Episode 5

Tidak butuh lama bagi Cyril untuk menemukan tempat tinggal Ara. Pria itu memandangi bangunan bertingkat dua yang tidak terlalu terawat. Di pagar, ia bertanya pada seorang ibu muda yang sedang menyapu

"Permisi bu, kalau di sini ada yang namanya Ara?" tanya Cyril sopan

Ibu itu menghentikan aktifitasnya menyapu

"Ara yang kerja di rumah sakit? iya ada, kamarnya di lantai 2, itu yang pintunya warna coklat" jawab ibu itu ramah

Setelah mengucaplan terimakasih, Cyril naik ke lantai dua. Ia mengetuk pelan pintu coklat di hadapannya. Beberapa detik kemudian, Ara membukanya dan agak terkejut melihat kedatangan cyril

"Kamu, yang di rumah sakit kan?" tanya Ara

Cyril tersenyum dan mengangguk

"Silakan masuk, maaf berantakan" kata Ara malu

"Ngga apa apa" sahut Cyril tersenyum lagi

Ara mempersilakan pria itu untuk duduk di karpet. Gadis itu pergi mengambilkan minum untuk tamunya

Cyril melihat sekelilingnya. Walaupun tempat tinggal Ara bukan di lokasi yang bagus, tapi kamar ini bersih dan terawat. Di sebelah karpet tempat Cyril duduk ada tempat tidur yang dipenuhi boneka. Di sebelahnya ada meja makan mini lalu ada dinding penyekat dengan dapur dan kamar mandi. Di depan kasur ada televisi kecil, disebelahnya ada meja pendek tempat Ara menaruh beberapa kosmetik.

"Maaf cuma ada teh" sahut Ara

Ditaruhnya cangkir itu di depan Cyril

"Ngga apa apa, sebelumnya saya minta maaf, mendadak dateng kesini, tapi ada beberapa hal yang mau saya tanyakan. Tentang kematian nenek saya" sahut Cyril

Ara terdiam lalu menjawab pelan

"Silakan tanya apa yang mau kamu tau" jawab Ara

Cyril mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.

"Bisakah kamu mengenali pembunuh nenek dari foto yang akan saya tunjukkan?" tanya Cyril

Ara penasaran kemudian mengangguk

"Foto foto yang akan kamu lihat adalah orang orang yang tinggal bersama nenek" kata Cyril

Ia menyerahkan ponselnya kepada Ara

Ara menerimanya dan mulai menggeser geser beberapa foto. Keningnya berkerut tanda berpikir

"Tidak ada" sahut gadis itu menjawab

Cyril terhenyak beberapa saat. Pria itu sudah berharap bahwa Ara dapat membantunya menemukan pembunuh neneknya.

"Kamu yakin?" tanya Cyril lagi

"Sangat yakin" jawab Ara

"Orang yang bersama nenekmu di saat terakhirnya terlihat seperti orang ini" ujar Ara menunjukkan satu foto

"Tante Erry" batin Cyril

"Tapi saya sangat yakin, bukan dia orangnya. Hanya saja potongan rambutnya terlihat seperti orang ini" kata Ara lagi

Cyril merasa luar biasa bingung. Tidak ada lagi orang lain yang tinggal di rumahnya. Bagaimana bisa ada orang lain di rumah keluarganya, apalagi berada di sisi neneknya saat merenggang nyawa

Melihat keputusasaan di wajah Cyril, Ara menjadi iba. Tapi gadis itu yakin, orang yang di lihatnya saat menyentuh jasad Seruni tidak ada di foto

"Kalau ada, saya pasti bisa mengenalinya" kata Ara

Cyril menghela nafas panjang kemudian mengangguk.

"Boleh saya minta nomor telepon kamu?" tanya Cyril menyodorkan ponselnya

Ara mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomornya lalu mengembalikannya pada Cyril. Cyril meminum habis tehnya kemudian berdiri

"Makasi ya ara buat waktunya" kata pria itu

Ara tersenyum dan ikut berdiri

"Iya Cyril, sama sama"

Beberapa menit kemudian, Cyril sudah berada di dalam mobilnya, ia menekan pedal gas dan perlahan meninggalkan tempat tinggal Ara

****

Daffa, Yoga dan Abidzar sedang mengerjakan beberapa laporan di ruang administrasi otopsi

"Itu si Ara, anak itu kemampuannya luar biasa ya" Abidzar membuka suara

Yoga dan Daffa menengok

"Iya, hasil penglihatannya seratus persen akurat" kata Daffa

"Kalau aja banyak orang yang punya kemampuan kaya dia, kerjaan kita ini bisa lebih gampang ya" Yoga menimpali

" Tapi kasihan, udah dua kali aku liat dia luar biasa histeris setelah mendapat penglihatan" kata Daffa

"Kayanya yang beban mental, bisa ngeliat saat saat seseorang meninggal" sahutnya

"Iyalah pasti" kata Yoga

"Kalau aku, mungkin aku udah gila"

Ketiganya terdiam, dan kembali mengerjakan tugas masing masing saat pintu terbuka dan Prof Helmi masuk. Ketiganya langsung berdiri

"Ara belum kesini?" tanya prof Helmi

"Belum prof" jawab ketiga pria itu kompak

" Kalau sudah datang, suruh dia ketemu saya" sahut prof lalu meninggalkan ruangan

Setengah jam kemudian, Ara masuk membawa peralatan bersih bersih

Ketiga pria itu memberitahu Ara, bahwa prof Helmi mencarinya. Setelah selesai bersih bersih, gadis itu menuju ke kantor prof Helmi

"Duduk Ra" kata prof Helmi saat melihat Ara

Ara duduk dengan patuh

"Ini berkaitan dengan gadis yang tenggelam di danau" sahut pria itu

Ara menahan napasnya, mendadak wajahnya pucat

"Gadis itu bernama Ziana Santika. Dan polisi sudah menangkap pelakunya. Orang itu adalah Dimas Prakasa. Pacar gadis itu" kata prof Helmi lebih lanjut

Ara hanya bisa mengangguk, napasnya tercekat di tenggorokan. Gadis itu lega karena polisi sudah menangkap orang yang biadab itu

"Semua berkat kamu Ara?" sahut prof

"Saya?" tanya Ara

"Ya, kamu" kata pria tua itu

"Polisi memang harus menemukan bukti nyata yang cukup kuat untuk menyeret pemuda itu, tapi karena kamu, penyelidikan terfokus pada satu orang dan pihak kepolisian dengan mudahnya mendapatkan bukti" jelas prof Helmi

"Kemampuan kamu sangat sangat berguna. Oleh karena itu, saya menawarkan kamu untuk menjadi staf bagian administrasi di departemen otopsi, kamu bersedia?" lanjutnya lagi

Ara tidak dapat berkata kata selain ucapan terimakasih.

"Terima kasih prof, saya akan bekerja sebaik mungkin" jawab Ara

"Tapi dengan satu kondisi" potong prof Helmi

"Tidak selalu, tapi saya mau kamu membantu saat pihak kepolisian menemui jalan buntu"

Ara kembali terdiam, lama ia berpikir sampai akhirnya mengangguk

"Saya akan berusaha prof" sahutnya

Prof Helmi tersenyum.

"Mulai besok kamu menjadi staf administrasi. Datanglah jam 8, nanti saya akan suruh Daffa menjelaskan apa yang harus kamu kerjakan"

"Baik prof" seru Ara seraya bangkit

"Terima kasih atas kesempatannya prof" seru gadis itu berjalan menuju pintu. Tangannya sudah memegang gagang pintu saat prof memanggilnya

"Ara" panggil prof

"Ya prof?" tanya Ara

"Terimakasih atas bantuannya" kata prof Helmi tersenyum

"Sama sama prof" ujar Aya lalu keluar dari ruangan

****

"Sampai kapan pun kamu akan menjadi milikku Erry" ujar seorang pria memegang foto Erry Danial

"Tidak ada lagi orang yang bisa memisahkan kita. Aku sudah mengirim wanita tua keparat itu ke neraka" bisik pria itu menyeringai dalam gelap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!