperti kesatria." jawab Erna sembari tersenyum.
Inggrid yang dari tadi memperhatikan tiga makhluk menyebalkan itu nampak dia terus berdecak kesal, mulutnya mengomel panjang lebar dengan beberapa kalimat umpatan untuk Sofia.
"Jadi kamu ingin menjaga wanita lumpuh itu ya? baiklah kalau begitu aku akan membuatmu meninggalkannya sebentar lagi." ucap Inggris yang kemudian berjalan ke kamar.
Hari ini Adi tidak pergi ke perusahaan karena dia bilang kepalanya pusing, Inggrid kemudian tersenyum mendekati suaminya. "Oh ya sayang, apa kamu mau aku buatkan bubur atau aku belikan bubur saja?" tanya Inggrid.
"Jangan sayang, kamu tunggu saja aku di sini. Oh ya, biar Erna saja yang membeli bubur untukku di luar. Minta padanya untuk membeli bubur ayam yang ada di perempatan jalan depan." jawab Adi di.
"Kalau begitu aku panggil Erna dulu." Inggrid kemudian keluar dia mencari Erna kemudian meminta wanita itu untuk mencari suaminya.
"Tapi nyonya, aku sedang menjaga Sofia, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri." kata Erna.
"Kan ada pekerja lain yang bisa menunggunya, sekarang kamu keluar untuk membeli bubur yang diminta oleh suamiku, kalau kamu tidak mau lebih baik kamu tidak usah bekerja." Inggrid terus mengancam.
"Iya nyonya." salah satu pelayan baru nampak mendekati Inggrid. "Wati, kamu jaga Sofia dahulu, biar Erna membeli makanan." pinta Inggrid.
"Baik nyonya." jawab Wati
Setelah itu Erna pergi mencari simbok yang ada di dapur, meminta mbok untuk menjaga Sofia terlebih dahulu. "Kamu ini disuruh sama majikanmu untuk membeli bubur malah pamitan dahulu sama wanita tua itu, kalau kamu tidak mau bekerja lebih baik jangan bekerja. Kamu paham!" bentak Inggrid.
Seketika si mbok memberi kode agar Wati segera pergi. "Dasar wanita jahat, wanita Dajjal makhluk seperti ini kenapa masih hidup sih." gumam Erna dalam hati.
Sofia yang berada di kebun belakang rumah nampak dia sedikit tidak nyaman dengan pembantu yang bernama Wati. Wati terus memperhatikan Sofia dengan tatapan mata yang begitu tajam, dan dengan bibir yang terus mendumel bahkan mengutuk Sofia dengan beberapa kalimat yang tidak pantas.
"Ya Tuhan, nyonya Sofia.. kalau aku jadi wanita sepertimu aku lebih baik mati daripada menyusahkan seperti ini. Kamu tahu, nyonya wajahmu itu cantik tapi kamu cacat dan nggak ada gunanya sama sekali." kata Wati. Wanita itu terus menghina Sofia dengan keterbatasannya.
"Tu-tu-tup tu-tup mulutmu." jawab Sofia dengan terbata.
"Kenapa nyonya Sofia harus marah? aku mengatakan yang benar kan. Tuan Angga itu begitu tampan, dia pewaris kekayaan dari tuan Adi. Lihatlah betapa malangnya tuan Angga karena memiliki istri cacat sepertimu." ejek Wati.
Sofia berusaha untuk menenangkan diri bahkan dia berusaha untuk tidak menghiraukan kata-kata yang diucapkan oleh Wati.
"Nyonya Sofia, seharusnya nyonya Sofia itu tidak berharap lebih. Kalau nyonya Sofia selalu bergantung kepada tuan Angga, apa nyonya Sofia berpikir kalau tuan Angga akan setia terus. Tuan Angga itu tampan menawan dan dia itu sempurna, pria sempurna seperti dia itu sangat kasihan mempunyai istri sepertimu." Wati terus memprovokasi perasaan Sofia.
Kedua tangan Sofia nampak menggenggam erat kursi rodanya, hatinya begitu sesak, begitu sakit ketika pembantu baru yang baru masuk beberapa hari itu berani menghinanya.
"Apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu katakan?! pantaskah kamu menghina majikanmu?!" si mbok langsung menegur Wati.
"Kenapa kamu juga marah mbok, aku mengatakan yang ada di depan mataku kok, Mbok lihat sendiri kan wanita ini wanita cacat tidak bisa berjalan, bahkan bicara saja terbata-bata, apa mbok pikir tuan Angga akan tetap setia kepada istrinya? kalau aku berpikir sih pasti tuan Angga sekarang ini mempunyai seorang kekasih di luaran sana." ucap Wati.
"Tutup mulutmu, Wati. Jika kamu terus berbicara yang tidak tidak aku akan menampar mulutmu!" bentak mbok.
"Mbok berani menamparku? aku ini pekerja yang dipekerjakan oleh nyonya Inggrid, jika mbok mau memecat ku mbok harus menghadapi nyonya Inggris dulu. Aku yakin mbok tidak akan berani melakukannya, dengarkan aku baik-baik mbok Kamu itu cuma wanita yang pekerjaannya menjadi pembantu, sedangkan aku aku ini orang kepercayaan nyonya Inggris." jawab Wati.
"Pergi dari sini!" bentak si mbok yang mulai marah dalam hati.
Sofia menangis begitu keras, dia menjerit, dia benar-benar menahan sesak di hatinya.
"Lihat aja apa yang aku katakan itu pasti akan terjadi, mas Angga itu tampan dan menawan. Mana mungkin dia terus-menerus mau menjaga wanita cacat seperti dia, lihat aja perlahan-lahan pasti mas Angga mencari wanita lain di luar sana." ujar Wati yang kemudian berlalu pergi.
"Dasar mulut tidak bisa dibuat berbicara baik!" seru si mbok.
Wati meninggalkan si mbok dengan kekesalan yang begitu luar biasa, si mbok nampak menatap Sofia yang matanya sudah berkaca-kaca. Ingin sekali Sofia berteriak namun dia tidak bisa, sesaat kemudian air mata itu perlahan mulai jatuh.
"Kamu tidak boleh mendengarkan kata-kata orang-orang jahat itu, Sofia. Dengarkan aku baik-baik, aku yakin Angga bukanlah pria seperti itu, dia adalah pria baik yang sangat mencintaimu. Jadi kamu tidak boleh terprovokasi dengan omongan orang-orang jahat itu." si mbok terus berusaha untuk menenangkan Sofia.
Sofia menganggukkan kepalanya, walaupun dalam hati dia begitu takut dengan ucapan yang dikeluarkan oleh Wati. "Ya Allah, semoga saja mas Angga tidak seperti itu. Lindungilah pernikahan kami ya Allah, lindungilah. Aku tidak ingin keluargaku dihancurkan oleh orang-orang jahat itu." gumam Sofia dalam hati.
Si mbok mengelus punggung Sofia berulang kali, wanita tua itu menatap Sofia yang menangis tersedu. "Kamu tidak boleh seperti ini, Sofia. Kamu harus yakin kalau Angga bukan pria seperti itu, dia tidak akan pernah mengkhianatimu." ucap mbok.
Sofia menganggukkan kepalanya, dalam hati dia berdoa dan terus berdoa agar apa yang dikatakan oleh Wati tidak akan pernah terjadi.
*Bersambung*
terima kasih atas dukungannya semoga kalian senang dengan novelku ini. jangan lupa baca novelku yang lain.
*istri barbar bos mafia*
*My sugar Daddy.
*Sugar baby tuan muda lumpuh*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments