Nafas Nevan kini sudah tidak beraturan, Aji benar-benar berhasil memancing emosinya. Andai keempat sahabatnya tidak datang, Nevan pasti sudah membabat habis sampah berwujud manusia itu. Nevan menyingkirkan pelan tangan Sean dan Calvin.
"Gue nggak peduli lagi sama dia." Nevan menatap Aji, kali ini terlihat jauh lebih tenang.
"Seriously?" Aji terkekeh geli lalu segera berdiri. "Lo bener-bener nggak peduli? Nggak ada niat nolongin dia dan jadi sok pahlawan lagi?"
"Denger ya Ajinomoto!" sentak Calvin. "Sohib gue tuh udah punya cewek yang spesial, nggak butuh lagi cewek receh kayak dia."
"Cal," tegur Sean.
"Emang bener kan?" Calvin berucap tanpa beban. "Kalau nggak receh, dia pasti nggak bakal jadi penghianat dan manfaatin Nevan."
Jeno menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Aji untuk pergi. "Pergi lo! Nggak usah bahas dia-dia lagi, nggak penting."
Iqbal mengangguk setuju. "Dia itu nggak sepenting maklist abon, paham nggak lo? Btw, mulut lo murah banget kayak permen kaki."
Aji hendak maju dan melayangkan pukulan pada Iqbal, namun Jeno dan Calvin langsung mendorong lelaki itu membuat Aji sedikit mundur. Padahal Iqbal tidak masalah jika Aji memukulnya, bahkan Iqbal bisa memberikan lelaki itu dengan balasan yang lebih.
Luarnya saja Iqbal terlihat polos, tapi yang sebenarnya lelaki itu setiap hari selalu meluangkan waktu untuk berlatih karate. Tatapan Aji tertuju pada Nevan, lelaki itu mendengus geli. Aji masih yakin jika Nevan masih peduli pada sosok yang pernah mengisi hatinya.
"Dia nggak seburuk yang lo pikirin, gue punya penawaran yang bagus buat lo kalau misal lo emang mau ambil dia dari tangan gue." Aji masih mencoba untuk menghasut Nevan.
Nevan maju selangkah. "Gue nggak tertarik sama penawaran lo, ada cewek yang lebih spesial dari dia yang harus gue genggam erat dan selalu gue jaga."
Tangan Aji mengepal karena tidak berhasil memancing Nevan.
"Denger nggak lo? gue lempar juga pala lo pakek sepatu!" Calvin hendak maju, tangannya sangat gatal ingin menggampar mulut Aji.
Sean mengulurkan tangannya ke samping agar Calvin berhenti maju. "Sabar Cal."
"Gue bakal bikin cewek spesial lo itu bernasib sama kayak Zee." Aji langsung pergi begitu saja, meninggalkan Nevan yang hatinya kini sudah mendidih.
"Udah sarap tuh bocah." Jeno menatap kepergian Aji dengan perasaan dongkol.
"Bener-bener naudzubillah," sahut Iqbal.
***
Gosip Nazma yang berangkat sekolah semobil dengan Nevan kini sudah tersebar luas, hampir semua murid satu sekolah tahu berita tentang hal itu. Nazma masuk le kelas dengan kepala yang tertunduk, ia bahkan mendengar jelas suara hujatan yang terlontar dari mulut teman sekelasnya.
"Dia masuk tuh, heran gue. Kok bisa dia berangkat sekolah semobil sama Nevan. Padahal jelas-jelas Nevan tuh paling galak kalau deket sama cewek."
"Cover doang alim, nggak tahunnya receh banget kayak gorengan."
"Nggak ada yang tahu dia udah berapa kali main sama cowok."
"Ngapain juga muka pakek ditutupin segala kayak gitu, sok-sok an menjaga diri padahal aslinya udah rusak."
"Cewek model gopek dia mah."
"Nevan pasti udah diguna-guna tuh sama dia."
"Atau mungkin udah dirayu-rayu pakek cara murah."
Air mata Nazma langsung lolos begitu saja, bahkan ia tetap menunduk saat sudah duduk di bangku miliknya. Hati Nazma sangat terluka, ia terlihat seakan-akan samasekali tidak memiliki harga diri. Nazma juga sadar jika dirinya bukan perempuan yang sebaik itu.
"Azma, kamu benar berangkat sekolah semobil bersama dengan Nevan?" Alif menghampiri Nazma dan memastikan berita itu.
"Iya." Nazma menjawab seadanya.
"Tuh lihat, Alif aja diembat sama dia." Mulut para netizen itu mulai berulah lagi.
"Dia mah omnivora, akik-akik, om-om, semuanya mah diembat sama dia."
Alif berbalik badan dan menatap perempuan-perempuan bermulut licin tersebut. "Bisa tidak berhenti berbicara buruk? Azma tidak seperti itu."
"Udah deh Lif, lo itu jangan deket-deket sama dia. Rabies lo entar, modelan kayak dia itu sebenernya penggoda," ujar salah satu gadis bernama Tessa.
Para siswi itu langsung menyerbu Alif dengan mulutnya yang sangat licin, maklum saja namanya juga netizen.
"Apa kalian tidak malu berbicara buruk seperti itu? Kalian itu perempuan, seharusnya kalian bisa menghargai perempuan yang lain."
Alif tidak berhenti membela Nazma. "Apa maksud kalian dengan kata murah? Azma terlalu berharga untuk kata seperti itu, dan saya yakin Azma bisa dan sangat tahu caranya menjaga diri."
Mereka hanya menganggap ucapan Alif seperti angin lalu, beberapa siswi ada yang telinganya sudah panas, sebagiannya lagi sepertinya sudah kebakaran jenggot. Walaupun Alif terlihat sholeh, berbeda dan tidak seperti murid berandalan lainnya, namun Alif itu termasuk dalam kategori yang diidolakan karena wajahnya yang tampan.
"Jangan dengarkan mereka." Alif kembali menghadap Nazma. "Saya yakin kamu gadis yang baik."
"Makasih, udah mau percaya sama aku." Nazma merasa senang karena ada orang baik seperti Alif, namun hatinya merasa sedih karena dirinya samasekali tidak seperti yang Alif pikirkan.
***
Dikelas Nevan masih memikirkan ucapan Aji, ia memang sudah tidak peduli dengan Zee. Namun Nevan masih punya hati nurani, ia tidak mungkin membiarkan Zee dihancurkan oleh Aji. Tapi jika dipikir-pikir lagi, tidak ada gunanya Nevan ikut campur sesuatu yang berkaitan dengan Zee.
'Setelah semua yang dilakuin sama dia, buat apa gue ngurusin dia lagi?' batin Nevan.
"Hoi!" Calvin memetikkan jarinya tepat didepan wajah Nevan.
"Udah Van, jangan dipikirin omongannya si Ajinomoto." Jeno sibuk mengotak-atik ponselnya. "Apa perlu gue cariin video di youtube tutorial cara ngelupain doi."
"Gue udah nggak peduli sama dia." Suara Nevan terdengar dingin.
Iqbal yang duduk diseberang hanya menyimak sambil duduk anteng memakan nabati.
"Percaya kok Bos, beneran demi oreonya Om Evin." Calvin mengangkat dua jarinya.
"Lo nggak gagal jagain Zee, tapi Zee yang mutusin buat nggak mau lo jagain." Sean menepuk pelan bahu Nevan.
***
Sore ini Nevan berencana untuk menjenguk Ale, dia adalah ponakannya yang berumur dua tahun. Ale sangat tampan, tentu saja tampan karena suami Aylin juga tampan. Nevan selalu bersikap manis pada Ale, berbeda dengan Arthan yang selalu ia juliti setengah mati.
Nevan juga nantinya akan mengajak Nazma membeli beberapa gamis, ia baru tahu jika saat Nazma pulang gadis itu hanya mengambil tas, seragam dan juga buku-buku sekolahnya. Nazma juga menolak saat Nevan ingin mengantar gadis itu ke rumahnya.
"Lo serius nggak pengen ke rumah lo? Nggak kangen sama bokap lo?" Nevan berusaha untuk memancing Nazma.
"Kan kemaren udah pulang." Nazma mencoba agar terlihat tenang.
"Dah lah lupain." Lama-lama Nevan merasa lelah membalas soal Danu. "Gimana tadi? Lo pasti digosipin ya sama anak-anak."
Nazma mengangguk. "Tapi gapapa kok, aku udah biasa dihina kayak gitu."
"Mereka bilang apa aja?" Hati Nevan rasanya sangat tidak suka.
"Mereka bilang aku receh kayak gorengan, aku udah rayu kamu pakek cara murah, aku udah rusak, mereka juga bilang---"
Nevan menutup mulut Nazma dengan menggunakan telapak tangannya, ditambah lagi Nazma sedang tidak memakai cadar sekarang. Otomatis telapak tangan Nevan langsung bersentuhan dengan bibir Nazma, sepertinya Nevan hobi sekali membuat jantung Nazma berdebar.
"Sorry." Nevan reflek menurunkan tangannya. "Udah jangan dilanjutin lagi."
"Nevan, seandainya aku emang udah rusak apa kamu---"
Nevan kembali membekap mulut Nazma, suaranya terdengar dingin. "Lo ngomong apa sih Nanaz? Gue nggak bakal biarin ada orang yang ngerusak lo."
Nazma menurunkan tangan Nevan. "Aku cuma mau tahu pendapat kamu."
"Gue bakal habisin dia sampek dia mohon-mohon minta maaf sama lo ... dan gue bakal bikin dia nggak mau lagi yang namanya hidup."
Nazma tertegun, dari suaranya Nevan terdengar sangat tulus.
Nevan menggengam tangan Nazma. "Ayo turun, kan mau ke rumah Ale."
***
Nevan berpamitan pada Ajwa dan Altair, kedua orang itu juga menitip salam untuk Aylin dan suaminya. Tidak disangka-sangka Arthan datang dan meminta ikut, tentu saja Nevan menolaknya mentah-mentah. Karena tuyul itu pasti nanti akan menempel-nempel pada Nazma.
"Mau ikut ke lumah bocil," pinta Arthan.
"Gayaan lo manggil ponakan kesayangan gue bocil, lo juga masih bocil Tuyul!" Nevan begitu gemas hingga ingin mencubit paru-paru Arthan.
"Kak nanas, Althan ikut ya." Arthan memegang tangan Nazma.
Nazma tersenyum dibalik cadarnya, gadis itu memang telah kembali memakai cadarnya. "Boleh."
Nevan melotot galak. "Heh! Lo nggak ada hak ngasih izin."
"Eh ...." Nazma gelagapan. "Arthan izin ke Bang Nevan ya."
"Ayah mau ikut ke lumah Kak Aylin." Arthan tidak kehabisan cara, bocah itu berganti merengek pada Altair.
Wajah Nevan sudah seperti singa yang ingin menelan mangsanya hidup-hidup, punya adik bocil itu memang susah. Sudah pasti Altair akan mengabulkan apapun hal yang diminta oleh Arthan, asalkan hal yang diminta bukanlah hal yang salah.
"Kamu ajak aja adek kamu." Begitulah kira-kira kalimat persetujuan dari Bapak Altair.
"Nggak!" tolak Nevan.
"Nevan, kamu ajak aja ya adek kamu. Kasihan loh dia, Kak Aylin juga pasti seneng ketemu Arthan." Ajwa berucap dengan lembut.
Nevan mendengus kesal, jika Ajwa yang berbicara mana mungkin Nevan bisa menolak.
"Ya udah, tapi dia naik bagasi." Namanya juga Nevan, pasti selalu saja kejam dan julit.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments