Happy reading guys!
Hari ini adalah pembukaan pertama rumah sakit keluarga Setiawan yang semua biaya pembangunan ditanggung sendiri oleh Dokter Hasan Setiawan. Sedari dulu dia memang sudah bercita-cita untuk membangun rumah sakit dengan jerih payahnya dan hasil keringatnya sendiri, apalagi setelah kehamilan istrinya serta lahirnya baby twin Arsha dan Arshi yang semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Diapun semakin gigih untuk mewujudkan cita-citanya itu. Dan sekarang setelah anak-anaknya sudah lulus kuliah sebagai Dokter spesialis masing-masing dalam bidang keahliannya, akhirnya terwujudlah cita-citanya. Dokter Hasan semakin bersyukur melihat anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa dan istrinya yang selalu setia mendukung semua keputusannya.
"Sayang kenapa melamun? Ayo cepat gunting pitanya biar acara peresmiannya cepat kelar." Ujar Khardha menyadarkan suaminya yang terpaku ditempatnya.
Dokter Hasan Setiawan tersenyum penuh arti didepan semua orang yang menyaksikan langsung peresmian dibukanya pelayanan rumah sakit keluarga Setiawan. Rumah sakit itu juga sudah dilengkapi fasilitas yang sangat memadai dan tidak usah diragukan lagi karena telah terakreditasi kelaikanya. Acara dilanjutkan dengan makan bersama anak-anak yatim, fakir miskin, kaum duafa dan para karyawan rumah sakit yang sudah di seleksi secara detail oleh dia, istri, anak-anak serta dibantu sahabat-sahabatnya sesama Dokter yang berkompeten di bidangnya. Setelah semua acara selesai dia mengajak istri dan anak-anaknya berkumpul di ruangan khusus pimpinan rumah sakit yang terletak di lantai paling atas. Disana terdapat tiga kamar tidur untuk mereka sekeluarga dengan fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Sesampainya disana mereka duduk berempat di sofa yang ada ditengah-tengah ruangan itu.
"Sebenarnya apa tujuan Papah ngumpulin kita semua disini?" Tanya Arshi memulai pembicaraan diantara mereka.
"Papah mau agar kalian semua selalu kompak menjaga mencintai dan menyayangi satu sama lainnya. Terutama kamu Arsha anak laki-laki yang nantinya akan jadi pemimpin menggantikan papah bila papah sudah tidak bisa lagi menangani semuanya. Tolong handle semuanya dengan baik dan bijak dalam mengambil keputusan, bila kamu mengalami masalah musyawarahkanlah dengan orang yang benar-benar mengerti bagaimana mengatasinya. Jagalah Arshi dan mamah dengan baik, berikan perhatian khusus buat mamah jangan sampai dia mengalami drop lagi, karena papah merasa Allah sudah sangat baik kepada kita dengan mengabulkan semua doa dan cita-cita kita. Papah juga sangat bersyukur dengan kehadiran kalian semua di kehidupan ini, sebab kalian adalah anugerah terindah yang aku miliki selama ini. Oleh karena itu papah sudah siap seandainya sewaktu-waktu malaikat maut mencabut nyawa papah. Ingat Arsha dan juga kamu Arshi jagalah, cintai dan sayangilah mamah seperti papah mencintainya selama ini jangan sampai kalian berdua membiarkan mamah bersedih dalam kesendiriannya nanti karena kesibukan kalian masing-masing. Papah gak mau mamah menderita hanya karena kepergian papah nantinya, sebab papah selalu berusaha membahagiakannya selama ini." Jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu Sayang? Apa kamu mau ninggalin aku sama anak-anak?" Khardha sangat terharu mendengar penuturan suaminya hingga tidak bisa lagi membendung airmatanya.
"Maafin aku Sayang, aku cuma memberikan nasehat dan amanah kepada anak-anak kita, agar mereka selalu memberikan yang terbaik untukmu, apabila aku udah gak ada lagi diantara kalian semua nantinya." Ucapnya sembari merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Seharusnya aku yang lebih dulu pergi bukan kamu Sayang, aku udah bosen harus minum obat setiap hari siang dan malam, aku juga tau obat-obatan yang aku minum itu gak bisa menyembuhkan penyakitku hanya sekedar membantu menormalkan diabetesku. Jadi lebih baik aku aja yang pergi lebih dulu agar gak ngerepotin kalian lagi." Ujar Khardha di sela tangisnya.
"Jangan ngomong kayak gitu Sayang hidup dan mati itu Allah yang menentukan. Bukan sesuatu yang bisa kita request atau kita pesan layaknya dicafe maupun restoran." Dokter Hasan berusaha menenangkan istrinya dengan membelai rambutnya dan menciumi puncak kepalanya.
