Tepat hari ini, adalah hari pernikahan Nevan. Ternyata Altair tidak main-main soal ucapannya kemarin, pria itu benar-benar serius akan menikahkan anaknya. Beruntung hari ini adalah hari minggu, dan Nevan tidak perlu membuat surat izin karena tidak masuk sekolah.
Jika tidak hari minggu orang-orang pasti curiga, karena keempat sahabatnya pasti juga tidak akan masuk sekolah karena menghadiri acara pernikahannya. Tapi Nevan masih bertanya-tanya dalam pikirannya, rasanya ia tidak siap jika yang ia nikahi bukanlah Nazma yang sama.
"Nevan lihat siapa yang dateng." Altair masuk ke dalam kamar Nevan, diikuti oleh Ajwa dan seorang perempuan berhijab.
"Siapa?" Nevan yang tadinya duduk di kursi belajar kini langsung berdiri.
"Calon istri kamu." Altair berucap tanpa beban.
Nevan menatap perempuan itu, dia bukanlah Nazma. "Katanya mau dinikahin sama Nazma."
"Ya, dia Nazma." Altair samasekali tidak peduli dengan Nevan yang kini protes kepadanya.
"Nggak, dia bukan Nazma. Nevan nggak mau nikah, Ayah udah boongin Nevan."
"Orang dia Nazma, kamu ini gimana? Kemaren minta nikah, sekarang dikabulin malah nolak." Altair terlihat sangat galak.
"Dia bukan Nazma Ayah, Nevan itu maunya Nanaz. Cuma Nanaz, nggak mau yang lain." Nevan terlihat kesal. "Lagian perempuan itu, kelihatan tua."
"Nevan, dijaga omongannya," tegur Ajwa.
Ajwa tidak habis pikir dengan putranya yang sangat ceplas-ceplos, ia takut perempuan yang ada di sampingnya nanti akan tersinggung. Sementara perempuan yang disamping Ajwa hanya diam, ia hanya tersenyum canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Bercanda." Altair menyenggol lengan Nevan. "Serius amat."
"Hah?" Nevan yang masih sewot kini semakin tidak mengerti.
"Dia cuma tukang rias, bukan calon istri kamu." Altair berbicara dengan santai.
Nevan sedikit tenang, padahal tadi ia sudah terkejut, deg-degan, tidak menyangka, dan ingin kabur dari rumah, tapi ternyata kok malah cuma diprank.
"Ayah, nggak lucu." Nevan menatap datar Altair.
"Nggak lagi ngelawak." Altair juga menatap Nevan tak kalah datarnya.
"Maaf Mbak ... udah ngatain Mbak tua." Nevan menyesal telah mengatai perempuan itu.
Perempuan itu hanya tersenyum. "Gapapa Mas, lagian saya udah punya suami."
"Oh." Nevan tersenyum kikuk.
"Ini suami saya." Perempuan itu menunjukkan foto seorang tentara yang ada di ponselnya.
Perempuan tersebut sangat ramah, gara-gara ayahnya Nevan telah mengatai perempuan itu tua. Untung saja suami tentaranya itu tidak tahu, jika tahu habis sudah riwayat Nevan. Melihat Nevan yang begitu antusias saat hanya ingin menikahi Nazma, membuat Ajwa tersenyum dibalik cadarnya.
"Nggak usah sewot lagi, iya iya nikah sama Nanaz." Kapan lagi Ajwa bisa menggoda putranya yang sangat galak itu.
"Nanaz nggak tuh." Altair kembali menyenggol lengan Nevan.
"Apa sih." Nevan memalingkan wajah, salah tingkah rupanya.
Arthan tiba-tiba datang dan berlari memeluk Ajwa, tinggi anak itu hanya sebatas perut Ajwa.
"Abang jadi nikah sama buah Bunda? Buah nanas?" Arthan sangat polos.
Ajwa mengusap rambut Arthan. "Bukan nanas Sayang, tapi Kak Nanaz."
"Iya Kak nanas." Namanya juga anak kecil, pasti bikin greget. "Hebat, buah bisa nikah."
"Tadi sebelum ke sini saya sempet ke rumah Mbak-nya buat ngerias, Mbak-nya cantik banget," ucap perempuan perias itu.
Nevan diam. 'Beneran? Emang cantik?'
Perias itu ke rumah Nevan hanya untuk merias Ajwa, padahal Ajwa kan memakai cadar untuk apa dirias? Jawabannya ya untuk Altair, hanya dia yang boleh menikmati kecantikan Ajwa. Sementara Nevan tidak mau dirias, ia mau tampil apa adanya saja.
"Lihat wajah kamu babak belur gini." Ajwa memegang pipi Nevan. "Kamu mau nikah tapi kayak orang habis kena bencana alam."
"Jeleknya sampek ke akal-akal." Arthan sangat pandai berbicara, entah siapa yang mengajari.
"Arthan, nggak boleh gitu," tegur Ajwa.
"Abang ganteng kok Bunda." Arthan tersenyum lebar, bibit-bibit aktor. Sangat pandai bersandiwara.
***
Pukul sembilan pagi, hampir semua orang tiba di gedung outdoor yang sengaja disewa oleh Altair untuk pernikahan putranya. Altair hanya mengundang orangtuanya, orangtua Ajwa, dan para sahabatnya beserta keluarga mereka sebagai saksi dipernikahan Nevan.
Sebuah mobil putih baru saja tiba, Nazma dengan gaun pernikahannya turun dari mobil. Kemudian disusul oleh ayah Nazma yang bernama Danu, Nazma tampak begitu cantik dengan gaun putih muslimah yang sederhana beserta cadar yang melengkapi penampilannya.
"Ayo." Danu menggandeng tangan Nazma, berusaha agar terlihat menjadi bapak yang baik.
"Ayah, Nazma nggak mau nikah." Gadis itu samasekali tidak tahu siapa calon suaminya, yang ia tahu hanyalah ayahnya telah menjual dirinya.
"Diem kamu, jangan sampek orang-orang denger kamu ngomong kayak gitu." Danu berbisik dengan sangat geram, namun bibirnya masih mengukir senyuman.
"Nazma nggak mau Ayah."
"Keluarga orang yang kamu nikahin itu kaya, kamu bakal bahagia."
"Nazma nggak mau jadi kaya." Tentu saja Nazma tidak mau merelakan hidupnya pada orang yang tidak ia kenal.
"Diem, kamu nggak mau nikah? Oke, tapi kamu harus rela kejadian itu keulang lagi," ancam Danu.
Nazma langsung diam, ia menahan rasa sesak dihatinya. Batinnya benar-benar terluka, namun gadis itu samasekali tidak berdaya. Danu dengan wajah yang dibuat seramah mungkin kini menghampiri Nevan yang sedang berdiri sendiri.
"Dia calon suami kamu." Danu tersenyum menatap Nevan. "Saya ayahnya Nazma."
"Saya Nevan." Nevan menyalimi tangan Danu.
"Kalian bisa ngobrol-ngobrol dulu." Danu akhirnya pamit pergi.
Nazma masih membeku, rasanya masih tidak percaya jika yang akan menikahinya adalah Nevan. Nazma tidak mau berpikir yang tidak-tidak, karena berperasangka buruk adalah perbuatan dosa.
"Ternyata beneran lo, gue kira bukan." Nevan menatap Nazma.
Nazma hanya menunduk dan samasekali tidak menjawab apapun.
"Lo kelihatan terpaksa nikah sama gue." Nevan memperhatikan gelagat Nazma.
Nazma perlahan mengangkat kepalanya, tidak disangka gadis itu malah berkata jujur. "Iya."
"Heh, jangan jujur-jujur." Nevan memasang raut wajah galak.
"Kan bohong nggak boleh." Nazma berkata apa adanya.
Nevan tidak sengaja melihat mata Nazma yang tampak sendu. "Lo juga kelihatan tertekan."
Nazma mengangguk. "Iya."
Nevan berdecak pelan. 'Nih cewek maunya apa sih? Kan kesannya gue kayak ngebet banget nikahin dia, mau marah tapi kan calon istri.'
Nevan tersadar. 'Dih calon istri, nggak salah gue ngomong kayak gitu barusan? Geli banget.'
Sebenarnya Nevan ingin bertanya banyak pada Nazma, namun lelaki itu lebih memilih menyimpan segala pertanyaan yang ada di pikirannya.
***
"Saya terima nikahnya Nazma Alisha binti Danu Safarel, dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
Ijab qabul berjalan dengan lancar, kini kedua mempelai memasangkan cincin di jari manis satu sama lain. Nazma perlahan meraih tangan Nevan dan menciumnya, ada sesuatu aneh yang menjalar dihati Nevan saat hal tersebut terjadi. Entahlah, yang jelas Nevan kembali merasakan perasaan itu.
Nevan juga mencium kening Nazma, lelaki itu memejamkan matanya dan memanjatkan doa didalam hatinya. Walaupun Nevan saat di sekolah berpenampilan berandal, namun lelaki itu mengerti tentang agama. Tentu saja Ajwa lah yang mengajarinya.
"Gue tahu lo terpaksa, gue mungkin bukan cowok idaman lo. Tapi gue bakal berusaha jadi suami yang terbaik buat lo," bisik Nevan.
Nazma hanya diam, ia tidak tahu apakah yang dikatakan Nevan itu benar atau tidak. Tapi yang jelas, Nazma masih merasa tidak pantas menjadi istri Nevan. Setelah ijab qabul Danu langsung pergi begitu saja, Nevan pun menatap pria itu dengan penuh kejanggalan.
"Kapal gue tuh." Jeno mengulurkan jari yang berbentuk saranghae pada Nevan dan Nazma.
***
Keempat sahabat Nevan langsung menghampiri Nevan dan Nazma untuk memberikan selamat, awalnya mereka cukup terkejut saat Nevan tiba-tiba mengabari jika akan menikah. Tapi saat melihat Nevan dan Nazma yang kini sudah berstatus halal, tentu saja perasaan mereka sangatlah senang.
Ditambah lagi Nevan sudah memiliki pawang sekarang, pawangnya kalem pula. Duo kampret saat ini sangat heboh, siapa lagi jika bukan Calvin dan Jeno. Padahal Nevan yang habis nikah, tapi yang bersemangat malah kedua orang itu.
"Hadiah gue buat lo." Calvin menyalimi tangan Nevan dan memberikan satu bungkus sasetan.
Nevan mengintip bungkusan itu, salah-salah nanti Calvin memberinya jamu kuat. Calvin kan agak gila, tapi ternyata bungkusan itu membuat Nevan jauh lebih tidak menyangka.
"Heh!" Nevan beranggapan jika Calvin semakin gila.
Ternyata eh ternyata, Calvin memberi satu saset susu dancow ... dikira bocil mungkin.
"Biar pas malam mempelai sehat, iya nggak?" Calvin meninju pelan dada Nevan.
"Alat pengintai kecil buat live malam terindah." Jeno menunjukkan sebuah alat kecil yang ada ditangannya.
"Je ...." Nevan menatap tajam Jeno.
"Bercanda." Jeno menyengir lebar dan langsung menginjak alat tersebut.
"Gue lagi cuti roma malkist." Dengan polosnya Iqbal menyerahkan wafer nabati dua ribuan.
"Makasih." Nevan tersenyum paksa, lelaki itu berganti menatap Sean. "Lo?"
"Doa yang terbaik buat kalian berdua. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khairin." Sean berucap dengan sangat kalem dan penuh pesona.
Calvin melongo. "Apaan tuh artinya?"
"Semoga Allah memberkahimu dalam segala hal yang baik dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan." Bukan Sean yang menjawab tapi Nevan.
Sekarang sudah yakin jika Nevan itu suami idaman? Nazma saja yang melihat Nevan sampai tidak berkedip, maklum sudah sah.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sarah Yuniani
kupikir ini cerita dikampus ... ternyata anak SMA ...
2024-12-09
0
🇮🇩,inosuke,🇯🇵
wah kejam kali wak
2024-06-25
0
🇮🇩,inosuke,🇯🇵
hah bukan nya anak sklh belum boleh nikah ya?
2024-06-25
1