Bab 5: Alinah jatuh Sakit

Ilustrasi gambar dokumen pribadi

Bab 5

Flashback

Alinah di sekolah itu mengajar dengan jadwal di siang hari. Sekolah terfavorit di Tangerang. Penyebabnya jumlah ruang kelas tidak bisa menampung seluruh siswa apabila proses kegiatan belajar mengajar hanya di jadwalkan di pagi hari. Pihak sekolah harus pandai -pandai mengelola kegiatan belajar mengajar dengan seefektif mungkin.

Alinah sosok guru yang sangat rajin masuk ke sekolah. Akan tetapi manusia itu memiliki keterbatasan. Sisi kelemahan Alinah itu bila sudah terkena sakit kepala itu susah mencari obatnya. Untung saja Pak Burhan begitu Peduli pada Alinah.

“Bu, coba ini teh madu hangatnya. Coba diminum!”

Pak Burhan menyodorkan gelas minumnya.

Alinah segera minum teh hangat buatan suami tercinta.

“Terima Kasih ya Pak” Alinah menyodorkan gelas minumnya pada Pak Burhan.

“Sekarang Ibu istirahat dulu, tidak usah banyak pikiran!’ Pak Burhan menasehati istrinya. Sementara Alinah terbaring di tempat tidur yang kasurnya terbuat dari kapuk randu..

“Tidur-tidur..’ Pak Burhan mengecup kening Alinah.

Alinah tak berdaya bila udah sakit begini. Dia tak bisa lagi berbuat banyak. Apalagi mencuci baju, sedangkan untuk berdiri saja badan terasa berat dapat berbuat banyak. Dirinya hanya bisa berharap agar sakitnya segera sembuh. Biar bagaimanapun keadaannya, dianggapnya ini adalah sebuah tanggung jawab. Dia bertanggung jawab terhadap kemajuan belajar anak-anak didiknya. Sangat diharapkan agar anak-anak didiknya bisa menangkap semua ilmu pengetahuan yang disampaikannya. Serta bisa diamalkan nya dalam kehidupan sehari-hari.

Alinah yang sedang terbaring lemah, meraih ponselnya untuk menghubungi Kepala Sekolah.

"Assalamualaikum..." Alinah mengucapkan salam.

"waalaikumsalam....", terdengar jawaban salam dari Bapak kepala sekolah di ponsel itu.

"Mohon maaf Pak, hari ini saya tidak bisa mengajar karena saya sedang sakit!" tutur Alinah apa adanya.

"Oh..., tidak apa-apa kalau Ibu memang benar- benar sakit. Nanti saya tugaskan guru lain supaya mengajar di kelas Ibu!" jawab kepala sekolah dengan penuh bijaksana.

Alinah merasa lega mendengar jawaban darikeala sekolah.

"Iya Pak. Terima Kasih. Wassalamualaikum...". Alinah menutup pembicaraannya.

Kepala Sekolah di tempat Alinah mengajar itu sangat bijaksana. Akan tetapi ada beberapa guru yang merasa enggan apabila ingin meminta izin.

"Aku kalau nggak masuk ke sekolah mendingan nitip kelas saja pada teman! Kalau aku izin ke kepala sekolah belum tentu orangnya juga lagi di sekolah!" jelas teman yang mengajar di sekolah itu.

Mereka lebih memilih menitipkan tugas pada teman guru untuk mengisi di kelasnya. Padahal kepala sekolah sudah sering menghimbau bila tidak bisa masuk untuk mengajar, usahakan untuk memberi kabar. Hal ini selalu dipahami oleh Sakinah. Barangkali bila saat ini dirinya dalam posisi sebagai kepala sekolah mungkin dirinya akan bersikap yang sama. Dia akan menerapkan kedisiplinan itu pada seluruh warga sekolah. Tapi tidak akan menerapkan aturan disiplin itu dengan kaku. Sikap bijaksana pasti akan selalu menyertai dalam kepemimpinannya itu.

***

Alinah meski tak bisa mengajar di hari ini yang penting dia sudah memberi kabar. Siapapun orangnya, pasti tak ada seorang pun yang mau merasakan sakit. Dia tak beranjak dari tempat tidurnya. Memilih untuk beristirahat agar kesehatannya kembali pulih.

"Bu di tabungan saldonya tinggal lima juta" itu adalah kata-kata yang terucap dari Pak Burhan dengan nada pelan.

Alinah diam membisu.

Terbayang memori di alam pikirannya. Bagaimana nanti buat biaya setoran motor. Darimana lagi aku harus mencari uang untuk setorannya. Bagaimana biaya hidupnya. Yaa Allah tolonglah hambaMu ini. Lemah tak berdaya.

