"Barka ayo tidur di kasur, nanti lehermu sakit. " Barka terkejut ternyata yang tadi itu hanya mimpi.
"Iya Bu, tadi Barka ketiduran. "Barka berjalan kearah kasur untuk melanjutkan tidurnya.
Saat ibunya pergi Barka masih belum terlelap lagi karena masih memikirkan mimpinya tadi. Ingatannya masih sangat jelas saat ia melihat lukisan tadi, sebuah lukisan seorang anak laki-laki berkaos putih dan celana selutut dengan warna senada. Anak laki-laki itu duduk di sebuah kursi kayu dan dibelakangnya terdapat lemari kayu persis seperti lemari yang ada di kamar Barka.
Tapi satu yang membuat takut Barka, anak laki-laki pada lukisan tersebut tergambar di bawah lututnya banyak luka sayatan yang mengalir darah.
Karena penasaran Barka bangun dari kasur dan menuju lemari bajunya, pelang-pelan ia membuka lemari. Saat terbuka tidak ada apa-apa selain tumpukan baju, bahkan Barka sampai mengobrak-abrik tumpukan bajunya untuk mencari lukisan yang ada di mimpinya. Nihil tidak ada apapun di lemarinya, Barka memutuskan kembali untuk tidur karena tidak menemukan yang ia cari.
...*****...
Di tempat lain Arini yang sedang tidur juga mengalami mimpi melihat lukisan. Akan tetapi lukisan yang ia lihat berbeda dengan lukisan yang dilihat Barka. Dalam mimpinya Arini seperti sedang berada di ruang tamunya pandangannya tertuju pada dinding ruang tamunya yang biasanya di buat memajang foto akan tetapi ini yang terpajang bukan foto keluarganya tapi sebuah lukisan yang memperlihatkan sebuah kebun yang terdapat rumpun bambunya.
Saat Arini mencoba melihat lebih dekat ke arah lukisan tiba-tiba lukisan itu jatuh ke lantai. Arini terkejut dan bangun dari tidurnya. Arini mengingat kembali apa yang ia lihat pada lukisan itu. Arini yakin itu adalah tempat yang sekarang dijadikan pembuangan sampah oleh warga sini.
Perlahan Arini mulai tertidur kembali, tanpa ia sadari sedari tadi ada yang sedang memperhatikannya dari sudut kamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.46 Arini bolak-balik melihat jam di ruang tamunya karena Naya belum juga datang. Karena Arini tidak bisa mengendarai sepeda sendiri, saat ke sekolah ia berboncengan dengan Naya.
"Loh Arin, kok belum berangkat . Nayanya mana? " Ibunya Naya berjalan dari dalam rumah sambil menenteng keranjang sayur.
"Tidak tahu ma, kayaknya kesiangan. "Arini menunggu dengan gusar.
"Yasudah Mama mau ke pasar dulu. "Ucap mamanya Arini sambil menyodorkan tangan untuk di salami.
Tak lama setelah itu Naya datang dengan sepeda motor yang melaju kencang kearah Arini. Muka Arini sudah ditekuk karena sudah pasti tidak bisa datang di sekolah tepat waktu.
"Sorry Rin, kesiangan. "Naya nyengir menampakkan gigi kelincinya.
Arini cuma bisa mencak-mencak karena Naya masih bisa tersenyum sedangkan ia sudah kebingungan memikirkan alasan untuk gurunya nanti.
Saat melewati depan rumahnya Barka, Arini memperhatikan sekitar rumahnya. Tidak ada sosok anak berbaju putih yang biasanya Arini lihat saat melewati rumah itu. Arini makin yakin jika sekarang sosok itu mengikuti kemanapun Barka pergi.
Sesampainya di depan gerbang sekolahan, Naya memanggil satpam yang berjaga di pos. Lama tidak ada yang menjawab karena sepertinya tidak ada orang. Semakin gusar saja perasaan mereka berdua.
"Duh gimana ini Rin, kayanya satpamnya lagi keliling deh. " Ujar Naya sambil menyenderkan punggungnya di pagar besi.
"Lo sih, acara kesiangan segala. " Arini sudah sewot sejak di perjalanan tadi.
"Namanya juga kesiangan. " Naya membalas dengan ketus.
Di tengah perseteruan mereka, ada dua siswi perempuan yang melewati depan gerbang. Siswi itu kelihatannya dari arah koperasi. Arini yang melihatnya berteriak memanggilnya.
"Itukan Dian kelas 7, Dian! "Arini berteriak karena jaraknya lumayan jauh.
Dian yang mendengarnya menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ia berlari kecil menuju ke arah gerbang.
"Loh, mbak Arin. Ngapain di luar mbak? "Dian melihat Naya dan Arini secara bergantian.
"Lagi joging, pakai nanya. "Jawab Naya.
"Dian minta tolong carikan Pak Tejo, minta di bukain gerbangnya. "Arini menjawab dengan sabar, berbeda dengan Naya malah emosi saja padahal saat ini telat juga karena dia.
Dian mengiyakan dan berlalu dari gerbang untuk mencari Pak Tejo. Lama Dian memutari tempat-tempat yang biasanya di kunjungi Pak Tejo. Biasanya pagi setelah bel Pak Tejo menelusuri sudut-sudut sekolahan untuk menangkap anak-anak yang telat dan memilih memanjat tembok.
Dian akhirnya menemukan Pak Tejo di sekitar kantin untuk mencari anak-anak yang bolos dan memilih berada di kantin, ada dua siswa laki-laki yang buru-buru lari setelah mendengar suara Pak Tejo. Setelah bertemu Dian, Pak Tejo berjalan ke arah gerbang sedangkan Dian memilih langsung kembali ke kelas saja karena dia juga sedang ada jam pelajaran.
Naya melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan jam 07.14 itu artinya sudah pasti guru sudah datang di kelasnya, ia terus-terusan menghela nafas untuk menghilangkan rasa cemas.
Dari kejauhan terlihat seseorang berpakaian serba hitam, tubuhnya berperawakan tinggi dan raut mukanya selalu serius yang membuatnya terlihat galak. Ia berjalan menuju gerbang dan mengeluarkan kunci yang di gantung diantara sabuk celana.
"Terima kasih Pak. "Naya mengucapkan terima kasih dan setelah itu Pak Tejo menyuruh mereka berdua masuk ke kelas. Bukan tanpa alasan Pak Tejo tidak menegur ataupun memberi hukuman karena nantinya sudah pasti akan mendapatkan hukuman sendiri dari guru yang sedang mengajar.
Naya dan Arini berlari menyusuri lorong-lorong kelas hingga sampailah mereka di depan 9A. Saat mereka memasuki kelas sudah ada bu Indah selaku guru IPS yang terkenal galak dan disiplin. Akhirnya Naya dan Arini pun berakhir di lapangan bendera sampai bel istirahat tiba.
Saat istirahat Barka dan teman-teman lainnya sedang duduk di bangku kantin untuk mengisi perut.
"Kok kalian berdua kucel dan keringetan banget Rin. "Alex heran dengan para wanita di depannya itu.
Barka dan lainnya melihat kearah mereka berdua, benar saja muka mereka terlihat letih dan mengkilap karena keringat.
"Kita habis di jemur di lapangan gara-gara tadi pagi telat. "Jawab Naya lesu.
Naya menelungkupkan kepalanya kelipatan tangannya di atas meja, Arini pun sama tidak bersemangatnya. Tiba-tiba Arini seperti mengingat sesuatu yang membuat raut wajahnya berubah serius.
"Teman-teman setelah aku dari rumah Barka, aku selalu melihat bayangan sosok yang selalu mengikuti Barka. Dan tadi malam entah bunga tidur atau memang sebuah petunjuk tapi aku mimpi melihat lukisan yang gambarnya itu di pembuangan sampah. " Arini berbicara pelan dan serius.
Naya yang mendengarnya pun mengangkat kepalanya supaya bisa dengan jelas yang akan mereka bicarakan.
"Apa mungkin kita dapat sesuatu jika kesana. " Tanya Edo.
"Kayaknya tidak mungkin. Aku sering buang sampah disana dan tidak ada yang aneh. "Jawab Edo.
"Bener itu Rin, mungkin itu cuma bunga mimpimu saja. Lagian apa yang mau kita cari juga tidak jelas, tempatnya di sampah juga paling-paling yang ada cuma tumpukan plasti. "Naya ikut menimpali
"Bener juga, lagian mimpiku juga tidak jelas belum tentu ada artinya. "Arini pun membenarkan perkataan teman-teman nya.
Tidak lama setelah itu 6 mangkuk bakso yang mereka pesan sudah datang. Mereka mengisi perut dulu sebelum siap untuk pelajaran selanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Renji Abarai
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
2025-02-14
1