Bertemu Rama

Rosa menelusuri ingatan, mencari tahu dimana ingatan tentang cewek chubby di sampingnya itu. Tapi kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, dibisikannya maaf tanpa suara.

“Aku Bella, kita pernah sekelas sampe kelas tiga waktu di SD,” jawab cewek bemata terang itu.

Ingatan Rosa tidak sampai ke saat itu. Menyipitkan matanya dan masih belum menemukan Bella dalam ingatannya, “Gak inget, maaf ya,” kata Rosa sungguh-sungguh.

Bella mengibaskan tangannya santai, “Gak apa-apa, aku juga gak akan inget kalau kamu gak tiba-tiba muncul lagi gini,” katanya dengan senyum cerah.

Dia baru menutup kembali resleting tasnya ketika Pak Iko mengabsen dan mendapati murid baru yang sudah siap dengan bukunya. Beliau memulai pelajaran, jadi tidak ada waktu untuk lebih berbasa-basi lagi. Diliriknya kembali Bella yang sudah melihat ke depan kelas fokus pada pelajaran pagi itu. Rosa juga mulai memfokuskan dirinya pada pembelajaran hari ini.

-o0o-

“Ke sana itu area gedung kelas XI dan XII, jadi tur-nya berhenti sampe sini ya,” Vira berhenti di koridor yang menghubungkan bangunan sekolah barunya itu. Setelah berkeliling area kelas X, menunjukan dimana toilet kelas X.

Lalu menunjukan kantin, koperasi, perpustakaan, laboratorium, menunjuk di mana letak ruang guru dan TU. Juga mengantarnya ke lapangan indor dan kolam renang indor sekolah. Tur mereka berakhir di koridor ini.

Rosa mengangguk, “Oke, makasih Vira. Maaf merepotkan, ya,” jawabnya.

Tangan Vira terangkat dan mengibas, “Gak apa-apa lagi. Tapi aku ada urusan lain, boleh aku pergi duluan? Udah inget kan yah gimana balik ke kelas?” tanya Vira memastikan.

Kepala Rosa kembali mengangguk, “iya, aku bisa balik kelas sendiri.”

“Kalau gitu duluan ya, Rosa,” Vira berlari kecil sambil melambaikan tangan kemudian menghilang di kerumunan.

Senyum kaku Rosa menghilang begitu Vira tidak terlihat lagi.

Rosa menarik napas. Matanya melihat berkeliling, sekolah yang sangat besar. Sekolahnya di desa dulu adalah sekolah biasa-biasa saja. Tapi sekolah ini sangat luar biasa. Bahkan punya kolam renang sendiri. Juga gedung olah raga yang besar.

Di bagian belakang gedung-gedung kelas bertingkat ada komplek bangunan yang difungsikan untuk ruangan ekskul.

Tidak heran lagi, karena saat datang tadi, Rosa melihat banyak sekali murid yang diantar dengan mobil-mobil mewah, atau juga sudah bawa mobil sendiri.

Rosa tidak yakin dia akan beradaptasi dengan mudah.

Dia baru akan melangkah saat tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.

“Rosa?”

Rosa membeku, tatapanya lurus kepada cowok yang menjulang di depannya. Mata hitam di balik kacamata minusnya, hidung yang bangir, rambut hitam itu, senyumnya yang tidak berubah dengan satu lesung pipit di pipi kanan, dan suara yang memanggilnya hangat.

Tapi Rosa membeku. Napasnya tertahan di tenggorokannya. Jantungnya terasa terhenti sedetik itu. Dia mengepalkan tangan saat merasakan bibirnya mulai bergemetar. Dia menggigit bibir dalamnya untuk meredam gemetar.

Rama.

Cowok yang berdiri di depannya dan menatapnya dengan senyuman hangat itu adalah Rama.

Kakaknya. Sekaligus orang yang paling dia benci.

Seketika bayang-bayang ombak yang bergulung memenuhi kepalanya. Rosa merasa dunia tempatnya berdiri seakan berputar. Telinganya berdenging dan memekakan. Napasnya sesak.

Mata Rosa bekedip, mengembalikan napasnya yang tertahan beberapa detik tadi. Dia baru akan pergi saat Rama menahannya. Menarik tangan Rosa pelan.

“Seneng banget bisa ketemu kamu lagi, Sa,” katanya dengan kebahagiaan yang jelas terpancar.

Langkah Rosa terhenti, segera menarik tangannya. Menatap Rama dengan mata membara.

-o0o-

“Tapi aku enggak!” tandas Rosa setelah tangannya terlepas dari genggaman Rama.

Senyum Rama masih mengembang. “Syukurlah kamu baik-baik aja. Aku udah lama banget gak bisa lihat kamu,” kata Rama masih dengan suara yang lembut. Matanya menatap Rosa dengan terharu.

