Ray yang tidak bisa berkata sepatah kata pun mulai putus asa akan pilihan datang ketempat yang Jerk suruh atau lari. Semakin Ray berfikir, semakin putus asanya juga ia mencari jalan keluar.
‘Tidak ada jalan keluar lain selain lari tanpa sepengetahuan mereka.’ Batin Ray.
Setelah seluruh pelajaran selesai. Ray melangkah ke depan dan mengambil buku yang berada di atas meja guru tersebut.
“Ah Ray, biar bapak saja yang bawakan buku ini. Kamu langsung pulang saja soalnya teman-teman kamu sudah menunggumu.” Ucap guru tersebut sambil menunjuk kearah Jerk.
Ray melirik ke arah Jerk. Ia melihat senyuman aneh Jerk yang sama seperti tahun lalu ketika iya diajak ke hutan lever.
“Kumohon hanya untuk kali ini saja.” dengan sangat pelan kalimat itu keluar dari mulut Ray sambil mencengkram kuat buku yang ia pegang.
Mendengar kalimat itu, Ray diizinkan untuk membawa buku itu keruang kepala sekolah.
Setelah meletakkan buku yang ia bawa di atas meja guru. Ray permisi dan bergegas berlari menuju gerbang belakang sekolah. Ia berlari tanpa henti sambil ketakutan. Disetiap perjalanan pulang ia mengingat serpihan pahit yang ia alami tahun lalu dihutan lever.
‘Mengapa… mengapa aku harus mengalaminya lagi. Diikat... dihajar tanpa ampun. Sudah... sudah cukup, sekarang aku akan menghindarinya. Lebih baik menghilang dari pada harus muncul dihadapannya. Aku tidak mau pulang dengan tubuh yang terluka, dengan ingatan yang akan membuatku trauma.’
Ray berlari menyisiri jalan becek akibat hujan lebat yang datang. Ia tidak memperdulikan pakaiannya yang sudah basah bercampur lumpur.
Setelah sampai di jembatan yang lumayan dekat dengan rumahnya, Ray berhenti berlari dan berjalan dengan normal di atas jembatan.
“Setelah aku melewati jembatan ini aku akan sampai ke rumah.” Ucap Ray sambil berlutut ditengah jembatan kayu tersebut.
“Haaaa… kenapa... kenapa aku begitu menyedihkan. Tuhan kenapa aku harus terlahir seperti ini, KENAPAAA… HAAAAA!” Teriak Ray frustasi sambil menangis.
Hujan deras terus menerus turun dengan lebat hingga membilas air mata Ray yang dari tadi mengalir. Ray yang lemas tidak dapat lagi berjalan hingga hampir satu jam Ray terduduk diam di atas jembatan itu.
“Aku ingin terus seperti ini, tidak ada keributan, tidak ada cacian dan hanya ada aku sendiri yang ditemani hujan.” Ucap Ray perlahan dengan nada rendah bahkan hanya dia saja yang dapat mendengarkan kalimat itu.
Secara perlahan hujan lebat berganti menjadi gerimis. Ray yang perlahan berdiri, mendengar suara orang dari arah kedua sisi jembatan.
“BOS … itu dia.” Ucap Sain menunjuk ke arah Ray berada.
Melihat Jerk dan lainnya mendekat, Ray langsung mengalami Dejavu. Ray mengingat kembali hal-hal keji yang telah mereka perbuat pada dirinya.
Setelah Ray terkepung, ia hanya diam mematung dengan tatapan kosong kebawah.
“Ha ha ha… mau lari kemana kamu sialan. Ha ha ha…! kamu pikir bisa lari dariku dasar kaparat.” Ucap Jerk sambil melangkah mendekat.
Secara perlahan Ray yang dari tadi mematung mulai sadar kembali dari Dejavu yang ia alami. Ia sadar bahwa bukan saatnya untuk mengingat hal pahit seperti itu.
Melihat Jerk dan yang lainnya mendekat. Ray langsung memegang tali yang terbentang melebar pada jembatan itu dan tanpa berfikir panjang, Ray langsung melompat kebawah.
“Tangkap dia.” Teriak Jerk pada Albert yang posisinya paling dekat dengan Ray.
Albert yang berlari kearah Ray tidak sempat untuk menangkapnya. Secara serentak mereka berlima melihat kebawah dan menyaksikan Ray terjun untuk bunuh diri.
‘AKHIRNYA UNTUK SELAMANYA AKU BISA LEPAS DARI MEREKA. MAAFKAN AKU AYAH, IBU DAN ADIKKU SENI.’ batin Ray sambil tersenyum manis melihat kearah langit yang awannya mulai menghilang dan memancarkan sinar matahari sore yang mengenai seluruh tubuh Ray.
“DRUP!” Suara tubuh Ray yang telah jatuh ke dasar jurang bebatuan.
…
“Gelap… aku dimana?. Mengapa aku bisa mendengar suaraku padahal Aku tidak bisa melihat apa-apa, bahkan aku tidak bisa merasakan pergerakan tubuhku. Ahhh… aku baru ingat, aku ternyata sudah mati. Dengan bodohnya aku melompat dari jembatan itu. Mungkin sekarang aku sudah di akhirat.” Suara jiwa Ray yang masih melayang di perbatasan akhirat.
“Ray… Ray.” Suara misterius yang memanggil Ray.
"Ha… siapa?” saut Ray membalas penggilan tersebut.
Secara perlahan Ray mulai melihat cahaya putih yang mendekat kearahnya. Semakin dekat Cahaya itu, semakin jelas wujud yang muncul.
“Ray … apakah kau masih ingin hidup?.” Tanya cahaya yang berbentuk bola kecil dihadapannya.
“Untuk apa aku hidup jika harus merasakan rasa sakit yang sama kembali. Tubuh ini sudah cukup lelah untuk menghadapi semuanya.” Balas Ray.
“Tidak… kamu tidak akan hidup di dunia yang sama lagi. Kamu akan hidup di dunia baru, dunia yang butuh bantuanmu untuk diselamatkan.” Ucap cahaya itu pada Ray.
“Apakah kamu bodoh, di duniaku saja aku tidak memiliki kemampuan apa-apa. Bahkan aku adalah manusia yang menyedihkan.”
Secara perlahan Bulatan cahaya itu berubah wujud menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang dan seluruh tubuhnya diselimuti oleh caya putih.
“Tidak Ray, kamu akan menjadi manusia kuat di dunia baru itu dan kamu adalah satu-satunya orang yang terpilih untuk menyelamatkan kehancuran dunia itu. Aku akan bersamamu berjuang RAY FRINSON.” ucap gadis itu pada pada Ray.
“Jika memang semua yang kamu katakan benar, aku mau. Tapi ada satu yang ingin aku minta darimu.” Ujar Ray
“Baiklah, apa itu.” Tanya wanita itu pada Ray.
“Jika aku hidup kembali. Kumohon jangan pernah renggut orang-orang terdekatku.” Jelas Ray dalam permintaannya itu.
“Baiklah.” jawab wanita itu pada Ray.
Secara perlahan Ray mulai dapat melihat tubuhnya kembali. Ia melihat bahwa dirinya melayang diantara ruang kosong yang hampa. Dan dengan perlahan Roh putih berbentuk gadis cantik itu mendekat dan memeluk Ray.
“Ray… aku akan bersamamu dan menemanimu hingga akhir.” Bisik gadis itu dan secara perlahan menyatu dengan tubuh Ray.
“Suara itu, aku pernah mendengarnya, Suara yang kudapat dalam mimpi. Hah… ternyata mimpi itu jadi kenyataan.” Ray yang Dejavu dengan kalimat yang diucapkan oleh gadis misterius itu.
Setelah menyatu, Ray kembali tertidur dalam kegelapan.
(Beberapa jam setelah Ray tertidur kembali)
Setelah tertidur beberapa saat, Ray mulai sadarkan diri. Akan tetapi ia mulai merasakan pergerakan pada tubuhnya dan bahkan ia dapat merasakan angin dan rumput yang menyentuh kulitnya.
“Aku dimana. Ha?… aku bisa merasakan pergerakan tubuhku kembali dan rumput liar yang sedang ku tiduri.” Ucap Ray sambil mengambil posisi duduk.
“Uh… ha! Aku… aku hidup kembali.” Ray yang terkaget sembari melihat kedua tangan dan seluruh tubuhnya.
Setelah menyadari bahwa ia hidup kembali, Ray langsung melihat area sekelilingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments