Shaka mencoba menyalakan mesin jeep cherokee yang terparkir di halaman luas sebuah rumah joglo. Tangannya memutar starter seraya kakinya menginjak gas, namun nihil. Mobil keluaran tahun delapan puluhan itu tidak kunjung menyala.
"Mati total, Han." Ia berbicara dengan seorang pemuda berbadan tambun yang sedang menyandarkan tubuhnya di badan mobil. "Aku cek businya dulu." Shaka melangkah keluar dan membuka kap mesin, lalu mencari letak benda kecil sepanjang ibu jari itu.
Shaka menggeleng pelan setelah beberapa saat memeriksa ke bawah kabel-kabel yang terlihat rumit. "Waduh, koilnya udah kena nih, Han." Ia menoleh ke arah Handi, sahabat yang dikenalnya dahulu saat masih berkuliah di kota kelahirannya, Jakarta.
Handi menggaruk kepalanya. "Apes tenan (Sial banget), padahal nanti malem mau buat nganter ibu ke Madiun, eh."
"Bisa, tinggal ganti busi ama koil doang," sahut Shaka seraya merogoh saku celananya, mengambil sebungkus rokok lalu menyalakannya sebatang. "Busi sih bawa gue. Cuma koilnya ntar gue minta tolong anak-anak bengkel nganter." Ia menghisap rokoknya dengan hikmat.
"Okelah, terbaek emang kamu." Handi menepuk-nepuk pundak Shaka. "Duduk dulu yo, Ka, aku bikinin kopi."
"Yoow," sahut Shaka seraya memutar badan menuju sebuah bale kecil di bawah pohon nangka yang ada di dekat teras rumah Handi.
Suara gamelan lembut yang sejak tadi ia dengar dari rumah sebelah, masih mengalun memanjakan telinganya. Syahdu, dengan terpaan angin sore yang sepoi-sepoi. Suasana seperti ini yang selalu ia dapat saat berkunjung ke rumah Handi.
Sambil menunggu kopi buatan Handi datang, Shaka menyandarkan punggungnya ke tiang bale, menghisap rokoknya dan menatap ke halaman rumah sebelah yang tidak kalah luas, dengan beberapa sepeda motor yang terparkir di sana.
Beberapa saat kemudian ia melihat sekelompok anak perempuan menghambur keluar dari dalam rumah tua khas era kolonial. Selang beberapa menit kemudian, mata Shaka menangkap sesosok gadis manis berambut panjang muncul dari balik pintu.
Gendhis. Gadis yang siang tadi ia bantu menambal roda motornya yang bocor. Rasa penasaran membawa kaki Shaka melangkah mendekat ke arah pagar bambu yang membatasi antara rumah Handi dan rumah di sebelahnya.
"Gendhis!" panggil Shaka pada gadis bergaun terusan selutut dengan motif bunga-bunga, yang kini sudah berdiri di sisi motornya.
"Loh, Mas-nya yang tadi di bengkel to?" Gendhis mengerenyitkan keningnya. Namun, sejurus kemudian gadis itu menepuk keningnya pelan. "Ya Gusti, saya tadi lupa belum ngganti ongkos nambal bannya. Berapa ya, Mas, tadi habisnya?" Ia merogoh tas selempangnya untuk mengambil dompet miliknya.
"Udah, nggak usah." Shaka terkekeh.
"Aduh, jangan, Mas. Udah ngerepotin, masa gratis juga."
"Beneran, nggak usah. Serius."
"Tenane iki (Beneran ini)? Wah, terimakasih banyak loh, Mas."
"Santai." Shaka mengulas senyumnya. "Ada di sini ngapain?" tanyanya penasaran. Ia tahu kalau rumah sebelah adalah sanggar tari milik tetangga Handi.
"Oh, saya ngajar tari di sini."
"Oh ya?" Shaka tampak terperangah. Pasalnya, tadi siang saat mengobrol dengan Gendhis, ia sempat berpikir kalau gadis itu sangat cocok jika berprofesi sebagai seorang penari. Rupanya memang benar adanya. Gendhis seorang penari.
"Udah lama ngajar di sini?" tanya Shaka.
"Baru beberapa bulan, sih."
"Aku sering main sini, loh. Kok nggak pernah lihat kamu, ya?"
Gendhis menyunggingkan senyumnya. Di mata Shaka terlihat begitu manis. "Saya nggak tiap hari ngajar, Mas. Seminggu tiga kali. Senin, rabu sama jum'at. Itu juga sore hari."
"Owh, pantes, ya ... nggak pernah lihat." Shaka menggaruk tengkuknya.
