Dunia beserta timnya yang didampingi Wiryo kembali melanjutkan perjalanan. Hawa sejuk sangat terasa di daerah itu. Membuat Dunia melupakan sedikit keresahan hatinya.
"Tuan, itu rumah pak kepala dusun yang disediakan untuk anda menginap sudah tampak, saya permisi" Wiryo pamit karena merasa tugasnya sudah selesai.
"Terimakasih Wiryo" dengan sopan Dunia melepas kepergian Wiryo.
Zayn berjalan beriringan dengan Dunia masuk kedalam rumah, bersiap mengistirahatkan tubuh lelah mereka.
.
.
.
Baru saja Dunia hendak memejamkan mata, ingatan akan gadis misterius yang tadi ditemuinya tiba tiba muncul sekelebat.
"Aneh sekali" Dunia kembali bergumam mengingat sikap wanita itu.
Namun tak lama rasa kantuk lebih kuat menyerang. Dunia terlelap ke alam mimpi, di tengah suasana damai dan tenang pedesaan.
.
.
.
Pagi hari menjelang.
Dunia meregangkan tubuhnya pertanda mulai terbangun dari tidur nyenyak. Setelah kesadarannya kembali full seratus persen, ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di luar.
"Selamat pagi tuan" seorang wanita berumur paruh baya menyapa Dunia.
"Selamat pagi Bu, apa anda pemilik rumah ini?" Dunia bertanya dengan sopan. Pria itu memang terdidik menghargai setiap orang dengan baik.
"Saya diminta pak kepala desa untuk menyiapkan makanan anda selama berada disini" wanita itu menjelaskan.
"Oh begitu, maaf merepotkan anda Bu" Dunia merasa orang orang di desa ini menjamunya berlebihan, dia merasa sedikit tak enak hati.
"Tidak repot sama sekali tuan, rumah saya dekat dari sini" ibu itu kembali menjelaskan.
"Baiklah Bu, saya mau bersih bersih dulu, rencananya setelah sarapan kami akan kembali ke Jakarta" Dunia memutus percakapan dengan wanita itu karena panggilan alam mulai menyerangnya.
.
.
.
Dunia, Zayn dan beberapa orang tim nya yang akan kembali terbang ke Jakarta menikmati sarapan pagi bersama dengan hidangan menggugah selera yang disediakan oleh wanita yang tadi mengobrol dengan Dunia.
"Sungguh lezat makanan ini" mereka bergantian memuji lezatnya makanan yang dihidangkan.
Saat mereka tengah larut dalam kenikmatan, pak kepala desa datang dan bergabung dengan mereka.
"Bagaimana hidangannya tuan, maaf hanya sedikit pelayanan terbatas dari kami, karena keterbatasan sumber daya yang kami miliki" pak kepala desa menjelaskan kondisi lingkungan yang dipimpinnya.
"Ini sungguh luar biasa pak, kami sangat merasa nyaman dan tersanjung akan sambutan anda" Dunia menjawab ucapan pak kepala desa.
"Puncaknya pagi ini, hidangan yang baru saja kami nikmati sungguh sungguh luar biasa lezatnya. Tak disangka masakan sederhana ini mengalahkan lezatnya makanan hotel bintang lima" dengan jujur Dunia terus memuji apa yang baru saja dimakannya.
"Wah terimakasih tuan, suatu kehormatan buat kami anda merasa puas dengan apa yang kami sajikan, dan semua makanan ini memang dibuat oleh ahli masak paling hebat di desa ini. Beliau memang sudah terkenal dan selalu kami andalkan jika ada tamu yang datang" pak kepala desa menjelaskan.
"Oh begitu, sampaikan salam kami kepada beliau" Dunia menitipkan pesan yang tulus.
"Baik tuan, kebetulan rumah nya tak jauh dari sini, sehari harinya beliau dan anak gadisnya membuka usaha konveksi di dekat sini" pak kepala desa kembali menjelaskan.
"Maksudnya Lufita konveksi itu?" Dunia kembali teringat gadis aneh yang tadi malam ditemuinya.
"Iya benar, beliau adalah pemilik usaha itu" pak kepala desa menjawab.
"Ayo bergegas, kita harus segera sampai di bandara sebelum siang" Zayn menyela percakapan pak kepala desa dengan Dunia.
Sementara itu Dunia seolah merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya namun tak tau apa sebenarnya yang dialami.
Mobil yang disediakan untuk mengangkut semua barang bawaan tim kembali ke Jakarta telah terparkir di halaman depan rumah. Hanya tinggal menunggu sang tuan besar untuk menaikinya.
"Saya ingin berjumpa sebentar dengan bu Lufita, bisakah anda menemani saya?" entah mengapa hati Dunia merasa ingin bertemu dengan wanita yang tadi ditemuinya.
"Silahkan tuan, saya siap menemani" pak kepala desa menyambut baik keinginan Dunia. Mereka berjalan beriringan menuju rumah konveksi Lufita. Zayn dan timnya yang telah menunggu sedari tadi hanya bisa mengelus dada menahan sabar atas kelakuan seenaknya sang bos besar.
"Kalo sampai ketinggalan pesawat jangan ngomelin gue" terdengar sayup sayup Zayn mengumpat kelakuan Dunia. Namun pemuda itu tak peduli dan melanjutkan langkahnya menuju rumah tujuannya.
"Selamat pagi Bu Rima, maaf kami mengganggu, ini tuan Dunia mau menemui anda sebentar" pak kepala desa menyapa pemilik rumah dengan sopan.
Bu Rima yang didatangi oleh orang penting pemilik kawasan yang ditempatinya itu terkejut bukan main. Ada apa gerangan mereka datang ke rumahnya.
"Ma...maaf tuan apa saya membuat kesalahan?" Bu Rima gugup menghadapi tamunya itu.
"Tidak Bu, jangan khawatir, saya hanya terkesan dengan masakan ibu yang baru saja saya makan, dan bermaksud berterimakasih secara langsung kepada ibu" Dunia menjelaskan agar wanita itu tak lagi ketakutan.
"Ah syukurlah" Bu Rima menarik nafas lega.
"Silahkan masuk tuan, maaf rumah kami sempit" Bu Rima mempersilahkan dunia dan pak kades masuk ke ruang tamu.
Dunia kembali merasa suasana nyaman saat memasuki ruang tamu bu Rima. Meskipun kecil dan sangat sederhana, namun semuanya tertata begitu rapi dan sangat bersih. Membuat siapapun betah berlama lama disana.
Namun ketenangan jiwa itu tak lama. Begitu Dunia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, matanya tertuju ke sebuah pigura yang berisi foto seorang gadis. Foto yang sama persis dengan yang selama ini ada di ponselnya. Foto yang dikirim oleh Langit kakaknya. Foto wanita korban kebejatan Langit dan teman temannya.
Tubuh Dunia seketika bereaksi tak wajar. Keringat dingin bercucuran, dan wajahnya pucat pasi. Dunia tak siap dengan apa yang dilihatnya. Dia berpikir tak akan pernah menemukan orang yang selama ini dicari. Tapi hari ini, sebuah petunjuk muncul.
Dunia diam terpaku, mencoba menetralisir emosinya. Perubahan sikapnya ini ditangkap oleh pak kades.
"Tuan, apa ada masalah?" pak kades bertanya dengan khawatir kepada Dunia.
Dunia tersadar dari rasa terkejut nya. Ia tak boleh seperti ini. Ia harus menyusun rencana yang matang untuk mengatur lebih lanjut apa yang harus dilakukannya.
"Maaf pak, saya tiba tiba teringat suatu masalah di kota, maaf saya jadi agak tegang" Dunia menjawab dengan bohong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
I Gusti Ayu Widawati
Ooh syukurlah dunia menemukan gadis yang selama ini dia cari.
Semangat Thor mohon dilanjutkan , saya penggemar karyamu Cinta tulus seorang Ceo yang paling saya sukai.
Saya dari Bali,salam kenal terimakasih.
2022-07-03
0
kɑyʆɑ ɳɑtɦɑɳiɑ ɦuwɑiɗɑ
akhirnya dunia menemukan gadis yg dicarinya 😊
semangat thor lanjut lagi 💪💪
2022-02-11
1