...Ketahuilah :...
...“Sebenarnya kita bukan orang yang terlalu sensitif. Marah itu wajar....
...Semua emosi yang kita rasakan sekarang itu valid. Mau seperti apa pun bentuknya....
...Senang, sedih, marah, kecewa, bahagia hingga merasa jijik dan takut....
...Semua benar untuk kita rasakan....
...Mari belajar menerima diri sendiri dengan tidak menyangkal semua emosi yang sedang kita rasakan.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kez, Om akan mengantarmu ke Indonesia bertemu Papa. Kezia mau kan?” ucap Damian serius.
Kezia terdiam mendengar apa yang barusan di katakan Damian, Kezia mengerutkan keningnya, “Mengantarku?” ulang Kezia dengan penuturan Damian barusan.
Damian hanya menganggukkan kepala dan langsung duduk di samping Kezia.
“Besok pagi kita akan berangkat, jadi bersiaplah” ucap Damian lagi.
Bagai di terpa angin segar, Kezia masih tidak percaya apakah benar mereka akan berangkat besok ke Indonesia, “Om tidak berbohong pada Kezia kan?.”
Damian hanya tersenyum lalu mengusap rambut Kezia, “Apa aku pernah berbohong sebelumnya padamu Nona?.” Damian malah bertanya balik pada Kezia.
“Tentu saja tidak. Om tidak pernah berbohong” jawab Kezia sangat antusias di sertai dengan senyumannya yang semakin lebar. Sungguh Kezia sangat bahagia sekali sekarang bahkan tanpa ragu Ia langsung memeluk Damian yang memang sudah dari dulu Kezia anggap sebagai pamannya.
“Terima kasih. Kezia sangat senang sekali” lirihnya di sertai dengan air mata yang kembali jatuh tanpa permisi.
“Hei, hei. Kau menangis lagi Kezia?” ucap Damian langsung melerai pelukannya dengan Kezia, Ia menelisik wajah gadis kecil itu kembali basah oleh air mata.
“Tidak, aku tidak menangis hanya kelilipan saja” jawab Kezia bohong sembari menghapus sisa air matanya.
“Huft, Kezia kenapa kau membohongi ku, apa lagi kau membohongi dirimu sendiri sekarang? Tanya Damian begitu lembut, Ia bahkan memegang kedua bahu Kezia berharap gadis itu berkata jujur.
“Ungkapkan apa yang kamu rasakan Kezia. Jangan memendamnya sendirian, bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku sudah kau anggap keluarga, hem?” Damian kembali bertanya masih dengan suara lembut.
Mendengar itu Kezia tertunduk bahkan matanya kembali memanas, ada rasa takut dan gugup membalas tatapan dari Damian sekarang.
“Kezia takut Om, aku takut ketika aku selalu jujur dengan apa yang aku rasakan sekarang itu akan membuat Om semakin terbebani” jawabnya dengan suara bergetar.
“Aku takut jikalau aku mengekspresikan apa yang aku rasakan itu akan membuat Om juga akan mengacuhkan ku” lanjutnya.
“Lalu dengan kau memendamnya sendirian, apa itu membuat perasaanmu lebih baik?.”
Kezia hanya menggeleng lemah. Selama ini, semakin Ia memendam apa yang di rasakannya itu semakin membuat dadanya terasa sesak. Tapi jikalau Ia juga jujur, Ia takut semakin di asingkan. Ia masih ingat betul ketika Papanya menyuruhnya untuk pergi ke luar negeri dengan alasan Kezia harus mandiri dan menjadi anak yang baik, patuh dan pintar. Seandainya jika Kezia jujur Ia tidak suka di atur dan di kekang, apa Papanya setuju? Sepertinya tidak, mungkin itu akan membuat Papanya marah.
Entahlah, tapi itu yang di pikirkan Kezia, Ia benar-benar dilema. Jadi pikirnya, lebih baik berpura-pura baik-baik saja dari pada membuat keadaan semakin buruk.
“Berhenti mengacuhkan perasaanmu Kezia, jangan menyiksa dirimu dalam bentuk diam mu itu. Semakin kau diam dan tidak berkomentar, maka orang juga semakin tidak mengerti apa yang kau inginkan bahkan bisa saja mereka akan semena-mena padamu. Jadi, mulai sekarang kau harus bisa belajar untuk mengatakan apa yang kau suka dan tidak kau suka” terang Damian pada Kezia.
Kezia hanya mengangguk saja.
“No, katakan iya bukan hanya mengangguk saja. Mulai sekarang kau juga harus tegas dan mulai belajarlah pada kaki mu sendiri sekarang” tegas Damian pada Kezia.
“Ya, aku akan mengutarakannya mulai sekarang Om” balas Kezia, Ia pikir apa yang di katakan Damian itu memang benar adanya. Semakin Ia diam, maka orang lain semakin tidak mengerti apa yang Ia inginkan. Jadi Kezia sudah bertekad untuk menjadi wanita yang lebih tegas sekarang.
“Bagus, ini baru Kezia” ucap Kezia mengulas senyum.
“Jadi, Kezia sangat merindukan Papa William ya?” tanya Damian dengan suara pelan.
Kezia sejenak terdiam seraya menghela nafasnya, “Ya, tentu saja aku sangat rindu Papa, tinggal Papa yang Kezia punya Om, tapi anehnya Papa malah terkesan dingin sekali pada Kezia seakan Papa tidak merindukan Kezia. Kadang aku berpikir, apa Papa tidak menyayangiku?” sentaknya dengan sedikit kesal bercampur amarah dan juga perasaan sendu.
“Aku sangat rindu rumah di masa kecilku, bukan tentang bangunannya tapi tentang kenangan bersama penghuni rumahnya. Aku rindu sifat Papa yang dulu ketika aku masih anak-anak. Begitu perhatian dan penyayang.”
Ya, Kezia mulai meluapkan apa yang ada di dalam lubuk hatinya.
“Baiklah, semoga dengan kepulangan kita ke Indonesia akan mengobati rindumu untuk Papa” balas Damian.
“Hem, aku pun berharap begitu Om. Tapi, Om tidak merasa terbebani kan dengan permintaan Kezia?” Kezia merasa bersalah sebenarnya karena memaksa Damian untuk menuruti perkataannya, belum lagi jika Damian kena amukan dari Papa nya karena berani membawa Kezia ke Indonesia tanpa izin dari William.
“Kau tahu Kezia, ada hal-hal yang terasa berat sekali untuk di lalui tapi tetap harus di lalui. Terasa sulit sekali di terima tapi tetap harus di terima. Dan itu lah hidup, kadang suka kelewatan memberi sesuatu.”
...----------------...
Jadi guys, ungkapkan saja apa yang kalian rasakan, jangan di pendam. Di tahan hanya akan menjadi beban.
Next💗😘?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
π$@|m∆π~sang putra
beda masalah beda cara,,begitukah kaka cantik
2023-06-04
1
π$@|m∆π~sang putra
kasiann
2023-06-04
1
🥀⃟ʙʀRos🥀
gak selamanya diam itu emas Kezia,jgn lupa pakai filosofi kentut Kezia ditahan merusak badan dikeluarkan merusak kawan lebih baik di keluarkan jd rusak gak harus sendiri 🙏🙏🙏😭
2023-05-15
3