SUDAH MENJADI TARGET
Penjelasan yang cukup jelas dan saking jelasnya hampir membuat Eva menganga tak percaya. “Mafia?” gumam Eva sembari menatap ke arah polisi tadi.
“Ya. Dan kami para polisi akan menangkapnya jika memang dia benar-benar terbukti bersalah. Jika tidak, maka kami lah yang akan tewas.” Jelasnya sekali lagi membuat Eva berkacak pinggang seraya menatap ke lantai.
Tidak ada gunanya meminta tolong kepada seorang polisi, mereka bekerja bukan untuk menegakkan keadilan dan malah takut? memang benar, Eva juga merinding saat mendengar kata mafia, karena dia sendiri tahu bagaimana seorang mafia.
“Oke, thank you sir.” Pamit Eva berwajah pasrah namun sedikit menantang karena ketidakpercayaan nya dengan para polisi.
“Aku memperingati Anda, sebaiknya lupakan saja dan.... Jangan mencarinya sendiri.” Ujar polisi tadi namun Eva tak mendengarkan nya, ia lebih memilih pergi dari sana dengan perasaan kesal.
Kekesalan Eva tak pudar hingga dirinya masuk ke dalam mobil hitam yang masih menunggunya di luar. Ya! Shaw sengaja menunggunya meski dia sendiri tahu bahwa wanita yang ia beri tumpangan adalah cucu dari pasangan kakek dan nenek tua yang ia bunuh semalam.
“Sudah mendapatkan keadilan?” tanya pria itu yang masih duduk santai dan hanya menoleh kecil.
Tak ada jawaban dari Eva selain lirikan sinis yang merupakan jawaban nya.
“Memang kau akan berbuat apa jika bertemu dengan si pembunuh kakek dan nenek mu itu, Nona?” tanya Will membuat Eva meliriknya.
“Aku akan membuatnya dipenjara. Atau aku akan menuntutnya. Pria sialan seperti dia tak pantas hidup, maksudku... Dia membunuh seorang pria dan wanita tua, apakah dia gila?”
“Yes, he is indeed crazy. (Ya, dia memang sudah gila). Dan dia juga bisa membunuh cucunya.” Balas Shaw bersuara dingin, menyambar bak petir.
Eva mengernyit heran mendengar ucapan Shaw, namun Will hanya tersenyum tipis mencurigakan.
“Mereka tidak membayar hutang, tidak bisa membayar dengan uang, maka nyawa sebagai gantinya.” Jelas Shaw yang masih merokok dan bersandar santai.
“Tapi harusnya dia tidak membunuhnya. Aku datang kemari ingin membayar hutang kakek dan nenekku.” Kesal Eva sedikit menekan setiap ucapannya.
“Apa kau akan melunasinya?” tanya Shaw menoleh ke kiri hingga Eva dapat melihat garis wajah serta hidung mancungnya yang sungguh menggoda.
“Te-tentu saja tidak. Tapi aku akan mencicilnya.” Jawabnya memelankan suaranya.
Shaw menyeringai kecil dan kembali menatap lurus. “Tapi pria itu tidak ingin memperpanjang waktu lagi. Itu adalah hukuman mereka.”
Tentu saja Eva tak terima akan ucapan pria itu, “Maaf, tapi aku tidak suka ucapanmu.”
Cittt!!!! Lagi dan lagi Will menginjak rem mendadak saat melihat salah satu pria bertopi flatcap warna cokelat, menyodorkan sebuah pistol ke arah mobil yang saat ini dikendarai oleh Will.
“KALUAR KAU SIALAN!!!” teriak pria itu dengan tak terima.
Eva yang ada di dalam mobil, ia mulai panik dan bingung akan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi menegangkan.
“That damn man again (pria sialan itu lagi).” Gumam Will. Ya! pria itu adalah komplotan dari sang reporter yang dibunuh oleh Shaw semalam.
Darr!! Pria itu melepaskan satu peluru ke langit-langit, hingga orang-orang yang ada di sekitar jalanan mulai menunduk dan panik akan situasi yang terjadi di sana. Keadaan menjadi hening saat itu juga.
“GET OUT YOU FUCKING BASTARD ALLESANDRO (KELUAR KAU ALLESANDRO)!!" pria itu berucap lantang tanpa memperdulikan keadaan disekitarnya yang masih ramai karena ini masih siang.
Sementara Eva yang mendengar nama tersebut, dia terkejut karena namanya hampir sama dengan sosok yang tertulis di secarik kertas yang masih dia bawa.
“Aku rasa dia pria yang sama waktu itu Shaw.”
“Alihkan perhatiannya seperti biasa.” Pinta Shaw kepada Will yang dibalas anggukan.
Kedua pria tadi keluar bersamaan, meninggalkan Eva yang masih berada di dalam dengan wajah bingung hingga napas memburu. “Allesandro?” gumamnya.
Di saat Shaw dan kelima orang yang berdiri di belakangnya saat ini menghampiri pria bertopi tadi, tentu pria itu gemeteran. “Aku hanya memanggilmu, Allesandro bajingan. Apa kau takut hingga selalu ditemani oleh mereka hah?!” sindir pria itu yang sebenarnya ketakutan.
Shaw menatap lekat ke dalam mata musuhnya tadi.
“Jika itu maumu.”
Shaw menoleh ke Will seraya mengangguk kecil dan menyuruhnya untuk pergi bersama empat anak buahnya yang lain.
Tentu mereka menuruti nya, membiarkan bos mereka yang menghadapinya sendiri. “Sudah.” Ucap Shaw dengan santainya. itulah yang ditakuti dari seorang Damiano Shaw D'Allesandro, tatapan dingin, wajah tenang dan pikiran cerdik hingga berhasil membuat lawan bicaranya tak bisa berkata-kata lagi.
“Kau ingin membunuhku?” tanya Shaw masih terdengar santai.
“YAAA!!!” pria itu masih menyodorkan pistolnya ke arah Shaw dengan jarak dekat.
“Kau tidak akan mengatakan alasanmu. Aku yakin itu tidak akan mempengaruhi ku!" pancing Shaw menyeringai kecil dan licik.
“SIALAN KAU... Sekarang— ”
Ceklek! Dalam satu gerakan cepatnya, Shaw menyahut pistol tersebut dari tangan pria bodoh tadi. “You stupid bastard.” Ucap Shaw yang kini menyodorkan balik pistol itu ke arahnya hingga pria itu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
Eva membuka dasbor mobil yang ada di depan dengan setir mobil. Seketika ia menutup mulutnya yang syok melihat tiga pistol berukuran sama. Pistol yang biasa untuk membunuh, menembak seseorang.
“Oh, ya Tuhan.” Eva menatap ke arah pria itu yang masih di depan dan menyodorkan pistol ke arah pria penantang tadi.
-‘Shaw Allesandro! Satu nama yang hampir sama seperti di kertas.’ Pikir Eva sangat yakin bahwa pria itu harus dijauhi sebelum fatal.
Tentu, Eva tak serius dengan ucapannya setelah dia melihat sendiri bagaimana si pembunuh kakek dan neneknya itu.
“Bawa dia masuk.” Pinta Shaw kepada anak buahnya tadi. Tak ada penolakan selain menurut saja, karena dia tak membawa senjata lagi untuk menantang sang Allesandro itu.
Orang-orang yang tadinya tiarap dengan ketakutannya, kini mulai kembali normal saat anak buah Shaw berhasil membawanya masuk ke dalam mobil dengan penjagaan ketat.
“Aku yakin masih ada sebagian dari mereka yang menuntut balasan pada kita.” Pikir Will yang hanya di balas dengan gumaman dari Shaw.
Saat kedua pria itu masuk dan sadar akan mobilnya yang sepi, hingga dasbor mobil yang terbuka, membuat Shaw semakin tertarik akan semua itu.
“She ran away (dia kabur)!” ucap Will terkekeh kecil. Berbeda dengan Shaw yang hanya diam dan bersandar tenang.
Eva yang saat ini sudah berlari ke arah lainnya hingga masuk ke pelosok-pelosok jalanan agar bisa kabur kemanapun dia bisa. “Mereka mau menipuku huh! Dasar sialan.” Ujar Eva sambil berlari ngos-ngosan tanpa alas kaki.
“Kita kemana?” tanya Will menoleh ke kakaknya yang masih bersandar menutup kedua matanya untuk menenangkan dirinya.
“Cari wanita itu.” Jawab Shaw.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R. ALICE off
eva pasti dicari kr shaw udah ada rasa ☺️
2024-09-10
1
jen
knp dia cari Eva... duh bucinnya shaw masih lama wkwkwkw
jd deg"an ....
2024-09-09
1
Liiesa Sariie
jgn lama² up nya ya kk
2024-09-09
1