Adik kecilnya yang sudah lama tak bisa ditemuinya itu menatap tajam kearahnya. Rama merasakannya. Tapi dia memilih untuk tetap tersenyum.

Rosa membuang napas dengan keras, ditatapnya Rama dengan marah, “Baik-baik aja? Maksudnya kamu yang baik-baik aja?” tanyanya dengan suara tertahan.

Rama masih menatap Rosa.

“Kalau kamu menganggap ini baik-baik aja, lalu harus sehancur apa aku?” Rosa masih bertanya dengan suara kecilnya.

Mereka berdua sudah menjadi tontonan. Kelas XI dan kelas X terang-terangan menatap mereka berdua. Rosa melirik ke kiri dan kanannya, tidak nyaman dengan keadaan ini. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian. Di hari pertamanya masuk sekolah, dia sudah harus berhadapan dengan kakaknya itu.

Rosa berbalik, siap menangkis jika Rama sekali lagi menahannya. Tapi Rama masih diam jadi Rosa melangkah menjauh. Mengabaikan tatapan ingin tahu dari setiap mata yang memandang ke arahnya.

Kenapa harus menunggu di sekolah untuk bertemu sama aku? Apakah dia terlalu takut untuk ketemu kemarin di rumah?

Rosa berjalan dengan marah dengan pikiran-pikirannya. Tangannya masih terkepal kuat di sisi tubuhnya. Sekuat tenaga dia mengendalikan dirinya agar tidak gemetar di depan Rama, agar tidak memperlihatkan sisi rapuhnya.

Tapi sia-sia, Rama sudah melihatnya.

-o0o-

Rama mematung sesaat setelah Rosa meninggalkannya dengan marah. Kebencian itu jelas masih terpancar. Kemarahannya bertambah saat Rama bicara.

Rama segera mengubah air mukanya. Dia tersenyum, biarpun begitu, dia senang Rosa mau kembali. Dengan tidak bersembunyi lagi, Rama merasa harus menebus apa yang mereka sudah dan tidak lalui.

Tangannya terangkat melepaskan kacamatanya yang berembun. Rama merasakan dadanya yang berdebar. Dia sempat gugup saat melihat Rosa tadi. Ini kali pertama mereka bertemu. Setelah enam tahun. Setelah Rosa selalu menghindarinya.

Dia memakai kacamatanya lagi. Kepalanya mengangguk kecil. Mulai sekarang, Rama bertekad, akan menjadi kakak yang baik.

Mulai sekarang, Rama akan membuat Rosa bahagia.

Membuat Rosa kembali.

-o0o-

Rosa baru kembali ke kelas saat bel tanda masuk berbunyi. Matanya sembab dan hidungnya masih terlihat merah. Dalam hatinya kesal karena harus masuk ke kelas dalam keadaannya yang seperti ini. Tapi bisa apa lagi, dia harus masuk kelas. Ini hari pertamanya.

Dia tahu berita anak baru yang dihadang Rama di koridor kelas XI pasti sudah menyebar di seantero sekolah. Berusaha mengabaikan setiap mata yang menatapnya, Rosa berjalan lurus menuju kursinya. Begitu duduk Bella langsung menghampirinya.

“Ada yang sakit, Rosa?” tanya Bella hati-hati.

Hatinya. Hatinya yang sakit.

Rosa menggeleng, “Gak apa-apa,” jawabnya dengan suara parau.

Bella tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tapi tangannya mengambil segelas air mineral yang tadi dibelinya di kantin lalu memberikannya pada Rosa. Selama istirahat tadi dia tidak melihat Rosa ke kantin. Pertanyaannya terjawab saat melihat Rosa habis menangis. Rosa pasti mengurung diri di toilet dan tidak sempat pergi ke kantin.

Rosa tersenyum berterima kasih, lalu meminum habis air mineralnya.

“Kamu beneran gak apa-apa, Sa?” tanya Najwa yang merasa khawatir, karena teman baru semejanya sekarang terlihat pucat.

Rosa menggeleng, “I’m ok,” jawabnya dengan senyum kecil.

Lalu Rosa ingat, kalau dia dan Bella satu SD dulu, Bella pasti tahu siapa Rama. Tangan Rosa menggenggam pegelangan tangan Bella, “aku boleh minta tolong?” tanyanya.

Bella mengangguk yakin.

Rosa langsung mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Bella, “Tolong jangan kasih tau siapa-siapa soal aku dan Rama,”pintanya.

