Resto di Atas Bukit

Tapi Rama terlihat tak percaya, “Oke. Tapi aku boleh minta nomor Kak Angkasa?” tanyanya. Matanya menatap lurus pada cowok kakak kelasnya itu.

Angkasa mendengus, “Lo siapa sih?” tanyanya.

“Kakaknya Rosa,” Rama kembali menemukan kepercayaan diri.

Mata Angkasa beralih dari Rama ke Rosa lalu ke Rama lagi, “gak mirip,” katanya kemudian. “Lo bener kakaknya Rosa?”

“Perlu aku telepon Papa?” Rama balik bertanya.

Angkasa tertawa, “Gak perlu, lo gak perlu ngaduin gue ke Papa lo,” katanya kemudian memberikan nomornya pada Rama. “Udah? Gue udah boleh pergi kan, Kakaknya Rosa?” tanya Angkasa kemudian.

Rosa menatap kedua cowok itu dengan napas tertahan. Apa-apaan sih Rama. Dia sudah berusaha membuat dirinya tidak terlibat dengannya. Tapi dengan mudahnya dia ngasih tahu orang asing kalau mereka kakak-adik.

Tangan Angkasa kemudian mengulurkan helm kepada Rosa. Dengan canggung Rosa menerimanya, lalu memakai helm hitam itu.

Matanya menatap moge di depannya. “Aku gak bisa naik,” kata Rosa kemudian.

“Gak usah ikut, Sa,” kata Rama.

“Pegangan tangan gue,” kata Angkasa mengulurkan tangannya, “Kakinya injek dulu, baru naik,” katanya lagi.

Rosa mengikuti intruksi Angkasa. Untunglah Rosa terbiasa memakai celana panjang di balik rok panjangnya. Jadi dia tidak perlu susah menutup-nutupi kakinya. Setelah susah naik. Rosa akhirnya bisa duduk juga. “Kok bisa sih motor bikin susah gini,” Rosa menggerutu.

“Pegangan,” kata Angkasa selanjutnya.

“Gak ada pegangan,” kata Rosa lagi. Dia meraba-raba bagian belakang motor gede itu.

“Ya lo pegangan ke gue, lah,” jawab Angkasa. Dia menahan tawa gelinya. Sudah dua kali cewek itu protes.

Tangan Rosa terulur kemudian memegang bahu Angkasa. “Lo kira gue ojek?” teriakan Angkasa tertahan.

Najwa dan Bella yang masih menemani Rosa menutup mulut mereka. Keduanya terlihat menahan tawa.

Rama menarik napas. Inikah rasanya melepaskan adik gadisnya pada cowok lain?

“Terus pegangan kemana?” Rosa masih bingung. Ribet banget! Pikirnya,

Tangan Angkasa menarik pergelangan tangan Rosa membuat Rosa tersentak sebentar. Tangannya sudah melingkar begitu saja di perut Angkasa. Baru saja Rosa mau melepaskannya, Angkasa sudah memejukan motornya dengan cepat. Karena kaget, tangan Rosa yang tidak jadi dilepas malah melingkar semakin kencang. Dia menutup matanya saat itu juga.

Masih ditempatnya, Rama terlonjak kaget karena tiba-tiba saja moge itu menghilang dari hadapannya.

“Rosa sejak siang tadi keliatan merasa bersalah banget, Kak Rama, mungkin kalau udah dibayar pake traktiran, Rosa bakalan lega,” Najwa memecah keheningan diantara mereka.

Rama mengangguk. Bukan itu yang melintas di kepalanya. Tapi kenyataan ada seorang cowok yang terang-terangan menatap Rosa dengan tatapan tertarik. Sebagai sesama cowok, Rama mengerti ajakan ini bukan hanya tentang rasa bersalah Rosa.

Cowok itu menyimpan kembali helm di motor matic-nya.

Bella mendekatinya, kemudian bertanya, “Kak Rama mau es krim?”

-o0o-

Angkasa memelankan laju motornya saat melihat lampu lalu lintas akan berubah warna merah. Tangan Angkasa menyentuh punggung tangan Rosa dengan lembut. “Sa, gue gak cuma lapar, tapi sesak napas sekarang,” katanya sembil memiringkan wajah.

Sadar tangannya masih mengepal kuat mengelilingi perut Angkasa. Dia membuka mata kemudian melepaskan tangan. Mengatur napas yang berpacu dengan debar jantungnya.

“Maaf,” katanya kemudian. “lagian ngapain ngebut sih, Kak?” tanyanya kemudian.

“Biar bisa cepet-cepet bawa lo jauh dari Rama,” jawab Angkasa. Dia bisa merasakan Rosa yang kaget di belakangnya. “Kenapa ekspresi lo tegang banget waktu liat Rama? Lo dibulli di rumah sama dia?” tanya Angkasa.

Rosa menggeleng. “Enggak,” jawabnya singkat.

Senyum Angkasa terkembang, berarti ada apa-apa, pikirnya. “Pegangan lagi, Sa, gue pelan kok bawanya sekarang,” katanya kemudian.

Tapi terus Rosa menggerutu dalam hati. Sambil kembali menautkan kedua tangannya.

Pelan apanya kalau segini melesatnya?!

-o0o-

Motor itu berhenti setelah melaju sekitar dua puluh menit. Rosa baru bisa bernapas lega setelah melompat turun. Tangannya baru akan melepas helm saat matanya menatap pemandangan di depan.

Hamparan lembah hijau dengan pepohonan bersusul-susul berjajar sepanjang matanya menatap. Ada burung-burung kecil yang terlihat keluar masuk diantaran dedaunannya. Ada juga pohon dengan bunga oranye menyala diantara hijau itu.

Kemudan jauh di depan sana adalah hamparan kota. Atap-atap rumah, menara yang saling berlomba paling tinggi, kubah-kubah mesjid, dan beberapa bukit di antara belantara kota. Dan langit biru diselingi awan tipis.

Wajah Angkasa tiba-tiba sudah ada di hadapan Rosa, membuatnya sedikit mengerjap. Tangan Angkasa melepas helm yang tidak jadi dibuka Rosa. Membuat gadis itu segera menyadari kalau helmnya masih dipakai di kepalanya.

Rosa mematung saat Angkasa dengan ringannya menyentuh poninya, membereskan poni yang tersibak karena helm.

“Suka pemandangannya?” Angkasa sedang menyimpan helm yang tadi di pakai Rosa di atas jok motornya.

Rosa mengangguk, tersadar dari kagetnya. Tatapannya beralih dari Angkasa kembali ke kejauhan. “Bagus banget,” jawabnya. Bibirnya melengkung tanpa sadar.

Angkasa terpaku pada senyum cantik Rosa. Dia tidak sadar Angkasa menatapnya selama beberapa saat, “Baguslah kalau suka. Yuk, masuk.” ajak Angkasa. Dia menarik napas, kemudian tersenyum.

Rosa berpaling dari pemandangan menakjubkan itu, mengikuti cowok jangkung di depannya.

Mereka memasuki rumah makan sunda yang berada di pinggir lembah itu. Rosa kembali terpana saat melihat jendela besar yang mengarah pada pemandangan di luar sana.

“Lo mau makan apa?”

Mengikuti Angkasa yang sudah mengambil piring. Rosa melihat juga makanan yang tersusun di meja panjang di depannya. Konsep rumah makannya adalah prasmanan. Rosa bingung karena banyak sekali. Tapi kemudian matanya menatap etalase dingin penuh kue.

“Aku mau itu aja,” tunjuk Rosa pada deteran slice cake dengan hiasan yang cantik.

Angkasa mengikuti ajah pandang Rosa, kemudian mengangguk.

Rosa menyimpan kembali piringnya yang belum terisi apapun. Kemudian baru dia tahu di sudut setelah meja panjang itu ada ruangan lain seperti kafe.

“Mau yang mana, Kak?” tanya seorang karyawan laki-laki muda yang berdiri di balik etalase.

Telunjuk Rosa mengarah pada kue dengan krim putih bertabur buah stroberi, “Saya mau yang itu, Kak,” katanya. Matanya berbinar saat menatap potongan kue itu.

Senyum Angkasa mengembang melihatnya. Dia menggeleng sambil berjalan ke kasir.

“Sama jus stroberi ya, Kak,” pinta Rosa.

“Baik, kak,” katanya menulis pesanan Rosa, “Ada lagi?”

“Itu aja, makasih kak,” Rosa tersenyum canggung sambil berjalan ke arah Angkasa yang menunggunya.

“Duduk duluan aja. Cariin tempat yang bagus,” kata cowok itu sambil tak acuh.

Rosa yang baru akan membuka tasnya kemudian mengangguk. Dia berbalik, mencari meja kosong yang bisa dengan bebas memandang keluar jendela. Dia menemukannya.

Rosa duduk di kursi yang langsung bisa memandang keluar jendela. Dia menyimpan tas kemudian memandang keluar.

Perasaannya jadi jauh lebih baik. Seperti memandang pemandangan yang sehari-hari saat di desa. Rosa kemudian dikejutkan dengan suara dari ponselnya. Dia tersenyum saat melihat nama yang muncul.

“Uwa, sehat? Gimana nenek?” tanya Rosa dengan antusias.

“Sehat. Nenek juga udah bisa jalan sedikit-sedikit. Bosen katanya gak ada yang suka gangguin.”

Rosa tertawa, “Nenek sehat-sehat dulu, nanti liburan aku gangguin lagi,” jawabnya.

“Rosa sehat? Gimana di sekolah baru?”

Rosa mendengar suara neneknya. Dia tersenyum sambil menahan pedih di matanya, “Aku sehat, Nek. Sekolah baru bagus, aku udah punya temen juga,” jawabnya.

“Papa sama Rama sehat juga?”

Rosa menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. Dia mengangguk kecil, “Papa sehat. Rama juga, Kak Rama,” ralatnya.

Tidak terdengar lagi suara Nenek. Kemudian suara Uwa-nya kembali terdengar, “Sehat-sehat ya Rosa, maafin Uwa, ya. Salamkan untuk Papa sama Rama.”

Uwa mengakhiri pembicaraan mereka, tapi Rosa masih terpaku. Dia mengatur napas.

Memandang ponsel yang tergenggam di pangkuannya. Dia tertunduk mengusap mata. Dia rindu pada perasaan bahagianya saat bersama nenek.

Rosa kaget saat selembar tissu terulur kearahnya. Dia mengangkat muka kemudian mendapati Angkasa yang sedang menatapnya.

Tidak ada tatapan bertanya. Tidak ada tatapan aneh. Hanya tatapan biasa yang tanpa senyuman atau pertanyaan.

-o0o-

Episodes
1 Keputusan Besar
2 Kembali ke Semula
3 Bertemu Rama
4 Obrolan Ciwi-ciwi
5 Papa
6 Latihan Utara
7 Pulang Bareng
8 Pindahan
9 Tertangkap Basah
10 Hari yang Aduh!
11 Tindakan Angkasa
12 Resto di Atas Bukit
13 Angkasa dan Geng Motor
14 Kehebohan di Pagi Hari
15 UKS
16 Baking with Rama
17 Pembicaraan Adik-Kakak
18 Tawa Rosa
19 Ish, memalukan!
20 Hidup Diantara Laki-laki
21 Bendera Hijau Angkasa
22 Semua Rosa Dirayakan
23 Pembagian Cookies
24 Satu Hari yang Haru
25 Untuk Kesempatan yang Hilang
26 Bertemu Mama
27 Festival Sekolah 1
28 Festival Sekolah 2
29 Liburaaan!
30 Selamat Ulang Tahun
31 Di Bukit Belakang
32 Rama dan Semua Perhatiannya
33 Asa Menghilang
34 Hari Dimana Semuanya Menghilang
35 Yang Tidak Tergantikan
36 Angkasa Datang
37 Maaf dan Terima Kasih
38 Duel
39 Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40 Hari Biasa yang Kembali
41 Kejutan Tengah Malam
42 Tentang Menerima
43 Serangan Perasaan
44 Tidak Bisa Selamanya Begini
45 Hancur Yang Sama
46 Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47 Kehilangan Yang Sama
48 Duka yang Berada Pada Tempatnya
49 Teman-teman yang Datang
50 Perubahan Baik
51 Setiap Orang Punya Cerita
52 Piknik
53 Rumah
54 Kepindahan Najwa
55 Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56 Apa Yang Terjadi?
57 Masa Lalu 1
58 Masa Lalu 2
59 Surat Mama
60 Anak-anak Papa
61 Waktu Untuk Rama
62 Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63 Tentang Menerima
64 Ulang Tahun Rama
65 Angkasa Yang Terkenal
66 Kembali (Tamat)
67 Visual dan Blurb Season 2
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Keputusan Besar
2
Kembali ke Semula
3
Bertemu Rama
4
Obrolan Ciwi-ciwi
5
Papa
6
Latihan Utara
7
Pulang Bareng
8
Pindahan
9
Tertangkap Basah
10
Hari yang Aduh!
11
Tindakan Angkasa
12
Resto di Atas Bukit
13
Angkasa dan Geng Motor
14
Kehebohan di Pagi Hari
15
UKS
16
Baking with Rama
17
Pembicaraan Adik-Kakak
18
Tawa Rosa
19
Ish, memalukan!
20
Hidup Diantara Laki-laki
21
Bendera Hijau Angkasa
22
Semua Rosa Dirayakan
23
Pembagian Cookies
24
Satu Hari yang Haru
25
Untuk Kesempatan yang Hilang
26
Bertemu Mama
27
Festival Sekolah 1
28
Festival Sekolah 2
29
Liburaaan!
30
Selamat Ulang Tahun
31
Di Bukit Belakang
32
Rama dan Semua Perhatiannya
33
Asa Menghilang
34
Hari Dimana Semuanya Menghilang
35
Yang Tidak Tergantikan
36
Angkasa Datang
37
Maaf dan Terima Kasih
38
Duel
39
Untuk Alasan yang Jauh Lebih Penting
40
Hari Biasa yang Kembali
41
Kejutan Tengah Malam
42
Tentang Menerima
43
Serangan Perasaan
44
Tidak Bisa Selamanya Begini
45
Hancur Yang Sama
46
Apa Yang Selama Ini Ada Di Hati Rama
47
Kehilangan Yang Sama
48
Duka yang Berada Pada Tempatnya
49
Teman-teman yang Datang
50
Perubahan Baik
51
Setiap Orang Punya Cerita
52
Piknik
53
Rumah
54
Kepindahan Najwa
55
Bagaimana Jika Semuanya Pergi
56
Apa Yang Terjadi?
57
Masa Lalu 1
58
Masa Lalu 2
59
Surat Mama
60
Anak-anak Papa
61
Waktu Untuk Rama
62
Yang Hilang Setelah Rama Pergi
63
Tentang Menerima
64
Ulang Tahun Rama
65
Angkasa Yang Terkenal
66
Kembali (Tamat)
67
Visual dan Blurb Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!