"Mas ... siapa namanya?" tanya Gendhis.
"Shaka, Shaka. Namaku Shaka." Shaka menyahut cepat.
"Mas Shaka temennya Mas Handi, ya?"
"Oh, ya ... bener. Temen kuliah dulu di Jakarta. Udah kaya sodara, sih."
Gendhis mengangguk-angguk. "Asalnya dari Jakarta?" Ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Tepat sekali." Shaka kembali terkekeh. "Rumahmu di sekitar sini?"
"Saya di Singosaren, Mas."
"Wah, di mana tuh? Aku belum hapal banget Jogja, sih."
"Sekitar enam manit dari sini, Mas."
"Oowh." Shaka mengangguk-angguk tanda mengerti. Meskipun ia tidak tahu tepatnya di mana. "Eh, asyik banget, ya ... kerjaan kamu. Guru TK, guru tari. Keren," pujinya.
"Kalau nari udah dari kecil, Mas." Gendhis berusaha menghindari tatapan mata bermanik coklat di hadapannya itu. Entah kenapa ia merasa sedikit gugup di hadapan pemuda berkulit putih yang terlihat tampan dibalut kemeja warna hitam dengan bagian lengan digulung sebatas siku, lalu celana jean warna biru terang dan sepatu casual. Rambutnya yang hitam itu sedikit berantakan.
"Oh, gitu. Sering ikut pentas, dong," tebak Shaka.
"Saya nari di Keraton, Mas."
"Oh, wow ... keren banget. Pingin dong nonton kalau pas kamu pentas," ujar Shaka antusias. "Eh, tapi, orang umum nggak bisa kan, ya, nonton tari-tarian di Keraton," ralatnya.
Gendhis menelan saliva untuk membasahi tenggorannya yang terasa kering. "Bisa kok, Mas. Setiap hari minggu ada pentas kesenian. Terbuka buat turis-turis."
"Oh, gitu. Aku coba nonton, deh, minggu ini."
"Mas Shaka suka nonton tari-tarian?" tanya Gendhis heran. Ia membayangkan tipe pemuda dengan gaya seperti Shaka pastilah lebih suka clubbing atau main ke cafe.
"Ya, pingin cari suasana baru aja, sih. Aku tinggal di Jogja emang sekalian pingin nyari hal-hal yang unik. Nyari yang eksotis. Yang Indonesia banget," kekeh Shaka.
Gendhis mengulas senyum tipisnya. "Silahkan aja, Mas," ucapnya. "Oh, saya pamit dulu." Gendhis mengambil helmnya yang ia letakkan di atas kursi motor.
"Eh, Dhis ... nomer telepon, dong. Siapa tahu aku bingung besok minggu," ucapnya seraya menyerahkan ponsel pada Gendhis. "Kalau nggak keberatan, sih."
Gendhis mengiyakan permintaan Shaka dan mulai menulis nomer teleponnya di layar ponsel pemuda itu. "Makasih, ya," ucap Shaka sembari menyimpan gawainya ke dalam saku celana.
"Ka, kopinya, nih!" Handi berseru dari arah bale. Pemuda tambun itu melambai pada Gendhis dan disambut anggukan serta senyuman gadis itu.
"Yoow!" Shaka menyahut seruan Handi. "Sampai jumpa, Dhis."
Gendhis mengangguk sekali lagi, kemudian memakai helm dan naik ke atas motornya. Shaka melambai sekilas saat Gendhis membunyikan klakson dan melajukan motor meninggalkan halaman.
Saat gadis itu sudah tidak terlihat lagi dari jangkauan pandangnya, ia memutar badan menuju ke arah Handi yang sudah duduk di bale. Dua gelas kopi sudah tersedia di atasnya.
"Kenal Gendhis?" tanya Handi keheranan.
"Baru aja tadi siang. Aneh aja sih, kok bisa ketemu lagi di sini." Shaka meraih cangkir kopi menyesap cairan hitam dengan hati-hati karena masih panas. "Wih, gila, mantap emang kopi racikan lo," kekehnya.
"Jelas," timpal Handi dengan congkaknya. "Eh, piye tadi, kok iso kenal Gendhis?"
"Ban motornya bocor pas di depan bengkel."
"Owh, ngono to."
"Iyoo, ngono." Shaka menimpali ucapan Handi dengan aksen Jawanya yang dibuat-buat, lalu tergelak. Ia menikmati kopi hitam dan rokoknya dengan penuh penghayatan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Emi Wash
cah jogya ketemu cah jkt....
2024-01-04
0
Emi Wash
pinter tenan shaka....😂
2024-01-04
0
Ersa
macho pasti ya
2023-06-01
0