...My Man Is A Bunian...
...BAB 4 : Ke Rumah Pesisir Pantai...
...****************...
Santi membuka matanya lalu menatap langit-langit tanpa nalar. Seketika matanya teralihkan oleh jam dinding yang berada tepat di depan tempat tidurnya, Santi melihat sudah jam 4 sore, ia pun beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian menuju ke arah pintu untuk meraih sebuah jaket hitam yang ia gantung di belakang pintu di dalam kamarnya .
Santi berjalan keluar kamar dan menuju ke arah sepeda motornya . Santi pun mengendarai sepeda motornya ke tempat di mana ia sering menghabiskan waktu jika mempunyai beban pikiran .
Sesampainya di sebuah rumah yang dekat dengan pesisir pantai, Santi turun dari sepeda motornya lalu memakirkan sepeda motor. Kemudian berjalan ke arah rumah yang tak jauh dari sepeda motornya yang terparkir .
“permisi!" Teriak Santi yang langsung menyelonong masuk.
Sesampai'nya di dalam rumah, ia melihat seorang wanita dengan rokok di tangannya, dengan asap yang mengepul di dalam penjuru ruangan.
Wanita tersebut seketika berdiri menyambut Santi dengan kegirangan ketika melihat kedatangan Santi.
“E.. Ada Wanita jadi-jadian, kemana saja kamu? Tumben main ke sini ?” Sosor Wanita tersebut seraya memeluk tubub Santi.
“Biasa, habis nambang cari receh,” sahut Santi sambil membalas pelukan wanita yang ada di hadapannya.
Santi pun duduk di samping wanita tersebut.
Wanita yang ada di hadapan Santi adalah Amel. Umurnya sudah kepala 3 , namun gayanya tetap terlihat muda. Santi senang berteman dengan Amel, kendati Amel terlihat susah di atur. Namun, Amel adalah teman Santi yang bisa di percaya . Amel jika berbicara sering ceplas ceplos dan apa adanya , ga munafik dan royal terhadap orang yang dekat dengannya. Maka dari itu, Amel adalah tempat untuk Santi mencurahkan keluh kesahnya.
“Mau kopi?" Tawar Amel kepada Santi.
“Mmm..boleh," Jawab Santi.
“Ok tunggu sebentar, " Amel beranjak dari duduknya .
Santi menatap punggung belakang Amel yang akan menyedukan kopi untuk Santi. Tak lama, Amel kembali dengan membawa satu gelas kopi hitam dengan asap yang mengebul dari dalam gelasnya.
“Ada masalah apa lagi? Ceritalah, mumpung memori internalku masih siap manampung file yang kau kirimkan kepadaku," sergah Amel sambil menatap lekat ke wajah Santi.
“Tidak ada masalah, aku hanya suntuk di dalam rumah dan ingin mencari udara segar," ujar Santi .
“Nah Iya.. Kamu kan setahun sekali baru main ke sini, Akukan jadi ga punya teman buat ngopi," tutur amel dengan mulut yang di manyunin.
“Aku kesini tuh, cuma mau minta di buatin kopi sama kamu Mel, ya sudah. Aku mau duduk di pantai. Mau merefreshing otak," Jawab Santi seraya berdiri dari duduknya.
“Setan! Aku pikir mau nemenin aku, " pekik Amel dengan nada kesal.
Santi hanya terkekeh lalu berdiri dan mengambil gelas kopi yang masih mengepul tersebut. Santi kemudian membawa gelas tersebut bersamanya, seraya berjalan melewati Amel.
Setelah melewati Amel beberapa langkah, Santi kemudian menghentikan langkah kakinya.
“Mel... Lain kali, jangan buat rumah di tepi pantai. Kadang , ada orang yang Tidak tahu diri yang akan sering mampir, hanya untuk menumpang minum kopi di tempatmu. Karna tempatmu sungguh nagih," ujar Santi kemudian berlalu.
“ E .. wanita jadi-jadian! Lain kali ni yah, jika kamu main kesini. Bakalan aku catat berapa gelas yang kamu minum," Seketika Amel menjawab dengan sedikit meninggikan suaranya.
Santi terus berlalu tanpa menghiraukan celoteh sahabatnya. Sesampainya di bibir pantai, di bawah pohon waru. Santi menaruh gelasnya lalu duduk di atas pasir tanpa menggunakan alas.
Di lihatnya hamparan lautan lepas dengan hiasan kuning ke’emasan di atas air laut yang berkilau. Hembusan angin, membuat Santi menutup matanya. Meresapi setiap tiupan angin yang sedang menari-nari lembut di atas kulit wajah Santi.
Santi perlahan membuka mata, kemudian menatap lurus ke depan melihat lepasnya lautan yang luas membentang pandangan. Saat memandang bias matahari di atas laut, membuat pikiran santi berkelana ke masa silam. Beberapa tahun lalu , Santi telah menemui segala macam terpaan dunia yang membuat ia menjadi seperti ini. Santi mengeluarkan sebuah dus putih dengan lambang A di bungkusannya dari dalam saku jaket.
Santi kemudian mengeluarkan sebatang r*kok dari dalam kotak putih tersebut , kemudian membakarnya. Santi menghisap asapnya dalam-dalam lalu membuang asap itu dengan kasar dari mulutnya.
Santi menatap lekat, langit yang sudah terlihat berwarna kemerahan dengan jingga yang megah. Itu adalah khas matahari yang ingin bersembunyi di balik awan. Santi pun tersenyum kecut ketika menatap lembayung yang kini sedang mengejek'nya.
“Langit kenapa keindahanmu hanya pada saat pagi dan senja? Apakah keindahan itu hanya sesuatu yang singkat? Begitu juga dengan takdir hidupku? Dulu Aku pernah mengenal warna pelangi namun yang aku tahu saat ini , hanya putih dan hitam dan pada akhirnya menjadi abu-abu," Lirih Santi dengan melihat ke arah langit dengan tatapan mengejek.
Setelah merasa cukup tenang, santi beranjak dari duduknya . Karna hari sudah semakin petang . Santi melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah Amel untuk mengembalikan gelas yang ia bawa. Sesampainya di rumah Amel, santi pun langsung mencuci gelas tersebut dan meletakkannya di rak piring.
“Sudah puas curhat sama ombak?bGimana tenang enggak perasaanmu?" Suara Amel yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.
“Sudah, Aku lumayan plong, ternyata ombak lebih mengerti aku ketimbang sahabatku." Santi yang menoleh ke arah suara kemudian menjawab .
“Oh..gitu! Sekalian saja. Besok-besok, kamu curhat ke rumput dan pohon yang tumbuh di belakang rumahmu," ledek Amel.
Santi terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. Santi pun berjalan ke arah sahabatnya yang berada di depan pintu.
“Mel, aku balik ya, sudah mau mahgrib. Kapan-kapan aku main lagi. Jika aku sedang membutuhkan belakang rumahmu, " Jawab Santi
“Bayar dulu baru kamu pulang," Jawab Amel sambil tangannya mengadah ke arah Santi.
“Nanti, Aku pasti akan bayar. Jika aku sudah membeli tuyul," canda Santi sambil menepuk telapak tangan Amel yang sedang mengadah.
“Emangnya kamu bisa netein? Dada saja rata begitu," Timpa Amel.
“Rata ga apa-apa, yang penting di bawahnya masih orisinil wanita!" Jawab Santi terkekeh.
“Sudah sana balik, nanti keburu mahgrib di jalan kamu 'nya," ucap Amel.
“Ok aku pamit ya!” Jawab Santi.
“Ya sudah ,hati-hati bawa sepeda motornya, mau mahgrib begini banyak Sendekala yang sering berkeliaran." Jawab Amel mengingatkan .
“Ok Siap boss!" Jawab Santi.
Santi bergegas menuju ke arah sepeda motornya lalu melaju meninggalkan rumah yang sudah menjadi rumah ke-2 bagi Santi. Sesampainya di rumah, Santi memarkirkan sepeda motornya.
dengan cepat, Santi berlari kecil menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Dari mana kamu Santi? SUdah mau adzan baru sampai rumah kamu." Tegur Bu Narti yang berpapasan dengan Santi.
“Dari rumah Amel, Ma. " Santi menjawab sambil berlari kecil tanpa berhenti dan langsung menuju ke kamar mandi .
Sesampainya di kamar mandi, santi langsung mandi dengan buru-buru. Setelah mandi, Santi bergegas memakai baju,Setelah memakai baju. Santi keluar kamar lalu makan malam. Setelah makan, Santi akan meluangkan beberapa menit waktunya untuk menemani orang tuannya.
Setelah di rasa cukup untuk menemani orang tuanya, Santi akan berpamitan untuk tidur. Padahal, di dalam kamar Santi tidak akan tidur. Santi akan tidur jika ia memang ingin tidur. Namun, jika santi tidak ingin tidur. Santi akan begadang hingga siang bahkan kembali malam barulah ia tidur.
Setelah di dalam kamar, Santi merebahkan tubuhnya sembari membaca komik online kesayangannya melalui ponsel. Setelah di rasa cukup, dan mata Santi sudah mulai loyo dan berat, Santi pun memutuskan untuk tidur.
Pagi pun menyapa, aktifitas Santi di mulai seperti biasa. Namun, ada satu aktifitas Santi yang bertambah. Yaitu, menunggu Raka di bawah pohon randu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Selfi Azna
lanjut
2022-06-05
1
玫瑰
up
2022-05-04
1