Daffi yang tidak mau mengecewakan sang kaka akhirnya memilih nginap di mansion tersebut. Ya sejak lahirnya Safier, Maggie dan suami serta putera sulungnya memilih tinggal sedniri. Namun atas persetujuan keluarga, mereka akhirnya menempati mansion utama Adipaty yang waktu itu hanya ditempati oleh para Art.
Daffi sedang asyik bermain bersama kedua keponakannya, dan Roberth malah asyik dengan benda pipihnya untuk membalas setiap pesan yang masuk, membahas soal pekerjaan.
"Semuannya, makan malam sudah siap" seru Maggie yang setelah selesai madi langsung menuju ke ruang makan untuk menata makan malam mereka.
"Yeeee kita makan, kita makan, kita makan" seru Peggy bergoyang sambil melangkah mendahului yang lain menuju ke meja makan. Waktu makan adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh gadis kecil tersebut.
Aku seperti melihat diriku sendiri dalam diri anakku. Batin Maggie membayangkan masa kecilnya yang mudah dialihkan oleh makanan yang enak, bahkan sampai dia dewasa.
Daffi dan kedua keponakannya beriringan menuju ke ruang makan sementara Maggie masih terpaku melihat anak-anaknya dan sang adik hingga hilang di balik pintu.
"Kenapa sayang, ko sepertinya banyak pikiran" ucap Roberth yang mendekat ke arah sang isteri.
"Nggak, aku hanya flashback kembali masa kecilku sepertinya semua tercopy di ade" ucap Maggie dengan senyum gelinya membuat Roberth terkekeh karena ia sedikit tahu soal masa kecil isterinya.
"Kamu baru menyadarinya sayang?" ucap Roberth menggandeng isterinya menyusul yang lain.
Maggie mengangguk polos kepada suaminya.
"Mam, ade mau makannya banyak" seru Peggy yang sudah seperti cacing kepanasan di atas kursi karena menunggu sang mama yang baru masuk bersama papanya.
"Ka, aku layani miss Peggy lebih dahulu ya? kasian anaknya udah nggak sabaran" ucap Maggie untuk melayani sang Puteri terlebih dahulu.
"Iya sayang, dahulukan anak-anak" ucap Roberth mengalah.
Ibu dua anak itu dengan telaten melayani anggota keluarganya kecuali Daffi yang memilih tidak merepotkan sang kaka.
"Ade, sebelum makan pray dulu sayang" ucap Maggie mengingatkan sang Puteri yang seperti orang kesurupan melihat makanan.
"Yes mam" ucapnya langsung mengatup kedua tangannya dan menutup mata.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara kecuali dentingan piring dan sendok yang bersentuhan.
Setelah makan malam, Roberth dan keluarga kecilnya serta adik iparnya bersantai sebentar di ruang tamu sebelum beristirahat.
"Daffi, sebaiknya kamu mengambil alih perusahaan Royal-Adipaty. Kamu tahukan? saat ini daddy memaksa kakamu untuk menanganinya tapi apakah kamu mau kedua keponakanmu nanti terabaikan?" ucap Roberth membujuk sang adik iparnya karena jujur bahwa ia tidak mau Maggie bekerja dan mengabaikan pertumbuhan anak-anaknya.
"Baiklah ka, aku akan memikirkannya. Beri aku waktu dua minggu untuk menyelesaikan urusanku di luar sana" ucap Daffi mengalah.
Merekapun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Marni, tolong antar miss Peggy ke kamarnya, dia sudah ngantuk" seru Maggie kepada pengasuh puterinya.
"Iya bu, Miss Peggy ayo kita ke kamar" ucap Marni langsung menuntun gadis kecil itu ke kamarnya di lantai dua.
Para Art di mansion itu memanggil majikan mereka dengan sebutan pak dan bu karena Maggie dan Roberth tidak ingin dipanggil dengan sebutan tuan dan nyonya.
Keesokan Paginya
“Selamat pagi ka Maggie, ka Roberth, bapak sama ibu menitipkan ini untuk abang sama miss Peggy” ucap seorang gadis yang berpakaian kantor yang baru masuk ke mansion itu sambil menyerahkan sebuah bingkisan kepada Maggie.
“papa sama mama sudah pulang dari luar negeri ya?” tanya Roberth yang berdiri di samping isterinya.
“Iya ka, katanya mau pergi lagi” jawab gadis itu sopan.
“Oke biarkan mereka menikmati masa tua mereka” ucap Roberth.
“Asry, tadi ke sini pakai apa?” tanya Roberth lagi.
"Diantar sopir ka" jawab Asry
"Oke kalau begitu berangkat sama aku ke kantor" titah Roberth kepada gadis yang sudah diklaim sang mama sebagai adiknya.
Sejak mama Via memintanya untuk kuliah gadis itu sudah dianggap seperti bagian dalam keluarga Mike. Ya gadis itu adalah Asry yang kini sudah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di kantor Roberth menggantikan Maria.
"Iya ka" jawab Asry sopan.
Maggie mengantar suaminya serta yang lain ke depan mansion karena akan segera berangkat.
"Tante Asly, tante Ike kemana sih? nggak datang-datang" teriak Peggy yang baru bergabung karena baru selesai mandi setelah sarapan tadi. Gadis kecil itu berlari meninggalkan pengasuhnya dan bergabung bersama keluarganya.
"Tante Ike kuliah miss" ucap Asry menjelaskan.
"Oh..." ucapnya singkat.
Acara pamit pamit berakhir dan Roberth serta Asry menuju ke kantor.
*****
Daffi baru saja keluar dari kamar dan langsung pamit untuk pulang ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali terganggu oleh permintaan sang kaka dan kaka iparnya.
"Apakah aku harus mulai kerja? tapi sampai kapanpun aku menghindar pasti daddy sama kaka akan terus mendesakku." gumam Daffi. Pria itu mulai mempertimbangkan setiap bujukan keluarganya, apalagi sekarang kaka iparnya sudah turun tangan untuk membujuknya.
Setibanya di apartemen, pria itu masuk ke kamarnya dan membersihkan diri lalu mulai membuka laptop untuk melakukan pekerjaan yang selama ini ia lakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh keluarganya.
Tak terasa hari sudah mulai siang dan sudah waktunya makan siang.
"Akhh lapar sekali" gumamnya
Ia langsung mematikan laptopnya dan menyambar jaket kulitnya serta kunci mobilnya lalu turun ke lantai dasar lebih tepatnya ke parkiran.
Setelah berputar-putar mengelilingi kota untuk mencari tempat makan yang pas, Daffi akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan yang banyak dikunjungi oleh karyawan kantor di kota itu. menurutnya, pasti makanannya enak sehingga banyak pengunjung.
Dengan santainya ia melangkah masuk dan mencari tempat untuk ditempatinya. Setelah mendapatkan tempat, ia kembali melangkah ke tempat tersebut dan mulai memesan makan.
Sedang asyik memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan, datanglah dua orang wanit.
"Maaf, apakah kami bisa duduk di sini? Semua tempat sudah penuh" ucap ucap salah satunya. Daffi tidak menjawab, ia hanya mengangkat kepala dan menatap mereka dengan sinis lalu kembali menatap ke arah ponselnya.
Dua gadis itu akhirnya duduk wlaupun tidak disetujui karena memanag semua tempat sudah penuh.
Keduanya juga mulai memesan makan tanpa mengganggu pria yang ada di depan mereka.
Ketiganya menikmati makan siang dengan tenang walaupun sesekali kedua gadis itu sedikit berbincang. Daffi menganggap tidak ada orang di sana dan terus menikmati makannya.
Tring tring tring
"Halo" jawab gadis berambut panjang itu
"..... " ucap seseorang dibalik sambungan telepon.
"Baiklah" baiklah.
Sambungan telepon berakhir. Daffi yang sudah selesai makan lebih dahulu langsung membayar dan pergi begitu saja tanpa peduli dengan dua gadis yang membuat moodnya mendadak buruk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Wati_esha
Hmmm Daffi, apakah masih mencintai Ike?
2023-05-31
1
Wati_esha
Apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Daffi?
2023-05-31
0
Wati_esha
Waaah, ternyata itu Asry. 🥰
2023-05-31
0