CH 19 : Penyelidikan

  

Tianzhun tampak tidak senang karena bidang pandang kotak kaca yang sempit. Namun dia tiba-tiba teringat, bahwa ia pernah memasang kamera pengintai di sekitar kotak kaca lima hari yang lalu, untuk memantau semua yang terjadi di dalam kotak.

Untungnya, di masa lalu dia telah menyiapkan hardisk dengan penyimpanan yang cukup besar, untuk menyimpan hasil rekaman cctv, sehingga dengan itu dia bisa memutar ulang kejadian sejak lima hari yang lalu.

Dia dengan cepat membuka aplikasi kamera cctv di ponselnya, "Tadi malam aku tidur jam dua lewat, jadi aku hanya perlu memutar rekaman cctv mulai jam dua pagi."

Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan video yang terkait dengan kasus "pencurian air".

Di kegelapan malam, sekelompok besar orang tiba-tiba memasuki desa, mereka berpakaian compang-camping layaknya penduduk di desa wuxia.

Di bawah sinar bulan yang redup, mereka dengan hati-hati berjalan menuju kolam air besar di desa, membawa dua ember kayu di masing-masing tangan mereka. Kemudian, mereka dengan hati-hati mencelupkan dua ember tersebut ke dalam kolam, lalu membawanya keluar desa.

Hampir satu jam kemudian, rombongan itu datang lagi, mengambil dua ember air dan melarikan diri seperti sebelumnya.

Mereka melakukan hal itu sebanyak tiga kali dan menghabiskan waktu tiga jam, hingga hari hampir subuh dan rombongan itu tidak lagi kembali.

Dan inilah penjelasan tentang hilangnya setengah kaki air di kolam besar itu.

Melihat adegan ini, Tianzhun tidak tahu harus berkata apa.

Dia meletakkan ponselnya kemudian mendengarkan penduduk desa yang terus berdiskusi.

"Sebenarnya dari mana datangnya pencuri yang berani mengambil air di desa kita."

"Mereka mengambil terlalu banyak, sumber air yang berharga ini diberikan oleh Dewa Agung untuk desa ini, bisakah kita membiarkan orang lain mencurinya?"

"Di mana kepala desa? Tolong keluar dan beri tahu kami, apa yang harus kami lakukan?" Haruskah kami mengikuti jejak kaki ini untuk menangkap pencuri itu dan memukulinya."

"Kita tidak bisa tinggal diam! Kita harus menghajar mereka dan mengambil airnya kembali, jika tidak, dewa pasti akan marah, dan menyalahkan kita karena tidak bisa melindungi air suci yang dia berikan."

Tianzhun berbicara, "An Zhu, tolong beri tahu semua orang bahwa tidak perlu membahas masalah air yang dicuri."

An Zhu yang sedang berada diantara diskusi penduduk desa, tiba-tiba mendengar suara familiar di langit.

Dia mendongak ke atas, kemudian melihat wajah muda Dewa Agung yang tampan dan berwibawa.

Dia kemudian berkata, "Dewa Agung, seseorang telah mencuri hadiahmu, mengapa Anda tidak marah?"

Ketika dia meneriakkan itu, penduduk desa semua menoleh dan segera menyadari, bahwa An Zhu sedang berbicara dengan Dewa Agung mereka.

Suasana seketika sunyi senyap, semua orang segera menutup mulut, tidak berani mengeluarkan suara apapun.

Tianzhun berkata, "Sudah cukup, aku akan mengisi kembali kolam itu, tidak perlu bagi kalian untuk mengejar sekelompok orang yang kehausan, atau berteriak untuk membunuh mereka."

An Zhu dengan cepat menyampaikan kata-kata ini ke seluruh penduduk.

Semua orang segera merubah sikap mereka yang galak, dan mengurungkan niat untuk memburu pencuri air tersebut.

Semuanya bersujud ke langit, "Dewa Agung maha pengasih!"

"Dewa Agung memiliki rahmat besar yang bersifat universal."

"Para dewa selalu menyayangi orang miskin, dan menyelamatkan setiap hambanya."

Banyak pujian Buddhis atau Taoisme yang di ucapkan penduduk desa.

Tianzhun menghela nafas dalam-dalam dan berpikir, "Benar saja, menyelamatkan empat puluh dua manusia kecil saja tidaklah cukup. Selanjutnya, aku harus menyelamatkan lebih banyak manusia kecil, jadi tidak akan ada lagi yang mencuri air dari desa ini. Baiklah, kalau begitu mari kita lakukan, aku harap keuanganku cukup untuk mendukungnya."

Malam itu, ketika hari mulai gelap, empat puluh dua manusia kecil di desa wuxia telah kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, dan seluruh kotak kaca kembali menampilkan pemandangan malam yang hening.

Tapi Tianzhun tidak terburu-buru untuk tidur, ia masih duduk di depan komputer untuk melihat-lihat materi sejarah, yang berhubungan dengan akhir Dinasti Feng.

Pada saat yang sama, matanya sesekali melirik ke kotak kaca, tempat kolam air berada, seolah mencurigai bahwa pencuri air tadi malam akan datang lagi.

Ini sudah larut malam!

Sekarang jam tiga pagi.

Pada malam selarut ini, Kota Nan Qing belum beristirahat.

Hiruk pikuk kehidupan malam era modern sangat beragam, masih ada mobil yang melaju kencang di jalan raya, dan di pinggiran jalan kota terdapat berbagai komunitas yang masih berkumpul.

Sebagian dari mereka sedang makan barbekyu dan minum bir, ada pula yang menyanyikan lagu-lagu viral saat ini misalnya lagu Gilga Sahid, Deny Caknan, sampai Didi Kempot.

Seolah tergiur, Tianzhun mengambil ponselnya, memutar lagu Sewu Kuto, kemudian memesan barbekyu melalui aplikasi.

Tapi pada saat ini, tiba-tiba ada pergerakan di dalam kotak kaca.

Dari tepi utara kotak, muncul manusia kecil lain dengan pakaian compang-camping, ia memandang ke arah desa wuxia beberapa saat, lalu melambai ke belakang seolah memberi instruksi.

Tak lama kemudian, rombongan besar manusia kecil muncul, masing-masing membawa ember dan berjalan mengendap-endap dengan hati-hati.

Tianzhun menutup jendela untuk mengisolasi suara, kemudian mendekatkan telinganya ke kotak kaca.

Suasana di dalam kotak kaca itu sunyi, dan tidak ada suara selain suara langkah kaki dari orang-orang kecil itu.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di kolam besar.

Pemimpin mereka melirik ke arah kolam air dan tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, "Astaga".

Seorang lelaki yang mengikuti di belakangnya berbisik, "Saudara Han, ada apa?"

Pemimpin mereka, Han Liu, menunjuk ke kolam air besar di depannya dan berkata dengan ekspresi heran, "Tadi malam, kita jelas-jelas mencuri banyak air dari sini. Ditambah keperluan air dari penduduk desa wuxia, bukankah seharusnya ketinggian air turun, tapi lihatlah, permukaan air kembali penuh."

Tianzhun : "Kan aku barusan nambahin air ke kolam itu." -_-

Para pencuri kecil yang berkumpul di sekitar kolam air, semuanya terlihat bingung.

Mereka melihat permukaan kolam yang penuh, melihat ke langit, lalu bergumam, "Seharian tidak hujan, bagaimana air di kolam ini bisa kembali penuh?"

"Sungguh sulit dipercaya!"

"Dari mana sebenarnya datangnya air di kolam ini?"

Han Liu juga tampak bingung, tapi dia adalah pemimpinnya. Dia mengesampingkan pikirannya yang tersebar, kemudian berkata dengan dingin, "Mengapa kalian harus peduli? Isi saja ember kalian dengan air secepatnya, jangan banyak omong. Jika kita tidak buru-buru, kita mungkin akan tertangkap, dan penduduk desa ini akan memukuli kita semua sampai mati."

"Itu benar!''

Sekelompok orang itu mendekati kolam, mencelupkan masing-masing ember mereka. Bahkan ada yang membenamkan seluruh kepalanya ke dalam air, dan meminumnya secara langsung...

Tianzhun merasa sedih saat melihat pemandangan ini, "Kasihan sekali mereka."

Dia mengalihkan pandangan dan hendak mengambil segenggam beras, namun ketika dia memikirkannya dengan hati-hati, dia menyadari sesuatu, "Begitu aku memasukkan beras ini kedalamnya, itu akan menjadi beras raksasa. Ember kayu mereka tidak mungkin bisa menampungnya...

"Aku juga tidak bisa membiarkan mereka menggelindingkan butiran beras di tanah seperti yang dilakukan masyarakat di desa wuxia sebelumnya, karena hal itu mungkin akan menyebabkan keributan dan kecelakaan...

"Sebaiknya aku tidak menyiksa mereka dengan butiran beras sebanyak itu."

"Tapi apa yang bisa kuberikan untuk mereka, sesuatu yang dapat mereka masukkan ke dalam ember."

Dia mengalihkan pandangannya dari kantong beras dan beralih ke kantong tepung di sebelahnya.

Tepung modern adalah beras yang digiling menjadi bubuk yang lebih halus. Setelah dimasukkan ke dalam kotak, meskipun akan berukuran 200 kali lebih besar, itu tetap berbentuk butiran, namun tidak terlalu menakutkan.

"Jika aku memberi mereka ini, mereka tidak akan terkejut."

Tianzhun mengulurkan tangan dan mengambil sedikit tepung.

Sementara orang-orang kecil itu sedang berkonsentrasi mengambil air, dia diam-diam meletakkan sedikit tepung di belakang mereka, membentuk gundukan kecil.

Terpopuler

Comments

•§͜¢•ⁿᵘᵐᴮ 🦢🍒hiatus

•§͜¢•ⁿᵘᵐᴮ 🦢🍒hiatus

lho kasian juga dia

2024-01-27

0

Gabutdramon

Gabutdramon

bijak

2024-01-14

0

Gabutdramon

Gabutdramon

kesian ey, mereka mencuri air utk bertahan hidup juga 😭

maaf terbawa suasana.

2024-01-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!