Alinah terus memompa kemampuan dirinya agar bisa berkarir. Sakinah mencoba memupuk kemampuan menulisnya. la mencari artikel di internet tentang bagaimana cara menulis cerpen. Kemudian ia membuka pula artikel tentang tokoh - tokoh yang telah sukses dalam menulis novel sebagai pencerahan untuk dirinya. Agar tercipta semangat dalam menjalani hari- hari nya mengasah kemampuan menulisnya. Hakikatnya menulis cerpen adalah sebagai curahan hatinya. Tempat untuk menuangkan ide dan gagasannya.

Kegagalan demi kegagalan dia rasakan. Rumah tangganya mengalami cobaan yang cukup berat. Setelah gagal kuliah pascasarjana S2 rumah tangganya, ujian hidup seolah selalu datang menghampirinya. Hutang yang belum lunas terbayar. Ironisnya memiliki gaji setiap bulannya bahkan masih ditambah dengan tunjangan-tunjangan yang lainnya. Tetapi semua itu belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan.

***

Alinah merasa lega. Bila dirinya tak dapat hadir di sekolah tetapi telah memberitahukan alasan ketidakhadirannya. Biar bagaimanapun juga seorang dewan guru memiliki alasan akan ketidakhadirannya. Etikanya harus memberitahukan alasan ketidakhadirannya itu pada seorang pimpinan. Dalam hal ini adalah Kepala Sekolah tempat kita bertugas. Akan tetapi, Sakinah merasa perlu untuk mengirim SMS kepada teman mengajarnya.

"Bu Luna saya tidak masuk. Tolong anak-anak supaya mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat di meja. Terimakasih"

Alinah.merasakan tubuhnya masih begitu lemas. Dia terus beristirahat dan untuk beberapa saat kemudian dirinya tertidur lelap dalam peraduannya.

Sungguh malang nasibnya. Banyak hal yang ingin diraih, namun pupus harapan, belum tercapai niat dan keinginan. Alinah menjadi seorang pekerja keras agar dirinya mencapai sebuah kesuksesan yang lebih. Dirinya merasa terbebani manakala Budiman berkeluh-kesah dalam hidupnya.

***

Kembali ke Masa Kini

Dalam kesendirian Alinah,dirinya berusaha menghadapi persoalan dengan hati yang tegar. enar - benar berikhtiar maksimal. Alinah mencoba untuk hidup mandiri.

Seperti sore itu ketika dia pulang dengan mengendarai sepeda. Alinah mampir ke sebuah warung. Meski warung, tetapi banyak dagangan tersedia di sini. Ada obat - obatan, ada sembako ada minuman dan perlengkapan mandi.

Alinah belanja di warung itu sepulang sekolah

“Bu beli kopi satu renceng, beras seliter. minyak goreng sebotol,” Alinah menyebutkan barang- barang yang di beli di warung itu.

Pemilik warung itu pun melayani pembelian dengan baik. Kemudian Alinah membayar sejumlah uang yang disebutkan oleh pemilik warung itu.

Alinah membeli beras satu Literasi itu karena keranjang sepeda nya tak kuat bila menampung beban terlalu berat. Alinah pun berfikir, sedangkan membeli beras satu Literasi itu pemilik warung tidak akan kesal.

Alinah dengan hati - hati sekali. Jika ada truk di belakangnya Alinah buru- buru berhenti. Minggir beberapa saat. Setelah truk itu lenyap dari pandangan, Alinah mengayuh sepeda dengan perlahan.

Begitu pula kepada Nara. Alinah selalu berpesan pada Nara agar berhati- hati di jalan. Alinah begitu khawatir bila sore hari Nara belum pulang ke rumah.

“Lebih baik kamu berhati- hati Nara bila ada truk kamu minggir dulu, daripada kalau ada apa- apa nanti kamu menyesal nantinya” Tak bosan- bosan Alinah mengingatkan pada Nara.

Alinah juga sebenarnya sangat bersyukur, karena Nara pergi ke sekolah dengan sepedanya. Tidak terbayang oleh Alinah, bakal seperti apa rasa panik yang ada pada dirinya.

Alinah berharap agar Nara bisa mengikuti pelajaran dengan lancar sampai tamat SMA. Setelah itu Nara bisa kuliah dan bisa hidup mandiri nantinya.

**

Episodes
1 BAB 1 Muhasabah Alinah
2 Bab 2 Pengalaman Tak Terlupakan
3 BAB 3: Alinah Bergelut dengan dirinya sendiri
4 Bab 4: Optimisme dalam hidup
5 Bab 5: Alinah jatuh Sakit
6 BAB 6 : Alinah Menulis Novel
7 Bab 7 : Nara Menulis
8 Bab 8 : Alinah cemas
9 Bab 9: Alinah Menulis Cerpen
10 Bab 10: Alinah Kehilangan Sosok Ibu
11 Bab 11: Hari Libur yang Manis
12 Bab 12: Kesedihan Pak Burhan
13 Bab 13: Alinah dan Tania
14 Bab : Perencanaan yang Kurang Matang
15 Bab 15: Kampung yang Heterogen
16 Bab 16: Alinah Singgah di Warteg
17 Bab 17: Menu Masakan Warteg
18 Bab 18: Sisi lain Kehidupan Alinah
19 Bab 19: Alinah hidup Berpindah - pindah Tempat
20 Bab 20: Aktivitas Alinah
21 Bab 21: Alinah Sebagai Motivator Nara
22 Bab 22 : Alinah dan Dunia Literasi
23 Bab 23: Alinah dan Lingkungan Masyarakat
24 Bab 24: Hati yang Gundah
25 Bab 25 : Obsesi Akinah
26 Bab 26: Guru Honor
27 Bab 27: Lanjutan Cerpen Alinah
28 Bab 28: Sayuran Gratis
29 Bab 29: Anak yang Berbakti
30 Bab 30: Anak yang Berbakti
31 Bab 31: Gairah Cinta Alinah
32 Bab 32: Alinah dan Harapan Masa Depan
33 Bab 33: Alinah terus Berjuang
34 Bab 34: Alinah Galau
35 Bab 35: Alinah membuat Konten
36 Bab 36: Tekad Akunah
37 Bab 37: Perjuangan Hidup Alinah
38 Bab 38: Keluh Kesah Alinah
39 Bab: 39 Sisi lain Kehidupan Alinah
40 Bab 40: Sikap waspada Alinah
41 Bab 41: Hati yang Gundah
42 Bab 42: Teka- teki Pak Sasmita
43 Bab 43 : Bimbingan Prestasi
44 Bab 44: Alinah Galau
45 Bab 45: Hasrat Cinta Alinah
46 Bab 46: Semangat Menulis Alinah
47 Bab 47: Alinah Merangkai Kata
48 Bagian 48: Alinah Tak Fokus Menulis
49 Bagian 49: Alinah Penikmat Kopi
50 Bab 50: Pak Sasmita Penikmat Teh
51 Bagian 51: Chat dari Pak Sasmita
Episodes

Updated 51 Episodes

1
BAB 1 Muhasabah Alinah
2
Bab 2 Pengalaman Tak Terlupakan
3
BAB 3: Alinah Bergelut dengan dirinya sendiri
4
Bab 4: Optimisme dalam hidup
5
Bab 5: Alinah jatuh Sakit
6
BAB 6 : Alinah Menulis Novel
7
Bab 7 : Nara Menulis
8
Bab 8 : Alinah cemas
9
Bab 9: Alinah Menulis Cerpen
10
Bab 10: Alinah Kehilangan Sosok Ibu
11
Bab 11: Hari Libur yang Manis
12
Bab 12: Kesedihan Pak Burhan
13
Bab 13: Alinah dan Tania
14
Bab : Perencanaan yang Kurang Matang
15
Bab 15: Kampung yang Heterogen
16
Bab 16: Alinah Singgah di Warteg
17
Bab 17: Menu Masakan Warteg
18
Bab 18: Sisi lain Kehidupan Alinah
19
Bab 19: Alinah hidup Berpindah - pindah Tempat
20
Bab 20: Aktivitas Alinah
21
Bab 21: Alinah Sebagai Motivator Nara
22
Bab 22 : Alinah dan Dunia Literasi
23
Bab 23: Alinah dan Lingkungan Masyarakat
24
Bab 24: Hati yang Gundah
25
Bab 25 : Obsesi Akinah
26
Bab 26: Guru Honor
27
Bab 27: Lanjutan Cerpen Alinah
28
Bab 28: Sayuran Gratis
29
Bab 29: Anak yang Berbakti
30
Bab 30: Anak yang Berbakti
31
Bab 31: Gairah Cinta Alinah
32
Bab 32: Alinah dan Harapan Masa Depan
33
Bab 33: Alinah terus Berjuang
34
Bab 34: Alinah Galau
35
Bab 35: Alinah membuat Konten
36
Bab 36: Tekad Akunah
37
Bab 37: Perjuangan Hidup Alinah
38
Bab 38: Keluh Kesah Alinah
39
Bab: 39 Sisi lain Kehidupan Alinah
40
Bab 40: Sikap waspada Alinah
41
Bab 41: Hati yang Gundah
42
Bab 42: Teka- teki Pak Sasmita
43
Bab 43 : Bimbingan Prestasi
44
Bab 44: Alinah Galau
45
Bab 45: Hasrat Cinta Alinah
46
Bab 46: Semangat Menulis Alinah
47
Bab 47: Alinah Merangkai Kata
48
Bagian 48: Alinah Tak Fokus Menulis
49
Bagian 49: Alinah Penikmat Kopi
50
Bab 50: Pak Sasmita Penikmat Teh
51
Bagian 51: Chat dari Pak Sasmita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!