Arshi yang menyaksikannya ikut sesenggukan sambil memeluk Arsha yang hanya diam membisu tanpa suara. Walaupun sebenarnya dalam hatinya Arsha juga sangat terharu mendengar semua pembicaraan orangtuanya, namun dia menutupinya dengan diamnya. Itulah Arsha dengan semuat sifat dinginnya selalu berusaha tegar dalam keadaan apapun juga.
"Udah Sayang jangan nangis lagi malu diliatin anak-anak, bajuku juga jadi basah karena airmata dan ingus kamu." Godanya untuk mencairkan suasana hati mereka yang diselimuti emosi kesedihan.
"Jangan menggodaku di depan anak-anak, malu tau!" Sergah Khardha dengan mencubit perut suaminya.
"Ya udah kalau malu kita kekamar aja yuk!" Ajak Dokter Hasan dengan menaik turunkan alisnya.
Begitulah pasangan suami istri yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu menjalani kehidupan rumah tangga mereka yang hampir dua puluh delapan tahun ini menghabiskan waktu mereka disela-sela kesibukannya masing-masing. Dokter Hasan hanya sekali-sekali saja lagi menangani pasiennya secara langsung sebab semuanya sudah dia serahkan kepada Arsha anaknya yang menggantikannya. Dia hanya turun tangan apabila memang dalam situasi darurat. Sekarang dia hanya terfokus kepada kesehatan istrinya yang harus dijaganya setiap saat karena Khardha sering mengalami drop bila sudah kadar gula dalam darahnya kembali naik. Dia juga berikrar dalam hatinya akan selalu menemani wanita yang sangat dicintainya itu sampai maut memisahkan mereka.
"Papah sama Mamah itu udah tua kenapa masih aja kelakuannya kayak anak muda? Bikin ngiri aja!" Gerutu Arshi sambil mamajukan bibirnya.
"Udah yuk gak usah gangguin Papah sama Mamah!" Ajak Arsha dengan menarik tangan Arshi supaya mengikutinya keluar dari ruangan itu.
"Heyy kalian mau kemana nak?" Panggil Khardha sembari beranjak dari duduknya.
"Tadi Arsha bilang gak usah gangguin Papah sama Mamah." Teriak Arshi sebelum menghilang dibalik pintu.
"Tuh kamu dengar sendiri kan Sayang anak-anak kita aja pada ngerti kok, mamah papahnya butuh waktu berdua, masa kamu sendiri pura-pura gak ngerti." Ucap Dokter Hasan dengan mengunci pergerakan istrinya diatas sofa.
"Kamu jangan macam-macam Sayang, nanti kalau tiba-tiba mereka kembali gimana?" Khardha menahan dada suaminya yang ada tepat didepannya.
"Aku gak bakalan macam-macam Sayang, cuma satu macam aja." Dokter Hasan semakin memangkas jarak antara keduanya.
Hatcih....Khardha tiba-tiba bersin membuat suaminya langsung menjauhkan diri darinya.
"Kalau mau bersin seharusnya kamu bilang dulu." Kesal Dokter Hasan sembari beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam kamar pribadi mereka.
Dekorasi kamar tidur yang indah dengan warna emas dan putih dibagian ornamen dindingnya semakin serasi ditambah pencerah warna merah diatas dinding ranjangnya semakin membuat kamar itu bak didalam istana negeri dongeng yang selalu di khayalkan oleh Khardha selama ini.
"Maafin aku ya Sayang, aku beneran gak sengaja tadi." Ucap Khardha dengan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.
"Ok, aku mau maafin kamu asal kamu juga mau nurutin semua kata-kataku." Dokter Hassn membalikkan badannya lalu menggendong istrinya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang seraya tersenyum smirk.
*****
Sementara itu di lobi rumah sakit tampak sudah ramai para pengunjung rumah sakit yang membutuhkan bantuan medis duduk berjejer rapi mendaftarkan diri ataupun keluarganya.
"Dokter Arsha dan Dokter Arshi ada pasien yang harus secepatnya kita tangani." Ucap perawat yang ditugaskan di bagian UGD.
"Dokter yang lain mana?" Tanya Arsha dengan wajah dinginnya sambil berjalan menuju ruang unit gawat darurat.
"Dokter yang lain juga sibuk menangani pasien-pasien yang baru datang, sebab ada kecelakaan beruntun didaerah tikungan jalan bagian selatan." Jawab perawat itu.
"Apakah korbannya juga ada ibu hamil dan anak-anak?" Tanya Arshi yang ikut mensejajarkan langkahnya dengan Arsha dan perawat itu.
"Iya Dokter." Jawab Perawat itu dengan membukakan pintu masuk ruang UGD.
Setelah itu mereka langsung melakukan tugasnya masing-masing sebagai Dokter yang berkompeten di bidang keahliannya.
*****
Seharian penuh hanya terjeda dengan waktu sholat, sampai malam menunjukkan pukul 22:00 barulah mereka bisa istirahat dengan tenang. Arshi yang tampak sangat kelelahan duduk diruangannya sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu dari luar.
Tok....tok...tok...bunyi pintu diketuk. Arshi berjalan membuka kunci lalu membukanya.
Ceklek...Arshi terkejut mendapati seorang Dokter yang sangat dikenalnya memberikan bunga dan bungkusan berisi makanan.
"Wavi ngapain kamu kesini?" Arshi hendak menutup pintu ruangannya kembali namun ditahan oleh Dokter Wavi dengan kakinya.
"Arshi aku kesini cuma ingin makan malam sama kamu, sebab aku tau kamu pasti belum makan iya kan?" Wavi langsung masuk tanpa dipersilahkan.
"Aku bisa makan sendiri Vi kamu gak usah mikirin aku, lagian aku juga udah ngantuk banget. Kamu pulang aja sana gih!" Arshi menarik tangan Wavi dengan kasar.
"Semakin sering kamu menolakku justru aku semakin menyukaimu Dokter Kharshi Setiawan Sp.An." Ujar Wavi dengan menarik balik tangan Arshi hingga menabrak dadanya.
Arshi tidak terima diperlukan seperti itu oleh Wavi hingga dia langsung menendang area sensitif Wavi.
Awww... pekik Wavi langsung melepaskan tangan Arshi dan memeganginya.
"Kamu tega banget Shi sama aku hiks...," Wavi terpaksa keluar dengan berjalan sedikit berbeda dari biasanya.
*****
Berbeda dengan Arsha yang masih disibukkan dengan penanganan pasien-pasien yang harus diurusnya hingga waktu menunjukkan pukul 24:00 barulah dia bisa merebahkan tubuhnya di sofa yang ada diruangannya. Dia langsung tertidur karena sangat kelelahan, hembusan nafas teraturnya dengan dengkuran halus membuatnya tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke ruangannya tanpa sepengetahuannya karena lupa mengunci pintunya. Seorang Dokter cantik yang bername tag Yenny Anggraeni Sp.PD.
Dia menyentuh wajah Arsha dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya kemuka Arsha berniat untuk menciumnya, namun tiba-tiba Arsha membuka matanya.
"Apa yang anda lakukan disini? Kenapa anda bisa masuk ke ruangan saya?" Arsha langsung bangun lalu beranjak pergi meninggalkan Yenny yang terpaku ditempatnya.
Kenapa kamu selalu begitu kepadaku Sha? Padahal aku sangat mencintaimu, tapi justru dengan sifat dinginmu itu membuatku semakin penasaran untuk memilikimu, gumamnya dalam hati.
Arsha melangkahkan kakinya menuju ke lantai paling atas tempat ruangan khusus keluarganya dengan menggunakan lift. Sesampainya disana dia mencium aroma makanan favoritnya yaitu nasi goreng spesial buatan mamahnya. Dia juga melihat Arshi yang duduk dikursi meja makan dengan menghadap ke dapur.
"Assalamualaikum." Ucapnya sembari menepuk pundak saudara perempuannya itu.
"Astagfirullah al azdim!" Seru Arshi karena sangat terkejut.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha mewakili Arshi yang mendelik ke arah Arsha karena sudah mengagetkannya.
"Kenapa Mamah gak pulang ke rumah?" Tanya Arsha dengan mencium pipi Khardha.
"Papah yang gak mau pulang Sayang, dia bilang anggap aja disini rumah kedua untuk kita, sebab Papah juga udah melengkapi semua kebutuhan kita disini. Jawab Khardha seraya tersenyum menolehkan kepalanya kepada anak laki-lakinya itu.
"Ohhh gitu, terus Papahnya mana Mah?" Arsha kembali bertanya dengan mengedarkan pandangannya.
"Papah udah tidur dari tadi, aku yang bangunin Mamah untuk buatin nasgor." Jawab Arshi dengan santai sambil memainkan smartphonenya.
"Ya udah nih nasi goreng spesialnya plus jus jeruk kesukaan kalian. Mamah mau kekamar dulu ya, kalian juga jangan lupa istirahat, biar besok bisa menangani pasien-pasien kalian dengan baik." Ucap Khardha sembari menyajikannya diatas meja makan untuk anak-anaknya.
"Ok Mah, makasih ya udah mau masakin kita di tengah malam kayak gini!" Seru kedua saudara kembar itu.
Khardha menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi meninggalkan anak-anaknya yang langsung melahap makanan yang ada dihadapannya itu.
Bersambung....
Mohon doa dan dukungannya ya reader, tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin nya.
Jangan lupa jadikan favorit kalian juga ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
mutoharoh
halo Dokter Hasan 🤗
2021-06-26
0
zaimahfithri
aku hadir kk🙋🏻
2021-04-20
0
ARSY ALFAZZA
like 👍🏻👍🏻
2020-12-20
0