BERTEMU MAFIA LAINNYA
Kota yang cukup besar untuk warga asing sekaligus wanita cantik dengan pakaian mantel yang masih sama, tanpa alas kaki. Penampilan Eva sangat lusuh, untung saja wangi mantel milik Shaw masih melekat kuat dan segar.
“Pikirkan dengan kepala tenang Eva... You can do it!” gumam wanita itu Sedaya memijit kedua pelipisnya sambil berjalan sedikit memejamkan matanya.
Brugh!! tanpa dia sadari, Eva menabrak seorang wanita cukup keras. Bukan Eva yang menabrak, melainkan sosok wanita itulah yang berjalan tergesa-gesa hingga menabraknya, namun ia tak berhenti dan terus berjalan sehingga sekotak berukuran menyerupai bedak, jatuh dari genggaman wanita tadi.
Tentu, Eva yang melihatnya tak bisa diam. Bagaimana jika barang itu sangat berharga bagi sang pemilik?
“SORRY, YOUR ITEM FALLS OUT— (Maaf, barang Anda jatuh)— ” Seakan tak mendengar panggilan Eva, wanita itu terus saja melangkah.
Wanita itu menarik napas panjang memandangi kotak bedak yang cukup mewah dengan warna hitam dan tulisan merk gold. Eva yang malas sekali mengejar, ia memilih berdiam di tempatnya, iseng akan kotak yang membuatnya penasaran, akhirnya dia membukanya untuk melihat warna bedak tersebut.
Namun bukan sebuah bedak, Eva terkejut hingga kedua matanya membulat sempurna saat mengetahui isi tersebut. “Ini...” Tak bisa berkata-kata selain keterkejutan, Eva segera menutup kembali kotak tersebut dan bersikap tenang agar tak ada yang curiga.
Eva mencoba berlari mengejar wanita tadi, namun sudah tak terlihat jejaknya di sana. Kini napasnya naik turun tak karuan saat ia harus memegang benda misterius— sebuah bedak dengan isian layar bom dan beberapa kabel merah. Namun untungnya itu mati.
“Lebih baik aku tidak ikut campur.” Gumam Eva diam-diam menepis ke lorong untuk membuang benda tersebut, namun saat dia hendak keluar ia malah dibungkam hingga kepalanya ditutup oleh kain hitam dengan tangan diikat paksa.
Tak ada yang mengetahui kepergian Eva, bahkan Ali yang sedari tadi memata-matai nya pun berkerut alis saat menunggu kemunculan Eva kembali dari balik lorong.
“Apa dia tahu?” pria itu segera menghampirinya ke lorong, namun dia terkejut karena tak ada siapapun di sana.
.
.
.
Sementara di kamar yang mewah dan luas, Shaw baru saja melenggang masuk hingga melepaskan jas hitamnya dan hanya mengenakan kemeja putih beserta sleeve garter hitam di lengannya beserta jas tanpa lengan yang masih melekat. Jika kalian mengerti, Shaw selalu mengenakan Three piece suit untuk style pakaiannya. Pria itu selalu rapi.
Saat ia hendak melangkah menuju kamar mandi sebuah pesan masuk dari dering saluran telepon yang ada di atas nakas panjang.
Tit! Shaw menekan tombol aktifnya.
[“Damiano D'Allesandro.”] Ucapnya yang selalu mengawalinya dengan sebutan nama.
[“Tuan Shaw! Ini aku Ali. Wanita itu hilang saat masuk di lorong, dia menemukan sebuah bedak dari seorang wanita pejalan kaki. ”] Jelas pria bernama Ali itu terdengar serius.
Shaw yang masih sedikit menundukkan kepalanya agar dapat mendengar suara Ali, pria itu masih berkerut alis.
[“Bagaimana dengan barang-barangnya?”]
[“Tidak ditemukan. ”]
Sejenak hening diantara kedua orang tadi. Shaw sendiri juga berpikir bahwa tak mungkin Eva tahu akan keberadaan Ali, karena dia tahu betul, Ali tak pernah gagal dalam urusan membuntuti seseorang diam-diam.
[“Kau cari wanita itu, jika masih tidak ketemu, kembalilah.”] Pinta Shaw seketika mematikan panggilan tersebut.
Oh sungguh? Pria itu tak berniat akan menolongnya lagi karena Eva bukanlah siapa-siapa baginya. Berurusan dengannya dan bernegosiasi soal hutang sudah cukup, sisanya, Eva harus bertahan hidup sendiri.
Pria bermata warna grey itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya meneguk sebotol Vodka dengan bentuk persegi panjang. Shaw meletakkannya dan kembali memakai jasnya berjalan keluar kamar.
“Ayo Will!” ajak Shaw ketika dia melangkah hendak menuju pintu keluar. Sementara Will dan yang lainnya masih berada di luar kamar mereka.
“Kau mau ke mana?” tanya Kate selaku yang paling tua di sana.
Shaw mengehentikan langkahnya seraya memakai mengalungkan syal panjangnya ke leher. “Business matters (urusan bisnis).” Jawab Shaw mengusap hidung mancungnya lalu kembali melangkah pergi.
Will segera mengikutinya dengan patuh.
Dalam kehidupan Shaw, pria itu memiliki ambisi yang tinggi dan kuat, dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal istirahat disaat semua tujuannya belum terpenuhi.
“Dia selalu memaksakan diri.” Ujar Camila dengan kedua tangannya terlipat ke depan.
“It has been his ambition (itu sudah menjadi ambisinya).” balas Kate menatap ke arah perginya Shaw.
.
.
.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Will yang selalu siap berpergian menjadi tangan kanan Shaw.
“Colombia pub center.” Jawab Shaw baru saja menutup pintu mobilnya.
Serius! Mereka akan menemui seseorang terpenting seperti mereka. Tentu untuk urusan bisnis sekaligus bernegosiasi seperti biasanya agar bisa mendapatkan keuntungan besar memperluas kerjasama.
Di sisi lain. Sebuah kain hitam baru saja dilepas dari kepala Eva sehingga rambut lurusnya berantakan hampir memenuhi wajahnya yang berkeringat. “WHO ARE YOU HAH!!” sentak wanita itu sedikit keras. Kedua tangannya masih terikat dibelakang, namun kedua kakinya bebas.
Wanita itu duduk di sebuah sofa di sebuah ruangan VIP yang terdapat beberapa pria di sana. -‘Oh, ya Tuhan, geng apa lagi sekarang?’ batin Eva tak ada habisnya dipertemukan oleh orang-orang seperti mereka.
“Bagaimana bisa kau mendapat benda ini?” tanya salah satu pria yang paling menonjol dari pria lainnya. Eva menebak bahwa itu adalah pimpinan mereka. Pria yang lebih tua darinya dengan brewok.
“I don't know and I really don't want to know or be involved, so please let me go. (Aku tidak tahu dan aku benar-benar tidak ingin tahu ataupun terlibat, jadi kumohon lepaskan aku).” Jelas Eva dengan cepat hingga ngos-ngosan.
Sungguh, dia benar-benar panik saat ini sehingga tak mungkin untuknya bisa tenang di situasi seperti ini.
“Tuan, ini.” Salah satu anak buahnya memberikan surat perjanjian antara dia dan pria bernama Shaw itu.
“ITU ADALAH SURAT HUTANGKU, TIDAK ADA YANG PENTING DI SANA.” Gertak Eva mencoba melepaskan dirinya.
Dia takut jika orang-orang itu salah mengira isi dalam surat tersebut.
Namun Adrian yang membaca sebuah nama yang tercantum yang tak asing di matanya. Pria itu mengernyit. “Kau mengenal Damiano Shaw D'Allesandro? Bagaiman kau bisa mengenal pria ini?” tanya Adrian menatap tajam ke Eva.
“Siapa? Pria yang ada di surat?”
Tak ada jawaban, selain tatapan tajamnya dari seorang Adrian Elgort yang merupakan ayah dari Shaw D'Allesandro. Eva semakin gelagapan mendapat tatapan seperti itu.
“Sudah kubilang, itu hanya soal hutang. Tolong lepaskan aku,” pinta Eva benar-benar memohon.
Adrian mengamatinya dengan seksama, keadaan wanita yang sangat lusuh hingga ia menatap lekat ke mantel yang Eva kenakan.
Tanpa meminta izin, Adrian berdiri dari sofa singel nya dan menghampiri Eva yang mulai ketakutan saat didekati oleh pria tua itu. “Apa yah kau lakukan?” tanya nya panik.
Pria itu langsung membuka paksa dua kancing mantel itu. “LEPASKAN AKU PRIA SIALAN!! HENTIKAN!!” sentak nya meronta namun anak buah Adrian menahan gerakannya sehingga pria tua itu melihat sebuah tulisan nama di balik mantelnya.
Nama dari putranya yang dia buang beberapa tahun lalu. <
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
ArlettaByanca
Eva hanya org yg berhutang tp jadi rumit hanya krn nama Shaw
2024-09-27
1
Makaristi
apakah cerita ini tentang permusuhan antar kelg mafia..
shaw melawan ayah nya sendiri adrian ..
2024-09-13
1
jen
Shaw mungkin jodohnya /Facepalm//Grin/
2024-09-13
1