🌻🌻🌻
Perlahan aku melepaskan baju tidur yang terpasang di tubuhnya dan dengan cepat kubalut dengan sebuah kain yang panjangnya seperti handuk, tetapi bahannya tipis, tetapi tidak transparan karena warnanya juga gelap, warna cokelat. Setelah menggunakan kain itu, aku berdiri di samping Mas Lintang. Pria itu mengambilkan aku sikap gigi dan kami sama-sama menggosok gigi.
Kukira kami akan kesulitan saat berinteraksi di kamar mandi, ternyata tidak. Ketika aku kesulitan menggosok punggung bagian belakang, pria itu membantuku dengan pandangan menjauh dari tubuhku. Tangannya sedikit masuk ke dalam kain. Hal yang sama juga aku lakukan untuknya saat Mas Lintang juga terlihat kesulitan saat menggapai punggungnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, kami keluar dari kamar mandi dan masih menemukan ibu mertuaku dan Delia, mereka sedang sarapan.
“Hari ini Delia tidak sekolah. Kemarin gurunya bilang kalau mereka mengadakan pertemuan guru,’ kata Bu Sulis.
“Untunglah. Kalau begitu, aku ke kamar duluan,” ujar Mas Lintang dan meninggalkan dapur dalam setelan hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya saja, berbeda denganku yang memakai handuk kimono kesayanganku.
“Bu. Delia akan punya adik, ya?” tanya Delia, tiba-tiba.
Mendengarnya membuatku sedikit syok, lalu tertawa ringan sambil mengarahkan pandangan kepada Bu Sulis yang tersenyum. Dari mana anak ini tahu mengenai hal itu? Tidak mungkin rasanya tahu sendiri, kan? Pertanyaannya itu membuatku benar-benar malu. Sejenak aku ingin menyingkir dari mereka, akhirnya aku meninggalkan dapur dan ke kamar. Namun, rasa malu itu semakin besar tercipta saat menemukan suamiku tengah mengenakan pakaian dan langsung membelakangiku saat menemukan aku memasuki kamar begitu saja. Sudah pasti ia kaget dengan kehadiranku.
“Maaf,” ucapku.
Mas Lintang hanya diam. Benar-benar malu rasanya.
Langkahnya aku dengar, pria itu berjalan melewatiku keluar dari kamar, tetapi sempat melambatkan langkah di sampingku dan tersenyum ringan yang menandakan pria itu tidak marah.
***
Setelah mengajar di salah satu kelas, aku kembali ke ruangan kerjaku dan Bu Tika. Kehadiranku membuat wanita itu menyapaku dan senyuman aku tunjukkan sambik berjalan menuju bangju kerja, duduk di sana dengan perasaan bahagia. Hari ini menjadi hari paling membahagiakan, mungkin karena kejadian semalam hingga pagi tadi.
“Bahagia sekali kelihatannya Bu Fina!” Bu Tika sampai melihat rasa bahagia yang aku rasakan, mungkin itu terlihat dari wajahku.
Hanya senyuman yang aku tunjukkan sambil menganggukkan kepala sekali padanya, aku tidak tahu bagaimana caranya merespons perkataan wanita itu, sungguh sedikit malu rasanya kala mengingat momen tadi pagi.
Baru beberapa detik duduk di bangku kerja, telepon yang baru aku letakkan di atas meja berdering, orang yang menghubungiku Brian. Kembali aku meninggalkan ruangan itu dan berbicara lebih leluasa di luar karena aku merasa pria itu ingin membicarakan tentang peristiwa diculiknya Shani hari itu.
“Setelah aku dan beberapa temanku memeriksa menyelidiki kejadian itu. Preman yang menculik dan menjual Shani di klub itu suruhan dua anak pengusaha yang belajar di sekolah tempat Bu Fina mengajar,” ucap Brian dari seberang sana.
Pria itu belum menjelaskan semuanya, tetapi hatiku berdetak dan langsung mengarahkan ingatan kepada dua siswi yang saat itu memeras uang jajan Shani.
“Mereka dua siswi yang satu angkatan dengannya, tetapi beda kelas,” lanjut Brian.
“Iya, aku sudah bisa menebaknya. Bisa kita bertemu di kafe di dekat sekolah sekarang? Kebetulan saat ini aku sedang beristirahat,” ajakku.
“Baiklah.”