Bella berkedip, seakan baru ingat dengan fakta itu, Rama adalah kakak Rosa. Dengan pasti, Bella mengangguk lagi, “oke. Aku gak akan kasih tahu siapa-siapa. Tapi kamu beneran gak apa-apa? Atau kita ke UKS aja yah sejam pelajaran ini mah?”

Kepala Rosa menggeleng, “aku gak apa-apa. Masih bisa kok,” jawabnya lebih meyakinkan sekarang.

Bersamaan dengan Bu Intan yang masuk untuk pelajaran selanjutnya, Bahasa Indonesia.

-o0o-

Episodes
1 Keputusan Besar
2 Kembali ke Semula
3 Bertemu Rama
4 Obrolan Ciwi-ciwi
5 Papa
6 Latihan Utara
7 Pulang Bareng
8 Pindahan
9 Tertangkap Basah
10 Hari yang Aduh!
11 Tindakan Angkasa
12 Resto di Atas Bukit
13 Angkasa dan Geng Motor
14 Kehebohan di Pagi Hari
15 UKS
16 Baking with Rama
17 Pembicaraan Adik-Kakak
18 Tawa Rosa
19 Ish, memalukan!
20 Hidup Diantara Laki-laki
21 Bendera Hijau Angkasa
22 Semua Rosa Dirayakan
23 Pembagian Cookies
24 Satu Hari yang Haru
25 Untuk Kesempatan yang Hilang
26 Bertemu Mama
27 Festival Sekolah 1
28 Festival Sekolah 2
29 Liburaaan!
30 Selamat Ulang Tahun
31 Di Bukit Belakang
32 Rama dan Semua Perhatiannya
33 Asa Menghilang
34 Hari Dimana Semuanya Menghilang
35 Yang Tidak Tergantikan
36 Angkasa Datang
37 Maaf dan Terima Kasih
38 Duel
39 Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40 Hari Biasa yang Kembali
41 Kejutan Tengah Malam
42 Tentang Menerima
43 Serangan Perasaan
44 Tidak Bisa Selamanya Begini
45 Hancur Yang Sama
46 Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47 Kehilangan Yang Sama
48 Duka yang Berada Pada Tempatnya
49 Teman-teman yang Datang
50 Perubahan Baik
51 Setiap Orang Punya Cerita
52 Piknik
53 Rumah
54 Kepindahan Najwa
55 Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56 Apa Yang Terjadi?
57 Masa Lalu 1
58 Masa Lalu 2
59 Surat Mama
60 Anak-anak Papa
61 Waktu Untuk Rama
62 Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63 Tentang Menerima
64 Ulang Tahun Rama
65 Angkasa Yang Terkenal
66 Kembali (Tamat)
67 Visual dan Blurb Season 2
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Keputusan Besar
2
Kembali ke Semula
3
Bertemu Rama
4
Obrolan Ciwi-ciwi
5
Papa
6
Latihan Utara
7
Pulang Bareng
8
Pindahan
9
Tertangkap Basah
10
Hari yang Aduh!
11
Tindakan Angkasa
12
Resto di Atas Bukit
13
Angkasa dan Geng Motor
14
Kehebohan di Pagi Hari
15
UKS
16
Baking with Rama
17
Pembicaraan Adik-Kakak
18
Tawa Rosa
19
Ish, memalukan!
20
Hidup Diantara Laki-laki
21
Bendera Hijau Angkasa
22
Semua Rosa Dirayakan
23
Pembagian Cookies
24
Satu Hari yang Haru
25
Untuk Kesempatan yang Hilang
26
Bertemu Mama
27
Festival Sekolah 1
28
Festival Sekolah 2
29
Liburaaan!
30
Selamat Ulang Tahun
31
Di Bukit Belakang
32
Rama dan Semua Perhatiannya
33
Asa Menghilang
34
Hari Dimana Semuanya Menghilang
35
Yang Tidak Tergantikan
36
Angkasa Datang
37
Maaf dan Terima Kasih
38
Duel
39
Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40
Hari Biasa yang Kembali
41
Kejutan Tengah Malam
42
Tentang Menerima
43
Serangan Perasaan
44
Tidak Bisa Selamanya Begini
45
Hancur Yang Sama
46
Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47
Kehilangan Yang Sama
48
Duka yang Berada Pada Tempatnya
49
Teman-teman yang Datang
50
Perubahan Baik
51
Setiap Orang Punya Cerita
52
Piknik
53
Rumah
54
Kepindahan Najwa
55
Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56
Apa Yang Terjadi?
57
Masa Lalu 1
58
Masa Lalu 2
59
Surat Mama
60
Anak-anak Papa
61
Waktu Untuk Rama
62
Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63
Tentang Menerima
64
Ulang Tahun Rama
65
Angkasa Yang Terkenal
66
Kembali (Tamat)
67
Visual dan Blurb Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!