Bab 17

Benar saja, dalam waktu satu malam keadaan India jadi gempar seketika. Meski demikian Alvin tidak gegabah dengan identitas Calya, karena musuh Alvin yang banyak.

Pencarian di lakukan di mana-mana, di tambah lagi saat ini Alvin tidak memiliki nomor ponsel Calya. Meski mereka sering bertemu dan berbincang, namun mereka tak pernah saling bertukar nomor ponsel.

“Lapor Bos, beberapa orang kita melihat bila Nona saat ini berada di Agra.” Ucap salah satu anak buah Alvin, tak butuh waktu lama untuk Alvin meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke Agra. 

Sebuah tempat yang ramai meski waktu menunjukkan sudah dini hari, Alvin melihat sekeliling hingga salah satu anak buahnya yang saat ini diam-diam mengawasi Calya memberikan kode.

Calya berada di sebuah pelataran mesjid, Alvin langsung berlari hingga akhirnya mereka dapat saling bersitatap kembali.

Calya masih mengenakan pakian yang kemarin dia kenakan, wajahnya nampak pucat dan tanpa ekspresi.

“Calya?” Pekik Alvin, dia berlari dan langsung memeluk wanita itu. Calya mendorong tubuh Alvin untuk menjauh.

“Kenapa kamu menghilang hem? Kamu tahu bertapa khawatirnya aku?” Tanya Alvin, Calya tak bereaksi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Alvin, Calya menepis tangan Alvin dengan cepat.

“Sudah aku katakan, aku sudah menemukan jalan ku Alvin. Kamu sebaiknya pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu ku lagi! Apa kamu belum puas selama ini kamu terus mengganggu ku? Kamu selalu memperlakukan ku dengan seenak jidat mu sejak kita sekolah. Kamu tak pernah menganggap ku sebagai manusia, kamu jahat Alvin!” Ucap Calya, Alvin tertegun dan kembali memeluk Calya.

“Kamu salah, aku melakukan itu karena aku sangat mencintai mu Calya. Kamu tahu bertapa gilanya aku saat melihat kamu berdekatan dengan pria lain hem? Aku berusaha untuk sadar diri, namun aku tidak bisa dan sampai sekarang aku tidak bisa tanpa kamu Calya.” Alvin menangkup kedua pipi Calya dan mengecup bibir Calya dengan paksa.

“Menjauhkan Alvin!” Calya kembali mendorong tubuh Alvin, namun Alvin tidak pergi dia kembali memeluk Calya, karena selamanya dia tak akan melepaskan Calya.

“Kamu tahu aku bahkan sudah membuatkan asuransi untuk mu, kamu tahu bertapa gilanya aku Calya. Kenapa kamu meninggalkan ku setelah apa yang kita lakukan?” Bisik Alvin, Calya ingin menangis mendengar pengakuan Alvin.

“Malam itu sudah berakhir Alvin, kita juga sama.” Ucap Calya, Alvin menggelengkan kepalanya.

“Kamu yang bilang bila kamu tidak akan menyesalinya, maka kamu jangan pernah berpikir untuk dapat pergi dariku Calya. Sekarang katakan, apa aku di mata mu setelah apa yang kita lakukan?” Alvin tak kuasa bila harus hidup tanpa Calya.

“Hiks, hiks, pergilah Alvin! Jangan begini, ku mohon!” Calya menggelengkan kepalanya dalam pelukan Alvin, namun sekarang Alvin tak akan pergi. Kepala Calya merasakan sakit luar biasa kala itu dan Alvin tetap memeluknya.

“Aku mencintai mu, Calya.” Bisik Alvin, tak ada respon dari Calya. Perasaan Alvin menjadi tidak baik-baik saja saat merasakan tangan Calya yang lemas tak berdaya.

“Calya?” Gumam Alvin, namun tak ada respon. Alvin melepaskan pelukannya dan mendapati tubuh Calya yang tidak berdaya.

“Calya!” Pekik Alvin saat Calya nampak tak sadarkan diri, nampak darah keluar dari hidungnya, wajah Calya nampak pucat dan sebuah kartu tergantung di leher Calya.

Itu merupakan kartu pasien, Alvin mengepalkan tangannya dan langsung berteriak dengan gilanya. Sedangkan para anak buah Alvin yang sadar posisi langsung memanggil ambulan dan Calya juga langsung di gendong oleh Alvin.

Para pengawal Alvin memberikan pengawalan pada ambulan itu agar tak ada yang menghalangi jalan mereka, sedangkan Alvin yang berada dalam ambulan menemani Calya nampak sangat panik luar biasa.

(Pengan nyanyi lagu yang ada di filem 3 idiot tuh!)

Mereka sampai di sebuah rumah sakit dan seorang dokter juga nampak datang dengan tergesa-gesa karena waktu masih menunjukkan dini hari, Vanessa yang menghubungi dokter itu dan pada akhirnya dokter itu mau tidak mau harus datang.

Pemeriksaan akhirnya dilakukan, Alvin menunggu Calya dengan risau di depan ruang pemeriksaan. Seorang dokter akhirnya keluar dari sana.

“Dok, bagaimana dengan kondisi Calya?” Tanya Alvin panik, sejak tadi dia bahkan sudah tak enak duduk dan berdiri karena waktu 10 menit yang dihabiskan dokter  terasa sangat lama bagi Alvin.

“Marilah, saya sudah melarangnya untuk jangan berpikir terlalu keras.” Dokter itu masuk pada sebuah ruangan yang diikuti oleh Alvin.

“Dia memiliki meningioma, sebuah tumor di otak. Saya tidak dapat melakukan operasi, ataupun juga melakukan kemo. Selain itu, kasus seperti ini juga sangat sulit didiagnosa karena gejala yang dirasakan oleh pasien hanya sakit kepala dan demam saja, padahal sebelumnya aku sudah memberikan amanat pada Calya dan juga tunangannya.” Ucap dokter itu panjang lebar.

“Apa? Rach?” Tanya Alvin, pria itu mengangguk membenarkan.

“Ya, aku sudah menjelaskan itu pada keduanya.” Ucap dokter itu membenarkan, Alvin mengepalkan tangannya dan langsung berlari dari sana.

“Bos, di mana Calya?” Vanessa dan Kodoi menghentikan langkah Alvin yang tergesa-gesa.

“Di ICU, tolong jaga dia sampai aku kembali.” Ucap Alvin berlalu pergi dari hadapan mereka, Vanessa dan Kodoi nampak kebingungan namun mereka juga langsung pergi ke ruang ICU.

Alvin membawa sepeda motor milik anak buahnya menuju ke sebuah gedung, itu adalah apartemen tempat Rach tinggal. Matahari kala itu masih keluar dengan malu-malu hingga membuat beberapa penghuni apartemen juga ada yang nampak baru bangun.

Tok!

Tok!

Tok!

Alvin mengetuk pintu rumah Rach, hingga nampak seorang pria yang baru mandi keluar dan seorang wanita nampak berada di belakang tubuhnya dan masih menggerayangi tubuh Rach.

“T-tuan Alvin?” Gugupnya, dia tak menyangka bila Bos-nya akan kembali kesana setelah sebelumnya dia hampir dipecat.

Bukh!

Satu pukulan langsung menyasar di pipi Rach, Rach tertegun dan langsung menatap Alvin dengan sengit. Padahal cctv berada di mana-mana namun Alvin malah bersikap brutal kala itu.

“Apa yang anda lakukan!” Pekiknya tak terima, Alvin kembali memukul Rach dan menendangnya hingga pria itu terlempar jauh ke belakang.

“Aku masih memberiku kesempatan untuk hidup kemarin, tapi aku tak menyangka bila kamu lebih gila dari seorang pria Party.” Gerutu Alvin dengan tak henti-hentinya kedua tangannya terus memukuli wajah Rach.

Wanita yang semula bersama Rach langsung pergi dari rumah itu akibat ketakutan, sedangkan Alvin tak mempedulikannya sama sekali. Beberapa penghuni di unit apartemen itu keluar satu demi satu dan melihat kejadian yang terjadi.

“Alvin! Apa yang kamu lakukan, apa salahku!” Rach masih tak terima dirinya dipukul tanpa alasan yang jelas.

“Sekarang aku tahu alasan kamu membatalkan pernikahan dengan Calya, dasar pria gila! Kamu meninggalkan wanita baik yang sedang di ambang kematian!” Teriak Alvin, semua orang menutup mulut mereka mendengar hal itu. Rach sendiri memang dikenal sebagai pria Party namun dia juga sosok yang lembut dan tidak pernah berbuat ulah. Namun setelah mendengar hal itu, mereka terkejut bukan main.

“Tetaplah bekerja di perusahaan ku! Karena bila kamu keluar satu langkah saja, maka satu tembakan akan langsung menyasar pada kepala mu!” Ucap Alvin setelah puas membuat wajah tampan Rach babak belur, selain itu dia juga akan menyiksa Rach dengan sangat perhitungan ke depannya.

Yang mau double jangan sungkan untuk minta ya heheh..

Terpopuler

Comments

Ripah Ajha

Ripah Ajha

triple update juga boleh Thor🥰

2024-06-01

1

Ani

Ani

Kalau bisa triple upnya kak 😁😁😁😁😁

2024-06-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!