Sesuatu di atas plafon kamarku

Aku duduk di meja belajar sambil memainkan ponselku hingga larut malam namun, mataku sama sekali tidak mengantuk. Aku mencoba membaringkan tubuhku ke kasur dan menarik selimut dengan masih menonton video yang ada di ponselku.

Dukk! Duk! Duuk!

Terdengar sesuatu dari atas plafon kamarku, seperti ada yang berjalan di dalamnya.

“Apa ada tikus?” ucapku.

Suara itu terus terdengar hingga aku merasa terganggu, aku pun pergi ke kamar Juna.

“Jun?” ucapku sembari mengetuk pintu.

“Ada apaan?” tanya Juna.

“Kamu belum tidur?” 

“Belum, aku lagi main game. Ada apaan?” tanya Juna.

“Di atas plafon kamarku kayaknya ada sesuatu deh.”

“Hantu kali,” celetuk Juna.

“Apaan sih. Kayaknya ada tikus deh,” ucapku.

“Ah ... Masa sih?”

“Iya. Coba kamu cek ke kamarku,” pintaku.

Aku dan Juna pun berjalan menuju kamar, saat kami masuk suara itu masih terdengar dan lebih berisik dari sebelumnya.

“Kaya ada yang cakar-cakar, apa kucing? Atau musang mungkin,” ucapku.

Juna mengambil sapu dan mengetuk-ngetuk plafon kamarku dengan ujung sapu terdebut.

Saat ujung sapu di pukulkan suara itu seketika hilang, namun anehnya aku tidak mendengar suara lain yang menandakan jika hewan itu pergi.

“Dia diam?”

“Mungkin dia takut karena aku pukul-pukul plafonnya,” sahut Juna.

“Udah ah. Aku mau lanjut main game,” ucapnya.

Baru ingin keluar dari pintu kamarku, suara itu terdengar lagi namun suaranya seperti seseorang menggedor pintu.

Dukk! Duk!

Aku dan Juna terus memperhatikan plafon itu.

“Itu sebenarnya apa sih?” 

“Gak tahu.”

“Ya udah lah aku nginap di kamarmu aja deh,” ucapku.

“Tapi kamu jangan ngorok ya Lin,” ucap Juna.

“Gak lah. Mana pernah aku ngorok.”

Aku mengambil bantal serta selimutku dan menuju kamar Juna.

“Kamu tidur di atas aja,” ucap Juna sambil menarik kasur cadangan yang ada di bawah kasurnya.

“Ya sudah,” sahutku.

Juna mematikan lampu sambil melanjutkan permainan gamenya, sedangkan aku memilih untuk tidur.

*** 

Keesokan paginya saat kami sarapan, aku memberi tahukan kepada mama tentang sesuatu yang ada di kamarku.

“Ma, kayaknya di plafon kamar Elin ada hewan deh,” ucapku.

“Masa sih?”

“Iya Ma. Berisik banget tadi malam akhirnya Elin tidur di kamarnya Juna,” sahutku.

“Ya sudah nanti siang Mama panggilkan tukang buat lihat ada apa di sana takutnya memang benar ada hewan,” sahut mama.

“Juna, taroh dulu HP mu! Makan yang benar!” 

“Ntar Ma. Nanggung nih,” sahut Juna.

“Ingat ya Juna kalau sampai nilai ulanganmu anjlok HP kamu mama sita!” 

“Siap bos! Tenang aja.”

Mama mendengus  mendengar jawaban dari Juna. Usai sarapan aku dan Juna berangkat ke sekolah. Kami berdua biasa berboncengan dengan sepeda motor.

Beberapa teman di sekolah yang tidak tahu kadang menyangka kami berpacaran dan menjodoh-jodohkanku karena mereka bilang jika wajah yang mirip itu berarti berjodoh padahal kami kembar.

Aku dan Juna berada di kelas yang berbeda, aku berada di kelas IPA sedangkan Juna di kelas IPS.

Aku turun dari motor dan berjalan menuju kelas.

“Ciee ... Langgeng terus ya Lin,” ucap Sinta teman sekelasku.

Mendengar hal itu aku hanya tertawa.

“Dih ... Malah ketawa. Udah ngerjain tugas Kimia belum?” 

“Udah dong,” sahutku.

“Oh iya kamu katanya baru pindah kan ya. Aku lihat di statusmu dan ada Juna juga, baik banget dia mau bantuin kamu,” ucap Sinta.

“Ya pasti bantuin lah, kalau gak nanti dia di omelin mamaku,” ucapku.

“Wah ... Sebegitu dekatnya Juna sama mama kamu Lin,” ucap Sinta.

“Ya iya lah itu kan mama dia juga,” sahutku.

“Astaga. Berarti Juna sudah dapat restu dari mama kamu Lin. Selamat ya,” Sinta menjabat tanganku.

Aku pun tertawa terbahak dengan ucapan Sinta.

“Kok kamu ketawa sih, apa ada yang salah?”

“Ya lucu aja. Ha-ha-ha,” sahutku sambil duduk di kursi.

“Ini anak aneh banget, di kasih selamat malah bilang lucu.”

“Kamu tahu nama panjang Juna?” tanyaku 

“Emmm ... Gak sih, lalu apa hubungannya?”

“Juna Adrian Gunawan. Dan aku Elin Adriana Gunawan.”

“Astaga! Serius? Jadi ....” mata Sinta menatapku.

“Kami kembar identik.”

Sinta terdiam sejenak dengan tatapan seakan tidak percaya.

“Astaga Lin, kenapa kamu gak pernah bilang,” sahut Sinta.

“Ya kamu gak pernah nanya.”

“Ya ... Iya juga sih.”

“Sumpah aku gak nyangka ternyata kalian itu saudara kembar, patas aja muka kalian mirip banget,” sambung Sinta.

“Nah sekarang udah jelas kan.”

“Iya jelas banget. Saking jelasnya aku sampai gak percaya, rupanya selama ini aku salah sangka.”

Denting bel sekolah berbunyi pelajaran pun dimulai, aku mengeluarkan buku-buku yang ada di tasku.

“Elin,” ucap Sinta pelan.

“Apaan?”

“Kalau gitu Juna boleh dong aku pepet,” ucapnya.

“Pepet aja sampe dia kegencet,” sahutku.

“Asik ... Jadi semangat deh mencari cinta baru,” ucap Sinta.

“Memangnya yang kemarin mana?”

“Selingkuh! Gila banget mana di depan mata aku lagi.”

“Masa sih?”

“Sssstttt! Nanti kita sambung tuh liat Pak Johan matanya sudah jereng ngeliatin kita dari tadi,” ucap Sinta.

Terpopuler

Comments

Queen Bee✨️🪐👑

Queen Bee✨️🪐👑

nanti beneran takut jun

2023-01-20

0

Putri Minwa

Putri Minwa

mantap

2023-01-19

0

🖤잘리나💎

🖤잘리나💎

upp. lagi thor semangat

2023-01-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!