Pulang Bareng

Rosa duduk di salah satu bangku di halte. Ada banyak angkot yang diam menunggu penumpang. Tapi Rosa belum sepenuhnya sadar. Satu lirik lagu tadi. Hanya sebaris kalimat itu yang masuk ke telinganya, tetapi seakan menembus hatinya.

Satu kalimat yang dari lagu yang selalu membuatnya menangis. Dan Rosa tidak mau menangis di depan orang lain.

“Rosa, mau aku antar pulang?” tanya sebuah suara di sampingnya.

Kaget, Rosa langsung berbalik melihat siapa yang duduk di sampingnya itu.

Rama menatapnya dengan khawatir, “Kamu gak apa-apa?” tanyanya kemudian. Masih tidak mendapat jawaban apapun selain tatapan mata Rosa yang terasa menembus ke jantungnya.

“Kenapa kamu gak tinggal di rumah?” tanya Rosa tiba-tiba. Matanya menatap mata hitam Rama dibelakang kacamatanya.

Mata Rama berkedip, tidak menyangka Rosa akan bertanya kepadanya, “Karena sepi,” jawab Rama. Dan itu sangat menyiksa, katanya dalam hati. "Karena gak ada kamu."

“Sekarang aku udah ada di rumah. Kamu masih gak pulang?” tanyanya lagi.

Rama tersenyum lagi, “Kamu mau aku pulang?” tanyanya. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

“Biar kita sama-sama menghancurkan,” jawab Rosa dalam bisikan.

Rama membeku, kemudian tersenyum lagi. Dia memutuskan untuk menggoda Rosa. “Sebegitu kangennya kamu sama kakak?” tanya Rama sambil mengacak lembut puncak kepala Rosa.

Rambut Rosa yang dikepang kesamping tidak terlalu berantakan, tapi Rosa langsung memelototi Rama. “Gak usah pegang-pegang!” katanya ketus.

Rama tertawa, “Kamu yakin aku harus pulang?” godanya lagi.

“Gak usah. Cuma nanya,” jawab Rosa masih ketus.

“Atau kamu khawatir karena aku harus bolak-balik jemput dan anter kamu?” tanya Rama makin menjadi.

“Siapa yang minta dianter jemput sih?” Rosa memalingkan muka, “Aku udah belajar pesen ojek dari Bella,” kata Rosa lagi. Yang langsung disesalinya sedetik kemudian. Untuk apa ngasih tahu Rama?! pikirnya. Dia menggigit bibir dalamnya. Memberengut.

“Wah, udah pinter ya adik aku,” Rama kembali menepuk halus kepala Rosa.

Rosa kesal, dia berdiri kemudian asal masuk ke dalam angkot di depannya.

“Angkot ini ga lewat ke Rumah, Sa. Kamu bisa nyasar,” kata Rama.

Rosa meliriknya, tapi kemudian turun.

“Punten nya, Mang,” kata Rama ramah kepada sopir angkot yang terlihat garang itu.

“Jangan naik sembarangan, Sa, nanti aku harus cari kemana?” katanya sambil menggenggam tangan Rosa. Menuntunnya kembali masuk area sekolah. Rama membawanya ke tempat dia memarkirkan motornya tadi pagi.

Rosa tidak menepis tangan Rama yang menggenggamnya. Rama tersenyum.

“Tunggu aku ambil tas dulu, ya, jangan duluan. Jangan kemana-mana. Jangan kabur,” pinta Rama dengan lembut. Diusapnya kembali puncak kepala Rosa sampai Rosa kembali mendelik ke arahnya. Dan Rama hanya tertawa sambil berlari masuk kembali ke sekolah.

Rosa kesal sekali karena Rama memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Dia baru sampai Bandung tiga hari lalu. Dan baru masuk sekolah selama dua hari. Rasanya seperti masuk ke hutan belantara yang penuh dan ramai. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Bahkan nama perumahan dimana dia tinggal sekarang saja dia lupa di jalan apa. Apalagi harus naik angkot mana, bis mana, dan untuk pesan ojek online dia masih belum berani. Meskipun tadi pagi dia bersikeras bahwa dia bisa sendiri, nyatanya Rosa merasa asing.

Jadi dibiarkannya dirinya dibuat kesal oleh Rama. Lagi pula, Rosa cepat belajar. Dia akan bisa pulang dan pergi sendiri.

