Bab 4: Optimisme dalam hidup

Malam harinya Alinah termenung sendiri. Dia berada di kamarnya. Sadar dirinya telah merenung seorang diri, Alinah menuju ke dapur untuk mengambil sebungkus bakmi goreng yang tadi telah dibelinya. Bakmi goreng yang dipadu dengan sayuran itu kesukaannya. Alinah menikmati Bakmi goreng di kamarnya. Ada cita rasa tersendiri saat menyantap Bakmi goreng itu. Dia menjadi berselera. Beda dengan Nara, Nara suka dengan Chicken yang tepungnya begitu gurih. Kemudian disantap dengan nasi hangat yang lembek. Dengan begitu Nara terasa menikmati hidup.

Saat Alinah menyantap Bakmi goreng ,tenggorokan terasa kering. Dengan serta merta Alinah memanggil Nara untuk mengambil segelas minuman itu.

“Nara, tolong ambil minuman buat Ibu !’” dari dalam kamar Alinah tak mendengar Nara menyahut panggilannya. Dalam benaknya Alinah berfikir, mungkin Nara tertidur. Alinah berusaha sekuat tenaga agar tidak memarahi Nara dengan sikapnya itu. Alinah berusaha menjadi seorang Ibu yang bijaksana meskipun kini hidup sendirian.

Tak lama kemudian Nara masuk ke kamar Alinah seraya berkata,”Ini Bu minumnya” Alinah meraih gelas minumnya lalu menikmati segarnya minuman itu.

“Kirain kamu sudah tidur, Ra” Tanya Alinah.

“Tadinya Nara sudah mau tidur Bu, tapi terdengar Ibu memanggil Nara’ jelas Nara.

“Tidurlah, Nak.Jangan tidur larut malam’ pesan Alinah.

“Ya Bu.’ kata Nara. Kemudian melangkahkan kaki perlahan menuju kamarnya.

Usai menikmati Bakmi goreng, Alinah terkenang kembali dengan masa lalunya.

Flashback

Bagi Alinah maupun Pak Burhan selalu meratapi nasibnya. Terkait dengan hutang piutang. Biar bagaimanapun juga itu sesuatu yang memberatkan. Jadi mereka mencari cara agar terbebas dari beban itu. Orang-orang yang berlalu lalang di tengah keramaian itu itu seakan-akan tak punya suatu beban apapun. Bagai tak ada penderitaan yang menyelimuti jiwanya. Seperti hanya dirinya dan istri saja yang kini tertimpa persoalan yang berat. Padahal, di luar sana bisa jadi ada seseorang yang sedang mengalami penderitaan yang amat sangat. Pernah ada orang yang bertutur, kehidupan itu seperti pelangi. Pelangi itu selalu berada di atas kepala orang lain. Tidak pernah berada di atas kepala kita. Mungkinkah maksud orang itu sebenarnya adalah orang lain selalu tampak bahagia, meski persoalan hidup tengah mereka jalani. Tidak seperti dirinya yang sedang merasakan suatu duka. Duka sedalam apapun itu yang sedang kita hadapi hanyalah diri kita yang tahu. Di luar sana mereka juga sebenarnya juga tidak mengetahui apa yang sedang kita rasakan.

**”

Masa lalu Alinah ketika bersama Pak Burhan.

Alinah membalikkan badan menuju ke kamar mandi. Sementara itu Pak Burhan menyetrika baju.Mengepel lantai. Keluarga ini selalu bergotong royong dalam mengerjakan tugas rumah tangga. Mencuci baju dan mengepel lantai, itu bukan karena disuruh oleh istrinya. Suami rajin membantu istrinya itu karena dia sadar bila posisi seorang istri itu bukan sebagai pembantu. Posisi seorang seorang istri itu sebagai pendamping suami.

Pak Burhan pernah mendengar tauziah dari seorang ustadz di stasiun televisi swasta.

"Seorang istri bukanlah berperan sebagai seorang pembantu! jadi alangkah baiknya bila di dalam mengerjakan tugas rumah tangganya, seorang suami juga ikut bergotong royong”

ikut berpartisipasi. Saya juga kalau sedang di rumah, mau mencuci baju!" Begitulah penjelasan Pak Ustadz di dalam ceramahnya.

Para jamaah saling melempar pandang. Seakan- akan ingin menyamakan persepsi. Lalu tersirat sebuah pertanyaan. Benarkah itu adanya? Setelah saling melempar pandang, para jamaah saling diam dan tertunduk. Setelah itu, mereka kembali menyimak materi ceramah yang disampaikan oleh Pak Ustadz.

Bahkan menurut cerita dari para jamaah, semenjak Pak Ustadz menyampaikan ceramahnya itu banyak para jamaah ikut berpartisipasi di dalam mengerjakan tugas-tugas sehari hari di dalam rumah tangganya mereka. Dan sang istri merasa senang karena tugasnya lebih ringan.

Setelah mencuci, mengepel lantai, Pak Burhan menunaikan ibadah sholat dhuha. Shalat dhuha baginya itu sebuah rutinitas yang begitu amat disayangkan bila sehari saja tidak ditunaikan. Pak Burhan menjalani usahanya sebagai seorang pedagang. Meski bukanlah bisnis yang beromset milyaran rupiah. Tapi setidak- tidaknya dia punya jiwa bisnis.

Bahkan ada seorang Ibu muda yang berkomentar "Bapak ini rajin banget berjualan! Ulet dalam menjalankan usahanya"

Alinah membatin, saya juga inginnya bisa melaksanakan shalat dengan teratur, saya juga ingin seperti orang orang diluar sana yang senantiasa Istiqomah dalam shalat lima waktu dengan segala fasilitas yang tersedia untuk beribadah. Namun apa hendak dikata. Alinah belum beruntung seperti orang- orang di luar sana. Yang punya rumah dengan segala fasilitas hidupnya. Tapi Alinah berusaha untuk mencapai semuanya itu. Barangkali untuk saat ini belum. Mudah-mudahan suatu saat nanti akan terwujud keinginan Alinah.

***

Pak Burhan orangnya pendiam. Tetapi bila bersama Pak Burhan dia tidak pendiam. Banyak hal yang dibicarakan di dalam menjalani hari-harinya. Juga tipe laki-laki yang setia pada istrinya. Sangat baik perangainya. Lembut di dalam setiap tutur katanya. Walau dirinya sangat ulet di dalam bekerja, namun saat ini dia diuji dengan kesengsaraan hidup. Kehidupan yang terasa pahit dan getir. Mungkin itu adalah suatu takdir yang harus dia lewati bersama sang istri tercintanya. Sakinah maupun Pak Burhan, saat ini tak berdaya. Tetapi terus bertahan untuk dapat berjuang dalam hidup dan kehidupan nya.

Tapi ada satu hal yang membuat Pak Burhan tidak dapat mengerti di dalam kehidupan ini, yah! Sebuah misteri kehidupan.

"Usaha sudah! Doa selalu kupanjatkan! Bahkan aku juga bersedekah!. Tapi belum berhasil? Bahkan saat ini malah sedang diuji dengan banyak hutang!" Pak Burhan mendesah. Agar bisa bernafas dengan lega.

Menghadapi ujian itu. Pak Burhan hanya berintrospeksi diri, berdoa dan berusaha. Terus memohon kepada Sang Maha Pencipta agar dapat terbayar semua hutang-hutangnya.

***

Pukul 10.00 Alinah bangun dari tidurnya. Alinah saat itu memanggil Pak Burhan.

"Pak hari ini aku tidak bisa ke sekolah. Badanku lemas!" keluhnya.

Pak Burhan mendekat ke sisi tempat tidur Alinah. Didapati tubuhnya sangat lemas. Pak Burhan mengamati tubuh istrinya yang terkulai lemas itu.

"Ya sudah, kalau memang benar-benar sakit. Sebaiknya tidak usah mengajar dulu! Beristirahat saja!" Pak Burhan menasehati istrinya yang terkulai lemas.

Bagai kapas yang berterbangan lalu tertiup angin kencang. Itulah suasana hati Pak Burhan. Kedua kakinya serasa tak menapaki bumi. Berusaha untuk merubah keadaan walau dia tak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Kebahagiaan hidupnya sirna. Duri-duri penghalang nampak di depan mata.

***

Kenangan Masa lalu

Jadwal mengajar Alinah jam satu siang. Di sekolah tempat mengajarnya, ada jadwal sekolah di pagi hari

"Usaha sudah! Doa selalu kupanjatkan! Bahkan aku juga bersedekah!. Tapi belum berhasil? Bahkan saat ini malah sedang diuji dengan banyak hutang!" Alinah mendesah. Agar bisa bernafas dengan lega.

Menghadapi ujian itu. Pak Burhan hanya berintrospeksi diri, berdoa dan berusaha. Terus memohon kepada Sang Maha Pencipta agar dapat terbayar semua hutang-hutangnya.

.

Terpopuler

Comments

Black Jack

Black Jack

Pengalaman yang luar biasa

2024-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Muhasabah Alinah
2 Bab 2 Pengalaman Tak Terlupakan
3 BAB 3: Alinah Bergelut dengan dirinya sendiri
4 Bab 4: Optimisme dalam hidup
5 Bab 5: Alinah jatuh Sakit
6 BAB 6 : Alinah Menulis Novel
7 Bab 7 : Nara Menulis
8 Bab 8 : Alinah cemas
9 Bab 9: Alinah Menulis Cerpen
10 Bab 10: Alinah Kehilangan Sosok Ibu
11 Bab 11: Hari Libur yang Manis
12 Bab 12: Kesedihan Pak Burhan
13 Bab 13: Alinah dan Tania
14 Bab : Perencanaan yang Kurang Matang
15 Bab 15: Kampung yang Heterogen
16 Bab 16: Alinah Singgah di Warteg
17 Bab 17: Menu Masakan Warteg
18 Bab 18: Sisi lain Kehidupan Alinah
19 Bab 19: Alinah hidup Berpindah - pindah Tempat
20 Bab 20: Aktivitas Alinah
21 Bab 21: Alinah Sebagai Motivator Nara
22 Bab 22 : Alinah dan Dunia Literasi
23 Bab 23: Alinah dan Lingkungan Masyarakat
24 Bab 24: Hati yang Gundah
25 Bab 25 : Obsesi Akinah
26 Bab 26: Guru Honor
27 Bab 27: Lanjutan Cerpen Alinah
28 Bab 28: Sayuran Gratis
29 Bab 29: Anak yang Berbakti
30 Bab 30: Anak yang Berbakti
31 Bab 31: Gairah Cinta Alinah
32 Bab 32: Alinah dan Harapan Masa Depan
33 Bab 33: Alinah terus Berjuang
34 Bab 34: Alinah Galau
35 Bab 35: Alinah membuat Konten
36 Bab 36: Tekad Akunah
37 Bab 37: Perjuangan Hidup Alinah
38 Bab 38: Keluh Kesah Alinah
39 Bab: 39 Sisi lain Kehidupan Alinah
40 Bab 40: Sikap waspada Alinah
41 Bab 41: Hati yang Gundah
42 Bab 42: Teka- teki Pak Sasmita
43 Bab 43 : Bimbingan Prestasi
44 Bab 44: Alinah Galau
45 Bab 45: Hasrat Cinta Alinah
46 Bab 46: Semangat Menulis Alinah
47 Bab 47: Alinah Merangkai Kata
48 Bagian 48: Alinah Tak Fokus Menulis
49 Bagian 49: Alinah Penikmat Kopi
50 Bab 50: Pak Sasmita Penikmat Teh
51 Bagian 51: Chat dari Pak Sasmita
Episodes

Updated 51 Episodes

1
BAB 1 Muhasabah Alinah
2
Bab 2 Pengalaman Tak Terlupakan
3
BAB 3: Alinah Bergelut dengan dirinya sendiri
4
Bab 4: Optimisme dalam hidup
5
Bab 5: Alinah jatuh Sakit
6
BAB 6 : Alinah Menulis Novel
7
Bab 7 : Nara Menulis
8
Bab 8 : Alinah cemas
9
Bab 9: Alinah Menulis Cerpen
10
Bab 10: Alinah Kehilangan Sosok Ibu
11
Bab 11: Hari Libur yang Manis
12
Bab 12: Kesedihan Pak Burhan
13
Bab 13: Alinah dan Tania
14
Bab : Perencanaan yang Kurang Matang
15
Bab 15: Kampung yang Heterogen
16
Bab 16: Alinah Singgah di Warteg
17
Bab 17: Menu Masakan Warteg
18
Bab 18: Sisi lain Kehidupan Alinah
19
Bab 19: Alinah hidup Berpindah - pindah Tempat
20
Bab 20: Aktivitas Alinah
21
Bab 21: Alinah Sebagai Motivator Nara
22
Bab 22 : Alinah dan Dunia Literasi
23
Bab 23: Alinah dan Lingkungan Masyarakat
24
Bab 24: Hati yang Gundah
25
Bab 25 : Obsesi Akinah
26
Bab 26: Guru Honor
27
Bab 27: Lanjutan Cerpen Alinah
28
Bab 28: Sayuran Gratis
29
Bab 29: Anak yang Berbakti
30
Bab 30: Anak yang Berbakti
31
Bab 31: Gairah Cinta Alinah
32
Bab 32: Alinah dan Harapan Masa Depan
33
Bab 33: Alinah terus Berjuang
34
Bab 34: Alinah Galau
35
Bab 35: Alinah membuat Konten
36
Bab 36: Tekad Akunah
37
Bab 37: Perjuangan Hidup Alinah
38
Bab 38: Keluh Kesah Alinah
39
Bab: 39 Sisi lain Kehidupan Alinah
40
Bab 40: Sikap waspada Alinah
41
Bab 41: Hati yang Gundah
42
Bab 42: Teka- teki Pak Sasmita
43
Bab 43 : Bimbingan Prestasi
44
Bab 44: Alinah Galau
45
Bab 45: Hasrat Cinta Alinah
46
Bab 46: Semangat Menulis Alinah
47
Bab 47: Alinah Merangkai Kata
48
Bagian 48: Alinah Tak Fokus Menulis
49
Bagian 49: Alinah Penikmat Kopi
50
Bab 50: Pak Sasmita Penikmat Teh
51
Bagian 51: Chat dari Pak Sasmita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!