Ketika Zihan sampai di rumah, hari sudah sangat larut. Siena menyalakan lampu. Saat dia menyalakan lampu, dia melihat Abhie duduk di sofa di ruang tamu. Tatapannya berat dan ekspresinya tenang. Sepertinya dia sengaja menunggu mereka?
Siena tanpa sadar melirik kearah Calvin yang mengikuti di belakangnya. Yang dengan cepat melambaikan tangannya menunjukkan bahwa dia tidak mengatakan apa-apa. Siena telah menyita teleponnya, jadi bagaimana mungkin dia bisa punya kesempatan untuk memberi tahu Abhie tentang kejadian di tempat balapan?
Zihan, yang belum pulih dari pengalaman mengerikan malam ini, akhirnya bereaksi dengan lambat. Dia tertegun sejenak sebelum menundukkan kepalanya dan berseru, “Kakak.”
Dia tidak tahu kenapa, tapi saat dia melihat kakak laki-lakinya duduk di sana, dia merasa sedikit bersalah.
Siena juga merasa sedikit bersalah. Perasaannya sama seperti saat neneknya memergokinya berkelahi... Setelah menenangkan diri, dia mengganti sandalnya dan berjalan ke arah Abhie. Dia bertanya, “Ini sudah larut malam, kenapa kamu belum tidur?”
“Karena… aku khawatir istri baruku dan adik laki-lakiku yang bermasalah, terkubur di dasar tebing. Aku tidak bisa tidur tanpa melihat kalian berdua kembali dengan selamat.” Abhie mengangkat kelopak matanya, dan nada suaranya tenang namun dipenuhi gelombang yang bergejolak.
Ketika dia menerima kabar bahwa Siena dan Zihan sedang berlomba di Jalanan Pantai Shan, badai sudah melanda. Tidak peduli betapa cemasnya dia, dia hanya bisa berdoa tanpa daya agar mereka berdua bisa kembali dengan selamat.
Tidak ada yang tahu betapa kesalnya dia ketika dia masih menunggu untuk mendengar bahwa mereka aman. Abhie tahu mengapa Siena pergi mencari Zihan di tengah malam tanpa dia sadari. Siena adalah istrinya, jadi dia berinisiatif untuk menjaga adik-adiknya. Untuk merawatnya, Siena pergi mencari adik iparnya yang sedang ikut balapan di tengah malam.
Dia tahu bahwa Siena melakukannya demi kebaikannya sendiri, tapi dia masih merasa malu. Bisakah dia menyebut dirinya laki-laki ketika dia membutuhkan seorang wanita untuk melindunginya? Seharusnya dia bisa melindungi istri dan adik-adiknya, bukan malah sebaliknya.
Dia membenamkan dirinya dalam kebencian pada diri sendiri, dan tangannya yang besar mencengkeram pegangan kursi rodanya dengan erat. Pembuluh darah di tangannya yang tegas menonjol, dan seluruh urat di tubuhnya menegang.
Pada saat ini, telapak tangan yang agak dingin menutupi tangannya. Siena yang mendekatinya dan berkata dengan lembut, “Maaf telah membuatmu khawatir.”
Siena menata ulang selimut yang menutupi kaki Abhie, dia berkata dengan suara rendah, “Kamu harus banyak istirahat. Jangan khawatirkan apapun. Beberapa hari ke depan kamu harus mempersiapkan operasimu. Jangan khawatir tentang hal-hal ini. Aku baik-baik saja."
Jari-jari tangan Abhie gemetar, dan dia berkata tanpa mengedipkan mata, “Kamu membuat masalah dengannya.” Setelah mengatakan itu, dia menatap dingin ke arah Zihan, yang masih berdiri di dekat pintu masuk. Zihan bahkan tidak berani menatap kakaknya, dia berdiri menundukkan kepala.
Baru setelah Abhie merasakan suhu tubuh Siena melalui sentuhan tangannya, dia menyadari bahwa selama penantian panjang malam ini, dia lebih takut kehilangan Siena. Gadis itu baru berada di dunianya selama beberapa hari, namun dia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya di masa depan.
“Anak-anak tidak bisa bertingkah laku baik dirumah dan diluar sana, jadi sebagai kakak iparnya, aku harus mendidik mereka.” Siena tersenyum lembut. “Jangan khawatir, aku tidak membuat masalah. Aku tahu apa yang ku lakukan sehingga tidak akan ada kecelakaan apa pun.”
Zihan merasa bahwa Siena sengaja mencoba menghibur kakak laki-lakinya. Mengingat bagaimana Siena tumbuh dewasa, bagaimana dia bisa menjalani kehidupan yang penuh dengan hobi yang berbahaya dan mengasyikkan seperti balap mobil? Abhie dipenuhi dengan emosi yang rumit, tapi dia tidak mengatakan apa pun pada akhirnya.
“Antarkan Tuan Abhie ke kamar untuk beristirahat.” Siena memandang Calvin.
Calvin tercengang saat melihat Ny. Yilmaz meredakan amarah Abhie hanya dengan beberapa kata. Bagaimana mungkin? Tuan Abhie selalu menakutkan saat dia marah. Calvin selalu siap dimarahi dan dihukum, jadi mengapa sekarang Abhie tiba-tiba menjadi tenang? Semuanya sudah beres? Seperti itu saja? Begitu gampangnya?
Setelah Calvin merasa tenang, dia dengan cepat mendorong kursi roda Abhie menuju kamarnya yang berada dilantai atas. Tidak peduli pada apapun, selama dia tidak dihukum, maka semuanya baik-baik saja.
Melihat mereka naik ke atas, Zihan, yang masih berdiri di dekat pintu, menghela nafas lega. Dia menyentuh punggungnya yang basah kuyup dan berkata, “Kalau begitu aku akan tidur juga.”
"Tunggu." Siena mengambil ketel di atas meja kopi dan menuangkan secangkir air untuk dirinya sendiri. Jari-jarinya yang ramping dengan lembut mengetuk cangkir itu. “Jangan pergi dulu. Pembicaraan kita belum selesai.”
Setelah meminum airnya, Siena mengeluarkan tongkat kayu yang familiar dari bawah meja kopi dan tersenyum. “Zihan, menurutmu apakah kamu melakukan hal yang benar malam ini? Balapan di tengah hujan dan membuat kakakmu, yang sedang tidak enak badan, mengkhawatirkanmu di tengah malam?”
Zihan tertegun sejenak saat melihat pemandangan ini untuk pertama kalinya. Dia tidak tahu apa maksud Siena. Pandangannya tertuju pada tongkat kayu yang berada di tangan kakak iparnya itu. Dia bertanya-tanya apakah wanita ini ingin memukulnya? Dari mana dia mendapatkan keberanian seperti itu?
“Sepertinya kamu belum menyadari kesalahanmu.” Senyuman Siena sedikit memudar. Namun sikapnya masih tampak santai dan tegas. Dia menatap tajam pada Zihan seolah memberinya peringatan agar segera menyadari kesalahannya dan mengakui.
Zihan tersenyum. Wanita ini tidak berpikir bahwa hanya karena dia adalah kakak iparnya, maka dia berhak memberinya pelajaran, bukan? Lelucon yang luar biasa. Bibi Chia yang bersembunyi di samping tangga memperhatikan semuanya. Ketika dia melihat wajah tampan Zihan tiba-tiba berubah suram, tubuhnya gemetar.
Zihan Yilmaz adalah orang gila yang tidak peduli dengan hidupnya. Dia melakukan apa yang dia inginkan tanpa mempedulikan konsekuensinya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Dia adalah seorang pecandu hal-hal yang memacu adrenalin. Ketika Tuan Besar Yilmaz masih hidup, bahkan dia tidak bisa mengendalikan Zihan dan sering kali sangat marah padanya hingga dia kesulitan bernapas.
Zihan tidak mau mendengarkan kakak iparnya, yang lebih muda darinya. Namun, saat pandangannya tertuju pada gaunnya yang basah kuyup oleh hujan, dia tiba-tiba teringat bibirnya yang terkatup rapat saat dia balapan dan semua tindakannya malam ini...
Memang benar wanita ini jauh lebih enak dipandang dibandingkan wanita lainnya. Setidaknya, dia tidak terlalu menyebalkan. Lupakan saja...... Mengingat Siena basah kuyup oleh hujan hari ini dan masih berani balapan di gunung, maka Zihan akan membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya sekali ini saja.
Memikirkan hal ini, dia menutup matanya dan bertanya, “Lalu apa yang ingin kamu lakukan?”
Siena menjawab, “Ulurkan tanganmu.” Dia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Zihan. Membayangkan saat dia memasuki rumah dan melihat Abhie duduk sendirian di kursi roda menunggunya ketika dia pulang saja sudah membuatnya sedih.
Jika bukan karena Zihan yang berulah dan seandainya Siena tidak ada, apakah Abhie akan menyeret tubuhnya yang terluka ke tengah hujan untuk mencari Zihan? Dia jelas berada di ambang kehancuran, namun adik laki-lakinya yang bodoh tidak mengerti dan menyebabkan segala macam masalah yang membuatnya khawatir!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Widdd Wiwid
seru banget aku sukaa❤️
2024-06-30
1
Etik Widarwati Dtt Wtda
pelan2 mengembalikan keadaan
2024-06-28
1