Tak terasa, ucapan dan perlakuan Rama yang bikin Rosa kesal, membuatnya melupakan sesaknya saat mendengar potongan lagu di dalam sekolah tadi.

-o0o-

Rosa masih tidak mau berpegangan pada Rama. Dia memilih memegang besi di belakangnya. Mereka berkendara dalam keheningan. Tapi mata Rama sesekali melirik Rosa yang diam di belakangnya. Dia membawa Rosa berkeliling Kota Bandung sebentar. Mencoba menghilangkan penat yang mungkin dialami adiknya itu. Rama berulang kali bertanya pada Rosa dalam perjalanan mereka, “Mau kesini gak, Sa?” dan dijawab dengan gelengan. Rosa tidak tertarik untuk mengunjungi mall-mall yang mereka lewati.

Melewati jalan-jalan paling terkenal di Bandung, Rama membawa Rosa berbelok dan kembali bertanya apakah Rosa mau singgah dan main ke Alun-alun.

"Panas," jawab Rosa singkat.

Rama mengangguk setuju. Lalu kembali melaju dengan motornya. Rama berbelok dan berhenti di salah satu gerai burger. Rosa menerima burgernya dan memakan dalam keheningan.

Mereka berdua duduk di kursi yang tersedia dan hanya memandang lalu lalang kendaraan.

Selesai dengan burgernya, Rama kembali dengan senyumannya sambil membawa Rosa berkeliling lagi. Masih bertanya "Mau kesini gak, Sa?" atau "Kamu tau tempat ini gak, Sa?"

Dan Rosa hanya menggeleng atau berkata, "Enggak."

Mata Rosa membulat ketika melewati beberapa pedagang buku yang berjejer di pinggir jalan. Dan tepat saat itu Rama sedang meliriknya.

“Mau lihat?” tanyanya kemudian meminggirkan motornya.

Rosa teringat uang lima ratus ribu yang diberikan Papa tadi pagi.

“Kamu mau lihat-lihat dulu?” tanya Rama lagi.

“Itu dijual?”

“Iya. Itu semua jualan buku-buku bekas.”

Rosa melirik lagi.

“Mau lihat?”

“Boleh?” tanya Rosa.

“Boleh banget dong. Yuk turun,” jawab Rama sambil tersenyum. Lucu sekali melihat adiknya balik bertanya seperti itu.

Rosa terlihat sangat serius saat melihat-lihat buku-buku bekas yang bertumpuk-tumpuk di depannya. Matanya mencari dari satu tumpukan ke tumpukan yang lain. Rasanya seperti sedang menyortir tumpukan harta karun.

Di sampingnya Rama tersenyum melihat Rosa yang antusias. Dia membiarkan Rosa dengan dunianya. Rosa mengambil beberapa judul novel, setumpuk komik, dan beberapa buku yang tidak Rama pahami.

Dibiarkannya Rosa bertransaksi dengan sang penjual harta karun. Rosa tersenyum saat tahu harganya begitu murah. Bahkan tidak setengah dari uang yang diberikan Papa. Dia kemudian menerima seplastik penuh buku-buku pilihannya.

Tapi senyumnya kemudian menghilang saat melihat Rama yang sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Apa liatin?” tanyanya ketus.

Rosa salah tingkah karena ditatap sedemikian rupa oleh Rama.

“Enggak, aku cuma seneng banget bisa liat senyum cantiknya adik aku lagi,” jawab Rama.

Rosa mendelik. Tangannya membawa bukunya yang setumpukan di plastik hitam itu.

Tangan Rama terulur mengambll alih harta karun Rosa. “Aku bawain deh. Berat banget ini, kamu kok kuat banget sih, Sa?” tanya Rama.

Kembali Rosa tidak menjawabnya.

“Sering-sering senyum dong, Sa, berwarna banget dunia waktu kamu senyum gitu,” kata Rama.

Rosa berhenti mengikuti Rama dari belakang.

“Tapi jarang-jarang juga gak apa-apa, kok,” lanjut Rama. Sadar Rosa tidak mengikuti, Rama bebalik. “Atau gak senyum juga gak apa-apa, Sa,” katanya kemudian. Membuat Rosa kembali merasa kesal.

“Adik aku kan cantik banget meskipun gak senyum,” Rama nyengir.

Rosa menarik napas panjang.

“Ayo pulang,” ajak Rama, “atau mau cari lagi?” tanyanya.

Rosa menggeleng kemudian kembali melangkah mengikuti Rama.

-o0o-

Episodes
1 Keputusan Besar
2 Kembali ke Semula
3 Bertemu Rama
4 Obrolan Ciwi-ciwi
5 Papa
6 Latihan Utara
7 Pulang Bareng
8 Pindahan
9 Tertangkap Basah
10 Hari yang Aduh!
11 Tindakan Angkasa
12 Resto di Atas Bukit
13 Angkasa dan Geng Motor
14 Kehebohan di Pagi Hari
15 UKS
16 Baking with Rama
17 Pembicaraan Adik-Kakak
18 Tawa Rosa
19 Ish, memalukan!
20 Hidup Diantara Laki-laki
21 Bendera Hijau Angkasa
22 Semua Rosa Dirayakan
23 Pembagian Cookies
24 Satu Hari yang Haru
25 Untuk Kesempatan yang Hilang
26 Bertemu Mama
27 Festival Sekolah 1
28 Festival Sekolah 2
29 Liburaaan!
30 Selamat Ulang Tahun
31 Di Bukit Belakang
32 Rama dan Semua Perhatiannya
33 Asa Menghilang
34 Hari Dimana Semuanya Menghilang
35 Yang Tidak Tergantikan
36 Angkasa Datang
37 Maaf dan Terima Kasih
38 Duel
39 Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40 Hari Biasa yang Kembali
41 Kejutan Tengah Malam
42 Tentang Menerima
43 Serangan Perasaan
44 Tidak Bisa Selamanya Begini
45 Hancur Yang Sama
46 Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47 Kehilangan Yang Sama
48 Duka yang Berada Pada Tempatnya
49 Teman-teman yang Datang
50 Perubahan Baik
51 Setiap Orang Punya Cerita
52 Piknik
53 Rumah
54 Kepindahan Najwa
55 Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56 Apa Yang Terjadi?
57 Masa Lalu 1
58 Masa Lalu 2
59 Surat Mama
60 Anak-anak Papa
61 Waktu Untuk Rama
62 Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63 Tentang Menerima
64 Ulang Tahun Rama
65 Angkasa Yang Terkenal
66 Kembali (Tamat)
67 Visual dan Blurb Season 2
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Keputusan Besar
2
Kembali ke Semula
3
Bertemu Rama
4
Obrolan Ciwi-ciwi
5
Papa
6
Latihan Utara
7
Pulang Bareng
8
Pindahan
9
Tertangkap Basah
10
Hari yang Aduh!
11
Tindakan Angkasa
12
Resto di Atas Bukit
13
Angkasa dan Geng Motor
14
Kehebohan di Pagi Hari
15
UKS
16
Baking with Rama
17
Pembicaraan Adik-Kakak
18
Tawa Rosa
19
Ish, memalukan!
20
Hidup Diantara Laki-laki
21
Bendera Hijau Angkasa
22
Semua Rosa Dirayakan
23
Pembagian Cookies
24
Satu Hari yang Haru
25
Untuk Kesempatan yang Hilang
26
Bertemu Mama
27
Festival Sekolah 1
28
Festival Sekolah 2
29
Liburaaan!
30
Selamat Ulang Tahun
31
Di Bukit Belakang
32
Rama dan Semua Perhatiannya
33
Asa Menghilang
34
Hari Dimana Semuanya Menghilang
35
Yang Tidak Tergantikan
36
Angkasa Datang
37
Maaf dan Terima Kasih
38
Duel
39
Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40
Hari Biasa yang Kembali
41
Kejutan Tengah Malam
42
Tentang Menerima
43
Serangan Perasaan
44
Tidak Bisa Selamanya Begini
45
Hancur Yang Sama
46
Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47
Kehilangan Yang Sama
48
Duka yang Berada Pada Tempatnya
49
Teman-teman yang Datang
50
Perubahan Baik
51
Setiap Orang Punya Cerita
52
Piknik
53
Rumah
54
Kepindahan Najwa
55
Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56
Apa Yang Terjadi?
57
Masa Lalu 1
58
Masa Lalu 2
59
Surat Mama
60
Anak-anak Papa
61
Waktu Untuk Rama
62
Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63
Tentang Menerima
64
Ulang Tahun Rama
65
Angkasa Yang Terkenal
66
Kembali (Tamat)
67
Visual dan Blurb Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!