LEMARI TUA

Setelah kepergiannya Bu Darmi mereka berlima yang sedang duduk di sebuah sofa ruang tamu itu menoleh ke arah Barka secara bersamaan. Barka yang sedang menerima tatapan dari semua temannya yang sedang berada di rumahnya itu hanya bisa menggelengkan kepala saja pertanda ia tidak tahu apa yang baru saja ia alami.

Di sini yang kelihatan agak tenang hanya Arini saja. Setelah melihat ke arah Barka sebentar ia justru langsung mengambil cangkir putih yang tadi sudah di siapkan oleh Bu Darmi kepada mereka semua.

Arini meniup sebentar tehnya yang masih mengepulkan asap. Setelah menyesapnya sedikit dari cangkir itu lalu ia taruh lagi di meja tepat di depannya.

"Jujurlah apa yang sebenarnya sedang kamu lihat tadi Ka? " David yang biasanya lebih mengutamakan makanan yang ada di hadapannya kali ini ia justru lebih tertarik dengan apa yang baru saja terjadi dengan teman barunya itu.

Barka menoleh ke arah David, tidak hanya David yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam tapi semua temannya ini tidak mengalihkan pandangan mereka darinya kecuali Arini yang justru sedang menikmati tehnya yang masih terlihat berasap.

"Aku juga tidak ingat, hanya saja sebelumnya aku seperti mendengar ada yang memanggilku lalu ada seseorang yang menyuruhku menghampirinya. " Barka menjelaskan apa yang ia ingat sambil memainkan jari-jarinya.

"Jangan-jangan kamu tadi kerasukan, " Alex yang duduk di samping Barka menyenderkan punggungnya ke sofa.

"Untung saja hari ini kita datang, coba saja kalau tidak mungkin kamu sekarang masih meringkuk di tengah sawah Ka. " Edo mengusap mukanya dengan kasar membayangkan apa yang akan terjadi pada temannya itu jika tidak ada yang menjumpainya.

Barka masih seperti orang yang linglung, ia juga bingung mengapa ia bisa berjalan ke tengah sawah. Tapi Barka ingat sekali jika ia berjalan menuju ke arah sosok yang melambaikan tangan tapi mengapa ia menghampirinya.

Semua yang ada di ruang tamu itu terdiam sejenak karena dilihatnya Barka yang masih belum bisa bercerita panjang.

"Kurasa kita harus cepat-cepat mencari informasi dari anak yang selalu mengikuti Barka, karena aku yakin ini berhubungan dengannya. " Arini yang sedari tadi diam saja akhirnya membuka suara juga.

"Maksudmu yang membuat Barka berjalan ke arah sawah tadi ulah hantu yang mengikutinya. " Bibir Naya yang sudah mendekati cangkir tehnya terhenti saat mendengar penuturan dari Arini yang duduk di sebelahnya.

Arini mengangguk karena saat menemukan Barka tadi ia juga melihat sosok yang melambai di tengah sawah dan ia yakin sosok tadi adalah sosok sama yang selalu mengikuti Barka. Terbukti saat ini Arini tidak menemukan keberadaan sosok anak berbaju putih itu di sekitar Barka bahkan Arini sampai memperhatikan semua sudut yang terjangkau oleh matanya tapi tetap tidak ada.

Beberapa detik kemudian Barka tersadar akan siapa yang ia lihat tadi. Pantas saja ia merasa tidak asing dengan perawakannya ternyata yang melambai tadi adalah sosok yang sama persis seperti di mimpinya.

"Aku baru ingat, sosok yang tadi melambai ke arahku adalah sosok yang sama seperti di mimpiku. " Barka sangat yakin dengan hal itu karena mulai dari baju dan celananya yang sama-sama memakai warna putih dan kulitnya yang terlihat jelas sangat putih apa lagi tadi berada tepat di bawah sinar matahari sehingga sangat memperjelasnya.

"Kamu mimpi apa Ka? " Alex merubah duduknya menjadi tegak agar bisa dengan jelas mendengarkan cerita dari Barka.

Sontak saja semuanya menoleh ke arah Barka untuk mendengarkan apa yang akan Barka katakan.

"Tadi malam aku mimpi melihat lukisan di dalam lemari kayu kamarku. Aku masih ingat sekali dengan gambar di lukisan itu ada anak laki-laki seumuran dengan kita yang duduk di kursi kayu memakai kaos dan celana pendek berwarna putih. " Barka bercerita dengan semangat karena ia yakin mimpinya memang menyimpan sebuah petunjuk.

"Di mana kamarmu Ka, kenapa tidak kita coba periksa saja siapa tahu memang ada petunjuk dari sana? " Edo yang sedari tadi diam saja akhirnya membuka suara.

" Tadi malam sudah aku cek tapi tidak ada apa pun, tapi ayo kalo mau kita lihat lagi siapa tahu memang ada sesuatu di dalam kamarku. " Barka berdiri dan di ikuti oleh yang lainnya.

Mereka berenam berjalan mengikuti Barka untuk menuju kamarnya. Ada dua kamar berseberangan dan Barka membuka yang pintu sebelah kanan. Mereka secara bergantian memasuki ruangan yang hanya terisi dengan kasur yang muat untuk dua orang dan ada lemari kayu besar di tembok sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri samping kasur ada meja belajar dengan kursi camaro di depannya sedangkan di samping meja belajar ada rak yang tingginya hampir sama dengan tinggi Barka dan tersusun banyak buku-buku.

Barka membuka lemari kayunya dan memperhatikan dinding di belakangnya tempat ia melihat lukisan tadi malam. Yang lain ikut melihat ke dalam isi lemari yang hanya berisi tumpukan baju yang sebagian tidak tersusun rapi karena tadi malam memang setengah di obrak-abrik oleh Barka.

"Di sini, di mimpiku aku melihatnya di sini. " Barka mengarahkan telunjuknya ke dinding kayu yang berada di belakang tumpukan baju-bajunya.

David yang berada di sampingnya mengarahkan tangannya dan mengetuk pelan dinding tersebut. Yang lainnya hanya memperhatikan saja siapa tahu mata mereka menangkap sesuatu yang janggal.

"Kamu pikir kalo di ketuk begitu terus lukisannya keluar sendiri begitu? " Alex menarik rambut David pelan.

Yang lainnya tertawa saat mendengar ucapannya Alex. Lalu mereka berbalik karena di rasa memang tidak ada sesuatu yang menjadi petunjuk di dalam lemari itu.

"Bukan gitu, siapa tahu di balik lemari itu ada lorong misterius seperti di novel-novel misteri gitu. " David mengelak karena ia mengikuti perkataan otaknya.

Semuanya hanya geleng-geleng saja mendengar penuturan David yang di luar nalar itu. Arini melihat-lihat sudut ruangan tapi ia juga tidak menemukan apa pun yang menarik perhatiannya, kamar Barka sangat rapi dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan, yang lainnya juga ikut melihat-lihat sekitar kamar.

Naya justru malah asik melihat-lihat koleksi buku di rak, rata-rata bukunya adalah motivasi dan pengembangan diri sehingga tidak menarik minat Naya yang menyukai novel romantis. Sedangkan Edo justru masih sibuk melihat-lihat bagian lemari bahkan ia melihat setiap detail ukirannya juga.

Edo juga satu pemikiran dengan David jika mungkin saja ada sesuatu yang tersembunyi di belakang lemari.

"Gimana kalo kita geser sedikit ke depan supaya belakang lemarinya keliatan, " David yang sama-sama penasaran dengan lemari kayu itu mengajak Edo untuk menggesernya.

Mereka berdua berada di kiri kanan lemari dan mencoba mendorongnya ke depan untuk melihat bagian belakang. Tapi sia-sia saja mereka seperti sedang mendorong bongkahan batu besar yang sama sekali tidak mau bergerak. Edo dan David merasa aneh karena tidak terpikirkan oleh mereka jika lemari itu akan sangat berat, padahal umumnya jika hanya lemari kayu berukuran dua pintu saja akan sangat mudah untuk menggesernya tapi tidak dengan lemari milik Barka ini.

Mereka semua melihat ke arah Edo dan David yang sedang berusaha untuk menggeser lemari kayu tapi sama sekali tidak ada yang bergeser sedikit pun. Alex yang sedang melihat-lihat meja belajar Barka mengalihkan pandangannya karena mendengar suara ribut dari Edo dan David yang mencoba menggeser lemari.

"Gila ini lemari sama sekali tidak mau geser sedikit pun. " David akhirnya menyerah juga karena merasa tidak ada yang berubah sama sekali.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!