Bana yang Ku Kenal Itu..
Pagi ini aku terbangun dari tidurku karena alarm yang berbunyi. Aku menguap dan meregangkan tubuh dengan malas. Setelah mandi dan bersiap-siap ke kampus, aku berjalan santai menuju meja makan. Aku agak terkejut dengan kehadiran kak Lattesia di meja makan.
Coco
Loh, kakak kok disini? Bukannya sudah pindah di rumah baru?
Mama
Ya belum dong sayang. Barang-barang kakakmu kan masih disini.
Papa
Nanti sepulang kuliah, kamu bantu kakakmu ya mengangkut barang-barangnya.
Coco
Hah, mengangkut barang-barang kakak yang segaban itu??!!!
tunjukku ke arah kardus-kardus besar yang sudah diletakkan di depan ruang tamu.
Mama
Nanti Willard dan adiknya datang membantu kok. Mereka akan datang bersama dengan sopir pengangkut barang.
Coco
Waduh, seperti pindahan rumah ajah!
Lattesia
Memang kakak pindah rumah tau! Barang-barang kakak banyak banget.
Coco
Tunggu! Memangnya adeknya kak Willard sudah datang dari luar negeri? Aku kok kemarin belum melihatnya datang?
Mama
Kemarin kan sudah datang. Kamu sampai memeluknya juga! Hahaa.. Coco, lucu sekali sih kamu, nak!
Jadi cuma aku yang selama ini nggak tahu kalau adek kak Willard itu Bana??!!!
Kulihat papa berdeham sebentar dan meminum kopinya dengan nikmat. Mama masih tertawa kecil. Sedangkan kak Lattesia tertawa dengan canggung.
Coco
Aku nggak menyangka kalau selama ini kak Lattesia menyembunyikan kebenaran sepenting ini!
Coco
Apa jangan-jangan orang tua ku juga terlibat? Huahhh.. aku nggak tahu lagi deh!
Moon
Hmm.. Jadi Bana itu Banana idolamu? Aku hampir tidak percaya. Dunia ini benar-benar sempit ya..
Coco
Huh! Kak Lattesia malah memintaku untuk melupakan masa lalu dan berteman dengannya. Sudah tahu kalau kami nggak bakalan akur!
Coco
Well, kak Lattesia meneleponku! Khem!
Coco
Huaahh.. canggung banget! Pertemuan nanti bakal canggung banget! Aku harus gimana nih?
Diriku mondar-mandir kesana kemari. Moon mencegatku dengan tongkat tunanetranya.
Moon
Lebih baik kamu sekarang pulang dan menghadapinya dengan penuh keberanian.
Moon
Sudah. Nggak ada tapi-tapian. Buruan gih! Ditunggu kakakmu. Aku juga mau pulang.
Coco
Aku.. antar ya? Aku kan bawa motor.
Moon berbalik dan melepas kacamata hitamnya. Kalau sudah begitu, dia pasti menunjukkan bahwa aku begitu menyebalkan. Kami sudah berteman lama. Jadi aku tahu itu.
Aku segera pergi dengan tergesa-gesa. Moon mengenakan kacamatanya kembali. Aku pun segera pergi meninggalkannya sembari berteriak.
Coco
Eh eh ya.. aku pulang. Sampai besok, Moon. Jangan lupa kerjain tugasnya pak Popo ya! Bubye...
Setelah memarkir motor, kulihat mobil berwarna hitam mengkilat dan truk berada di depan rumah. Aku pun menghela nafas panjang.
'Coco, kamu harus menghadapinya dengan berani. Ingat, dia itu Bana. Bana. Bukan Banana.'
Saat aku memasuki ruangan tamu, kulihat Bana sedang memainkan ponselnya. Dia mulai menyadari keberadaanku. Senyuman yang ia tunjukkan membuat jantungku berdetak begitu cepat.
'Tidak! Itu senyuman Banana. Tapi dia itu Bana!'
Banana
Halo kak Coco. Fansku selama tujuh tahun, raawrrr...
