Raisa duduk sambil merapikan rambut dan pakaiannya. Dia mengerutkan pipi berulang kali, melatih untuk tersenyum. Tersenyumlah, sambil melangkah menuju neraka yang entah dengan cara apa membakarnya. Raisa menoleh ke arah tangga. Sekertaris yang tadi menjemputnya muncul di susul dengan sosok laki-laki. Mungkin itu tuan Arga.
Perawakan laki-laki itu sungguh sempurna. Raisa berdiri dari duduknya. Meremas ujung bajunya. Laki-laki itu memiliki aura yang sangat kuat. Membuat aura di sini terasa mencekam. Ini kali pertamanya dia bertemu dengan calon suaminya. Raisa merasa sekujur tubuhnya bergetar, bahkan saat laki-laki itu menginjak tangga terakhir dan melangkah menuju kursi sudah mengintimidasinya.
"Duduklah." Ucap laki-laki itu duduk di sofa tunggal.
Sekertaris Jou berdiri di belakang kursi tuan Arga dengan pandangan lurus.
Laki-laki itu, tidak tidak kita sebut saja Tuan Arga duduk dengan angkuh. Sekertaris Jou meletakkan amplop berwarna cokelat di atas meja. Raisa menatap amplop itu.
Apa itu perjanjian pranikah?
Batinya bertanya.
Raisa sudah menyiapkan mental dan hatinya untuk kemungkinan yang terburuk bisa terjadi pada pernikahannya. Ini hanya pernikahan untung rugi. Ayah telah menjual dirinya untuk melunasi semua hutang perusahaan. Dia sangat tahu diri jika dia sudah tidak punya harga diri lagi di hadapan tuan ini.
"Bacalah! Itu peraturan yang harus kau taat saat menjadi istriki nanti," dia menunjuk amplop yang tergeletak di atas meja itu.
Perlahan Raisa mengambil amplop itu. Sejujurnya1 walau Raisa terlihat tenang, jantungnya berdetak lebih kencang. Raisa takut jika setelah ini dirinya punya riwayat sakit jantung.
Apa ini? Tanya Raisa saat membaca isi dari surat itu.
Pihak pertama: Argantara Wiguna
Pihak kedua: Raisa Putri
Aturan adalah pihak pertama, dan pihak kedua berkewajiban mematuhi semua peraturan. Apabila pihak kedua tidak mematuhi aturan maka akan dikenai sanksi.
Raisa mencoba mencerna satu paragraf singkat itu mewakili semuanya. Dia harus menjaga sikap jika ingin keluarganya aman.
Maksudnya dia ini aturan hidupku selama pernikahan? Semua perkataannya adalah titah bagiku, begitu? Dia pikir dia raja? Baiklah aku mengerti jika aku bukan apa-apa dihadapannya. Bahkan aku sudah tidak punya harga diri lagi.
"Maaf, boleh aku bertanya lebih rinci lagi mengenai peraturan yang harus aku patuhi."
Bulu kuduk Raisa merinding membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Arga menatap tajam pada wanita yang akan menjadi istrinya itu, "bodoh. Kalimat sejelas itu masih belum mengerti. Artinya kau harus mematuhi semua yang aku katakan." Ucapnya berhasil membuat Raisa menundukkan kepalanya. Semakin merinding.
Raisa mencoba menguatkan dirinya, dia tersenyum dengan bibir bergetar samar. "Apa bisa tuan menjabarkan apa saja itu? Supaya saya tidak membuat kesalahan di masa depan nanti." Ucapnya mencoba mengendalikan suarnya yang ikut bergetar dengan wajah ceria tentunya.
Bagus Raisa, pengendalian yang baik.
Arga tersenyum tipis, bibir tersenyum ceria tapi wajahnya memerah wanita itu membuat Arga menahan tawa.
"Keluarkan ponselmu dan catatlah." Raisa menurut, segera dia mengerluarkan ponselnya dari dalam tas kecil. Kampungan. Batin Arga nyeletuk ketika melihat tas rajut yang Raisa kenakan.
"Peraturan pertama jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, apa pun itu termasuk hubunganku dengan wanita lain."
"Baik."
Raisan mencatat dengan baik, itu hal yang basic menurutnya. Dia masih aman.
