🌻🌻🌻
Kakiku melangkah ke belakang dalam beberapa langkah untuk memberikan jarak di antara kami berdua. Pria itu mengedipkan mata beberapa kali dan tersenyum tanggung kepadaku, lalu membuka pintu kamar, dan berjalan keluar dari kamar.
Adegan kecil yang manis itu membuat perasaanku bahagia. Kakiku melangkah mendekati kasur dan duduk di sana sambil mengingat momen tadi dan mengingat bagaimana indahnya mata pria itu saat pandangan kami beradu.
"Ibu ...!" Delia berlari ke arahku, menaiki kasur, dan bersembunyi di belakangku.
Revan berhenti mengejar di pintu kamar. Bocah itu memasang wajah kesal dan keluar dari kamar.
“Jangan lari-lari.” Delia aku tarik dan kuajak duduk di pangkuanku. “Sekarang sudah malam. Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, dan tidur.” Hidung gadis itu aku cubit kecil.
“Delia tidur di sini, ya?”
“Hmm … Ibu pikir dulu,” candaku dengan jari telunjuk mendarat di pelipis, tampak berpikir.
***
Seseorang terasa menaiki kasur dan membangunkanku yang baru tidur setelah menceritakan dongeng kepada Delia. Setelah mata aku buka, Mas Lintang yang baru berbaring di sisi kiri Delia. Pria itu berbaring dengan kedua telapak tangan dihimpit oleh kepalanya, menodongkan pandangan ke loteng kamar. Pria itu tampak tengah berpikir dengan kegelisahan terlihat jelas.
“Mas …!” panggilku yang membuatnya menoleh ke arahku.
“Kamu belum tidur?”
“Belum. Mas kenapa? Mas biasa cerita sama aku. Mungkin aku bisa kasih solusi.”
Pria itu diam dan tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Mas butuh bantuan?”
“Tidak ada. Tidak perlu dipikirkan.” Mas Lintang memejamkan mata.
Tingkahnya itu semakin membuatku penasaran. Tapi, tidak enak rasanya jika memaksa ketika ia tidak ingin bersuara. Mata ikut aku pejamkan, membawa jiwa istirahat di malam hari.
***
“Iya, Pak. Kasih saya waktu sampai minggu depan untuk membayarnya.”
Setelah keluar kamar, suara Mas Lintang terdengar dari teras rumah. Perlahan kakiku melangkah menuju pintu yang sebelah terbuka, pria itu berdiri di teras dengan gawai berada di tangan kanannya. Kudengar pembicaraan mereka secara detail sampai aku tahu penyebab mengapa Mas Lintang susah tidur semalam. Pria itu punya hutang dan sudah tiba waktunya untuk membayar hutang itu, sedangkan uangnya belum ada untuk membayarnya. Jadi penasaran, hutang apa, ya?
Tangan seseorang yang mendarat di pundak kananku membuatku tubuhku tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang. Bu Sulis menatapku dengan senyuman.
“Sedang apa, Fina?”
“Bukan apa-apa, Bu. Kalau begitu, aku lanjut ke dapur.” Kakiku berjalan menuju dapur yang menjadi tujuanku sejak tadi.
Semua anak-anak sudah duduk di sana dan mereka tengah menikmati sarapan yang telah disiapkan Bu Sulis. Melihat kedatanganku, wajah mereka, kecuali Delia menjadi masam. Bibirku langsung manyun membalas ekspresi itu dengan senyuman pada akhirnya.
“Jangan rusak hari kalian dengan ekspresi seperti itu,” ucapku dengan candaan. “Seperti Delia.” Bangku yang ada di samping Delia aku duduki sambil mencubit pelan kedua pipi gadis itu.
Mas Lintang dan Bu Sulis memasuki dapur. Melihat pria itu, aku merasa prihatin dan kasihan. Selama ini, pasti betapa sulit baginya menghadapi keluarganya dengan perekonomian, ditambah lagi sikap anak-anaknya.
“Duduk, Mas,” ucapku sambil berdiri dan mempersilahkan Mas Lintang duduk di bangku yang aku duduki, biasanya suamiku itu yang duduk di sana.
Selain itu, aku membuka piring yang tertelungkup di hadapannya. Segelas susu juga aku ambil, benar-benar melayaninya dengan baik. Tingkahku ternyata diperhatikan Bu Sulis. Wanita itu tersenyum kepadaku saat aku tidak sengaja mengarahkan pandangan padanya.
“Kamu juga duduk,” ucap Mas Lintang.
“Iya.” Aku duduk di sisi lain Delia.
Sarapan pagi aku nikmati bersama mereka dengan sesekali melirik Mas Lintang yang diam dalam gelut gelisah di benaknya. Itu bisa aku lihat dari ekspresinya. Tingkahku diperhatikan mereka yang ada di meja makan. Hal itu aku sadari setelah melihat ekspresi Mas Lintang yang memperhatikan mereka satu-persatu, termasuk aku.
“Ehem!” Bu Sulis sengaja menggodaku.
Mas Lintang mengeluarkan ekspresi bingung. Pria itu tidak sadar mengapa Bu Sulis bertingkah begitu.
“Ibu …!” Delia ikut menggodaku.
“Kalian ini apa-apaan!” Shani memperhatikan kami berdua dengan wajah kesal.
“Mas! Nanti bisa berbicara sebentar di kamar?” tanyaku.
Pertanyaanku sepertinya membuat Mas Lintang sedikit kaget. Pria itu berhenti mengunyah dan mengarahkan pandangan kepada Bu Sulis yang masih tersenyum, lalu kembali menoleh ke arahku dengan anggukan pelan.
***
Ponsel aku mainkan duduk di tepi kasur sambil menunggu Mas Lintang di kamar. Setelah mendengar suara pintu dibuka, aku beranjak berdiri, dan mendekatinya sambil menyodorkan ponsel itu. Sejenak ia diam menatap ponselku dengan wajah bingung.
“Mas punya hutang, ya? Mas bisa pakai uangku untuk membayarnya dulu. Tidak gratis, nanti Mas bisa nyicil bayar kepadaku,” ucapku agar ia merasa tidak sungkan menggunakannya.
“Kamu menguping pembicaraanku tadi?”
“Bu Sulis menceritakannya?” tanyaku, bukannya menjawab pertanyaannya.
Pria itu menganggukkan kepala.
“Sebenarnya itu hutang apa?”
Pria itu diam, sepertinya berat memberikan penjelasan. Aku juga tidak ingin memaksa karena itu juga privasinya yang mungkin hadir sebelum aku datang dalam kehidupannya. Sekarang tugasku hanya membantu selagi aku bisa.
"Tidak perlu, aku akan mencari uang untuk membayarnya." Bantuanku ditolak dan mungkin karena merasa tidak enak hati.
"Pakai saja, Mas ... nomor rekening Mas, berapa? Apakah uang segini cukup atau masih kurang? Kalau masih kurang, aku akan coba pinjam uang temanku, Bella. Kalau sama dia, kita tidak perlu cemas untuk membayar kapan saja."
"Bukannya dia juga mengalami kesulitan uang? Waktu itu aku tidak sengaja mendengar perdebatannya bersama suaminya."
Bibirku langsung bungkam dan tersenyum cengengesan, aku baru ingat akan hal itu. Mas Lintang tersenyum melihat ekspresimu dan mendorong gawai yang aku tadi aku sodor kembali ke arahku.
"Biar aku yang urus," ucap Mas Lintang.
"Tapi ... pakai saja. Mas, sekarang kita suami-istri, apa pun masalahnya kita hadapi bersama. Mas ... jangan banyak berpikir. Kita hadapi perekonomian bersama dan kita hadapi anak-anak bersama. Jangan sungkan begitu. Jika Mas mau bercerita, bisa curhat denganku. Jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah Mas, setidaknya sesuatu yang menyekat di hati ataupun di benak Mas bisa keluar," ucapku dengan sedikit membujuk. "Ini, pakai saja." Ponsel di tanganku kembali aku berikan, bahkan aku taruh di genggaman tangan kanannya.
Setelah memberikan ponselku padanya, aku mendekati meja kerja yang ada di samping meja rias, memasukkan beberapa barang-barang di atas meja ke dalam tas yang nanti aku bawa ke sekolah untuk mengajar.
"Maaf jika aku dan anak-anak banyak membawa masalah untukmu," ucap Mas Lintang.
Tubuh aku hadapkan ke belakang dan tersenyum.
"Mas suamiku dan anak-anak juga anakku sekarang. Tidak ada yang namanya masalah. Mas sudah mentransfernya ke nomor rekening, Mas? Jika sudah, ponselnya aku butuhkan untuk menghubungi Ibu."
"Sudah."
"Baiklah."
Kembali aku berdiri di hadapan Mas Lintang, mengambil ponselku di tangannya, dan mengecup pipi kanannya.
"Cukup menjadi suami dan Ayah yang baik, itu sudah membuatku bahagia." Lanjut kakiku berjalan keluar dari kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Darni Jambi
kok ngak up2 to mbk ditungguin, bagus critanya
2024-09-06
1
LISA
Ya Kak..Fina bijak bgt..salut deh sama Fina..istri yg pengertian
2024-09-01
2