Setelah pembicaraan kami selesai, aku langsung berjalan menuju tempat tempat kami membuat janji, di kafe Ekka yang berada tidak jauh dari sekolah dan hanya butuh waktu dua menit untuk berjalan sampai di sana.
Tidak terlalu lama aku menunggu Brian. Setelah lima menit duduk, pria itu datang sendirian dan duduk di hadapanku. Sebuah video langsung ditunjukkan olehnya, preman yang menculik Shani mengaku telah disuruh oleh dua gadis yang saat itu aku peringati untuk tidak mengganggu Shani.
“Sekarang pendapat Bu Fina, bagaimana?” Brian meminta pendapatku karena aku tahu, gadis dibawa umur seperti mereka tidak seharusnya berada di penjara.
Teringat olehku perkataan Shani kepada Bu Sulis waktu itu yang menyebutku sebagai alasan di balik penculikannya. Sekarang aku mengerti dan sepertinya itu benar. Perkataan Zien juga teringat olehku, mungkin aku benar pembawa sial bagi mereka.
“Bu Fina …!” panggil Brian, memanggilku yang diam dengan wajah sedikit murung menatap vas bunga kecil yang ada di hadapan kami.
“Sebaiknya tidak perlu. Banyak orang yang akan mendapatkan dampaknya. Shani juga pasti akan malu kalau teman-temannya tahu kalau dia sempat diperlakukan seperti itu. Biar kita selesai secara kekeluargaan saja. Pak Brian datangi saja kedua orang tua mereka dan suruh anak mereka minta maaf kepada Shani.” Rasanya itu jalan terbaik yang ada di benakku.
“Baiklah.” Brian setuju dengan saranku.
Bukan berarti preman yang menculik Shani juga dibebaskan dengan penyelesaian kekeluargaan, pria itu akan tetap melaksanakan hukuman sesuai norma hukum yang sudah dilanggar olehnya.
Sebelum kembali ke sekolah, kami duduk sesaat sambil menikmati secangkir kopi di kafe tersebut dengan sedikit berbicara di luar konteks yang kami bahas sebelumnya.
Karena jarak kafe dan sekolah yang dekat, suara bel masuk terdengar, menggerakkan diriku untuk segera kembali di tengah pembicaraan kami yang sedang asyik, pria itu terlihat antusias saat berbagai cerita mengenai pertemanannya dan Raden kepadaku.
“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu. Lain kali bisa berbicara lagi.”
Ketika aku berdiri dari posisi duduk, pria itu juga berdiri melepaskan kepergianku akhirnya meninggalkan tempat itu. Kembali aku ke sekolah dengan menempuh jalan yang sebelumnya aku lewati.
Di gerbang sekolah aku melihat satpam sekolah sedang berbicara bersama seorang siswi, dari belakang tampak familiar bagiku gadis itu. Kakiku yang semula lambat kembali berjalan cepat sampai muncul di samping mereka. Pantas saja tidak asing, gadis itu Shani yang sedang berdebat bersama satpam sekolah mengenai ponsel yang ada di genggam pria itu.
Mereka menoleh ke arahku, menunda sejenak perdebatan mereka.
“Ini Bu Fina, dia membawa ponsel ke sekolah dengan berbohong ada guru yang menyuruh membawanya untuk pembelajaran sekolah. Setelah saya tanya kepada guru yang masuk hati ini di kelasnya, mereka bilang tidak ada perintah seperti itu. Jadi, saya menahan ponselnya sampai orang tuanya datang,” terang satpam yang tidak tahu aku sudah menjadi salah satu dari orang tua gadis itu.
Sejenak aku diam sambil memperhatikan Shani yang membuang muka dariku. terlintas di benakku untuk sedikit membuatnya kesal dan bisa mengatakan sesuatu yang ingin sekali aku dengar. Apa itu? Mengakuiku sebagai orang tuanya.
“Benar. Kamu bisa bawa ayahmu untuk mengambilnya. Jika tidak, kamu bisa membawa ibumu,” balasku dan berjalan melewati keberadaan mereka.
Sengaja aku menyebut Mas Lintang terlebih dahulu untuk mengingatkannya kalau suamiku yang merupakan ayahnya itu pasti akan marah dan aku tahu gadis itu takut kepada ayahnya. Mau tidak mau, bantuanku dibutuhkan olehnya.
“Tunggu …!“ serunnya, menahanku.
Kakiku berhenti berjalan di depanku pagar bagian dalam, senyuman muncul di bibirku karena rencanaku berhasil dan kemudian memutar badan ke belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments