🌻🌻🌻
Mas Lintang aku perhatikan sedang sibuk dengan laptop yang ada di atas meja, pria itu tengah mengerjakan pekerjaan hingga larut malam. Sudah dua gelas kopi yang aku hidangkan di atas meja, tapi masih saja pekerjaan belum selesai sampai jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Selama itu aku menunggu, ingin mengambil kesempatan berbicara sebentar mengenai Zien dan apa yang aku tawarkan kepada putra kedua suamiku itu. Namun, sepertinya tidak ada waktu untuk itu dan aku tidak ingin mengambil waktunya saat bekerja karena aku ingin berbicara lebih tenang bersamanya.
Rasanya sudah mengantuk, sejak tadi aku menguap, tetapi masih saja memaksa mata untuk tetap terbuka, berpura-pura main ponsel.
“Kalau mengantuk, tidur saja, Fin,” ucap Mas Lintang sambil memainkan sepuluh jarinya di atas keyboard laptop.
“Iya, Mas.”
Ponsel aku taruh di atas meja. Sepertinya memang tidak ada kesempatan untuk berbicara bersamanya. Kubaringkan tubuh dan menarik selimut, lalu memejamkan mata.
Berusaha aku ajak jiwa ini terbenam dalam alam bawa sadar. Namun, tidak bisa aku lakukan, entah mengapa aku tidak bisa tidur. Kembali aku duduk setelah setengah jam berusaha, bahkan sudah mencoba mengubah posisi. Beranjak aku duduk sebentar untuk menenangkan diri. Kuarahkan pandangan ke arah Mas Lintang tadi duduk, aku sudah tidak melihatnya di sana, tetapi pintu kamar terbuka. Jadi penasaran, di mana suamiku itu?
Bangkit aku dari kasur, berjalan keluar dari kamar, dan menjadikan dapur sebagai tujuan awal setelah tidak melihat siapa-siapa di ruang tamu. Ternyata suamiku itu memang berada di sana, sedang memperhatikan kulkas yang kebetulan kosong, tidak ada makanan yang bisa dimakan maupun bahan masakan yang bisa dimasak. Namun, aku ingat, ada dua bungkus mie instan yang ada di lemari.
“Kamu lapar, Mas?” tanyaku sambil memasuki dapur.
Bergerak aku membuka lemari, mengambil dua bungkus mie tersebut, dan memulai aksi kecil untuk memasaknya menjadi hidangan berkuah. Mas Lintang duduk di salah satu bangku meja makan, memperhatikanku memasak.
“Kalau lelah, bisa kerjakan besok pekerjaannya, Mas. Jangan buat aku dan anak-anak cemas kalau kamu sampai jatuh sakit. Zien baru pulang dari rumah sakit, nanti malah kamu yang menyusul,” ucapku dan menoleh ke belakang, ke arahnya.
Mas Lintang hanya tersenyum ringan.
Beberapa menit kemudian, mie yang aku masak aku sajikan di hadapan Mas Lintang. Segelas air putih juga aku tuangkan dan duduk di sampingnya.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya.
“Entahlah. Aku tidak bisa tidur.”
Balasanku dibalas dengan anggukan beberapa kali oleh Mas Lintang dan kembali mulai memainkan sendok mengaduk mie yang aku buat.
“Mas …! Aku dengar dari Zien, Mas tidak akan membiarkannya main ponsel lagi.”
“Benar,” balas Mas Lintang setelah menelan mie yang ada di mulutnya.
“Mas mau memberikanku kesempatan untuk mengubah anak itu? Jika Mas setuju, biarkan aku membelikannya ponsel dan headphone lagi. Aku janji, aku akan mendidiknya, berusaha membuatnya menjadi anak yang kamu banggakan, Mas. Zien itu anak yang cerdas sebenarnya, tetapi dia itu lebih cerdas dalam olahraga. Jadi, kita tidak bisa memaksanya dalam bidang pendidikan. Tapi, kita akan berusaha membuat dia juga cerdas dalam pendidikan, kita usahakan itu. Ak–”
“Tidak, Fina.” Mas Lintang memotong perkataanku.
“Mas …!” panggilku dengan membujuk. “Biarkan aku yang menghadapinya. Aku yakin aku bisa.” Berusaha aku meyakinkan Mas Lintang.
Pria itu menatapku dengan sorot mata cukup dalam. Senyuman aku tunjukkan dengan mata berbinar dan bertingkah seperti anak kecil yang tengah memohon kepada ayahnya untuk dibelikan es krim.
“Baiklah. Tapi, tunggu aku punya uang dulu,” balasnya.
Seketika aku mengerti alasan lain Mas Lintang mengatakan itu kepada anaknya. Mas Lintang tidak memiliki uang untuk membeli kembali ponsel itu.
“Pakai uang tabunganku saja,” balasku dengan wajah senang hati aku perlihatkan.
“Kamu masih punya tabungan? Bukankah aku sudah meminjamnya saat itu? Jangan, kamu sudah banyak membantuku. Jangan buat anak itu keenakan dengan perlakuanmu, sedangkan dia tidak bisa menghargaimu.” Mas Lintang tampak tidak enak dengan perkataanku.
Bisa aku mengerti apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkannya. Baru menikah, bukannya aku yang harus dibahagiakan dan diroyalkan dengan uangnya, malah aku yang keluar untuknya dan keluarganya. Tapi, aku tidak masalah, aku malah merasa senang bisa membantu mereka, kasihan juga.
“Tidak apa-apa, Mas. Jangan begitu, Zien juga anakku, kan? Mas juga suamiku.”
Perkataanku membuat Mas Lintang diam. Entah apa yang dipikirkan, tapi sepertinya itu hal yang baik. Kemudian, matanya menatapku sesaat sampai aku sedikit salah tingkah dan mengumbar senyuman.
“Sejauh ini aku belum memberikan kebahagiaan apa pun padamu. Maafkan aku. Belum aku, kamu juga dibebankan oleh anak-anakku. Aku janji, aku akan bekerja lebih giat lagi, aku akan kembalikan uangmu, dan akan memberikan uang bulanan yang lebih,” ucap Mas Lintang dengan raut wajah penuh tekad.
Kedua tanganku menggapai tangan kirinya yang ada di atas meja, aku genggam dari punggungnya tangannya, dan tersenyum. Pria itu memelukku dan aku merasa ini tahap awal dari hubungan kami yang semakin dalam. Entahlah, rasanya aku cukup tertarik kepadanya, rasa kasihan dengan situasi yang dihadapinya rambutku merasa selalu ingin bersamanya, ada untuknya. Itu mengapa aku tidak mempermasalahkan uangku habis untuknya dan keluarganya.
Pelukan itu bertahan hanya sekitar satu menit. Kemudian, pria itu menatapku cukup lama, memperhatikanku.
“Maaf karena aku belum memperlakukanmu selayaknya seorang istri,” ucap Mas Lintang yang mulai membuatku merasakan suasana sedikit tegang dalam kesunyian malam.
“Mas sudah memperlakukan sebagai seorang istri. Mas sudah bisa menghargaiku dan memberikan ambil andil dalam mengurus anak-anak.”
“Bukan itu. Masalah ….” Mas Lintang menggantungkan perkataannya sambil menundukkan kepala.
“Aku selalu siap menunggu, Mas,” balasku yang mengundang pria itu mendongakkan pandangan dengan wajah kaget.
Sejenak kami saling memandang. Rasanya sedikit malu mengatakan itu, aku terkesan sedikit agresif dan terlihat seperti orang yang paling menunggu momen itu. Sebenarnya memang ada pikiran mengenai hal itu di benakku di malam pertama kami. Tetapi, setelah melihat foto wanita yang ada di selipan bajunya, aku bisa mengerti sesuatu, mengapa Mas Lintang tidak membersamaiku. Pria itu masih belum bisa melupakan mantan istrinya.
“Bisa aku mengerti, Mas,” lanjutku untuk menghancurkan suasana canggung yang mulai terasa.
Kedua tangan yang ada di pangkuanku seketika merasa kaku, jari-jariku ikut bermain, dan kepala aku tundukkan menatap kedua tanganku sambil mengalihkan pandangan yang membuat jantungku berdegup kencang menatap mata indahnya itu.
Mas Lintang menggapai tanganku, ikut menarikku kembali menatapnya dengan perasaan sedikit kaget, dan rasa tegang mulai merasuk jiwaku. Tatapannya membuatku sadar adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pria itu mendekatkan wajahnya mendekati wajahku dengan kedua bola mata kami saling memandang. Perlahan aku memejamkan mata, membiarkannya melanjutkan adegan yang sudah terbaca itu.
“Ehem!” Seseorang berdehem dan aku membuka mataku.
Kudapati jarak wajah kami cukup dekat sampai napasnya telah menyentuh wajahku. Kami menoleh ke arah yang sama, pintu dapur, dan melihat Shani berdiri di sana. Gadis itu menatap kami dengan tatapan tajam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments