BAB 19.

Siena mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi lalu membantingnya dengan keras. Siena tidak menunjukkan sedikitpun belas kasihan. Dia mengayunkan tongkat kayunya kearah tangan Zihan dengan kuat.

Plak! Siena memukul telapak tangan Zihan dengan keras. Siena bertanya, “Apakah kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu lakukan?”

Zihan hanya diam dan tidak berbicara. Plak! Egonya sangat tinggi! Dia tidak akan atau mungkin dia tidak menyadari kesalahan apa yang telah dilakukannya malam ini.

“Apakah kamu tahu kesalahan apa yang kamu lakukan?”

Zihan terus diam. Plak!

“Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa? Apakah kamu bisu? Bukankah kamu cukup banyak bicara sebelumnya?” seru Siena dengan marah. ‘Apa sekarang dia tidak mampu bicara lagi? Setelah dia mengalami sendiri bagaimana rasanya berada diujung kematian?’ gumam hati Siena.

Zihan masih tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi matanya yang jahat dan sombong, yang sepertinya tidak peduli pada segalanya, perlahan-lahan mulai menyala. Ingin rasanya dia marah dan menggila seperti yang biasa dia lakukan ketika ada orang yang memarahinya. Tapi kenapa berhadapan dengan Siena, dia tidak mampu berkata-kata?

Siena memukul telapak tangan Zihan sebanyak tiga kali sebelum akhirnya dia berhenti. Dia meletakkan tongkat itu di belakang punggungnya dan menatap langsung ke mata Zihan. “Tuan Muda Kedua, aku tahu kalau kamu itu sombong, keras kepala, dan tidak mau mengaku kalah.”

Tidak ada emosi di wajahnya, tidak ada yang tahu apakah dia marah atau tidak. “Mungkin kamu tidak merasa bahwa semua tindakanmu salah. Apa yang salah? Kamu hanya melakukan apa yang ingin kamu lakukan?”

“Namun, seseorang dapat melakukan apapun yang dia inginkan karena dia memiliki seseorang yang mengatasi semua rintangan untuknya. Abhie tidak memiliki kesehatan yang baik. Sebagai anak kedua dari keluarga Yilmaz, kamu tidak hanya tidak membantu menghidupi keluarga, tapi kamu juga membiarkan Abhie terus mengkhawatirkanmu.”

Memikirkan hal ini, Siena berharap dia bisa menghajarnya beberapa kali lagi! Namun, dia juga tahu bahwa ketika menghadapi anak yang memberontak, dia tidak bisa memperlakukannya dengan baik. Dia harus bersikap tegas pada mereka dan mendisiplinkannya dengan caranya.

Siena memperlihatkan senyuman tipis dan berkata dengan lembut, “Di masa depan, jika ada hal lain yang ingin kamu mainkan, aku bisa pergi bersamamu. Aku juga bisa mengajakmu merasakan aktivitas yang jauh lebih seru dan menantang… Aktivitas yang kamu lakukan sekarang membosankan sekali.”

Setelah mengatakan itu, dia melambai pada Bibi Chia. “Suruh dapur membuat sup jahe. Tuan Muda Kedua kehujanan hari ini, sup dapat membantunya menghilangkan rasa dingin. Selain itu, kita punya beberapa salep yang bisa mengurangi pembengkakan, bukan? Oleskan beberapa pada Tuan Muda Kedua.”

"Ya Nyonya." Bibi Chia segera berlari dan bertanya dengan sopan, “Nyonya, Anda juga kehujanan. Haruskah aku membawakanmu sup jahe ke kamarmu juga?”

“Tentu, maaf merepotkanmu.” Siena mengangguk.

Bibi Chia segera berkata bahwa itu bukan masalah sama sekali. Kemudian, dia dengan senang hati bergegas pergi ke dapur untuk membuat sup. Zihan mendengarkan percakapan mereka berdua. Dia sedikit mengepalkan telapak tangannya dan merasakan sakit yang membakar akibat pemukulan itu.

Zihan belum pernah menerima perlakuan seperti itu sebelumnya. Namun, wanita di depannya ini memerintahkan orang ke kiri dan ke kanan seenaknya setelah memukulinya. Seolah-olah Siena memberinya permen setelah memukulinya? Apakah wanita ini mengira dia begitu mudah dibodohi?

Meskipun itu yang dipikirkan oleh Zihan, namun emosinya melonjak di dalam hatinya. Ketika dia mendengar kata-kata penuh perhatian dan bagaimana Siena memberikan perintah kepada pelayan untuk menyiapkan makanan dan obat untuknya. Zihan pun merasa telapak tangannya tidak terlalu sakit lagi.

Kemudian, dia bertanya, “Apakah kamu sudah selesai dengan menghukumku? Bolehkah aku naik ke atas sekarang?”

Siena mengangguk. “Tidak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu di masa depan. Naik ke atas, mandi air panas, dan ganti pakaianmu dengan yang kering. Jangan sampai kamu nanti masuk angin.” Setelah mengatakan itu, Siena berjalan ke atas terlebih dahulu.

Zihan melihat punggung Siena yang ramping dan anggun dan dia merasakan perasaan aneh di hatinya. Kenapa kakak iparnya ini menghukumnya dengan kejam, lalu memberikan perhatian padanya. Dia bahkan tidak merasa sakit hati sama sekali atas tindakannya. Untuk pertama kalinya didalam hidupnya, Zihan dipukuli seperti itu.

Keesokan paginya, Jimmy menguap saat dia turun. Saat dia melihat Zihan duduk di meja makan, dia langsung terbangun. "Kamu sudah kembali?"

Bukankah dia keluar setiap malam dan melakukan aktivitas yang dapat membunuhnya? Jimmy sama sekali tidak pernah merasa bahwa dia akan terkejut jika suatu hari menerima kabar bahwa Zihan meninggal dalam salah satu petualangan hidup atau mati.

Zihan menatap adik laki-lakinya, yang tampaknya tidak terlalu pintar, dan mengerutkan kening. “Apa hubungannya denganmu?”

"Kamu!" Ekspresi Jimmy langsung berubah, dan dia meraih kerah Zihan dengan keras. “Ini juga rumahku. Menurutmu apa hubungannya denganku?”

“Sangat energik sekali kamu pagi ini?” terdengar suara yang diiringgi suara gesekan kursi roda di lantai. Siena dan Abhie keluar dari lift. Di belakang mereka ada Valerie, yang menundukkan kepalanya dan diam.

Jimmy dengan cepat menyesuaikan ekspresinya dan melepaskan kerah Zihan. Tangannya kemudian mendarat di bahu Zihan. Dia tersenyum dan berkata, “Kak Abhie, kakak ipar, aku melihat kerah kak Zihan sedikit berantakan, jadi aku mengulurkan tangan untuk membantunya merapikannya.”

Zihan dengan tidak sabar menepis tangan Jimmy dan mencibir. Sikapnya buruk.  Siena memiringkan kepalanya untuk melihatnya, dan Zihan tanpa sadar menambahkan, “Kerah bajuku tidak berantakan. Itu hanya gaya berpakaianku saja.”

Siena mendorong kursi roda Abhie menjauh. “Jika kamu tidak mengerti gayamu, berhentilah main-main. Duduklah.”

Kedua bersaudara itu saling memandang dengan senyuman palsu di wajah mereka, mencoba menjaga kedamaian agar semuanya terlihat tenang. Valerie duduk di sebelah Siena. Dia mengambil sup pangsit dengan sumpitnya dan menaruhnya di piring di depan Siena. Dia berkata dengan lembut, “Kakak ipar, waktunya makan.”

Zihan dan Jimmy saling bertatapan pada saat bersamaan. Valerie mengencangkan cengkeramannya pada sumpitnya. Meskipun dia gugup, dia tetap mengumpulkan keberanian untuk melihat mereka. Memangnya kenapa jika dia memperlakukan kakak iparnya dengan baik! Dia ingin bersikap baik kepada kakak iparnya!

Morris memahami apa yang terjadi di antara mereka dan diam-diam meminum susu di gelasnya. Lalu, dia mengeluarkan selembar kertas dari ranselnya. "Kakak ipar..."

Ada sedikit rasa malu di wajahnya, karena dia berperilaku baik dan sopan. Mata hitamnya, sama seperti mata Abhie, menyembunyikan emosi yang muncul dengan cepat. Dia bertanya dengan patuh dan malu-malu, “Ada konferensi orang tua-guru yang akan diadakan bulan depan. Bisakah kamu datang, kakak ipar?”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!