Pagi kedua setelah setelah hari pernikahan. Raisa berada di rumah besar ini. Di dapur hanya ada para pelayan yang sedang menyiapkan makanan. Di beberapa sudut dia juga melihat beberapa pelayan sedang bersih-bersih. Semua orang tampak sibuk.
Saat matanya terbuka dia langsung bergegas mandi lalu keluar sebelum Tuan Muda bangun. Dia takut.
"Selamat pagi Nona Muda, apakah tidur anda nyenyak?" Busil menunduk hormat.
Raisa tersenyum, "tentu saja, berkat anda." Balasnya.
"Apakah ada bisa saya bantu?" Ujar Raisa lagi.
Busil nampak terkejut, dia masih ingin bekerja dengan nyaman di sini. Bagaimana bisa seorang Nona muda berkata seperti itu.
"Dih memang apa yang bisa kau bantu? Kami punya koki profesional di sini." Seseorang dari belakang sana berkata dengan nada sinis.
Raisa menoleh, Busil menyapa dengan sopan.
Itu ibu tuan Muda? Dan gadis itu...? Sepertinya aku tahu. Oh iya! Dia gadis gila di pesta pernikahan.
"Selamat pagi bu, selamat adik ipar." Sapa Raisa dengan senyum cerah.
Mengabaikan cibiran dan tatapan sinis yang di berikan adik iparnya itu.
"Sudah kuperingatkan bukan? Jangan banyak bertingkah. Kau pikir kau selevel dengan kakak? Wanita kampung dan murahan seperti kau hanya bisa menjilat saja. Jangan harap kau bisa mendapatkan hati kakak." Cibiran pedas itu seakan tak mampu menembus pertahanan hati Raisa. Namun tahu kah semakin di tusuk berkali-kali akan nembus juga bukan?
"Ibu juga heran kenapa kakakmu memilih istri modelan boneka hantu seperti ini sebagai istrinya."
Tusukan kedua.
"Kau harus tahu diri, kau itu tidak pantas berada di keluarga kami. Kau itu bagai batu cacat di antara kami."
Tusukan ke tiga. Tapi hebatnya Raisa masih bisa tersenyum, tusukkan itu sudah hampir membunuhnya.
"Terima kasih atas perhatian Ibu dan Adik ipar. Saya akan mengingatnya dan memperbaiki diri kedepannya."
Adik ipar tertawa, "hahaha lihat ibu. Aku benar kan dia benar-benar tak tahu malu." Ibu tersenyum sinis.
Adik ipar masih mengeluarkan segala caci makinya. Aneh wajah secantik itu tidak pantas untuk mengeluarkan kata-kata kotor.
Saat Raisa sedang mendengar segala cacian maki dari ibu dan Adik ipar, lampu telepon yang di dapur menyala berwarna merah. Itu lampu dari kamar Tuan muda.
Raisa melihat Busil langsung sigap menerima telpon pada deringan pertama.
"Baik Tuan." Jawabnya singkat.
"Ada apa? Apa Arga membutuhkan sesuatu?" Ibu bertanya.
"Tidak Nyonya, Tuan Muda hanya meminta Nona Muda untuk kembali ke kamar."
"Aku? Ada apa memangnya Busil?" Tanya Raisa harap-harap cemas.
"Anda bisa kembali ke kamar Nona, Tuan muda sedang menunggu anda."
"Baiklah, ibu dan adik ipar saya permisi."
Raisa menunduk sambil berjalan ke arah tangga, dia masih mendengar keduanya memaki dirinya dengan menggebu-gebu.
Duh, masih pagi tidak lelah apa sudah memaki. Sungguh hari yang di awal dengan makian.
Raisa membukakan pintu kamarnya. Mencari di mana keberadaan laki-laki gila itu. Dia ada di atas tempat tidur. Duduk sambil mengibaskan rambutnya. Banyak gaya yang sialnya dia sangat tampan padahal baru bangun. Raisa berguman dalam hati. Belum sampai dia di samping tempat tidur.
"Air."
Apa? Air apa? Air minum? Itu ada di samping kau gila! Jangan-jangan kau menyuruhku kembali hanya untuk mengambilkan air yang ada di sampingmu?
"Air." Arga mengulang katanya dengan sedikit sentakan membuat Raisa terperanjat.
"Ba-baik." Dia bergegas melangkah meraih gelas yang jelas-jelas di samping nakas tempat tidur lalu menyerahkannya ke Arga.
Gila! Apa ini maksudnya harus jadi istri penurut tanpa banyak kata? Jadi aku harus menuruti hal-hal kecil ini? Astaga!!!
Raisa kembali terkejut saat Arga kembali menyerahkan gelas kosong padanya bukannya langsung meletakkan ke atas nakas. Dengan hati yang lapang dia mengambil gelas itu dengan hati-hati lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
Arga meregangkan tumbuhnya, mengerakan kepalanya ke kiri dan kanan. Raisa sudah mau beranjak namun suara Arga mengurungkan niatnya.
"Jam berapa sekarang?"
Apa laki-laki ini tidak bisa membaca jam? Jam dinding di kamar ini sangatlah besar.
"Jam 7 Tuan."
Arga diam lagi membuat Raisa frustasi sendirian.
"Aku mau mandi."
Terus?? Aku harus apaa????! Haruskah aku memandikanmu?! Gila aja kalo iya.
"Apa kau tuli?! Aku bilang aku mau mandi."
"Air." Ucapnya lagi.
Air apa lagi? Kau masih ingin minum? Yang jelas kalo ngomong!!
Raisa sungguh tidak mengerti apa maunya laki-laki gila itu.
"Ck, dasar bodoh! Siapkan air untuk mandi.
Kau yang bodoh! Bicara yang jelas saja tidak bisa.
"Baik," setelah mengatakan itu Raisa bergegas menuju kamar mandi.
"Sungguh merepotkan." Arga bangkit, dia menyusul Raisa ke dalam kamar mandi.
Raisa sudah mengisi bak mandi dengan air hangat dia meneteskan sabut secukupnya. Semerbak wangi strawberry menyeruak di ruangan ini.
Raisa terperanjat saat mendapati suaminya sudah ada di kamar mandi.
"Kau memilih baju yang merepotkan, bukakan ini."
Astaga laki-laki gila ini.
Raisa membukakan kancing baju suaminya dengan perasaan malu. Dih kenapa dirinya yang malu?
"Bersyukurlah kau bisa sedekat ini denganku. Semua wanita menginginkannya." Ujat Arga dengan suara serak.
Mati-matian Raisa menahan rasa mualnya.
"Tentu saja saya sangat bersyukur. Ini sebuah kerhormatan bagi saja." Balas Raisa membuat Arga tersenyum puas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
kalea rizuky
agak2 mirip saga dania ya awal2 pas saga lom. bucin
2024-11-30
0