Bab 15

Melihat akar dari tunas bunga tersebut yang dengan cepat tumbuh, beberapa peneliti yang berada di dekat Mahen pun memotret dan mencatat nya. Saat tunas itu akan di lepaskan, Mahen meringis merasakan rasa sakit, terlihat akar tunas yang telah merekat seakan menyatu dengan inangnya, dan seakan telah membuat jaringan tersendiri.

Para peneliti yang mulai panik pun menyuruh salah satu karyawan yang berada di sana untuk memanggil Daniel.

Daniel dengan segera berjalan kearah ruangan penelitian dan melihat akar tunas dari sebuk bunga sudah hampir menutupi satu tangan Mahen. "Apa yang terjadi di sini?!" Dengan panik Daniel mendekat dan melihat keadaan Mahen yang terlihat semakin lemas, seakan energinya telah di serap oleh tumbuhan itu.

Daniel menarik tangan Mahen dan memberikan suntikan ke tunas itu, dengan cepat tunas tersebut menjadi mati dan dengan matinya tunas itu, akar menjadi mudah di lepaskan. Saat akar tersebut berhasil di lepaskan, terlihat darah yang mengalir seakan kulit tersebut di kelupas.

Setelah beberapa saat akhirnya Mahen dapat bernapas lega, ia di baringkan ke atas ranjang untuk beristirahat dengan Daniel yang menemani nya agar ia tak melakukan hal buruk lagi. "Mana ada orang bodoh yang ngelakuin hal kayak gitu nak Mahen." Ucap Daniel saat hanya mereka berdua yang berada di rungan itu.

Mahen tersenyum kecil, ia membuka matanya dan tersenyum kecil ke arah Daniel. "Orang gila yang sudah lama hidup bersama saya."

Daniel yang mendengar hal itu hanya bisa memijat dahinya. "Berhenti meniru dia nak Mahen." Mendengar ucapan Daniel, Mahen yang tadinya tersenyum seketika merubah ekspresi wajah nya.

Daniel adalah profesor yang sedari dulu telah bersama dengan Mahen, ia yang mengajari Mahen tentang biologi sedari SMP kelas 1. Mahen memang sedari kecil menyukai hal itu, tapi setiap apapun yang di lakukan oleh Mahen selalu ada Gilang, hal itu membuat Daniel tak menyukainya, karena menurut nya Gilang membuat Mahen tak fokus dan hanya bermain jika bersama Gilang, tapi jika tak bersama Gilang, Mahen terlihat sangat berbeda dan sulit untuk berekspresi.

____

"Mahen!! Maen yok!!" Teriak anak laki-laki gundul yang bukan lain adalah Gilang, dia tak pernah berani memasuki rumah Mahen yang sangat besar itu, alhasil ia memilih untuk berteriak di luar pagar.

Mahen dengan segera berlari keluar dengan senyum lebar, dia berlari dengan kencang kearah halaman rumahnya dan melihat bahwa Gilang berada di depan rumahnya. "Maen di sini aja, soalnya gue lagi les." Ucap Mahen saat berada di depan Gilang.

Gilang mengelus dagunya dan berpikir sejenak. "Pasti sama pak Daniel kan?" Mahen hanya mengangguk dengan wajah datar. "Males lah... Pak Daniel nyebelin mukanya."

Mahen pun membuka pagar rumahnya dan menarik tangan Gilang. "Udah gak apa-apa, nanti kalo kenapa-kenapa kan ada gue." Ucapnya menunjuk dirinya dengan jempol. Gilang yang di tarik pun hanya bisa pasrah dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh pak Daniel nanti.

Saat mereka sudah berada di kamar, terlihat beberapa tumpukan buku dan Daniel yang sedang fokus membaca buku dengan wajah datar, Gilang yang melihat itu mu merasa merinding, karena aura kebencian sudah terpancar dari Daniel. "Hen gue tunggu aja di luar yak." Mahen tetap diam dan menyuruh Gilang duduk di sofa. "Hehe halo om." Ucap Gilang dengan perasaan tak karuan.

Daniel yang melihat itu hanya melirik Gilang dan setelahnya meletakkan buku yang sedang ia baca. Terlihat bahwa orang di depannya tak merespon, Gilang yang mulai bosan akhirnya mencoba membaca buku yang berada di depannya. Saat Gilang akan meraih buku tersebut, tiba-tiba tangan besar menahan bukunya. "Mau kamu baca 1000 kali pun gak akan pernah kamu paham isi buku ini." Ucap Daniel tiba-tiba.

Mahen yang sedang mengerjakan soal yang di berikan oleh Daniel pun menatapnya dengan wajah datar. "Kenapa enggak? Dia punya otak, jadi dia bisa paham." Ucap Mahen dengan nada marah, setelah itu ia meraih buku yang akan di baca oleh Gilang dan memberinya. "Baca aj, walau gue tau bego."

Gilang yang tadi nya tersenyum seketika merubah dengan menatap datar Mahen. "Gue gak bego, cuma mager." Ucap Gilang merebut buku itu dengan kasar. Ia pun dengan segera membuka halaman yang pernah ia baca beberapa hari yang lalu.

Daniel hanya diam, ia yang tak bisa melakukan apapun akhirnya hanya bisa melirik Gilang dengan tatapan tidak suka. Beberapa saat kemudian, Mahen telah selesai mengerjakan soalnya dan memberikan jawabannya ke Daniel. Gilang yang melihat itu pun sesekali melirik ke arah soal yang Mahen kerjakan. Tapi tak lama fokus Gilang berpindah ke laba-laba yang berada di baju Daniel. "Om, di bajunya ada laba-laba." Daniel yang mendengar itu pun melirik Gilang dan setelahnya melihat kearah yang di tunjuk oleh nya.

Daniel yang memiliki ketakutan dengan serangga hanya diam dan menutup mata, Gilang yang melihat itu pun akhirnya menangkap laba-laba tersebut. "Weh.. ketangkep Hen!!" Serunya senang, Mahen yang melihat itu hanya menepuk bahu Gilang.

Daniel yang mendengar itu pun perlahan membuka mata dan menyapu lengannya yang di sentuh Gilang. "Terimakasih." Ucapnya tanpa menatap Gilang.

____

Di dalam ruang rawat hanya ada keheningan, Daniel yang tau bahwa anak dari tuannya tak menyukai ucapan Daniel pun hanya diam, begitu pula dengan Mahen yang hanya memainkan ponselnya.

Di dalam keheningan itu, tiba-tiba salah satu karyawan mengetuk dan mengatakan bahwa ad seseorang yang ingin bertemu dengannya. "Masuk." Ucap Mahen.

Saat melihat tamu yang masuk, terlihat Daniel terkejut. Tamu yang datang adalah seorang wanita paruh baya yang bukan lain adalah ibu dari Mahen. Mahen dan ibu nya sudah lama tak berkomunikasi setelah kematian sang ayah yang tak di ketahui penyebabnya.

Daniel meminta ijin untuk meninggalkan ruangan itu, agar Mahen dan ibunya memiliki ruang untuk berkomunikasi. Ibu mendekat kearah Mahen yang terbaring lemas di atas kasur, ia mengelus rambut sang putra lembut. "Jangan seperti papa mu Mahen." Ucap sang ibu.

"Kalo gak..."

"Kalo gak di coba gak akan tau? Mama sekarang cuma ada kamu. Mama gak mau kamu pergi kayak Papa dulu." Potong sang ibu, Mahen yang mendengar ucapan itu hanya terdiam. "Mama tau Mama salah, tapi jangan sia-sia in hidup kamu sayang." Lanjut sang ibu.

Di ruangan para monster yang di kurung, terdengar suara dari ruangan monster dengan nama bloodgrin. Monster itu meraung-raung seakan sedang berkomunikasi dengan seseorang di tempat yang berbeda, para peneliti yang sedang melihat keadaan para monster akhirnya mengeluarkan uap obat bius dengan dosis tinggi untuk membuat monster itu tertidur. "Ada apa?" Tanya Daniel yang sedang berada di sana.

"Pak daniel. Kami juga tidak tau apa yang terjadi dengan bloodgrin, ini adalah pertama kalinya dia berprilaku seperti ini." Ucap salah satu peneliti.

Beberapa saat setelah bloodgrin yang telah di buat pingsan, beberapa monster lainnya ikut meraung-raung. "Cepat aktifkan uap nya." Ucap Daniel, ia mendekat kearah salah satu monster yang membuat monster lain ikut meraung. "Aneh, seharusnya Plagishell tak akan merespon apapun." Ucapnya menatap monster dengan armor yang telah keluar dan virus yang telah di sebarkan di seluruh ruangannya.

Bersambung.....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!