Arga menatap lurus wanita yang sedang mencatat itu. Raisa tidak terkejut dengan aturan pertama.
"Kedua, lakukan kewajiban dan peranmu sebagai istri dengan baik tanpa banyak bicara."
"Baik." Raisa tetap fokus pada ponselnya menunggu Arga mengucapkan aturan lainnya.
Raisa menatap Arga kala pria itu tak lagi bersuara, "apa hanya ini Tuan?"
Wanita ini benar-benar menantangku ya. Arga menatap tidak suka.
"Maaf, apa boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Apa?" Arga menjawab acuh.
"Apa boleh saya tetap melakukan kehidupan saya seperti sebelum menikah?"
"Aku tidak peduli dengan kehidupanmu, yang harus kau lakukan adalah menjaga sikapmu di luar sana. Jangan sampai ada gosip beredar yang dapat mencoreng nama baikku dan perusahaan. Ingatlah, aku yang megang kendali atas hidupmu bahkan perusahaan dan keluargamu ada pada kendaliku, aku bisa membuat hidupmu hancur berkeping-keping dalam sekejap."
Raisa menelan ludah kasar. Benar, seperti inilah watak asli calon suaminya ini. Ternyata rumor yang berhati dingin benar adanya.
"Baik Tuan saya akan patuhi semua peraturan yang anda katakan dan saya akan menjadi istri yang patuh untuk anda. Terima kasih atas semua kebaikan yang anda berikan kepada keluarga saya. Saya akan membayarnya dengan segenap jiwa dan raga saya." Kalimat itu Raisa ucapkan dengan senyum manisnya.
Astaga apa yang kau katakan Raisa. Bagaimana bisa kau mengatakan hal menjijikan itu dengan begitu indah, dengan senyumku pula. Kau memang benar-benar sudah gila Raisa.
"Sepertinya kau sudah tahu apa yang harus dilakukan."
Raisa tersenyum, apa itu pujian?
"Terima kasih atas pujiannya Tuan."
Siapa yang sedang memujimu! Arga memaki dengan sorot matanya. Aku sedang menghinamu, haha aku lupa kau bahkan sudah tidak punya harga diri lagi.
Arga melirik ke arah sekertaris Jou. Seakan mengerti Jou mengerluarkan amplop cokelat lagi dalam saku jasnya lalu memberikannya pada Tuan Arga. Apa lagi itu pikir Raisa.
"Ambillah, untuk ongkosmu pulang."
Raisa terlihat ragu untuk mengambil amplop itu, tapi dia lebih takut pada Tuan Arga. Dia akan terlihat lebih murahan lagi jika dia menerima amplop itu
Tapi... "jangan membuatku nunggu. Terimalah ini bentuk kebaikanku." Ucap Tuan Arga dengan tajam.
Dengan tangan bergetar Raisa menerima amplop itu, "terima kasih atas semua kebaikan yang anda berikan. Semoga hari anda berjalan dengan baik." Raisa menunduk.
Arga tersenyum, tapi senyum itu berarti merendahkan. Dia menarik bibirnya dengan sinis.
Semoga hari anda senin terus. Raisa menyumpahi dalam hati.
Arga berdiri begitu pula dengan Raisa. "Pertemuan pertama ini sangat mengesankan. Kau jauh dari ekspetasiku. Meski aku tidak menaruh ekspetasi yang tinggi. Tapi ternyata kau sangat rendah. Pulanglah, dan bawa minuman itu kau harus berjalan kaki dulu untuk menemukan taksi."
Wah itu kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Tuan Arga. Raisa terkejut, dia baru ingat jika tadi saat memasuki gerbang utama dia melewati hutan yang cukup panjang. Astaga! Ternyata penderitaannya masih berlanjut. Tidak! Ini masih permulaan Raisa. Bertahanlah.
Raisa pulang dengan membawa 5 botol minuman. Saat Arga menyuruhnya membawa minuman itu dia menurut. Benarkan, ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Terbukti dari botol yang tersisa 3 botol lagi.
Apa masih jauh?
Kalimat itulah yang selalu Raisa tanyakan pada dirinya. Semangat mungkin sudah dekat gerbang utamanya. Kalimat itulah yang membuatnya terus berjalan.
Semangat Raisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments