Hingga hari pernikahan akhirnya tiba, sebuah mobil yang di sewa oleh uang pribadi Calya datang dan Alvin ternyata menjadi satu-satunya tamu yang di undang oleh Calya. Selain itu, dia juga harus menjadi pendamping Calya dalam pernikahan itu.
Rasanya sangat hancur, mengantarkan wanita yang di cintai untuk menikah dan membeikan Calya pada pria lain adalah siksaan terbesar bagi Alvin. Jujur saja, dia ingin mengamuk setelah acara pernikahan ini usai, dia akan membuat seluruh Mumbai gempar dengan sosoknya.
Dia membawa Calya ke sebuah pencatatan pernikahan di kota tersebut, hingga akhirnya mereka sampai di depan departemen pencatatan pernikahan.
“Hai, ke mana mempelai pria mu?” Seorang wanita yang tak lain adalah rekan kerja Rach nampak menegur saat Calya datang bersama dengan Alvin.
“Sudah, ayo duduk.” Alvin membawa Calya duduk di depan seorang penghulu yang akan menikahkan mereka. Mereka mengabaikan pertanyaan yang keluar dari tamu undangan yang di undang oleh Rach.
“Aku akan mencari Rach, kamu tunggulah di sini.” Ucap Alvin, dia keluar dari rungan itu dan mencari ponselnya. Dia mencari nomor Rach yang semula dia dapatkan dari sang sekertaris.
Sambungan tak terhubung hingga lama sekali, Rach telat sampai dengan 1 jam lamanya. Calya keluar dari ruangan dan mendapati Alvin yang juga nampak risau.
“Alvin, bagaimana?” Tanya Calya, Alvin menggelengkan kepalanya hingga seorang penghulu datang menemui mereka.
“Tuan, maaf sekali. Namun mempelai pria sudah sangat telat sampai dengan satu jam, ada begitu banyak pasangan yang sudah mengantri.” Ucapnya, Alvin terdiam sejenak.
“Tunggu sebentar lagi Tuan, mempelai pria tengah menjemput orang tuanya di Bandara saat ini.” Mohon Alvin, namun Calya tidak demikian. Perasaan di campakkan sudah sangat sering dia rasakan dan saat ini dia kembali merasakan hal yang sama.
Calya keluar dari rungan tersebut menuju sebuah mobil yang dia sewa dan siap meluncur. Perasaan Alvin tentu saja tidak tenang, dia akhirnya mengikuti Calya dengan taksi.
“Ada apa dengan Calya?” Gumam Alvin, dia merasakan firasat yang tidak baik saat itu, namun dia tetap mengikuti Calya hingga akhirnya dia tahu tujuan Calya sesungguhnya.
Calya datang ke apartemen Rach, pintu rumah pria itu nampak tertutup namun pintu rumah itu juga nampak di hias dengan dengan rangkaian bunga bahkan nama Rach terpampang di sandingkan dengan nama Calya kala itu.
Tok!
Tok!
Tok!
Calya dengan isaknya mengetuk pintu ruang itu hingga seorang Rach akhirnya keluar dari rumah itu, Rach terpaku tak kala melihat Calya di sana.
“Kenapa kamu tidak datang Rach? Apa ada kematian di rumah mu hah?” Tanya Calya emosi, air matanya sudah berjatuhan dengan perasaan hancur.
“Maafkan aku Calya, keluarga ku tidak setuju dengan pernikahan kita.” Ucap Rach sendu.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Calya terpompa dengan sangat cepat. Dia menatap Rach yang nampak juga sendu dengan pilihannya.
Calya mundur beberpa langkah hingga punggungnya menabrak dada bidang Alvin, Alvin terdiam tak kala mendapati Calya menangis lebih parah dari sebelumnya.
“Ada apa Calya?” Alvin menatap Calya yang terisak dan tak dapat berkata-kata.
“Ada apa Rach?” Tanya Alvin, Rach menggelengkan kepalanya.
“Dia tak ingin menikahi ku Alvin, hiks.. Dia sama saja seperti orang lain yang mencampakkan aku!” Isak Calya dengan air mata yang beruraian tak henti-hentinya.
“Tenangkan diri mu Calya, kita tidak bisa membicarakan ini dengan berdiri bukan? Kita sebaiknya duduk dan membicarakan semuanya dengan baik-baik.” Ucap Alvin berusaha tenang.
“Bicara apa Alvin! Ini sudah berakhir, dia baj*ingan Alvin! Aku mohon pukul dia sekarang Alvin! Pukul dia! Pukul dia! Pukul dia Alvin!” Teriak Calya histeris, Alvin memeluk Calya yang hampir kehilangan kendali.
“Ada sandiwara apa ini?” Seorang pria paruh baya nampak keluar dari kediaman Rach, Calya tahu itu adalah ayah Rach.
Calya masih terisak dia melangkah maju untuk menghadapi pria tua itu, Calya mengusap air matanya dengan kasar. Sedangkan Alvin berada di belakangnya dan mengapit kedua tangannya untuk tenang, sekaligus untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.
“Rach, kamu pernah bilang bila restu dari orang tua mu hanya formalitas semata. Tapi apa ini?” Tanya Calya, Rach terdiam dia memang pernah mengatakan itu pada Calya.
“Maafkan saya, Rach memang sudah mengutarakan segalanya di jalan tadi. Dan saya sangat keberatan dia menikah dengan anda, pernikahan ini tidak mungkin terjadi! Kami tidak mungkin memiliki seorang menantu yang bahkan telah di usir dari rumahnya sendiri.” Ucap pria itu, Calya menangis luar biasa.
“Baiklah Tuan, anda memang sangat luar biasa.” Calya menutup pintu rumah apartemen Rach dan berlalu dari tempat itu, tentu saja Alvin tak tinggal diam. Dia mengikuti langkah Calya menuju taksi yang semula di tumpangi oleh Alvin.
Alvin membukakan pintu untuk Calya, namun Calya tak merespon dan dia malah menutup pintu mobil itu dengan kasar.
“Kenapa kamu tidak memukulnya Alvin! Kenapa!” Calya kembali histeris dengan keadaan yang ada.
“Bila aku memukulnya, maka kamu akan kehilangan kesempatan kedua Calya.” Ya, Alvin berusaha menyatukan Calya dan Rach karena Rach adalah sosok cinta pertama Calya.
“Kesempatan apa Alvin? Semuanya sudah berakhir!” Teriak Calya, Alvin tahu pasti tidak mudah gagal dalam sebuah pernikahan.
Dia sangat tahu bila Calya saat ini sangat sedih dan Alvin yang berada di sampingnya jelas sangat marah dalam hati, dia bahkan ingin menembak kepala pria itu hingga bocor.
Namun Alvin tak dapat melakukan itu, dia tahu bila Calya pasti mencintai Rach saat ini. Dia tak ingin membiarkan hati Calya menjadi semakin sakit dengan tingkah Alvin yang brutal dan tak masuk akal.
“Kenapa kamu diam Alvin! Kenapa sejak awal kamu tidak bilang bila pria itu tidak baik untuk ku? Kenapa kamu tidak bilang bila pria itu tidak pantas mendapatkan kecantikan yang susah payah kamu berikan pada ku, kenapa kamu tidak mengatakan segalanya dari awal Alvin! Lihatlah wajah cantik ku saat ini! Sekarang semuanya telah hancur dan aku tidak akan menikah Alvin!” Isak Calya dengan histeris luar biasa.
Calya melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya, dia melemparkan cincin itu entah kemana. Calya juga melepaskan sari yang menutupi tubuhnya. Jelas bagian menantang dari tubuh Calya langsung terlihat dan Alvin pilu melihatnya. Calya mengusap bibirnya yang indah dengan kasar, dia juga menghancurkan riasan rambutnya dengan brutal.
“Hentikan Calya, kamu bisa terluka.” Alvin memakaikan kembali sari tipis itu, dia tak ingin melihat keputus asaan Calya seperti ini.
Alvin memeluk Calya dari belakang dan berusaha menenangkan tangis wanita itu dengan lembut, Calya terisak dan menerima pelukan itu dengan hangat.
Bolehkah Calya ingin bilang bila dia ingin selamanya sepeti itu? Calya merasa nyaman bersama Alvin, sakit hatinya seolah menguap saat pelukan itu ada untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ripah Ajha
vin, ayolah nyatakan cintamu, GK tega liat calya😭
2024-05-30
1