BAB 4.

    Setelah beberapa menit dan juga sudah melaksanakan shalat subuh nya masing-masing meskipun tidak berjamaah, Fajar pun langsung menatap Amira yang masih memakai cadarnya itu.

     " Semalam kamu tidur gak pake cadar?." tanya Fajar.

    Dia menyadarinya saat Amira membangunkannya tadi yang dimana Amira sudah mengenakan cadarnya atau memang cadar itu tidak pernah dibuka oleh Amira meskipun dengan keadaan tidur sekalipun.

    " Hm." jawab Amira dengan hanya gumaman nya saja.

    Selama Fajar melaksanakan shalat subuh, Amira memilih fokus untuk melanjutkan bacaan Qur'an nya, tentu saja dengan suara yang pelan, sehingga tidak menganggu kekhusyuan Fajar dalam shalat nya.

    Dia baru berhenti membaca Al-Qur'an, bersamaan dengan Fajar yang sudah selesai shalat.

    " Bisa nafas?." tanya Fajar kembali, sambil melipat sejadah yang baru saja dia gunakan untuk menunaikan shalat subuh nya, dan langsung menyimpan nya di atas nakas.

    " Bisa." jawab Amira singkat.

     Setelah menaruh sejadah nya di atas nakas, Fajar pun langsung kembali ke arah sofa, dimana disana juga terdapat Amira yang sudah duduk disana.

    Dia pun langsung duduk disamping Amira, dengan jarak yang masih tersisa diantara mereka.

    " Cadar tidak mempersulit seseorang untuk bernafas." ucap Amira, memperjelas jawaban yang sempat ia lontarkan singkat tadi, sambil tersenyum tipis dibalik cadarnya.

     Dia juga sedikit terhibur oleh pertanyaan Fajar yang menurutnya lucu.

    " Kalau lagi dikamar atau mau tidur gak perlu pakai cadar, gak masalah juga kan sekarang kalau cuma saya saja yang lihat?." tanya Fajar, tanpa melihat ke arah Amira dan menatap lurus kedepan dengan eskpresi datarnya.

    Dia pun memilih untuk menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, dengan kedua tangan nya yang dilipat didepan dada.

    " Iyah, enggak masalah kalau kamu lihat, karena kamu suami aku sekarang." jawab Amira, tanpa menoleh juga menatap ke arah Fajar.

    Mereka benar-benar berbicara tanpa saling memandang satu sama lain, mereka memang sudah terbiasa seperti itu sebelum mereka menikah, mengingat bahwa mereka adalah sepasang anggota dan ketua osis yang tentu saja selalu saling berdiskusi perihal kegiatan di sekolah.

    " Terus kenapa masih dipake?, sekarang." tanya kembali Fajar.

    Amira pun langsung menundukan kepalanya dengan pelan sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari Fajar itu.

    " Jujur aku malu, aku belum terbiasa."

     " Maka biasakan."

     " Biasakan?, biasakan apa maksudnya?." tanya Amira yang langsung menoleh menatap Fajar yang masih bersandar dengan nyaman.

    Dan Fajar juga langsung membalas tatapan dari Amira itu.

    " Biasakan gak pakai cadar pas lagi dikamar atau di depan suami kamu." jawab Fajar dengan tenang.

    " Apa itu perintah atau cuman saran?." tanya Amira, dia hanya ingin memastikan.

    Dan Fajar langsung mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar pertanyaan dari Amira.

    "Emang, Kenapa?."

    " Jawab dulu, itu perintah dari kamu atau hanya sekedar saran?." tanya Amira kembali, dengan sedikit mendesak Fajar.

    " Saran."

     " Oh." ucap Amira yang langsung menganggukan kepalanya.

    " Kalau begitu makasih atas sarannya, tapi saran itu gak bisa aku lakuin sekarang." sambung Amira.

    Amira pun kembali memalingkan wajahnya dan juga pandangannya, tidak lagi menatap ke arah Fajar.

    Sementara Fajar dia sedang mencoba memahami maksud dari jawaban yang baru saja Amira katakan.

    " Kalau itu perintah?." tanya Fajar, pertanyaan itu terlintas begitu saja di pikiran nya Fajar.

    Dan Amira dia langsung terdiam, dia tidak langsung menjawabnya.

    Wajahnya yang semula menunduk, kini mulai terangkat kembali menoleh menatap ke arah Fajar.

    Bukan hanya wajahnya saja yang menghadap ke arah Fajar, bahkan tubuhnya juga ikut menghadap ke arah Fajar.

    Fajar yang ditatap oleh Amira pun langsung menatap balik kepada Amira dengan penuh tanda tanya, dari gestur Amira yang seperti itu, dia bisa mengetahui bahwa Amira akan mengatakan hal yang lebih serius terhadap nya.

    " Kalau itu perintah, maka aku bakal ngelakuin perintah itu sekarang juga, karena kamu sudah sah menjadi suami aku, jadi sudah menjadi kewajiban aku buat patuh sama kamu selagi itu benar buat aku." jelas Amira.

    Sedangkan Fajar dia masih terdiam, dia masih menunggu Amira untuk menyelesaikan ucapannya.

    " Melihat wajah aku sekarang sudah menjadi hak kamu, jadi aku akan melakukanya jika kamu emang mau melihat wajahku tanpa pake cadar." sambung Amira kembali.

    " Pernikahan ini bukan keinginan kita, jadi tidak perlu saling menuntut hak dan juga kewajiban sebagai suami-istri layaknya." ucap Fajar, berbicara tenang namun serius.

    " Aku tidak menuntut hak dan kewajiban, dan tidak ada juga maksud aku mengatakan hal itu." ungkap Amira sedikit protes dengan pernyataan Fajar yang ternyata sudah salah paham terhadap dirinya.

    " Terus kenapa kamu bersedia saat saya perintahkan kamu untuk kamu buka cadar?." ujar Fajar menatap Amira semakin dalam.

    Dan Amira langsung menghembuskan nafasnya dengan pelan, sebelum dia kembali menjelaskan nya.

    " Bukankah dalam pernikahan ada sebuah aturan? dan jika bisa maka aku akan memenuhi kewajiban yang memang bisa aku lakukan sebagai seorang istri sekarang, yaitu salah satunya mematuhi kamu sebagai seorang suami, walaupun dengan keadaan tidak saling mencintai, dan aku menerima pernikahan ini juga karena Bunda dan Ibu ditambah aku tidak ingin," jelas Amira.

    Amira menerima pernikahan itu juga karena tidak ingin melanggar perintah Allah, dimana tinggal bersama orang yang bukan mahram adalah hal yang dilarang oleh Allah.

   Sebelum Amira menikah dengan Fajar, Annisa sudah menemui Ibu Amira dan meminta izin kepada Ibu Amira untuk menikahkan putranya dengan putrinya, awalnya Ibunya Amira menolak permintaan dari Annisa karena alasan Amira dan Fajar yang masih terlalu muda, apalagi perjodohan sudah tidak jaman lagi di jaman sekarang dan dia hanya ingin melihat putrinya bahagia, namun disaat penyakit telah menyerangnya dan tau kalau dia sudah tidak lama lagi untuk menemani Amira,

     Dia yang sudah tidak punya keluarga pun maupun dari dirinya dan suaminya, membuat dirinya harus menerima permintaan dari Annisa kala Annisa kembali lagi ke rumahnya itu yang kecil dan juga sederhana.

    Tentu saja awalnya Amira telah menolaknya, menikah dini dan melihat ibunya sakit, dia hanya ingin merawat ibunya saja.

    Namun tanpa Amira duga, Ibunya juga meminta hal itu, membuat Amira yang tidak tau tentang kondisi dan penyakit sang ibu membuat dirinya sangat heran.

    Dimana saat itu juga, Amira sama sekali tidak tau siapa anak nya Annisa itu.

    Sampai dimana mereka pun langsung dipertemukan dan ternyata anaknya itu adalah Fajar, orang yang Amira kenal sebagai partner nya di dalam organisasi OSIS di sekolahnya.

    Karena itulah Amira terpaksa menerimanya dan menikah dengan Fajar karena Amira juga sudah tidak tau lagi bagaimana cara untuk menolak nya lagi.

     Ditambah dia juga sangat tidak tega dengan Annisa, karena beliau dan ibunya terus memohon kepada Amira untuk menerima Fajar sebagai suaminya, dan bisa tinggal di rumah mereka sebagai seorang menantu di keluarga mereka.

      Namun sayangnya, kala waktu pernikahan mereka sudah dekat musibah datang ke Amira, kala ibunya masuk ke rumah sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, membuat acara pernikahan mereka pun di tunda selama beberapa bulan, melihat kondisi Amira dan juga permintaan dia sendiri, Annisa yang tau gimana kondisi dari calon menantunya itupun hanya bisa menurutinya.

      Selama beberapa bulan itu juga Amira selalu menjalani hidupnya sendirian, bekerja ,mandiri serta menjadi wanita yang tangguh dengan berbagai kenangan indah bersama ibunya di rumahnya itu, Annisa dan juga Fajar selalu menengok Amira pada saat itu, sampai waktu pernikahan mereka pun tiba, pernikahan yang tidak di harapkan oleh Amira karena tidak ada ibu di sampingnya kala dia bisa melihat anaknya menikah dengan orang yang tepat.

    " Ekhem!." gumam Fajar dengan pelan.

    Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tiba-tiba saja dia tidak tau harus mengatakan apa lagi, setelah dia mendengar semua penjelasan dari Amira.

    Apalagi Amira menatapnya dalam waktu yang cukup lama.

     Karena ini adalah hal yang baru untuknya, karena dia tau bahwa selama ini Amira selalu menjaga pandanganya dari seorang lelaki, apalagi Amira tidak pernah menatap lawan jenisnya selama itu.

    " Kamu kenapa?." tanya Amira sambil menatap wajah Fajar dengan tatapan bingung.

    Fajar tidak langsung menjawab, dia hanya menjawab nya dengan gelengan kepalanya saja.

    " Jadi gimana?." tanya kembali Amira yang ternyata masih membahas perihal saran atau perintah yang sebelumnya sudah dia tanyakan kepada Fajar.

    " Jangan dibuka, itu bukan perintah." jawab fajar dengan cepat, entah kenapa padahal dia awalnya sangat penasaran dengan wajah istrinya itu, tapi ketika dia mendengar penjelasan dari Amira dia menjadi sedikit takut, takut akan kehilangan kendali kala mereka belum saling mencintai.

    Amira pun langsung tersenyum tipis dibalik cadarnya, karena dia memang ingin mendengar hal itu karena sejujurnya Amira juga belum siap untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Fajar.

    TO BE CONTINUE

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

masih dipakai cadar nya Amira sdh boleh lo lepas cadarnya Fajar sdh halal buat di lihat wajahnya Amira

2025-02-16

1

yanah~

yanah~

Mampir sampai sini dulu kak, nnti lanjut lagi bacanya

2025-01-11

1

Sri Musdalefi Indra

Sri Musdalefi Indra

katanya tahu agama siamiranya

2025-02-23

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1.
2 BAB 2.
3 BAB 3.
4 BAB 4.
5 BAB 5.
6 BAB 6.
7 BAB 7.
8 BAB 8.
9 BAB 9.
10 BAB 10.
11 BAB 11.
12 BAB 12.
13 BAB 13.
14 BAB 15.
15 BAB 16.
16 BAB 17.
17 BAB 18.
18 BAB 19.
19 BAB 20.
20 BAB 21.
21 BAB 22.
22 BAB 23.
23 BAB 24.
24 BAB 26.
25 BAB 27.
26 BAB 28.
27 BAB 29.
28 BAB 30.
29 BAB 32.
30 BAB 33.
31 BAB 34.
32 BAB 35.
33 BAB 36.
34 BAB 37.
35 BAB 38.
36 BAB 39.
37 BAB 40.
38 BAB 41.
39 BAB 42.
40 BAB 43.
41 BAB 44.
42 BAB 45.
43 BAB 46.
44 BAB 47.
45 BAB 48.
46 BAB 49.
47 BAB 50.
48 BAB 51.
49 BAB 52.
50 BAB 53.
51 BAB 54.
52 BAB 55.
53 BAB 56.
54 BAB 57.
55 BAB 58.
56 BAB 59.
57 BAB 60.
58 BAB 61.
59 BAB 62.
60 BAB 63.
61 BAB 64.
62 BAB 65.
63 BAB 66.
64 BAB 67.
65 BAB 68.
66 BAB 69.
67 BAB 70.
68 BAB 71.
69 BAB 72.
70 BAB 73.
71 BAB 74.
72 BAB 75.
73 BAB 76.
74 BAB 77.
75 BAB 78.
76 BAB 79.
77 BAB 80.
78 BAB 81.
79 BAB 82.
80 BAB 83.
81 BAB 84.
82 BAB 85.
83 BAB 86.
84 BAB 87.
85 BAB 88.
86 BAB 89.
87 BAB 90.
88 BAB 91.
89 BAB 92.
90 BAB 93.
91 BAB 94.
92 BAB 95.
93 BAB 96.
94 BAB 97.
95 BAB 98.
96 BAB 99.
97 BAB 100.
98 BAB 101.
99 BAB 102.
100 BAB 103.
101 BAB 104.
102 BAB 105.
103 21+
104 21+
105 BAB 108.
106 BAB 109.
107 21+
108 BAB 111.
109 BAB 112.
110 BAB 113.
111 BAB 114.
112 BAB 115.
113 BAB 116.
114 BAB 117.
115 BAB 118.
116 BAB 119.
117 BAB 120.
118 BAB 121.
119 BAB 122.
120 BAB 123.
121 BAB 124.
122 BAB 125.
123 BAB 126.
124 BAB 127.
125 21+
126 BAB 129.
127 BAB 130.
128 BAB 131.
129 BAB 132
130 BAB 133.
131 BAB 134.
132 BAB 135.
133 BAB 136.
134 BAB 137.
135 BAB 138.
136 BAB 139.
137 CEMBURU!.
138 CEMBURU 2.
139 BAB 142.
140 BAB 143.
141 BAB 144
142 BAB 145.
143 ACARA ULTAH.
144 MENYAKITKAN.
145 BAB 148.
146 PEKAN OLAHRAGA.
147 BAB 150.
148 BAB 151.
149 BAB 152.
150 MENEGANGKAN!.
151 BANGGA!.
152 BAB 155.
153 BAB 156.
154 RANGGA DAN IRMA.
155 PENYUSUP!.
156 BAB 156.
157 MENGOBATI.
158 BAB 158.
159 RAPUHNYA FAJAR RUDIANTO.
160 BAB 160.
161 SALING MENCINTAI.
162 BAB 162.
163 LEMBANG.
164 TEMPAT RAHASIA YANG INDAH.
165 NENEK KHODIJAH.
166 MENGUKIR CINTA.
Episodes

Updated 166 Episodes

1
BAB 1.
2
BAB 2.
3
BAB 3.
4
BAB 4.
5
BAB 5.
6
BAB 6.
7
BAB 7.
8
BAB 8.
9
BAB 9.
10
BAB 10.
11
BAB 11.
12
BAB 12.
13
BAB 13.
14
BAB 15.
15
BAB 16.
16
BAB 17.
17
BAB 18.
18
BAB 19.
19
BAB 20.
20
BAB 21.
21
BAB 22.
22
BAB 23.
23
BAB 24.
24
BAB 26.
25
BAB 27.
26
BAB 28.
27
BAB 29.
28
BAB 30.
29
BAB 32.
30
BAB 33.
31
BAB 34.
32
BAB 35.
33
BAB 36.
34
BAB 37.
35
BAB 38.
36
BAB 39.
37
BAB 40.
38
BAB 41.
39
BAB 42.
40
BAB 43.
41
BAB 44.
42
BAB 45.
43
BAB 46.
44
BAB 47.
45
BAB 48.
46
BAB 49.
47
BAB 50.
48
BAB 51.
49
BAB 52.
50
BAB 53.
51
BAB 54.
52
BAB 55.
53
BAB 56.
54
BAB 57.
55
BAB 58.
56
BAB 59.
57
BAB 60.
58
BAB 61.
59
BAB 62.
60
BAB 63.
61
BAB 64.
62
BAB 65.
63
BAB 66.
64
BAB 67.
65
BAB 68.
66
BAB 69.
67
BAB 70.
68
BAB 71.
69
BAB 72.
70
BAB 73.
71
BAB 74.
72
BAB 75.
73
BAB 76.
74
BAB 77.
75
BAB 78.
76
BAB 79.
77
BAB 80.
78
BAB 81.
79
BAB 82.
80
BAB 83.
81
BAB 84.
82
BAB 85.
83
BAB 86.
84
BAB 87.
85
BAB 88.
86
BAB 89.
87
BAB 90.
88
BAB 91.
89
BAB 92.
90
BAB 93.
91
BAB 94.
92
BAB 95.
93
BAB 96.
94
BAB 97.
95
BAB 98.
96
BAB 99.
97
BAB 100.
98
BAB 101.
99
BAB 102.
100
BAB 103.
101
BAB 104.
102
BAB 105.
103
21+
104
21+
105
BAB 108.
106
BAB 109.
107
21+
108
BAB 111.
109
BAB 112.
110
BAB 113.
111
BAB 114.
112
BAB 115.
113
BAB 116.
114
BAB 117.
115
BAB 118.
116
BAB 119.
117
BAB 120.
118
BAB 121.
119
BAB 122.
120
BAB 123.
121
BAB 124.
122
BAB 125.
123
BAB 126.
124
BAB 127.
125
21+
126
BAB 129.
127
BAB 130.
128
BAB 131.
129
BAB 132
130
BAB 133.
131
BAB 134.
132
BAB 135.
133
BAB 136.
134
BAB 137.
135
BAB 138.
136
BAB 139.
137
CEMBURU!.
138
CEMBURU 2.
139
BAB 142.
140
BAB 143.
141
BAB 144
142
BAB 145.
143
ACARA ULTAH.
144
MENYAKITKAN.
145
BAB 148.
146
PEKAN OLAHRAGA.
147
BAB 150.
148
BAB 151.
149
BAB 152.
150
MENEGANGKAN!.
151
BANGGA!.
152
BAB 155.
153
BAB 156.
154
RANGGA DAN IRMA.
155
PENYUSUP!.
156
BAB 156.
157
MENGOBATI.
158
BAB 158.
159
RAPUHNYA FAJAR RUDIANTO.
160
BAB 160.
161
SALING MENCINTAI.
162
BAB 162.
163
LEMBANG.
164
TEMPAT RAHASIA YANG INDAH.
165
NENEK KHODIJAH.
166
MENGUKIR CINTA.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!