"Apa kau sudah menemukannya?" Langit menyapa Dunia yang berdiri di samping ranjang dengan nafas tersengal sengal.
"Jangan pikirkan itu dulu, lu fokus sama kesehatan aja" Dunia mengelak menjawab pertanyaan kakaknya.
"Udah minum obat belum?, lu mau makan apa? biar gue pesan sekalian" Dunia kembali mengajak Langit berbicara hal lain.
"Tolong bantuin gue secepatnya" Langit menggenggam tangan adiknya itu, dengan penuh harap ia meminta.
"Iya, pasti gue lakukan, gak gampang nyari orang yang udah menghilang lebih dari setahun, bahkan nama dan alamatnya pun tak diketahui" Dunia mencoba menjelaskan secara jujur bagaimana kondisinya.
"To..long gue" air mata meleleh di wajah Langit. Penyesalan itu begitu nyata.
Hati Dunia tergetar. Dia tahu saat ini Langit sedang dihukum oleh rasa bersalahnya sendiri.
"Gue janji, akan gue selesaikan secepatnya, sekarang lu fokus untuk sembuh ya" nada suara Dunia melunak. Dia tak tega melihat Langit yang benar benar hancur saat ini.
Sementara itu, Bu Bintang yang melihat dari sudut ruangan hanya bisa terisak menyaksikan drama kedua anaknya itu. Dia sudah mengetahui semuanya. Perbuatan Langit di masa lalu benar benar membuatnya merasa gagal sebagai orang tua. Selama ini ia hanya mendidik anaknya dengan ilmu duniawi tanpa membekalinya dengan ilmu agama. Hingga kini tak henti penyesalan juga menghantuinya.
.
.
.
"Terjadi masalah di anak perusahaan daerah Kalimantan, kita harus segera kesana untuk meninjau situasinya" pesan dari Zayn sang asisten sekaligus sahabat Dunia.
Saat ini Dunia sedang beristirahat di sofa ruang perawatan sembari menjaga kakaknya yang tertidur dalam pengaruh obat. Ibunya telah pulang ke rumah beberapa menit yang lalu. Dunia memintanya untuk beristirahat di rumah, karena khawatir dengan kondisi wanita paruh baya itu yang mulai drop.
"Apa mesti gue yang turun tangan, lu kan wakil direktur jadi berwenang untuk menyelesaikan semuanya, gue masih harus memantau kondisi kak Langit, gak bisa pergi jauh ke luar kota" Dunia menjelaskan kondisinya kepada sang asisten melalui telepon. Sungguh enggan hatinya pergi jauh meninggalkan jakarta untuk saat ini.
"Gak bisa bos, terjadi demo pekerja besar besaran disana. Mereka menuntut harus sang direktur utama yang hadir atau mereka akan menjarah pabrik" Zayn menjelaskan kondisi buruk yang menimpa anak perusahaan mereka di Kalimantan.
"Hufftt, dasar asisten tak ada guna, siapkan tiket, besok ambil penerbangan pagi, gue gak mau nginap, jadi paling lambat malam kita sudah harus kembali ke Jakarta" Dunia memberikan perintah. Aura kepemimpinannya menggelora.
"Asiap bos" Zayn menjawab sembari menarik nafas lega. Dia sangat yakin apabila Dunia sudah turun tangan, semua masalah akan selesai lebih cepat.
.
.
.
06.00 WIB
Dunia beserta Zayn serta dua orang staf admin kantor pusat telah berada di bandara. Sebentar lagi mereka akan melakukan perjalanan menuju ke kota Kalimantan.
Dunia langsung berangkat dari rumah sakit karena malam sebelumnya ia menginap di rumah sakit tersebut untuk menjaga sang kakak. Semua berkas yang diperlukan serta pakaian ganti telah dipersiapkan oleh pak Ali, dia terbiasa terima bersih, semua sudah ada yang mengatur.
Dengan menggunakan kacamata hitam untuk menutupi kantong matanya yang kian hari kian jelas, Dunia duduk di ruang tunggu VIP keberangkatan. Sebuah foto di ponselnya terus diamati. Foto seorang gadis berseragam SMA dengan senyuman manis ada disitu. Wajah yang sangat polos nyaris tanpa riasan membuat kesan alami terpancar.
"Kenapa bisa gadis seperti ini menjadi korban kebiadaban kak Langit" Dunia bergumam sendiri.
"Aku akan menemukanmu", tanpa sadar ia mengusap wajah di ponsel itu.
Tak lama pria itu segera menyimpan ponselnya, karena waktu untuk terbang telah tiba.
.
.
.
Perjalanan menuju pabrik yang sedang bermasalah memakan waktu hampir tiga jam setelah turun dari pesawat.
"Mengapa lokasi ini begitu terisolir?" Dunia mengomel sendiri. Dia memang tak pernah meninjau lokasi yang satu ini. Selama ini dia hanya memantau dari jauh, semua sudah di handle oleh para orang kepercayaannya.
"Ini yang gue alami kalau pergi ke daerah bos, masih mending ini ada sinyal, sebelumnya tempat ini benar benar lebih terisolir" Zayn menjelaskan keadaan yang terjadi.
Dunia mengangguk setuju, didalam hatinya membenarkan semua ucapan Zayn sang asisten.
Tak lama, mereka telah sampai di tempat yang dituju. Tampak jalan menuju gerbang pabrik diblokir dengan kayu serta ban bekas. Sisa pembakaran juga tampak jelas disitu. Berbagai spanduk penuh coretan berisi tuntutan juga menghiasi tempat itu.Sepertinya keadaan tak semudah bayangan Dunia.
"Siapa yang bertanggung jawab disini, cepat temui" Dunia memerintahkan untuk segera bertindak.
.
.
.
Setelah menemui pihak yang mewakili para pekerja dan bernegosiasi, kesepakatan damai pun terjadi. Dunia berhasil membujuk para pekerja untuk kembali mengikuti peraturan yang telah dibuat perusahaan. Pria itu memang tak pernah gagal dalam menyelesaikan pekerjaan yang ditanganinya.
"Bos, kita tak mungkin bisa kembali ke Jakarta malam ini, terjadi longsor di depan dan menutup akses keluar masuk desa. Kita akan menginap disini satu malam" Zayn memberikan kabar yang tak ingin di dengar Dunia.
"Shittt" Dunia mengumpat kesal. Dia mengkhawatirkan kondisi sang kakak juga ibunya. Tapi ia tau tak bisa berbuat apa apa. Kondisi alam menahan mereka untuk pulang ke kota secepatnya.
"Bagaimana kondisi kak Langit Bu? aku belum bisa balik malam ini" Dunia mengobrol menanyakan kondisi sang kakak kepada ibunya.
"Dia cukup stabil hari ini, kamu jangan terlalu khawatir, fokus sama masalah disana ya nak" Bu Bintang memberikan kabar yang cukup membuat Dunia lega. Setidaknya malam ini akan digunakannya untuk menikmati alam yang masih asri di desa ini.
.
.
.
Kepala dusun menjamu Dunia dan timnya dengan hidangan khas daerah setempat. Mereka melayani Dunia secara wajar tak berlebihan namun membuat pria itu nyaman. Kehidupan desa yang hening dan tak segemerlap kota membuat saraf Dunia sedikit rileks. Jauh di lubuk hatinya ia menginginkan tinggal lebih lama di desa ini.
Setelah menikmati jamuan makan malam, Dunia meminta izin untuk berkeliling desa. Seorang bocah anak kepala dusun bernama Wiryo menemani perjalanan Dunia dan Zayn. Sementara tim mereka yang lain memilih beristirahat di rumah yang telah disediakan khusus buat mereka.
"Lufita konveksi, menerima permak dan jahit" Dunia membaca tulisan di depan sebuah rumah berpagar bambu yang mereka lewati.
"Wah disini lengkap ya, bahkan mau jahit baju pun ada" Dunia merespon apa yang dilihatnya.
"Iya tuan, walaupun kami jauh dari keramaian, tapi apa yang kami butuhkan ada semua disini" Wiryo menanggapi ucapan Dunia.
"Itu ada kak Fita, aku mau sapa sebentar ya tuan" Wiryo berlari mengarah ke dalam pekarangan rumah yang tadi dibaca Dunia.
"Assalamualaikum kak Fita, kok masih diluar malam malam?" Wiryo menyapa seorang gadis yang sedang duduk di kursi teras rumahnya itu.
Tampak sedikit aneh dengan penampilan gadis itu, dia menggunakan masker penutup wajah meski duduk sendirian. Sewajarnya masker yang digunakan itu dipakai saat berada di keramaian atau bepergian.
Yang lebih membuat Dunia dan yang lainnya kebingungan adalah, Lufita seolah ketakutan melihat mereka, gadis itu segera berdiri dan berlari masuk ke dalam rumahnya, menutup pintu tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Apa seperti ini penyambutan warga disini?" Zayn protes akan sikap wanita yang baru saja ditemuinya.
"Biasanya kak Fita sangat ramah dan baik, ada apa dengannya?" Wiryo ikut kebingungan.
"Ah sudahlah, ayo jalan lagi, mungkin ia tak nyaman kita rame rame datang malam begini" Dunia menanggapi dengan sangat bijak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
kɑyʆɑ ɳɑtɦɑɳiɑ ɦuwɑiɗɑ
klo lufita adalah gadis yg dilecehkan oleh langit pasti dia trauma dengan kejadian yg dialaminya makanya dia ketakut saat melihat orang asing
2022-02-11
1
kɑyʆɑ ɳɑtɦɑɳiɑ ɦuwɑiɗɑ
apakah lufita gadis yg sedang dicari dunia 🤔🤔
2022-02-11
0