Bab 10

Pukul 3 pagi, Gilang yang sudah berada lama di taman pun memilih untuk kembali ke unit apartemennya. Terlihat ia yang menguap sedari tadi karena merasakan kantuk.

Gilang yang sudah lelah pun segera berjalan kearah kamar, dan saat dia membuka pintu terlihat Mahen yang sudah menghabiskan tempat tidur dengan tangan dan kaki yang meregang. "Ni bocah emang gak pernah bener kalo tidur dah." Gilang pun mencoba menyingkirkan kaki Mahen, saat kaki Mahen sudah di singkirkan, sekarang ia beralih menyingkirkan tangannya. "Usaha mengkhianati hasil ini mah. Tangan di pindah kaki nya balik lagi as*!" Gilang pun meraih bantal dan melempar ke arah perut Mahen, Mahen yang masih tertidur dengan pulas hanya menggaruk perutnya.

Gilang yang sudah lelah pun akhirnya keluar dari kamar dan duduk di sofa yang berada di ruang TV. Ia menghela nafas dan merogoh saku mengambil ponselnya, terlihat wallpaper dengan foto pria, wanita, dan seorang anak kecil perempuan. "Pulang gak ya."

Sang surya sudah menampakkan dirinya dengan cahaya hangat, yang berhasil mengganggu tidur nyenyak Gilang. Gilang yang terkana sinar matahari pun membuka matanya perlahan melihat ke sekeliling, dan berusaha mengumpulkan energinya untuk bangun. "Cepet amat pagi nya dah." Gilang menarik nafas dan meregangkan tubuhnya. "Enak banget!!" Teriak Gilang. Setelah melakukannya ia pun berdiri dan setelahnya berjalan kearah kamar mandi.

Saat Gilang keluar kamar mandi, ia melihat Mahen yang sedang di dapur membereskan belanjaan nya. "Abis dari pasar Hen?" Gilang pun mendekat dan merogoh tas belanjaan.

"Gak beli cemilan gue, kalo mau beli ke supermarket aja sono." Ucap Mahen yang memasukkan sayur ke kulkas. Mahen yang sudah selesai membereskan belanjaannya pun menyandar pada kulkas dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat ke arah Gilang "Lo jadi balik?"

Gilang yang masih mencari makanan di tas lain pun menoleh. "Masih mikir-mikir sih. Kenapa sih nahan gue mulu, gak bisa jauh sama gue? Atau lo suka gue?" Ucap Gilang yang di akhiri dengan tangan berada di wajahnya seperti emoticon terkejut.

Mahen memukul kepala Gilang karena candaan nya. "G\*bl\*k!! Jomok lo!!" Teriak Mahen. Mahen menghela napasnya berusaha untuk tenang, ia berjalan ke samping gilang yang masih memegang kepalanya karena kesakitan. "Gue gak berniat buat bikin lo menjauh dari ortu lo." Mahen pun menepuk beberapa kali pundak Gilang dan berjalan ke arah pintu keluar.

Gilang yang mendengar itu pun memasukkan tangannya ke saku celana dan berbalik badan menatap punggung Mahen. "Karena itu gue berusaha." Mahen melihat kearah gilang dari ujung matanya, terlihat Gilang yang tersenyum hingga giginya terlihat. Mahen pun akhirnya keluar unit dan meninggalkan Gilang.

Gilang yang sudah selesai merapikan barang-barangnya pun menuliskan surat untuk Mahen.

Isi surat : 'Gue berangkat dulu, titip ijo, coco, kitty, sama ikan-ikan gue. Oh iya coco setiap makanan di kasih vitamin, vitamin anjing nya ada di kamar sama punya kitty, tapi yang warna merah di bawahnya vitamin kitty.'

Gilang pun menempelkan surat itu di kulkas, ia segera berjalan keluar untuk merapikan tasnya di atas motor.

Saat akan memasuki jalan ke Purwodara di tengah malam, Gilang tanpa sengaja melihat rusa yang mulai membusuk di tengah jalan, ia hanya menoleh kearah rusa itu dengan motor yang berjalan. Tapi rasa penasarannya lebih besar yang membuatnya berhenti dan berjalan mendekati rusa itu.

Gilang yang semakin mendekat ke rusa itu pun menyadari bahwa rusa tersebut masih bergerak, dan seakan ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalam perutnya. Saat semakin mendekati bangkai tersebut, ia segera meraih pisau besar dan senter yang ia bawa di samping tas.

Saat Gilang sudah berada tepat di depan bangkai itu tercium aroma tidak sedap dan banyak belatung yang berada di leher rusa itu. "Kristal? Penyakit?" Tanya Gilang yang baru tersadar, bahwa yang berada di kepala rusa itu bukanlah batu melainkan sebuah kristal yang keluar dari kulitnya.

Ia akhirnya berlutut dengan satu lututnya dan menusuk perut rusa yang berada di depannya, tak ada darah ataupun teriakan dari rusa itu yang membuatnya semakin kebingungan, ia pun dengan sedikit keraguan merobek perut rusa tersebut menggunakan pisau nya.

Ia terkejut saat melihat cacing yang berada di perut rusa itu. Tak hanya satu, tapi puluhan cacing yang bersatu menjadi gumpalan dan menggeliat berusaha melepaskan dirinya. Gilang yang terkejut pun segera berdiri. "\*\*J\*ng!!" Ucap Gilang yang masih menatap rusa itu dengan penuh keanehan, karena perut bagian bawah rusa tak terdapat tanda-tanda pembusukan yang dapat membuat cacing itu memasuki tubuh rusa. "Gila, gak bener sih ini." Lanjutnya yang mulai menjauh dari sana dan kembali menaiki motornya.

Gilang semakin memasuki tengah kota di malam itu tak terlihat satupun lampu jalan yang menyala, ia masih tak peduli dan berpikir bahwa mungkin kota tersebut sedang terjadi pemadaman listrik atau sebagainya, saat mendekati rumah ia terkejut saat melihat salah satu tetangganya yang berdiri di depan rumahnya. "Permisi pak." Ucap Gilang mendekat kearah sang bapak, bapak itu hanya diam dan tak memberi respon kepada Gilang, Gilang yang penasaran pun akhirnya melihat kewajah sang bapak yang menunduk.

Ia terkejut saat melihat bahwa wajah bapak tersebut telah di penuhi luka, dan saat ia melihat dengan lebih teliti, ternyata terdapat beberapa belatung yang berusaha keluar dari tubuh bapak itu, Gilang yang melihat itu dengan segera menjauh dan berusaha menghindar, ia segera memasuki pekarangan rumah.

Saat berada di depan pintu Gilang dengan perasaan takut dan panik mengetuk dengan keras pintu, sembari memanggil sang ayah. Saat Gilang sedang panik tiba-tiba tetangga yang tadi berdiri di depan rumahnya membuka mata dan menoleh kearah Gilang. Gilang menoleh ke arah belakangnya, ia terkejut melihat orang yang ia pikir telah tiada ternyata masih bisa berjalan. "\*\*J\*ng gerak!! Inget kodrat woy, lo mayat!!" Gilang dengan cepat meraih pisaunya yang tadi ia gunakan untuk membelah perut bangkai rusa.

Gilang pun berusaha melawan tetangganya dan beberapa kali telah menusukkan pisau itu, tetapi usahanya tak membuahkan hasil. "Mati ngapa mati, gak capek lo?!" Gilang pun makin lama semakin terpojokkan, yang akhirnya ia tak ada jalan untuk mundur di karenakan pagar yang tinggi. "Gila, mati nih gue?" Tanpa sengaja ia melihat batang kayu besar di sampingnya, dengan segera ia merahinya dan menyodorkan nya ke arah zombie itu agar ia mundur.

Di sisi lain saat Gilang berusaha mengalahkan zombie di depannya, terdengar suara erangan dan seretan benda tajam dari kegelapan. Gilang yang mendengar itu menoleh ke arah suara dengan tetap menahan zombie di hadapannya. Terlihat siluet seorang dengan rambut pendek sebahu. "Mampus, setan macam apa lagi tu."