'Iih, sungguh menggelikan. Kenapa bisa selama ini aku habiskan waktu untuk mengagumi orang menggelikan seperti dia?!!!'
Tanpa sadar aku tersenyum kecut sembari membuang muka.
Banana
Hei, perilakumu itu bukan seperti fans yang menyambut baik kedatangan idolanya tahu!
Ku lipat kedua tangan di depan dada dan menatapnya dengan mata berputar.
Coco
Lalu aku harus apa? Menyambutmu dan mengalungimu dengan bunga? idih, norak!
Banana
Nggak salah nih? Otakmu nggak lagi gesrek kan? Kenyataannya kamu mengidolakanku selama tujuh tahun. Kenapa sekarang malah sok sok an bertingkah acuh tak acuh gitu???
Banana
Heh, katamu? Saya ini idol K-Pop. Beraninya kamu tunjuk-tunjuk sambil bilang 'Heh'?!!!
Coco
Ups, sori tuan muda yang narsis. Maaf maaf saja nih ya, aku kasih tahu kamu satu informasi.. mulai hari ini aku berhenti mengidolakanmu! Tapi aku tetap mendukung Shinus. Bukan kamu! Aku akan bakar semua merchandise yang ada wajahmu, puas?!
Raut wajah Bana langsung berubah. Entah kenapa rasanya perkataanku agak keterlaluan.
Lattesia
Hey, Coco sudah datang...
Willard
Aku kira ada ribut-ribut apa. Eh, ternyata kalian sedang mengobrol ya..
Coco
Yaah.. mengobrol kak bukan bertengkar...
Kulihat sejenak, Bana masih berwajah muram. Aku jadi merasa sedikit bersalah. Sepertinya memang benar. Bana sudah berubah. Dia bukan Bana yang jahat dan menyakiti orang yang lebih lemah darinya. Bana adalah Banana yang aku kenal selama tujuh tahun ini. Banana yang mengagumkan.
Lattesia
Coco, kakak harus membereskan barang-barang yang lain. Nah, karena cateringnya susah banget ditelepon, panggilan kakak nggak diangkat-angkat, kakak minta tolong ya kamu pergi sama Bana ke catering untuk resepsi besok. Tolong tanyakan apakah pesanan yang aku minta bisa disediakan besok? Kakak sudah chat ke orangnya kok. Nih alamatnya.
Kak Lattesia memberikan secarik kertas padaku.
Willard
Nanti tinggal gugle map ajah..
Aku langsung terkejut melihat Bana yang secara spontan menarik tanganku. Kak Lattesia melambaikan tangan sembari tersenyum. Sesampainya di mobil, Bana membukakan pintu mobil untukku. Aku merasa heran dengan sikap manisnya.
Banana
Kak Coco, silakan masuk..
Kami berdua sama-sama saling diam sepanjang perjalanan. Tak lama Bana menyetir mobil sembari bersiul. Aku tahu nada siulan itu!
seruku tiba-tiba. Bana menoleh ke arahku sembari tersenyum.
Banana
Kamu tahu lagu itu?
Coco
Tentu saja! Aku kan Venus sejati! Pasti tahu lah!
Bana mulai bernyanyi bagian reff nya. Aku pun mengikutinya bernyanyi. Kami berdua bernyanyi sambil menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri.
Namun saat tengah itu terjadi, Bana sontak terkejut melihat seseorang melintas di depan mobilnya. Dia segera menghentikan mobilnya secara mendadak. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku segera keluar mobil memeriksa keadaan orang tersebut.
Coco
Nek, nenek tidak apa-apa? Ada yang terluka?
Nenek tua itu menggeleng. Aku pun membantunya untuk bangkit dari duduknya. Bana juga keluar dari mobil. Dia melepaskan kacamata hitamnya dan berkacak pinggang.
Banana
Kok bisa sih main jalan seenaknya di jalan?! Punya mata nggak sih?!! Ini jalanan ya bukan area panti jompo!
Comments