Makhluk itu semakin mendekat kearah Gilang, terlihat mata merah itu menatap kearahnya dan senyuman hingga telinganya. "Setan jepang ngapain sampai ke indo woy!!" Gilang mendorong zombie yang berada di depannya, membuat zombie itu terpental. Gilang segera berlari ke pojok pagar, ia melihat mahkluk dengan senyum menyeramkan itu memasuki pekarangan.

Zombie yang tak mengetahui itu pun menyerang makhluk itu dan pertarungan mereka terlihat jelas di mata Gilang. "Anjay, wajib video sih ini. Pamerin ke Mahen." Ucapnya merogoh ponsel yang berada di sakunya, Gilang pun mulai merekam nya hingga pertarungan itu selesai. Pertarungan itu di akhiri dengan makhluk yang memutuskan kepala dengan tubuh zombie itu. "**J*ng" Gilang menyingkirkan ponselnya dari wajah dan melihat kearah makhluk tersebut.

Makhluk yang tadi fokus ke zombie akhirnya menoleh kearah Gilang yang, gilang yang melihat itu hanya bisa terdiam dan ia pun tersenyum canggung. "Hai." Melihat Gilang yang melambaikan tangan, pun mendekat dan mengerang. Gilang yang melihat itu segera berdiri dan berlari ke luar halaman rumahnya.

Gilang yang telah lelah pun melihat ke sekeliling untuk mencari tempat sembunyi, akhirnya ia menemukan sebuah rumah kosong dan berlari kearah rumah kosong tersebut, ia pun bersembunyi di dalam ruangan gelap yang berada di rumah tersebut dengan napas yang memburu. "Tai, masa iya monster kek gitu suka ama gue." Bisik Gilang.

Terdengar suara patahan ranting yang semakin mendekat kearah Gilang, semakin mendekat, semakin terdengar pula bahwa makhluk itu sedang mengendus-endus. Gilang yang berada di pojok ruangan, melihat makhluk itu tepat di depan pintu. Gilang melihat kearah jendela yang telah hancur dan berjalan perlahan kearah jendela, sedikit demi sedikit ia mendekat ke jendela.

Saat Gilang akan keluar, tiba-tiba makhluk itu menoleh keseahnya dan berlari, dengan cepat Gilang keluar lewat jendela. "Argh!!" Erang nya saat merasakan cakaran dari makhluk itu, dengan menahan rasa sakit, ia berlari menuju motornya, dengan cepat memutarnya dan pergi dari kota Purwodara.

Gilang menghela nafas berat saat sudah berada jauh dari kota itu. Ia melihat kearah kakinya yang masih mengeluarkan darah darah segar dan bau amis. "Sial." Ia pun menghentikan motornya di pinggir jalan dan merobek salah satu bajunya yang berada di tas. Ia mengikatkan kaos itu pada lukanya dengan kencang agar tak mengeluarkan darah lagi.

Gilang terdiam di dalam kesunyian jalanan itu, jalan yang sepi dan hening, tak ada satu pun cahaya dari kendaraan, hanya cahaya bulan dan bintang yang menyinari jalan itu. Gilang merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, ia melihat bahwa di sana sudah terdapat sinyal, dengan segera ia menelpon Mahen yang tak kunjung terjawab.

Beberapa saat kemudian panggil terjawab yang membuat Gilang sedikit tenang. "Halo." Ucap Gilang.

"Oh paan Lang?" Terdengar jawaban dari balik ponsel, suara yang terdengar berat seperti orang yang terbangun dari tidurnya "Biasanya juga lupa lo ama temen, fokus sama ortu lo mulu." Lanjut Mahen.

"Masalahnya gue belum sama ortu gue." Ucap Gilang dengan nafas terengah-engah karena panik. "kota Purwodara kacau banget." Lanjutnya

Mahen yang tadinya di posisi merebahkan diri, sekarang terduduk merasa khawatir dengan sang teman. "Lo di mana? Gue ke sana pake mobil." Gilang pun memberi tahukan di mana ia berada sekarang. Dengan segera Mahen menuju tempat Gilang yang belum terlalu jauh dari kota Ubudkarta.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!